My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 45. Duka



Rasa ketidakpercayaan itu, semakin menusuk-nusuk relung hatinya. Roman belum percaya, dan tidak akan pernah percaya, atas apa yang telah diungkapkan Andrea tentang keluarganya.


Tidak mungkin! Mustahil! Ibu dan adikku pasti akan baik-baik saja! Barangkali yang dia lihat adalah oranglain! pikir Roman sambil menuruni anak tangga, menuju lantai satu.


Meski kondisi tubuhnya masih lemah, tapi bila menyangkut urusan keluarganya, Roman akan berupaya sekuat tenaga untuk melindungi mereka. Mamaaa, Nataa, aku yakin kalian pasti baik-baik saja. Semoga pengakuan kak Andrea salah! pikirnya sambil mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga satu persatu.


"Romaaan!" sorak Valentine yang berusaha menyusul Roman dari kejauhan, dengan Rika yang turut mengikutinya.


Mereka lalu menuruni anak tangga menuju lantai satu, dan mendapati Roman tengah berdiri sambil menoleh kiri kanan pada setiap area ruangan yang berada dalam rumah sakit itu. "Roman!" Valentine akhirnya berhasil menggenggam erat tangan Roman.


"Valentine, Rika! Bantu aku mencari dimana ruangan identifikasi!" seru Roman yang semakin terdorong oleh rasa penasarannya.


"Rika, kau ke arah kiri! Aku dan Roman akan mencari ke arah kanan!" seru Valentine.


"Baik!" Rika kemudian mengambil jalan kiri lorong rumah sakit, sementara Valentine dan Roman mengambil jalan kanan.


Rika mempercepat langkah kakinya seraya menoleh ke papan-papan nama setiap ruangan yang ia lewati. Ia turut mengambil sikap ketidakpercayaannya, atas semua perkataan Andrea perihal musibah yang menimpa keluarga Roman.


Langkah kakinya seketika terhenti, tepat diujung lorong. Ia lalu menatap ke arah ruangan terakhir, yang menjadi pusat perhatiannya. "Ruuuaaang iiiidentifikasi!" ucapnya, setelah memusatkan pandangannya pada sebuah tulisan, yang tertera di plang atas pintu ruangan tersebut.


Namun, Rika tak berani memasuki ruangan itu, sebelum Roman sendiri yang memasukinya. Ia kemudian berbalik dan kembali mencari keberadaan Roman. Aku sudah menemukan ruangannya! Semoga saja apa yang dikatakan dan dilihat kak Andrea, tidak benar-benar terjadi, batin Rika sambil mengepalkan kedua tangannya.


Belum jauh ia melangkah, Roman dan Valentine telah terlihat, sejauh mata memandang. "Romaaann!! Ruangannya ada disanaaa!!" sorak Rika seraya menjulurkan tangannya kebelakang, menuju arah ruangan identifikasi.


Mendengar sorakan Rika, Roman pun sontak berlari menghampirinya, dengan Valentine yang turut berlari bersamanya sambil menggenggam erat sebelah tangannya.


Roman mempercepat larinya melewati tubuh Rika. Pegangan tangan Valentine seketika terlepas dari tangannya, karena gadis itu tak mampu mengimbangi kecepatan larinya. Lihat saja! Aku takkan memaafkanmu karena sudah mengatakan yang tidak-tidak tentang keluargaku, kak Andrea! pikir Roman, yang hampir mendekati pintu ruangan identifikasi.


Roman sontak menghentikan laju kakinya, tepat didepan pintu ruangan, seraya menghela nafasnya dengan tergesa-gesa. Ia lalu memberanikan diri, untuk membuka ruangan tersebut.


"Masuklah!" seru sang petugas wanita, yang masih tetap menunggu diruang tersebut. Ia mendapati Roman menolehkan kepalanya dari balik pintu, seraya tercengang saat menatap pada kedua kantung mayat yang tertutup rapat.


Roman kemudian masuk, dengan diikuti oleh Valentine dan Rika. Rika lalu menutup pintu rapat-rapat, sambil menahan bau busuk yang sangat menyengat hidungnya.


"Pakai masker ini," seru sang petugas wanita seraya menyodorkan tiga masker mulut untuk mereka. "Siapa diantara kalian, yang merasa kehilangan keluarga?" tanya sang petugas wanita, sambil terduduk diatas kursinya.


Roman yang baru saja bangkit dari koma-nya itu, tetap terdiam seraya menggetarkan giginya, saat menoleh ke arah dua kantung mayat yang tergeletak di atas masing-masing ranjang.


"Baiklah kalau begitu, aku akan membukanya. Barangsiapa diantara kalian yang merasa mengenali korban, diharapkan untuk tetap tenang," perintah sang petugas. Ia lalu berdiri dari kursinya dan segera membuka resleting dari masing-masing kantung mayat tersebut.


Roman tercengang bukan kepalang. "Ma—mamaa? ... Natashaaa?" ucapnya dengan mata yang membelalak lebar dan mulut yang sedikit menganga.


Hatinya seketika hancur berkeping-keping, saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, wajah-wajah dari kedua jasad itu adalah, ibu dan adik tercintanya.


Roman kemudian berjalan menghampiri jasad Angelina. "Mamaaa? Mamaaaa?! Mamaaaaaaaaa!!!" sorak Roman seraya merangkul kepala sang bunda, yang telah gosong menghitam hingga terkelupas kulitnya.


Matanya semakin membelalak lebar, sebelum membalikkan badannya ke arah jasad sang adik. "N-n-nataaaa?!!" Kepala dan tangannya bergetar dengan sangat hebat, saat menyaksikan wajah Natasha, turut hangus terbakar dengan bercak darah yang membekas, dan semakin membusuk.


"Natashaaaaaa!!!" soraknya dengan suara yang melengking.


Roman merangkul kepala Natasha dengan penuh kedukaan yang amat mendalam. Air matanya pun jatuh membasahi wajah sang adik. "Natashaaaaaaaaaa!!!" Jeritan yang sangat kuat itu, benar-benar berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Roman tak dapat mengikhlaskan hatinya, untuk merelakan kepergian dua orang yang sangat dicintainya itu.


Valentine berniat mendekati Roman. Namun, insting wanitanya mengatakan untuk tidak mengganggu dan membiarkan kekasihnya itu, meratapi kepergian dua orang tercintanya.


Roman seketika berlutut, ditengah-tengah dua jasad tersebut. Dengan wajah yang menunduk, ia terdiam sejenak. "Tak ada lagi yang menjadi alasanku, untuk tetap hidup," ucapnya seraya menegakkan tubuhnya, dan berjalan menuju pintu ruangan.


"Romaaan!!!" Valentine berusaha memeluk tubuh Roman dan berniat menghalanginya.


"Lepaskan!!" Roman melepaskan pelukan Valentine dan mendorongnya hingga menabrak tubuh Rika. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung melewati pintu ruangan, dengan ditemani air mata yang terus mengalir membasahi lantai.


Valerie telah berdiri dihadapan Roman, dengan Andrea yang turut berdiri dibelakangnya. "Romaaann!!!" Valerie berusaha mencegah Roman untuk pergi meninggalkan ruangan. Ia khawatir bila muridnya itu akan berbuat nekat.


"Minggir kak Valerie!!! Jangan menghalangi jalanku!!!" bentak Roman sambil menghempaskan tangan kanannya, dari kiri ke kanan.


"Aku tanya padamu! Kau ingin kemana?! Dan akan melakukan apa?!" tanya Valerie seraya merentangkan kedua tangannya didepan Roman.


"Bukan urusanmu!!! Kau bukan keluargaku dan tidak berhak untuk menanyakan segala urusanku!!!" Dengan mata yang sembab dan terus mengalirkan air mata, Roman menatap tajam ke arah Valerie.


Valerie pun sontak berjalan menghampiri Roman. Ia lalu memeluk tubuh anak itu seerat mungkin. "Mulai hari ini kau adalah keluargaku!! Romaan!!!" bentak Valerie yang suaranya menggelegar ditelinga Roman.


Roman tercengang, tanpa membalas pelukan Valerie.


"Aku pun turut merasakan kesedihan atas kepergian Nyonya Angelina. Beliau adalah panutanku," ungkap Valerie dari lubuk hati yang paling dalam.


"Roman! Kau tidak sendirian!" sambung Andrea yang telah mendekati mereka berdua.


Setelah keluar dari pintu dan mendapati Roman dalam pelukan Valerie, Valentine pun sontak berlari, lalu memeluk punggung Roman seerat mungkin. "Romaaaaannn!! Jangan egoisss!!!" bentak Valentine yang turut memekakkan telinga Roman.


Ia lalu menoleh kearah langit, seraya membelakakkan matanya yang telah memerah. "Aaaaaa!!! aaaaaaaaa!!! aaaaaaaaaaaaaa!!!" Roman bersorak berulangkali, seakan tidak percaya dengan musibah apa yang telah menimpa keluarganya.


Meski tubuhnya terbelenggu erat oleh pelukan dua gadis, Roman semakin tenggelam dalam rasa dukanya. "Mamaaaaaaa!!! Natashaaaaaaa!!! Kembalilaaaaaaaahhh!!!" Sorakan yang sangat keras itu, berisi secercah harapan yang sangat mustahil untuk dikabulkan. Ia kemudian menangis tersedu-sedu, dalam pelukan kedua kakak beradik, yang sangat-sangat empati terhadapnya.


~To be continued~