My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 34. Hukuman



Roman bergegas memasuki pintu kelas, selepas berkunjung ke perpustakaan. Ia lalu menduduki kursinya dan sontak merebahkan kepalanya sambil menghadap ke arah luar jendela.


Seluruh murid kelas 1A tengah dihebohkan dengan kejadian yang melibatkan pertengkaran antara Valentine dan salah satu anggota OSIS, di ruang OSIS.


"Kevin, apa kau tahu penyebab Valentine bertengkar dengan bendahara OSIS?" tanya Owen Dean, putra pengusaha manufaktur ponsel terkini yang duduk disebelah Kevin Shearer.


"Tidak. Aku tak terlalu memperdulikannya." pungkas Kevin Shearer yang sontak menoleh ke arah belakang dan mendapati Roman tengah termenung.


Kevin kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Roman. Ia lalu menyodorkan beberapa lembar uang yang nilainya sangat lumayan. "Roman, ini untukmu," ucapnya.


Roman seketika menoleh ke arah Kevin. "Apa maksudnya ini?" tanya Roman sambil menatap pada lembaran uang yang disodorkan Kevin.


"Ambilah. Dan, jangan lupa, pilih aku dalam pencalonan ketua kelas nanti," bujuk Kevin dengan penuh percaya diri.


Roman mendorong tangan Kevin alih-alih menolak suap darinya. "Pilihanku, bukan berdasarkan sogokan yang kau berikan ini," tampik Roman lalu kembali menoleh ke arah luar jendela.


Kevin sempat tercengang. Namun, ia bersikeras untuk membujuk Roman. "Ambil cepat! Ini setimpal dengan pilihanmu nanti. Jangan khawatir! Semua orang disini menerima jatah dariku sama rata," bujuk Kevin dengan sedikit raut kesal di wajahnya.


Roman tak menghiraukan bujukan Kevin. Ia tetap tetap membisu seraya menyandarkan kepalanya ke atas meja dan menoleh ke ara luar jendela. Tanpa kau suap juga aku pasti akan memilihmu! pikirnya.


(Brak!)


Kevin merasa kesal dan menggebrak meja Roman. "Sombong sekali kau menolak uang sebanyak ini?! Apa kau sudah lebih kaya dariku?!" tegur Kevin seraya menyeringai. Ia lalu melempar lembaran uang tersebut ke arah Roman sambil beranjak kembali menuju kursinya dengan mendecih berulangkali.


Roman tercengang dengan tindakan tidak sopan Kevin. Ia memungut beberapa lembar kertas uang yang berserakan diatas meja dan lantai tempat kakinya berpijak. Cih! Dasar orang kaya! Bertindak semaunya! batin Roman sambil menyusun uang tersebut satu persatu.


Hatinya seketika tersentuh saat melihat banyaknya jumlah uang yang berada dalam genggamannya. Roman termenung seraya menatap pada uang-uang tersebut. Wahh!! Dengan uang sebanyak ini, aku bisa membantu kesulitan mama. Tapi! Aku tidak akan membiarkan korupsi merajalela disekolah ini! pikir Roman dengan raut wajah yang berubah-ubah.


"Roman!!" Valerie sontak memasuki ruang kelas. Ia lalu menatap ke arah Roman seraya termenung. Syukurlah! Kalau dia sudah di kelas, maka aku tak perlu mengkhawatirkannya lagi. Tinggal bagaimana caraku bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan Valentine! batin Valerie.


"Kalian semua dengarkan aku, untuk sementara buka buku pelajaran sejarah halaman tiga dan pahami seluruh isinya! Aku akan kembali beberapa saat lagi!" ucap Valerie kepada seluruh siswa kelas 1A.


Setelah memastikan Roman telah berada didalam kelas 1A, Valerie pun beranjak meninggalkan kelas dan bergegas menuju ruang kedisiplinan sekolah. Cih! Ada saja masalah yang selalu menghalangiku saat ingin mengajar dikelas, pikirnya dengan raut wajah kesal sambil mempercepat langkah kakinya menuju ruang KS.


"Pak Bernard, aku datang!" kata Valerie saat membuka pintu ruangan KS dan mendapati Valentine serta Audrey tengah berdiri mematung, seraya menunduk didepan meja kerja Bernard Gilbert, wakil kepala sekolah bidang kedisiplinan siswa.


"Valerie, kemarilah," seru Bernard sambil terduduk diatas kursi kerjanya dengan menatap tajam kearah dua siswi yang telah berbuat onar dilingkungan sekolahnya.


Valerie kemudian menghampiri Bernard dan berdiri disampingnya, sambil menghadap ke arah Audrey dan Valentine. "Valentine, Audrey, apa yang telah menyebabkan kalian bertengkar diruang OSIS?" tanya Valerie seraya bersedekap tangan.


"Audrey yang telah menarik rambutku lebih dulu, kak," tutur Valentine yang melenceng dari pertanyaan Valerie.


"Tidak! Semua itu gara-gara Valentine yang telah membuatku kesal, Bu Valerie," potong Audrey yang berusaha membela dirinya dihadapan Valerie.


(Brak!)


Bernard menggebrak meja karena merasa kesal dengan jawaban mereka, yang telah melenceng dari pertanyaan Valerie. "Bukan itu yang dimaksud Valerie! Apa kalian menyimak pertanyaannya?!!" bentak Bernard dengan urat wajah yang menebal.


Valentine dan Audrey menjadi ketakutan setelah menerima gertakan dari wakil kepala sekolah yang sangat berang terhadap mereka.


Bernard kemudian melanjutkan pembicaraannya. "Jika kalian tidak menuturkan apa sebab dan alasan pertengkaran kalian sebenarnya, maka aku akan memberikan hukuman yang sangat berat." tegas Bernard sambil mengepalkan kedua tangannya diatas meja.


Namun, kedua gadis itu tetap bergeming, hingga membuat kesabaran Bernard telah melambung melewati batas. "Baiklah. Audrey! Kau diskors selama seminggu! Dan Valentine, kau tetap disekolah, Valerie yang akan menggantikan hukumanmu dengan ku liburkan selama seminggu!" Bernard benar-benar merasa murka setelah dirinya di acuhkan oleh kedua gadis tersebut.


Valentine kemudian bersuara. "Tap—"


"Tidak ada tapi-tapian!!! Aku wakil kepala sekolah yang berwenang memberikan hukuman pada kalian! Jika tidak terima, silahkan angkat dari sekolah ini!" bentak Bernard sambil menunjuk ke arah pintu ruang KS.


"Valentine! Jangan membantah! Kembali ke kelasmu!" seru Valerie yang sudah merasa ketar-ketir dengan kemarahan Bernard. "Audrey! Cepat kembali ke kelasmu! Renungkan perbuatanmu selama menjalani masa skors!" tegur Valerie pada Audrey.


Audrey pun sontak mendongakkan wajahnya seraya menatap tajam ke arah Valerie. Brengsek! Mentang-mentang kakaknya Valentine, seenaknya saja memarahiku! gumamnya dalam hati.


Audey pun turut bergegas keluar dari ruang KS dengan penuh perasaan kesal dihatinya. Biarpun diskors selama seminggu, aku tidak akan mengibarkan bendera putih pada gadis brengsek itu! Roman adalah milikku! gumam Audrey seraya berjalan melewati pintu.


"Valerie! Kau tetap disini." -Bernard beranjak dari kursi- "Tenang saja. Gajimu tetap utuh meski berlibur selama seminggu penuh. Gunakan waktu itu, untuk memperbaiki sikap dan perilaku adikmu," ucap Bernard yang telah menurunkan kadar emosinya seraya menatap ke arah luar jendela.


"Baik, pak." pungkas Valerie setelah mendengar perkataan Bernard yang tengah berdiri menghadap jendela.


Beberapa saat kemudian, setelah menerima bimbingan dari Bernard selama setengah jam, Valerie bergegas menuju ruang kelas 1A. Gara-gara mereka, aku jadi diliburkan selama seminggu! Rusak sudah karirku sebagai guru, batin Valerie seraya mempercepat langkah kakinya menuju ruang kelas.


Valerie pun memasuki ruang kelas 1A dengan tergesa-gesa. Ia lalu mendapati seluruh siswa tengah membaca buku sejarahnya masing-masing dengan penuh antusias. "Maaf semuanya, aku datang terlambat! Apa kalian sudah memahami materi halaman tiga?!" sorak Valerie setelah menduduki kursi miliknya.


"Sudah, Bu Valerie!!" ucap seluruh siswa secara serempak.


"Baiklah! Kalau begitu, silahkan tutup buku kalian. Aku akan menunjuk salah satu dari kalian untuk menjawab pertanyaanku dengan benar. Jawaban kalian sangat menentukan nilai pelajaran kalian kedepannya. Maka, jawablah sesuai dengan materi yang telah kalian pahami di buku tersebut!" seru Valerie sambil berdiri dari kursi dan menatap satu-persatu murid-muridnya.


"Roman!" Valerie menunjuk ke arah Roman.


Roman pun berdiri dari kursinya. "Siap, Bu Valerie!" ucapnya dengan nada tinggi.


"Kapan Ratu Elizabeth II dinobatkan sebagai Ratu Inggris?!" tanya Valerie seraya menatap tajam ke arah Roman.


Roman sempat tercengang saat menerima pertanyaan dari Valerie. Pertanyaannya kenapa melenceng dari materi?! Apa Bu Valerie sedang mengalami masalah?! pikirnya sambil menggigit bibir bawah.


Roman kemudian menjawab. "2 Juni 1953," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Bagus! Kembali ke posisi dudukmu!" seru Valerie setelah Roman berhasil menjawab pertanyaannya dengan benar.


Valerie kemudian memberikan serentetan pertanyaannya kepada seluruh siswa secara bergilir. Namun, ia tak menyadari bila pertanyaannya telah melenceng dari materi pembelajaran buku sejarah halaman tiga, yang membuat seluruh siswa kesulitan menjawab, sampai-sampai Valerie merasa gusar, karena selalu menerima jawaban yang salah.


Giliran Valentine yang belum jua mendapatkan pertanyaan darinya. Valentine pun merasakan perubahan suasana hati sang kakak yang mungkin merasa kesal atas perbuatannya. Kak Valerieeeee! Maafkan aku! Jangan berikan pertanyaan yang sangat susah! Aku mohooonn, batinnya sambil menggigit bibir bawah.


"Valentine!" Valerie pun akhirnya menunjuk pada Valentine.


Valentine sontak berdiri dari kursinya. "S-siap, k-k-kak Valerie!" Ia tak dapat mengelak saat tubuhnya bergetar dengan hebat dan keringat dingin yang mulai meluncur dari kepalanya.


"Kapan negara Indonesia merdeka?!" tanya Valerie dengan nada keras seraya bersedekap tangan.


Apa yang dirasakan Valentine pun akhirnya terjawab. Valerie benar-benar merasa kesal dengannya setelah memberikan pernyataan yang sangat-sangat sulit untuk dijawab. Valentine kemudian menunduk tanpa berkata sepatah katapun.


Mendapati Valentine terdiam seribu bahasa seraya ketar-ketir, Valerie sontak mengalihkan perhatiannya pada Roman. "Roman! Jawab pertanyaan Valentine!" seru Valerie dengan nada keras.


Roman pun berdiri dengan sigap. "17 Agustus 1945!" jawabnya dengan penuh kepercayaan diri.


"Bagus! Kalian berdua boleh duduk!" seru Valerie setelah Roman menjawab pertanyaanya dengan benar.


Valerie kemudian berjalan melewati barisan antara kursi Valentine dan Roman. "Apa-apaan ini! Mana kemampuan belajar kalian itu?!! Apa kalian tidak peduli dengan masa depan kalian?! Pertanyaanku saja bahkan sulit dijawab dengan benar oleh kalian! Apa kebodohan telah merasuki kalian!!" bentak Valerie yang hampir mendekati kursi Valentine.


(Brak!)


Valentine sontak terkejut saat Valerie menggebrak mejanya sambil menatap ke arah para murid. "Apa bimbinganku dikelas ini benar-benar tidak menguntungkan bagi kalian?! Hah?!!" bentak Valerie yang benar-benar sudah termakan rasa kesalnya.


(Tringgg!!! Tringgg!!! Tringgg!!!)


Bel pun berbunyi pertanda kegiatan belajar sudah usai. Suara bel itu pulalah yang telah meredamkan rasa tegang seluruh siswa akibat menerima berangan Valerie.


Setelah mendengar suara bel, Valerie pun sontak bergegas keluar dari ruang kelas dengan tergesa-gesa.


~To be continued~