My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 65. Pengunduran Diri



...*** Rumah Keluarga Helsink ***...


Valerie tak menduga bila dirinya akan kedatangan dua orang tamu dari keluarga besar Howard, yang mengakui dan berniat untuk mengambil alih jasad Angelina, lalu memakamkannya dipemakaman keluarga Howard.


Tony serta Laura telah menduduki sofa diruang tamu, dan berseberangan dengan Valerie yang turut duduk sambil menatap cemas dengan kehadiran mereka.


"Nyonya Valerie! Aku sangat-sangat menghargai niat baikmu, dalam mengurusi serta memakamkan jenazah putriku di pemakaman keluarga kalian. Tapi! Bila tak ingin membuat permusuhan diantara keluarga kita!" Laura sontak berdiri dari kursinya. "Bongkar! Dan serahkan jasad Angelina pada kami!" protes Laura dengan raut wajah kesal, sambil menunjuk pada Valerie.


"Laura! Tenangkanlah dirimu!" tegur Tony yang berusaha membuat Laura, agar kembali menduduki kursi sofanya.


Tony seketika menatap tajam ke arah Valerie, yang tengah duduk seraya bersedekap tangan, dan menyilangkan sebelah kakinya diatas sebelah pahanya.


"Nyonya Helsink ... maksud kedatangan kami kemari, hanya untuk memintamu menyerahkan jenazah Angelina Howard, segera. Kau tidak berhak melakukan apapun terhadap putri kami," ucap Tony, yang terduduk santai, sambil menjepit kedua cerutunya diantara sela-sela jari.


Setelah menerima berbagai protes dari mereka, Valerie menutup mata, dan menghela nafasnya secara perlahan. "Aku tahu, mereka adalah keluarga besar Nyonya Angelina, yang telah menelantarkannya, hingga membuat kehidupannya bersama dua buah hatinya menjadi sengsara. Atas dasar itulah, aku tidak akan pernah menyerahkan jasad Nyonya Angelina, kepada orang-orang seperti mereka," batin Valerie. Ia kemudian membuka kedua matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Nyonya Laura, aku sangat menghargai perasaanmu sebagai seorang ibu. Tapi maaf, siapapun jasad yang telah dimakamkan di pemakaman keluarga Helsink, telah menjadi bagian dari keluarga kami," tegas Valerie dengan penuh percaya diri. Ia sangat menentang keinginan dari dua pemimpin keluarga besar Howard tersebut.


Mendengar penolakan tegas dari Valerie, membuat Laura naik pitam. Ia pun sontak berdiri sambil menunjuk pada Valerie, dengan mata yang melotot tajam. "Brengsek kau! Aku akan—"


"Laura!!" Tony mencegah niat Laura yang ingin menghampiri Valerie dan melampiaskan emosinya pada gadis itu. "Jangan bertindak bodoh! Kau hanya akan memperburuk kehormatan keluarga kita!" tegur Tony sambil menghalangi kedua lengan Laura, yang seperti ingin memberikan tamparan terhadap Valerie.


Tony pun segera menyeret istrinya keluar dari pintu rumah, agar tak semakin membuat kekacauan dirumah keluarga besar Helsink.


"Lepaskan aku, Tony! Perempuan itu harus diberi pelajaran!" Laura mengelak dan berusaha melepaskan dirinya dari halauan Tony. Ia merasa sangat murka, setelah mendengar pernyataan, yang terlontakan secara tegas dari mulut Valerie.


"Sudah, Laura! Sudaaah! Anggap saja mereka mengibarkan bendera perang terhadap keluarga kita!" Tony semakin mendesak tubuh Laura, hingga berhasil membuatnya keluar dari pintu rumah yang besar itu. Ia sangat tidak ingin membuat Laura mencemarkan nama baiknya, dihadapan Valerie.


Valerie pun turut berjalan mengikuti mereka, dan berusaha untuk menjaga jarak dari Laura, yang sudah terlanjur termakan emosi karenanya. "Seperti inikah kelakuan dari Nyonya besar keluarga itu?! Sungguh, sangat tidak terpuji!" batinnya sambil menatap kedua anggota keluarga Howard, dengan penuh ketenangan.


Laura seketika melunak, meski masih memberikan tatapan tajam ke arah Valerie, dari luar pintu. Ia lalu mengacungkan kembali telunjuknya ke arah Valerie, seraya memberikan tatapan yang sangat menaruh dengan terhadap gadis itu. "Kita akan bertemu lagi, di pengadilan! Tunggu surat gugatan dariku!" gertak Laura.


Mereka akhirnya beranjak menuju mobil, yang tengah menepi tepat depan gerbang rumah keluarga besar Helsink, lalu masuk kedalam mobil tersebut dan bergegas kembali menuju rumah keluarga Howard, dengan membawa dendam kesumat yang sangat meledak-ledak dihati.


Setelah mendapati kepergian dua kakek nenek Roman itu, Valerie kembali mengaktifkan sistem keamanan pintu gerbangnya, dan menekan tombol pada remot, yang membuat pintu gerbang itu menutup dengan sendirinya.


"Ayah! Aku takkan membiarkan keluarga besar Helsink, menjadi tunduk dan patuh terhadap keluarga yang sangat angkuh itu! Demi menjaga nama kehormatan keluarga Helsink, aku sendiri yang akan maju melawan mereka!" batin Valerie seraya berjalan meninggalkan pintu pintu gerbang, dan bergegas melangkah kakinya, menuju pintu rumah.


...*** Sekolah Menengah Saint Luxury ***...


Valentine masih tetap mempertahankan sikap cueknya terhadap Roman, dan selalu memalingkan wajahnya, saat sang kekasih mencoba menoleh ke arah dirinya.


Roman tak pernah lelah dalam memperhatikan Valentine, meski gadis itu selalu membuang muka dari pandangannya. "Aku harus melakukan sesuatu, agar Valentine tidak marah lagi denganku," pikir Roman, yang masih bersembunyi dari balik bukunya.


"Baiklah, pelajaran matematika cukup sampai disini. Silahkan gunakan waktu luang kalian untuk belajar dengan tenang, sebelum waktu istirahat tiba. Dan, jangan lupa untuk mengerjakan pr halaman sepuluh," ucap Herman yang kemudian beranjak dari kursinya, lalu bergegas keluar dari pintu kelas.


Namun, belum sempat Roman berucap, Shawn seketika berdiri dari kursinya "Kalian semua dengarkan aku!!" soraknya yang membuat seluruh murid sontak terdiam dan menatap ke arahnya. "Kita tak boleh takut dengan ancaman pak Herman! Dia sudah bertindak semena-mena terhadap kita!" tegas Shawn.


Shawn berusaha menghasut seluruh murid kelas 1A, untuk menentang segala keputusan dan tindakan yang telah diperbuat oleh Herman, yang membuat semua murid menjadi heboh.


"Betul! Kami seperti sudah dianggap seperti binatang olehnya!" sahut salah seorang siswa lainnya, yang turut berdiri dari kursinya.


"Ya! Bahkan dia telah membuat orang miskin ini melukai Kevin, dan membuat Kevin tidak bisa masuk sekolah hari ini!" hasut Shawn sambil menunjuk ke arah Roman.


Tiffany yang merasa terganggu dengan keributan itu pun segera berdiri dari kursinya. "Semuanyaaa! Tenaang!" soraknya dengan menutupi kedua telinga. Tiffany seketika menoleh ke arah Roman, dan menatapnya dengan pandangan yang sangat tajam. "Roman! Sebaiknya urungkan niatmu untuk mundur dari jabatan ketua kelas! Atau, kami semua yang akan membuat pak Herman, angkat kaki dari sekolah ini!" gertak Tiffany, seraya bersedekap tangan.


"Breeengseek!" Mendapati serangan yang bertubi-tubi dari seluruh teman sekelasnya, membuat Roman menjadi kesal. "Baiklah! Aku akan berbicara dengan pak Herman, agar melepaskan jabatanku sebagai ketua kelas!" ucap Roman dengan nafas emosi yang menggebu-gebu.


Roman pun sontak melangkahkan kakinya keluar dari kelas, menuju ruang guru. Ia benar-benar tak dapat menahan rasa kesal, saat mendapati teman-teman sekelasnya sangat menaruh benci terhadapnya. "Brengsek! Aku hanya ingin berjalan dengan damai, dan memperbaiki hubunganku dengan Valentine! Jika itu kemauan mereka, maka aku akan melakukannya!" pikir Roman yang sedari tadi mendecih berulangkali.


Setibanya di ruang guru, Roman melihat Herman tengah terduduk, sambil menikmati kopi hangatnya. "Pak Herman!" himbaunya seraya berjalan menghampiri meja kerja guru arogan tersebut.


Herman terkejut saat mendapati kehadiran Roman, yang tengah berjalan menuju dirinya. "Ada apa Roman?! Apa ada yang salah dengan cara mengajarku?!" tanya Herman dengan raut wajah kebingungan.


Roman lalu menduduki kursi yang terletak disamping meja kerja Herman. "Pak Herman! Aku memohon dengan sangat-sangat!" -ia menundukkan wajahnya- "Batalkan jabatanku sebagai ketua kelas!" mohon Roman seraya menggertakan giginya.


"Apa alasanmu?! Apakah mereka telah mengancammu?!" Herman merasa curiga dengan sikap Roman, yang seperti menerima desakan dari orang lain.


"Tidak! Memang benar orang-orang itu memaksaku mengundurkan diri, dari jabatan ketua kelas. Tapi, setelah ku pikir-pikir lagi, jika aku menjadi ketua kelas, maka waktuku untuk mengikuti kegiatan ekskul atletik akan semakin berkurang." Roman berusaha meyakinkan Herman, dengan menjelaskan alasan-alasan yang dapat membuatnya terlepas dari jabatan ketua kelas.


Mendengar alasan Roman, membuat Herman tak dapat menahan rasa kecewanya. "Bodoh! Aku sengaja menjadikanmu ketua kelas, agar kau dipandang tinggi oleh para murid dan seluruh guru disekolah! Kenapa kau jadi melemah seperti ini, Roman?!" tampik Herman sambil mengerutkan alisnya.


"Ini permintaanku sebagai anggota ekskul atletik, pak Herman!! Aku sangat ingin, memfokuskan diriku, untuk berlatih dan bertanding dikejuaraan olimpiade antar sekolah nanti." Roman sontak menegakkan wajahnya, dan memandang penuh keseriusan pada wajah Herman. "Aku tak ingin menyia-nyiakan waktuku sebagai ketua dikelas itu!" tegas Roman, yang kembali menundukkan wajahnya.


Herman termenung sejenak, setelah melihat anak itu sangat bersikeras dalam mengundurkan dirinya sebagai ketua kelas. "Memang sangat masuk akal alasannya. Sebagai ketua kelas, tentu akan membuat waktunya semakin banyak terbuang, dan membuat Roman menjadi tidak fokus dalam meraih impiannya," pikir Herman, sambil bertopang dagu.


"Baiklah! Besok akan ku atur kembali susunan organisasi kelas, jika memang kau bersikeras pada keinginanmu," ucap Herman.


Roman pun sontak menegakkan wajahnya. "Terima kasih, pak Herman!" Ia lalu berdiri dari kursinya, seraya membungkukkan badan. "Sekali lagi aku ucapkan, terima kasih," ungkap Roman.


"Kembali kekelasmu," perintah Herman sambil meraih cangkir kopinya.


"Baik," Roman berjalan menuju pintu ruang guru, dan bergegas kembali kekelasnya, dengan membawa berita pengunduran dirinya sebagai ketua kelas.


"Aku sudah tak peduli lagi dengan jabatan itu. Yang ku inginkan sekarang adalah, belajar dengan tenang!" pikir Roman yang berjalan, sambil mengepalkan erat kedua tangannya.


~To be continued~