My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 13. Keajaiban



Bangunan sederhana dengan lima petak ruangan didalamnya, telah menjadi rumah ternyaman Roman sejak ia dilahirkan. Terdapat banyak perabotan bekas pakai dan mungkin sudah layak untuk diganti. Kamar mandi terletak di bagian belakang ruangan, menyatu dengan ruang dapur yang luas. Lorong rumah yang sempit telah menjadi pemisah antara kamar Angelina, Roman, dan Natasha.


"Roman, mandilah dulu sebelum tidur!" tegur Angelina, saat menatap dari balik pintu dan mendapati Roman terbaring diatas kasur.


"Aku sudah mandi ... maa ...." kata Roman yang telah diliputi rasa kantuk.


Angelina pun turut mendapati Natasha yang tertidur diatas tubuh Roman. Ia kemudian menghampiri gadis itu dan menggendongnya menuju kamar. Natasha pun terbangun. "Maaama! Aku ingin tidur dengan Roman ...." kata Natasha. Gadis kecil itu sudah sangat melekat dengan kakaknya.


"Kamu sudah besar nak. Biarkan kakakmu beristirahat." tutur Angelina. Ia pun membawa Natasha yang sudah terlanjur mengantuk, menuju kamarnya. Selepas meletakkannya diatas kasur, Angelina kemudian mengusap rambut putrinya seraya menatap wajahnya. Gerrard, mengapa putra putriku sangat mirip denganmu. Kau sungguh tidak adil, batinnya.


...*** Rumah Keluarga Helsink ***...


Valerie semakin terhanyut dalam lautan kecemasan. Ia menguatkan pegangannya pada setir mobil seraya menunggu para petugas polisi, selesai menginvestigasi rumahnya. Roman, aku harap kau baik-baik saja, batin Valerie. Ia sebenarnya tak menyadari, bila Roman-lah yang telah membobol gerbang rumahnya.


Seketika para petugas yang menyelidiki rumah Valerie, telah kembali dari misi mereka. Valerie pun kemudian beranjak dari mobilnya seraya menghampiri petugas polisi tersebut. "Pak! Bagaimana?" tanya Valerie dengan penuh kecemasan.


"Kami telah memeriksa keadaan disekitar rumah dan tidak mendapati seorang pun. Lalu, salah satu dari petugas kami melihat sebuah jendela yang terbuka dan sebuah trampolin yang berdiri tepat dibawah jendela tersebut. Para petugas kemudian berusaha masuk melalui jendela. Setelah melakukan berbagai pengecekkan, Kami tidak mendapati seorang pun dirumah. Kemungkinan pelakunya hanya mengincar adik nyonya untuk dijadikan sandera," ujar salah seorang petugas kepolisian.


"T-Tidak mungkin! Roman ...." Valerie membelalakkan matanya seraya terkejut, setelah mengetahui Roman telah menjadi sasaran penculikan dari para penyusup.


"Baiklah. Kami akan kembali ke kantor guna melakukan penyedikan segera," kata salah seorang petugas polisi.


"Nyonya tidak usah khawatir, petugas kami yang lain telah membetulkan sistem kelistrikan pada gerbang rumah anda," ujar salah seorang petugas polisi lainnya.


"B-baiklah! Terima kasih pak!" ucap Valerie seraya menundukkan wajahnya ke arah petugas polisi tersebut. Ia kemudian mendapati mereka telah memasuki mobil dan bergegas menuju kantor polisi, seraya diiringi dengan suara serta lampu cahaya sirine yang menyala.


Valerie pun turut bergegas memasuki mobilnya. Ia mencoba memastikan bila gerbang tersebut telah berfungsi. "Syukurlah!" kata Valerie setelah menekan tombol remot gerbang dan mendapati gerbang rumahnya terbuka dengan sendirinya.


Rasa khawatir telah melanda pikirannya yang semakin tak karuan. Valeri menjadi tak bersemangat saat memarkirkan mobilnya kedalam Rumah. Bagaimana ini??? Apa lagi yang harus kulakukan untuk membuat Roman kembali? ... Apa yang harus kukatakan kepada ibunya nanti? batin Valerie dengan segala kecemasannya.


Setelah memasuki rumah, lalu dalam beberapa saat, ia membenahi kamarnya, Valerie pun memutuskan untuk menunggu sampai pagi. Ia berniat menanti informasi dari petugas polisi kemajuan kasus penculikan Roman. Gadis yang usianya belum genap 22 tahun itu, berusaha menahan rasa kantuknya seraya terduduk diatas kasur.


...*** Rumah Sakit ***...


Pohon harapan seketika berbuah, saat Rika mendapati Valentine, menggerakkan tangannya secara perlahan. "V-Valentine??" kata Rika yang tengah duduk seraya memperhatikan Valentine.


Air mata kebahagiaan pun seketika mengalir, dan mengisi penuh kekosongan dalam hatinya.


Rika lalu melihat Valentine membuka kedua matanya secara perlahan. "Valentineeee!!" sorak Rika dengan segala harapannya.


Namun, kesedihan kembali meretakkan hatinya, saat mendapati Valentine, tetap membisu dan membelalakkan mata ke arah langit-langit. "Valen ... tine???" kata Rika. Ia pun dilanda rasa ketidakpercayaan melihat sikap sahabatnya itu. "T-tidak mungkin ...." Rika kembali menangis tersedu-sedu sambil menggenggam erat pergelangan tangan Valentine.


Beberapa saat kemudian, Bryan datang. "Rika! Maaf, aku datang terlalu malam!" ucap Bryan setelah membuka pintu ruang perawatan, dan mendapati Rika yang tengah mencengkeram erat tangan kiri Valentine sambil menangis tersedu-sedu.


"Briaaann ...." Rika menampakkan wajah kesedihannya pada Bryan. Kedua matanya yang sembab itu, semakin meluluhlantakkan hati wakil ketua OSIS-nya.


Bryan lalu menempati kursinya dan duduk disamping Rika. Ia turut simpati dengan keadaan Valentine yang tetap bergeming dengan kedua mata yang membuka lebar, tanpa pergerakan sedikitpun. "Valentine ... sadarlah, jangan takut!"-ia menyentuh kaki kanan Valentine-"Aku akan menghajar bajingan itu!" kata Bryan dengan tegas. Namun, yang didapatinya hanyalah keheningan sikap Valentine.


"Valentineeee, berbicaralaaah!! ... jangan berikan tatapan yang menyeramkan itu ...." Rika terus menerus menggoyang-goyangkan tangan kanan Valentine. Ia merasakan trauma dan penderitaan yang amat pedih dari tatapan bestie-nya itu.


Rika sontak memeluk tubuhnya yang masih terbaring lemah. Tangisannya pun semakin tak terkontrol. Valentine yang dulu dikenalnya, telah mati. Dan berganti menjadi Valentine yang sangat-sangat tak diharapkan olehnya itu.


Menangis dan menangis. Hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Rika. Air matanya yang sangat berharga itu, semakin menetes deras, hingga membasahi perut seorang gadis, yang sudah tak sanggup lagi menahan penderitaannya tersebut. Malaikat pun pasti menilai, bila tangisan Rika benar-benar jatuh kepada orang yang tepat.


...(Beberapa saat kemudian)...


Rika pun memutuskan untuk menghubungi Valerie, setelah mendapatkan saran dari dokter, untuk segera membawa pulang Valentine. "Halooo ... Kak ...." kata Rika dengan suara serak, setelah mendapati Valerie mengangkat teleponnya.


"Rika! Ada apa? Apa yang telah terjadi dengan Valentine?" tanya Valerie dengan tergesa-gesa.


"Ia telah sadar ...." tutur Rika dengan tenang.


"Syukurlah! Aku akan segera kesana!" ucap Valerie dengan penuh kecemasan dalam hatinya.


Valentine, jika kau terus seperti ini, aku tidak akan sanggup melihatmu lagi ... batin Rika. Ia pun terhasut oleh rasa keputusasaannya. Gadis itu tak dapat lagi menanggung beban air matanya, jika Valentine yang sangat disayanginya itu, tak sedetikpun memberikan reaksi padanya.


...(Sepuluh menit kemudian)...


Valerie semakin piawai dalam berkendara, meski kecepatan laju mobilnya dimaksimalkan. Hal itu dilakukannya karena sudah tak sabar ingin menemui Valentine. Demi kesembuhan adikku, aku akan melakukan segalanya, batin Valerie.


Selepas memarkirkan mobilnya di basemen rumah sakit, Valerie bergegas menuju ruang perawatan Valentine. Ia pun turut memaksimalkan langkah kakinya guna mencapai ruang perawatan, tempat dimana sang adik tercinta berada. Oh Tuhan, sudahilah penderitaan adikku, batinnya dalam kecemasan yang tiada tara.


Rasa khawatirnya yang amat mendalam, semakin menguatkan ketidaksabaran Valerie, saat memasuki ruang perawatan. "Valentine!" soraknya dengan sontak, dari balik pintu. "T-tidak mungkin!"-ia membelakakkan matanya-"Valentineee!!!" Valerie pun memekik hingga suaranya menggema ke seluruh sudut ruangan. Dengan penuh rasa ketidakpercayaan, Valerie bergegas menghampiri adiknya yang sedang duduk ditengah ranjang, seraya mematung.


"Valentine, Valentine! Sadarlah sayang ... Valentine! Jangan menatap seperti itu," kata Valerie yang duduk menghadap Valentine, sambil menggoyang-goyangkan kedua pundak adiknya. Walau telah berdiri ditepi jurang keputusasaan, Ia tetap berusaha mengembalikan kesadaran Valentine semaksimal mungkin. "Valentine, katakanlah padaku. Ceritakan semua yang kau rasakan dan kau alami sebelumnya. Jangan dipendam Valentine!" katanya dengan penuh keyakinan.


Namun, Valerie pun akhirnya terjatuh dalam jurang keputusasaan. Ia terombang-ambing dalam lautan ketidakberdayaan, saat mendapati adiknya tetap membisu, tanpa memberikan reaksi apapun. Valerie sontak memeluk tubuh Valentine dan memberikan serentetan air mata pada punggung sang adik. "Valentineee ...." ucap Valerie dengan tersedu-sedu.


Seluruh saksi yang ada diruang tersebut pun turut menangis, menyaksikan peristiwa yang mengharukan itu. Tidak hanya sekedar mengharukan, namun dapat meluluhlantakkan hati yang melihatnya. Tak terkecuali, Rika dan Bryan. Mereka saling berpadu dalam kesedihan, meratapi kondisi Valentine yang malang itu.


Tuhan pun memberikan keajaiban dan mengakhiri seremoni kesedihan, dari para pemuja air mata.


"Ka ... k-k-kaakaaak ...." Valentine mencoba untuk berbicara, walau dengan terbata-bata. Ia berusaha memberikan reaksi, setelah mendapati kehadiran seseorang yang sangat disayanginya.


Valerie yang mendengar suaranya pun sontak berbalik dari punggung Valentine. "Valentine!" katanya. Ia pun mendapati Valentine mulai menggerakkan kedua bola matanya. "Valentine, aku disini sayang. Kakakmu disini. Jangan khawatir ...." ucap Valerie seraya menempelkan keningnya pada kening Valentine. Ia lalu merangkul tubuh adiknya dan mengelus rambutnya dengan penuh perhatian.


"Valentine? Valentine!" Rika pun sontak menghampiri Valentine seraya memeluknya dengan erat. "Valentineeee! Syukurlah ...." katanya dengan penuh isak tangis yang mendalam. Ombak harapan seketika menerjang karang hatinya, saat mendapati Valentine, memberikan reaksi yang sangat-sangat diinginkan olehnya itu. Rika yang tengah memeluk Valentine, terus menerus melampiaskan rasa syukurnya, seraya menatap ke arah langit.


Valerie kemudian memutuskan untuk membawa Valentine pulang. Sedangkan Bryan, mengantarkan Rika pulang menuju rumahnya.


"Kak Valerie, besok sepulang sekolah, aku akan menjenguk Valentine," kata Rika kepada Valerie yang telah memasuki mobilnya.


"Baiklah," Valerie pun tancap gas dan bergegas menuju rumahnya. Berakhirlah sudah segala kecemasan yang dirasakan oleh guru baru itu. Ditengah konsentrasinya dalam mengendarai mobil, Valerie kemudian melanjutkan kekhawatirannya terhadap Roman, seraya menunggu kabar dari pihak kepolisian.


~To be continued~