
Audrey merelakan tubuhnya diterjang hujan, demi mencari keberadaan Roman. Minimnya jarak pandang penglihatan, tak menyurutkan niatnya untuk mengungkapkan rasa bersalahnya itu. Kemanakah perginya dia. Apa sudah pulang kerumah? Aku pun bahkan tak tau dimana rumahnya! batin Audrey.
Rasa cemas yang membabi-buta dalam hatinya, telah membuat Audrey memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Ini sudah di perbatasan kota. Apa aku harus mencarinya ke kota lain? batinnya setelah mendapati sebuah jembatan besar yang sejalur dengan jalannya. Ia pun tetap meneruskan pencariannya dan berniat melewati jembatan itu.
Aku sudah tiba di jembatan Highburg. Jika Roman tak jua ku temukan, maka aku akan menetap di kota itu sebagai pelarian. Aku takut, bila kak Andrea membenciku, karena pulang dengan tangan kosong, batin Audrey seraya melintasi jembatan Highburg.
Selepas melewati jembatan yang sangat luas dan panjang itu, Audrey pun berubah pikiran. Tidak tidak tidak tidak! Aku tidak boleh kabur dari rumah! Aku harus pulang, meski tanpa hasil. Barangkali dia sudah sampai dirumahnya! batin Audrey. Demi menghormati perasaan Andrea, Ia memutuskan untuk memutar balikkan kendaraannya, dan kembali bergegas menuju jembatan Highburg.
Audrey seketika meneteskan air matanya, saat mencoba mengingat kembali perlakuannya pada Roman. Andai saja aku tidak memukulnya. Tentu semuanya takkan terjadi seperti ini, batinnya sambil terus menarik tuas gas motor ke arah bawah.
Saat hampir tiba menuju tengah jembatan, mesin motor yang ditungganginya pun mati secara mendadak. Hah?? Kok mati? batinnya seraya menarik tuas gas berulangkali. Audrey kemudian menekan tuas remnya dan menepi dipinggir trotoar. Ia lalu menatap kearah dashboard motor dan mendapati indikator bensin menyala merah. Duuuh! Bagaimana ini??!! Kak Andrea pasti marah kalau tahu aku telat mengisi bensin, batin Audrey dengan wajah cemas.
Hujan pun akhirnya mereda. Hanya menyisakan rintik-rintik gerimis kecil. Audrey yang telah mendudukkan bokongnya diatasnya trotoar, merasakan hawa dingin yang seketika menembus ribuan lubang pori-pori kulitnya. Rambut twin tail kebanggaannya pun layu dan lepek.
Audrey lalu kebingungan dan termenung sejenak. Persetan dengan kemarahan Kak Andrea! Yang jelas, aku harus menghubunginya agar segera menjemputku bagaimana pun caranya! batin Audrey yang telah mencapai batas kesabarannya. Keheningan dan kegelapan suasana dijembatan itu, telah membuat jiwa dan raganya merasakan ketakutan.
Beruntung ponselnya tahan dengan air. Ia lalu mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam sakunya dan segera menghubungi Andrea. "Halo, Kak!" kata Audrey setelah mendapati Andrea menjawab panggilannya.
"Audrey! Kau dimana?" tanya Andrea dengan penuh rasa cemas.
"Aku berada ditengah jembatan Highburg. Aku hampir mati kedinginan disini," keluh Audrey seraya menahan rasa dingin.
"Jembatan Highburg? Itu jauh sekali! Kenapa kau bisa sampai disana? ... Roman pun tidak mungkin ada disana! ... Pulanglah! Istirahatkan dirimu," ucap Andrea dengan sedikit nada kesal.
"Kau ini bagaimana sih kak! Tadi kau suruh aku mencarinya! Sekarang malah mengomeliku! Aku sudah tidak bisa pulang lagi! Motormu mati mendadak dijalan!" gumam Audrey yang turut kesal dengan respon sang kakak.
"Mati mendadak? Apa kau belum mengisi bahan bakarnya?" tanya Andrea yang semakin membuat sang adik kesal.
"Aaargghh!! Aku tidak tau kenapa motormu mati mendadak! Yang jelas, aku akan mati kedinginan disini! Cepaat jemput akuuuu! Kau lebih peduli pada motormu yang mati, atau adikmu ini yang akan mati!!!" Audrey benar-benar meluapkan kekesalannya pada Andrea. Ia pun sontak memutuskan panggilan ponselnya dengan sang kakak.
Ditengah dinginnya malam, Audrey mulai membangun rasa sabarnya, seraya menanti kedatangan sang kakak. Ia pun belum menyadari, bila ada seseorang yang telah menguping pembicaraannya dari atas puncak jembatan. Aku yakin kak Andrea pasti mengerti dengan keadaanku ini. Bila ia memarahiku karena tak dapat mencari lelaki itu, maka aku pun akan memarahinya pula, batin Audrey.
Setelah menunggu beberapa puluh menit, ia tak jua mendapati kehadiran Andrea. Rasa kesal pun semakin mengikis sedikit demi sedikit kesabarannya. Brengsek! Dia benar-benar sudah keterlaluan! Apa dia senang, aku mati disini?! ... Aku sudah lapar! Tubuhku pun basah kuyup! gumam Audrey dalam hatinya, seraya mendecih berulangkali.
Meski merasa kesal, Audrey tetap setia menanti kehadiran sang kakak. Duduk berdiri duduk berdiri, hal itu terus dilakukannya berulang-ulang. Emosinya pun menjadi tak karuan. Aaaahhh ... Kak Andreaaaa ... kenapa dirimu lama sekali ... aku sudah benar-benar tak sanggup menahan lapar. Kalau aku sakit, kau juga yang repot nanti, batin Audrey seraya memeluk perutnya dengan erat.
Ia akhirnya menyerah dan tak sanggup lagi berdiri. Rasa kantuk kemudian menyerang matanya tanpa permisi. Jangan, Jangan tidur! Kalau tertidur, kejahatan pasti akan menghampiri ku, batinnya.
Audrey kemudian mencoba untuk berdiri dan beranjak menuju besi penyangga jembatan. Aliran sungai yang sangat deras itu pun mampu menarik perhatiannya. Aku jadi ingat masa kecilku, bila melihat sungai ini, batin Audrey.
Selepas menikmati panorama sungai, Audrey sontak membalikkan tubuhnya. Ia lalu duduk diatas trotoar, seraya bersandar pada besi penyangga jembatan. Moge milik Andrea pun tak luput dari perhatiannya. Kalau saja motor ini tidak mendadak mati, tentu aku sudah bersantai dirumah! batinnya sambil mendecih.
Penantian Audrey pun akhirnya terjawab, saat ia mendapati sebuah cahaya lampu mobil dari arah seberang. Audrey kemudian beranjak menuju motor seraya memberikan isyarat tangan kepada Valerie, yang tengah duduk diruang setir mobil. "Kaaakkk!!!" sorak Audrey dari kejauhan.
"Valerie! Itu Audrey!" ucap Andrea dari dalam mobil.
"Baiklah! Aku akan memutar terlebih dahulu," kata Valerie. Ia memaksimalkan kecepatan laju mobilnya, agar tak membuat Audrey semakin cemas.
Setelah hampir tiba didepan Audrey, Valerie pun sigap menghentikan laju mobilnya, dan berhenti tepat didepan motor milik Andrea. "Audrey!!" sorak Andrea setelah keluar dari pintu mobil.
"Tenanglah Audrey, tenang. Yang penting kau tidak apa-apa. Aku sudah menghubungi orang bengkel untuk menjemput motor," kata Andrea seraya mengelus-elus rambut Audrey yang telah lepek.
Hujan pun kembali turun dengan sangat deras. Andrea dan Audrey kemudian bergegas memasuki mobil Valerie. "Bagaimana ini? Kita harus mencarinya kemana lagi?" tanya Valerie yang sudah hampir putus asa dengan keadaan.
"Tunggu sebentar," kata Andrea seraya beranjak keluar dari mobil dan bernaung dibawah payung.
"Andrea, kau mau kemana?" tanya Valerie. Ia pun turut beranjak dari mobil dan bernaung dibawah payungnya.
"Kak! Aku ikut!" kata Valentine yang turut keluar dari mobil dan bergabung dalam naungan payung Valerie.
"Aku juga harus kesana!" Rika pun turut mengikuti mereka seraya bernaung dibawah payungnya.
"Andreaaa!! Kau mau kemana!!" sorak Valerie setelah mendapati Andrea berjalan menuju arah seberang dengan tergesa-gesa.
Aku yakin, aku tidak salah dalam menduga! Dia pasti roman, batin Andrea. Ia pun tiba tepat dibawah seseorang yang sedang menduduki puncak jembatan, seraya mengayun-ayunkan kakinya.
"Kak, bukankah itu Roman?" kata Valentine sambil mengacungkan telunjuknya ke arah seorang lelaki, yang tengah membiarkan hujan menerpa tubuhnya.
"Roooooooomaaaaaaaaaaannnnn!!!" sorakan itu benar-benar melengking setelah terhempas dari mulut Andrea. Dengan penuh rasa empati dan kekhawatiran yang amat mendalam, Andrea pun sontak melempar payungnya.
Semua mata akhirnya tertuju pada seseorang yang benar-benar telah kehilangan akal sehatnya itu. Audrey pun turut beranjak dari mobil Valerie, selepas mendengar jeritan kakaknya. Pelaku pemukulan roman itu, sontak berlari menghampiri Andrea.
Heh ... Kalian selalu saja mengikuti. Sebenci itukah kalian padaku? Aku hanya orang miskin, yang terlahir dari keluarga miskin. Dengan mengakhiri nyawa ini, kalian tidak akan pernah lagi bisa menyakitiku, batin Roman seraya tersenyum.
"Romaaann!!! Turunlah!!! Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya!!! Aku akan memberikan kompensasi tiga kali lipat, jika kau mau turun dari sana!!! sorak Andrea. Ia berusaha membujuk Roman agar segera turun dari atas puncak jembatan.
"Romaaannn!!! Aku sebagai ketua OSIS, memerintahkan mu untuk turun!!! Jangan buat Valentine turut menderita karena tindakanmu!!!" Rika pun turut bersorak seraya memerintahkan Roman, untuk segera turun dari atas puncak jembatan.
G-g-gawaaat! Jika dia sampai loncat, maka aku akan dipenjara! batin Audrey. Ia pun turut bersorak. " Heii!!! Romaaaaan!!! Kau boleh membalas perlakuanku sesuka hatimu!!! Aku rela kau memukulku berulang kali!!! Aku akan menuruti segala permintaanmu!!! Turunlah dari sanaaaaa!!! Aku mohooon!!!" katanya.
"Aaaaaaahhh!!! Kenapa!!! Kenapa kalian selalu saja menghinaku!!! ... Kenapaaaa!!!" sorak Roman dengan lantang. Rasa sabarnya telah melambung tinggi melewati batas wajar.
"Roman!!! Ini aku!!! Valerie!!! Dengarkan aku!!! Tenangkan pikiranmu!!! Turunlah dari sana!!! Tolong hargai aku sebagai wali kelasmu!!! Aku mohon!!!" Valerie pun turut membalas perkataan Roman seraya bersorak sekeras mungkin. Ia berusaha meyakinkan Roman untuk segera mengakhiri tindakan konyolnya.
"Romaaannn!!!" sorak Valentine dengan bercucuran air mata. Ia jatuh bersimpuh dibawah naungan payung milik Valerie. Diantara mereka, hanya Valentine-lah yang sangat merasakan betapa pedihnya penderitaan Roman.
"Pergiiii!!! Jangan halangi aku!!! Ini adalah kemauanku!!! Ini adalah keinginan terakhir Roman!!!" pekik Roman seraya meneteskan air mata.
Kebencian telah menguasai hati dan pikirannya. Keputusasaan pun turut mengunci gerbang semangat hidupnya. Jiwanya sudah tak mampu lagi menerima segala penderitaan. Raganya pun sudah tak sanggup lagi menanggung segala beban kepedihan. Teruntuk kalian semua, aku minta maaf. Titip salam terakhirku pada mama dan Natasha, batinnya. Roman pun akhirnya terjun ke sungai.
(Byuurrr....)
"Romaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnn!!
~To be continued~