My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 62. Tergesa-gesa



Sore hari, selepas membersihkan diri, Roman tengah sibuk melatih kebugarannya dibelakang halaman rumah keluarga Helsink. "Empat ratus sembilan sembilan, lima ratus ... Haaaa ...." Ia pun berhasil mencapai target push up hariannya.


Dengan mengenakan baju training baru pemberian Valerie, Roman mempersiapkan dirinya untuk terus meningkatkan kekuatan, ketahanan, dan ketangkasan fisik, sebelum menjadi perwakilan terpilih disekolahnya, dalam mengikuti kejuaraan-kejuaraan lomba cabang olahraga atletik.


Roman terduduk diatas sebuah kursi ranjang yang terbuat dari rotan, sambil menghadap ke kolam renang yang sangat luas dan besar. "Kak Valerie pernah bilang padaku, untuk ikut serta ke ekskul renang ... bagaimana jadinya jika aku tidak memenuhi harapannya, karena sudah terlanjur mengikuti banyak ekskul di sekolah?" pikir Roman, seraya menyedot sebuah minuman energi, yang telah diambilnya dari dalam kulkas.


Valerie yang mengenakan baju renangnya, seketika muncul dari pintu belakang rumah, dan berjalan menghampiri kolam berenang. "Romaan, kau tidak ikut berenang?" tanya Valerie, yang kemunculannya membuat Roman sontak terkejut.


Roman berusaha untuk tetap tenang, dan membuang jauh-jauh rasa ketertarikannya, saat menatap kemulusan bentuk tubuh Valerie yang sangat jelas menonjol, demi menghormatinya. "Mungkin beberapa saat lagi, kak. Aku masih harus melakukan beberapa gerakan lagi," jawab Roman dengan penuh ketenangan.


Namun, ketenangan itu seketika sirna, saat Valentine muncul dari belakang dan berjalan melewatinya, yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Dengan mengenakan outfit renang yang sangat menonjolkan bentuk tubuhnya, Valentine berhasil membuat Roman menjadi salah tingkah.


"Kau kenapa, Roman? Apa ada yang salah dengan baju renangku?" tanya Valentine seraya menoleh kebelakang, dan mendapati Roman menatap punggungnya dengan tangan yang bergetar, meski tengah memegang botol kemasan minuman berenergi.


"T-t-tidak ada!" Roman pun sontak bangkit dari kursi rotan yang bernaung dibawah sebuah payung besar. Ia lalu bergegas masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa.


Melihat tingkah laku kekasihnya, membuat Valentine menjadi terheran-heran. "Dasar! Melihat kak Valerie, dia biasa-biasa saja. Giliran melihatku, malah kabur terbirit-birit!" gumam Valentine sambil bersedekap tangan. Ia lalu berjalan menghampiri sang kakak, dan terduduk disampingya.


Valerie sontak memalingkan wajahnya seraya menahan tawa, karena tak tahan melihat tingkah laku Roman dan adiknya.


"Apa yang lucu?! Kenapa kau tertawa, kak Valerie?!" Valentine menatap Valerie dengan wajah heran, dan merasa sebal karena ditertawai olehnya.


"Tidak ada ... kalian berdua sungguh menggemaskan," jawab Valerie sambil kembali menolehkan wajahnya ke wajah Valentine, dengan menggigit bibir bawah agar mempertahankan mulutnya untuk tidak tertawa.


Valentine pun tak dapat menahan rasa kesalnya terhadap sang kakak, yang sedari tadi selalu membuatnya merasa sebal. Ia sontak menurunkan kakinya kedalam lantai kolam berenang, dan menarik tangan Valerie sekuat tenaga.


"J-j-jangaaan! Valent—"


(Byurr!!)


Valerie terkena imbasnya, setelah tubuhnya dipaksa terjun dan masuk kedalam air kolam renang. Ia pun segera memijakkan kakinya pada lantai kolam, dan menonjolkan setengah tubuhnya diatas permukaan air. "Valentineee ... kita kan belum pemanasan!" tegur Valerie sambil memegang kedua pundak Valentine.


"Apanya yg pemanasan! Aku sudah terlanjur panas karena ulahmu!" omel Valentine, dengan wajah yang tetap menatap sebal dihadapan Valerie.


Valentine lalu beringsut mundur dari Valerie, dan sontak mendorong permukaan air dengan tangannya, yang membuat wajah Valerie terciprat gelombang air, dari hempasan tangan sang adik.


Tak terima dengan perlakuan Valentine, Valerie pun turut mendorong permukaan air yang tengah bergoyang, menuju wajah Valentine. "Berani kau yah dengan aku?!" gertak Valerie seraya menyeringai.


"Siapa takut! Wle~" Valentine menjulurkan lidahnya, yang membuat Valerie semakin gemas terhadapnya.


Pertarungan saling menyembur air pun terjadi, diantara dua kakak beradik itu. Mereka dengan semangat menyemburkan air, dan saling memalingkan wajah agar tak terkena semburan air yang bening dan dingin itu.


Nampak raut wajah ceria dari keduanya. Valerie menjadi bersemangat mendorong dan menghempaskan cipratan air, menuju wajah Valentine. Begitu juga dengan Valentine, ia tak ingin kalah dari perlawanan sang kakak.


Sementara, Roman terpaksa berpindah tempat, demi melanjutkan kegiatan melatih tubuhnya. Sebuah taman dengan banyak pepohonan dan tanaman-tanaman buah yang terletak disamping rumah, telah menjadi tempat pilihannya, untuk melakukan serangkaian latihan olahraga ketahanan fisik.


"Sembilan sembilan, seratus ... huuufttt ...." Roman menghela nafasnya, selepas melakukan gerakan sit up, yang masuk kedalam daftar latihannya.


Roman seketika terbayang dengan kejadian yang membuat jantungnya semakin berdegup kencang, saat Valentine menciumnya, selepas berduaan kamar pribadinya. "Itu adalah ciuman pertamaku ... *a*pakah ... Valentine benar-benar sangat mencintaiku?" batin Roman seraya menyentuh bibirnya.


Angin seketika berhembus sangat kencang, yang membuat dedaunan menjadi rontok, hingga salah satu diantaranya jatuh dan mendarat diatas wajah Roman. "Langit benar-benar gelap. Padahal baru jam lima ... sepertinya akan hujan," pikirnya sambil membangunkan tubuhnya, lalu terduduk diatas rerumputan.


Dan, benar saja. Hujan seketika menjawab pernyataan Roman, dengan menjatuhkan jutaan liter air secara serempak. Hal itu membuatnya sontak beranjak dari taman, dan bergegas masuk kedalam rumah melalui pintu samping.


Valerie dan Valentine pun turut beranjak dari kolam renang saat hujan turun, yang membuat mereka bergegas masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa, melalui pintu belakang.


Melihat kehadiran dua bersaudari itu, membuat Roman mempercepat langkah kakinya menuju tangga, lalu menaikinya dan bergegas memasuki kamar. "Hampir saja." Ia menghela nafasnya yang terengah-engah, setelah masuk kedalam kamarnya. "Beruntung aku dapat mengelabui mereka," ucap Roman sambil membungkukkan badannya, dan bertumpu pada kedua lutut.


Valerie dan Valentine merasa heran, dengan sikap Roman yang seperti berusaha menghindar dari mereka. "Roman semakin lama semakin aneh," ucap Valerie.


"Biarkan saja kak. Dia sedang malu-malu kucing dengan kita," sambung Valentine.


Mereka kemudian bergegas menuju kamar mandi masing-masing, guna membersihkan tubuh. Kamar mandi Valentine, terletak disebelah kamar mandi Valerie, yang terdapat sebuah ruangan sauna diseberang kamar mandi mereka.


Selepas mandi, Valentine bertemu Valerie yang mendahuluinya masuk kedalam ruang sauna. Ia lalu duduk diseberang sang kakak, yang sedari tadi memejamkan matanya, sambil bersandar pada dinding ruangan yang sangat hangat itu.


Roman yang telah keluar dari kamarnya seraya menenteng pakaian gantinya pun beranjak turun ke lantai satu, dan bergegas menuju kamar mandi Valentine. Ia lalu masuk ke dalam mandi, dan segera membilas tubuhnya, setelah menyentuh sensor shower bertuliskan hot, yang membuat lubang-lubang kecil diatas ruangan mengeluarkan semburan air hangat, dan jatuh membasahi seluruh tubuhnya.


Suara semburan air itu, membuat Valerie sontak membuka kedua matanya. "Roman sedang mandi kah?" tanya Valerie, yang terduduk rileks dalam ruangan sauna.


"Hmm," jawab Valentine yang turut terduduk rileks, seraya memejamkan matanya, sambil menikmati hangatnya suhu dalam ruangan tersebut.


Dengan hanya berlapiskan sehelai handuk yang menutupi sebagian tubuhnya, Valerie sontak berdiri dan beranjak menuju pintu, lalu menutup rapat-rapat pintu ruangan sauna yang sedikit terbuka, hingga membuat celah untuk seseorang mengintip dari luar. Ia kemudian kembali terduduk dan bersandar pada dinding ruangan.


"Maaf yah kak. Aku lupa menutup pintunya," ucap Valentine.


"Hmm. Kebiasaan," kata Valerie. Ia merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Roman yang tengah membersihkan dirinya, dalam kamar mandi Valentine. "Apa kau tidak keberatan, Roman menggunakan kamar mandimu?" tanya Valerie sambil bersedekap tangan, dan menatap ke wajah Valentine yang tengah memejamkan matanya.


"Why not?! Aku malah lebih senang dia mandi dalam kamar mandiku, daripada harus mandi di kamar mandimu," jawab Valentine dengan penuh percaya diri.


"Oh, begitukah? ... sepertinya aku harus membangun kamar mandi pribadi untuk Roman," ucap Valerie yang sedikit merasa sebal, setelah mendengar jawaban dari Valentine.


Valentine pun sontak membuka mata seraya menjulurkan lidahnya. Kedua bola mata yang ke arah samping itu, benar-benar menunjukkan bila dirinya sedang mengejek Valerie.


Roman pun akhirnya selesai membersihkan dirinya. Setelah mengenakan seluruh pakaian ganti, perhatiannya seketika tertuju pada sebuah pintu ruangan yang terletak diseberang kamar mandi. "Pintu ini dari kemarin, selalu membuatku penasaran seperti apa bentuk ruangan didalamnya," pikir Roman. Ia pun sontak mendorong pintu tersebut, yang membuat Valerie dan Valentine sontak terkejut.


"Jangaaannn!!!" sorak mereka secara serempak, seraya berusaha menahan pintu agar tidak terbuka.


"Ehhhh?! Ku kira tak ada orang didalam." Roman kembali menutup pintu yang hampir terbuka itu, dan bergegas meninggalkan ruangan sauna. "Maaf, maaaf!!" soraknya sambil berjalan tergesa-gesa menuju tangga rumah.


~To be continued~