My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 38. Koma



Valerie tetap setia menanti didepan ruang perawatan, selagi para perawat menangani kondisi Roman yang tengah kritis. Hatinya semakin gelisah tak karuan karena harus mencemaskan dua orang secara bersamaan.


Pandangannya seketika tertuju pada Audrey, yang tertunduk lesu sambil meneteskan air mata, yang jatuh membasahi lantai koridor ruangan. "Audrey," himbaunya dengan penuh kelembutan pada gadis itu.


Audrey pun terkejut saat Valerie memanggil namanya. Ia benar-benar takut bila kakak Valentine itu sangat berang lalu memarahinya, atau mungkin akan memberikan hukuman yang berat kepadanya.


Dengan tubuh yang bergetar hebat, Audrey pun memberanikan diri untuk menatap wajah Valerie. "Iyaa k-k-kak ...." Perkataan yang terbata-bata itu, sempat menghilang diakhir ucapannya.


Audrey sangat gelisah saat menatap wajah Valerie yang turut menatapnya dengan pandangan yang sangat serius. Ia tak tau harus menjawab apa, bila guru disekolahnya itu, memarahinya secara membabi-buta.


"Aku minta maaf atas segala tindakan Valentine padamu. Dan, aku mohon!" -Valerie berdiri dari kursi- "Jangan ada lagi kekerasan! Cukup Valentine dan Roman yang terakhir kali merasakannya!" mohon Valerie dengan meneteskan air mata seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dihadapan Audrey.


Audrey pun sontak tercengang. Mulutnya menganga lebar. Ia tak menyangka dengan apa yang telah katakan oleh Valerie, dan air matanya yang jatuh itu, telah menembus relung hati Audrey. "Kak Valerie!!" -Audrey memeluk Valerie- "Aku minta maaf! Aku minta maaf! Akulah yang seharusnya ... minta maaaf!!" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu dan semakin mengencangkan pelukannya pada tubuh Valerie.


Valerie pun turut membalas pelukan yang sangat erat itu. Ia lalu mengelus-elus rambut Audrey dengan segala kerendahan hatinya. "Aku sangat menyayangi seluruh murid-murid ku ... tidak pandang bulu! Aku menyayangi Valentine, aku menyayangi Rika, aku menyayangi Roman dan, akupun sangat menyayangimu, Audrey," ungkapnya dengan penuh ketulusan hati yang amat mendalam.


Mendengar ungkapan yang sangat tulus itu, membuat hati Audrey hancur sehancur-hancurnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat kekacauan yang melibatkan salah seorang gurunya itu.


Audrey pun terdiam seribu bahasa. Mulutnya seakan terkunci erat, saat mendengar Valerie sangat menyayanginya. Tangisan semakin terisak tak karuan, karena merasa telah menyakiti hati seorang guru, yang sangat menyayangi seluruh murid-muridnya itu.


Valerie kemudian melepaskan pelukan Audrey sambil menggenggam erat kedua pundak gadis itu. "Audrey ... yang perlu kau lakukan sekarang, cukup berkata apa adanya pada Andrea. Akui kesalahmu padanya. Dan, berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi," ucap Valerie dengan berlinang air mata.


"Baik, kak." Audrey menampakkan senyuman diwajahnya, meski air matanya tetap mengalir deras membasahi pipi.


Valerie lalu menduduki kursinya dan mengajak Audrey, untuk turut duduk disebelahnya. "Aku akan menghubungi Andrea, untuk menjemputmu pulang." kata Valerie sambil membuka tas seraya merogoh isinya, dan mengeluarkan sebuah ponsel yang digenggamnya dengan erat.


Setelah menemukan kontak Andrea, Valerie menekan ikon telepon untuk segera menghubunginya.


(tuuut ... tuuut ... tuuut)


πŸ“ž "Halo, Valerie?"


πŸ“ž "Andrea, apa kau bisa kerumah sakit sekarang?"


πŸ“ž "S-siapa yang sakit?! Valentine kah?"


πŸ“ž "Ya. Audrey memintamu untuk dijemput,"


πŸ“ž "Audreeey?! Waah! Rupanya adik kita sudah akrab yah!"


πŸ“ž "Hmm. Tapi, dengan cara yang berbeda,"


πŸ“ž "Haaaa? Maksudmu bagaimana? Apanya yang berbeda?"


πŸ“ž "Sudahlah ... cepat kemari,"


πŸ“ž "Joan kan ada disana, suruhlah dia mengantar Audrey pulang,"


πŸ“ž "Joan?"


Valerie pun seketika menjauhkan ponselnya, sambil menatap pada Audrey. "Siapa Joan yang dimaksud kakakmu?" tanya Valerie dengan raut wajah penasaran.


Audrey pun menjawab. "Yang telah menikam Roman. Pria yang bersamaku sewaktu dijalan tadi," ungkapnya dengan menunduk seraya menggenggam kedua telapak tangannya diatas paha.


Valerie kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, setelah mendengar pengakuan Audrey.


πŸ“ž "Haloooo?! Valerieeee?!!"


πŸ“ž "Joan tidak ada! Dia sudah kabur!"


πŸ“ž "Haaa?! Kabur?! Kabur kenapa?!"


πŸ“ž "Dia telah menikam Roman sewaktu berhenti di persimpangan lampu merah!"


πŸ“ž "Ha? Apa maksudmu?! Kau sedang tidak mengada-ada kan Valerie?!"


πŸ“ž "Tidak! Aku serius! Cepatlah kemari dan saksikan sendiri!"


πŸ“ž "Baiklah, baiklah! Aku akan segera kesana!"


Valerie pun memutuskan panggilan ponselnya dengan Andrea. Ia kemudian memasukan ponsel tersebut ke dalam tas dan merangkul Audrey yang tengah tertunduk lesu seraya termenung, dengan badan yang sedikit bergetar.


Setelah menunggu beberapa saat, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang perawat, yang seketika membuka pintu ruang perawatan. Sang perawat lalu menghampiri Valerie, selepas menutup pintu ruangan tersebut.


"Kami telah melakukan tindakan sesuai prosedur. Namun, nampaknya pasien telah kehilangan banyak darah. Hal itulah yang membuat kondisinya sangat kritis hingga mengalami koma saat ini. Apakah orangtuanya bisa dihubungi?" tanya sang perawat, setelah menjelaskan secara detail kondisi Roman.


"Untuk keperluan biaya kah? Biar aku yang mengurusnya. Aku pun akan menghubungi orangtuanya, secepatnya," Valerie menunjukkan rasa sayangnya dengan bertanggungjawab untuk segala keperluan biaya dan administrasi Roman.


"Baiklah. Kalau begitu, silahkan pergi ke loket administrasi, Nyonyaaa???"


"Valerie!"


"Nyonya Valerie." pungkas sang perawat seraya tersenyum dan berlalu meninggalkan Valerie.


Valerie kemudian menoleh ke arah Audrey, yang turut berdiri dan menyaksikan penjelasan sang perawat. "Audrey! Tunggulah disini. Aku akan segera kembali," seru Valerie.


"B-baik kak!" ucap Audrey sambil menyeka air matanya.


Valerie pun bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang lift, meninggalkan Audrey yang menunggu didepan ruang perawatan seorang diri.


...*** Kafe Sweet Memories ***...


Andrea tengah sibuk membereskan pesanan kuenya. Ia kemudian menutup merapikan segala perabotan, dengan tergesa-gesa. Joan menikam Roman?! Pantas saja nomornya tidak aktif saat kuhubungi! pikir Andrea seraya mendecih.


Setelah menutup pintu folding gate kafe rapat-rapat, Andrea kemudian bergegas menuju pintu belakang. Ia lalu membuka garasi belakang kafe dan segera menghampiri moge-nya. Roman, jika benar aku melihatmu terbaring lemah di rumah sakit, maka aku akan mengutuk Joan selamanya! batinnya sambil menyalakan mesin motor.


Andrea mengenakan helm teropongnya lalu menggeber-geber motor dengan maksud memanaskan mesinya, agar kerak oli yang menempel pada dinding blok mesin, terbakar sempurna. Lihat saja! Jika memang benar apa yang dikatakan Valerie, aku sendiri yang akan mencari lalu membunuhmu, dasar keparat! batin Andrea yang kemudian tancap gas.


...*** Ruang Perawatan Lt.1 Rumah Sakit ***...


Rika menemani Valentine yang tengah terduduk diatas kursi dan mendapatkan perawatan medis dari sang dokter. "Duh duh, sakit!" keluh Valentine saat sang dokter memasukan cottonbud kedalam hidungnya.


"Tahan dulu Valentine! Jangan membuat dokter kesulitan," tegur Rika.


Sang dokter pun hanya tersenyum. Dokter wanita paruh baya itu tetap sabar dalam menangani Valentine. "Baiklah, aku masukkan lagi yah, tolong tahan sedikit saja," kata sang Dokter sambil memasukkan cottonbud kedalam hidung Valentine guna menyeka luka yang masih berkeliaran dalam hidungnya.


"Sedikit lagiii ... seediikit laaagii ... oke, sudah selesai," ucap sang Dokter setelah mengeluarkan sebatang cottonbud dari hidung Valentine, dan meletakkannya diatas nampan besi seraya berlalu meninggalkan mereka diruang perawatan.


"T-terima kasih Bu dokter!" ungkap Rika sambil membungkukkan badannya.


Sang dokter pun tersenyum sambil melambaikan tangannya dari balik pintu ruangan. Ia kemudian bergegas menuju ruang dokter.


"Bagaimana Valentine? Apa masih sakit?" tanya Rika seraya duduk diatas kursi yang menghadap Valentine.


"Hmm ... lebih baik dari sebelumnya," jawab Valentine dengan raut wajah datar.


Rika kemudian berdiri dari kursinya sambil memegang kedua pundak Valentine. "Beristirahatlah dulu, tenangkan pikiranmu disini. Aku akan mencari kak Valerie di lantai dua," ucapnya.


Valentine pun mengangguk. Ia lalu mengangkat kedua kakinya seraya merebahkan tubuh dan meletakkan kepalanya diatas bantal ranjang pasien.


Setelah mendapati Valentine memejamkan mata, Rika beranjak dari kursi dan bergegas keluar dari ruangan untuk mencari keberadaan Valerie di lantai dua.


Namun, ia tak sengaja melihat Valerie tengah berdiri didepan loker administrasi. "Kak Valerieee!!" soraknya seraya berlari menghampiri kakak Valentine tersebut.


"Rika?!" Valerie mendapati gadis itu dari kejauhan dan tengah berlari menuju dirinya.


"Kak Valerie!" -ia menghela nafasnya- "Valentine ... sudah mendapatkan perawatan medis," kata Rika.


"Syukurlah! Diruang mana Valentine sekarang?" tanya Valerie.


Seorang petugas loket menyelang pembicaraan mereka. "Nyonya, ini struk pembayarannya," kata sang petugas sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berisi jumlah biaya pengobatan dan penanganan medis untuk Roman.


Valerie memungut beberapa kertas tersebut. "Hmm ... apa ada data biaya dengan nama Valentine Helsink?" tanya Valerie kepada petugas loket.


"Anda ingin membayar biayanya juga?"


"Ya. Nama yang kusebutkan tadi adalah adik kandungku," jawab Valerie sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada meja loket.


"Baiklah, Nyonya. Silahkan tunggu sebentar lagi." pungkas sang petugas loket lalu kembali memasuki pintu ruang administrasi yang berada dibelakang meja loket tersebut.


Tidak hanya mencemaskan kondisi Roman dan Valentine, Valerie pun turut bertanggungjawab atas segala biaya dari kedua orang yang sangat disayanginya itu.


Kini Valentine telah lepas dari daftar orang yang dicemaskannya. Seluruh rasa khawatir pun ia kerahkan dengan segenap hati pada Roman, yang tengah mengalami koma.


~To be continued~