
...*** Rumah Keluarga Howard ***...
Tony Howard dan Lauren Howard, tengah dikejutkan dengan kasus kebakaran yang mereka dapatkan, dari laporan polisi lewat panggilan telepon. "Tony, apa lagi yang harus kita lakukan?! Putri kita telah menjadi korban kebakaran!" ucap Lauren, ibu kandung Angelina Hillberg.
Tony hanya termenung, seraya duduk diatas sofa mewahnya. Ia seketika menyeruput teh hangat buatan Laura, lalu memalingkan wajahnya ke arah bingkai foto Angelina, yang menggantung di atas dinding ruang tamu. "Kita harus menjemput mayatnya segera! Bagaimanapun juga, Angelina adalah putri kita," ungkap Tony, yang merupakan ayah kandung dari mendiang Angelina Hillberg.
"Baiklah! Kalau begitu, aku akan menyuruh Christ untuk menyiapkan mobil. Kau bersiap-siaplah, Tony." Laura bergegas menuju kamarnya, untuk mempercantik diri, sebelum beranjak meninggalkan rumah.
Keluarga Howard memiliki tiga orang anak, Jansen Howard, Christ Howard, dan Angelina Howard atau, Angelina Hillberg semasa hidupnya.
Jansen Howard, adalah putra pertama mereka. Jansen yang merupakan seorang tentara perwira menengah, telah menikah dengan seorang putri dari salah seorang pengusaha perhotelan, dan dikaruniai dua orang anak, Angela Howard serta Regina Howard.
Ia tinggal bersama keluarga kecilnya di sebuah rumah besar yang tak jauh dari rumah orangtuanya. Putri pertama Jansen, Angela Howard, tengah menempuh pendidikan semester akhir. Sedangkan putri keduanya, Regina Howard masih menempuh kelas satu pendidikan menengah, sebaya dengan Roman.
Putra kedua dari keluarga Howard adalah Christ Howard. Christ yang merupakan seorang Chef di salah satu restoran ternama, menikahi seorang putri dari salah seorang pejabat pemerintahan lokal, dan dikaruniai tiga orang anak, Martin Howard, Megan Howard, serta Sarah Howard.
Christ tetap tinggal dirumah orangtuanya, selepas Angelina pergi meninggalkan rumah itu. Kamar Angelina telah disulapnya menjadi kamar pribadinya dengan sang istri, dan kamar Jansen serta kamar lama Christ, menjadi kamar untuk dua anaknya, Martin dan Megan, dengan satu kamar lagi yang dibangun untuk Sarah.
Putra pertama Christ, Martin Howard, tengah menempuh pendidikan kelas tiga di sekolah menengah atas. Sedangkan putri keduanya, Megan Howard, menempuh pendidikan kelas kedua di sekolah yang sama dengan Martin. Dan, Sarah Howard, putri ketiga Christ, menempuh pendidikan kelas ketiga, di sekolah menengah pertama swasta yang sangat ternama di kota.
Angelina Howard, atau mendiang Angelina Hillberg, menikah secara diam-diam dengan mendiang Gerrard Hillberg, dan dikaruniai dua orang anak, Roman Hillberg serta mendiang Natasha Hillberg. Hanya Roman-lah yang tersisa, dari keluarga itu.
...*** Pemakaman Keluarga Hillberg ***...
Hujan seketika mereda secara total. Namun, rasa duka yang amat mendalam di hati Roman, takkan pernah bisa mereda. Ia tetap bertekuk lutut dihadapan makam sang bunda, seraya menabur kembang-kembang ke atas tanah makam tersebut.
Begitu juga dengan makam Natasha, Roman semakin tenggelam dalam kedukaannya saat menatap penuh sedih pada batu nisan makam milik sang adik. Ia bahkan meletakkan lembar foto Natasha yang tersimpan dalam dompetnya, keatas tanah makam tersebut.
Sudah hampir dua jam Roman meratapi kedua makam tersebut. Ia benar-benar harus mengais rasa ikhlasnya, sebelum menerima kepergian dari dua orang anggota keluarga, yang disayanginya itu.
Setelah mendapati Roman berdiri, Valerie pun menghampirinya, seraya menggenggam erat sebelah tangannya. "Roman, ayo kita pulang. Kau sekarang sudah menjadi bagian dari anggota keluarga Helsink," ucap Valerie.
"Hillberg." -Roman menatap Valerie- "Aku masih tetap bagian dari keluarga Hillberg, meskipun kau berniat, untuk membawaku tinggal dirumahmu," tampik Roman yang menatap Valerie dengan mata yang super sembab.
Valerie mencoba untuk tersenyum, meski air matanya tetap berderai. "Baiklah. Kau masih tetap Roman Hillberg, meski tinggal selamanya dirumah Keluarga Helsink," kata Valerie.
Valerie kemudian menuntun Roman untuk keluar dari area pemakaman, dengan Valentine yang turut menggandeng tangan kiri Roman, dan Rika yang berjalan disamping Valerie.
"Rika, kau tidak sekolah?" tanya Valerie seraya melangkahkan kakinya keluar menuju gerbang.
"Aku sudah menyuruh Bryan, untuk menggantikan tugasku sebagai ketua OSIS selama sehari. Hari ini aku cuti, dan Maxwell yang akan membawakan surat alasannya kesekolah," jawab Rika dengan penuh kepercayaan diri. Matanya turut sembab, setelah menyaksikan pemakaman yang mengharukan itu.
"Baiklah kalau begitu. Tidurlah dulu dirumah bersama Valentine. Valentine sudah pasti libur hari ini," ucap Valerie sambil menoleh ke arah wajah Valentine. "Dan, kau Roman, aku telah menyiapkan kamar yang nyaman untukmu. Beristirahatlah, jangan bergerak. Semua kebutuhanmu akan kupenuhi," ucap kembali Valerie, seraya melirik pada wajah Roman.
Roman pun sontak mengangguk sekali, meski wajahnya tetap menunduk seraya berjalan menuju mobil Valerie. Ia sejenak menghentikan langkah kakinya, didepan gerbang pemakaman. Mama, Natasha, aku akan membuktikan, bila diriku sanggup memenuhi harapan kalian. Aku pergi dulu. Nanti aku kembali mengunjungi kalian, batin Roman yang meneteskan air mata, untuk yang terakhir kalinya, sambil menatap ke arah makam Angelina dan Natasha.
"Ahhh ... tidak usah Nyonya Valerie! Kami sudah dapat jatah komisi dari perusahaan. Anda tidak perlu rep—"
"Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku kepada kalian. Aku juga ingin menyimpan nomor ponselmu, dan ingin berteman akrab denganmu, Nyonya Maura," potong Valerie yang bersikeras untuk tetap membalas segala upaya yang telah dilakukan seluruh petugas Tim SAR.
"Baiklah." Maura menyebutkan nomor ponsel serta nomor rekeningnya pada Valerie. Ia lalu beranjak masuk kedalam mobil Jenazah.
Valerie sempat membungkuk didepan mobil Jenazah, sebelum memberikan jalan bagi Maura dan rekan-rekan kerjanya untuk pergi meninggalkan area pemakaman. "Terima kasih, Nyonya Valerie!!!" sorak Maura dari balik kaca mobil, seraya melambaikan tangan ke arah Valerie.
Valerie pun tersenyum dan turut melambaikan tangan ke arah mobil jenazah, yang telah jauh meninggalkannya. Ia lalu bergegas menuju mobil, dan mengintip dari balik kaca mobil. "Roman? Kau baik-baik saja kan?" tanya Valerie memastikan.
Roman seketika menampakkan senyumannya sambil menoleh ke arah Valerie. "Ya! Aku baik-baik saja. Terima kasih atas segalanya, kak Valerie," ungkapnya, dengan raut wajah yang masih sedikit menampakkan kesedihan.
Setelah memastikan kondisi mental Roman, Valerie pun turut beranjak masuk kedalam mobilnya. Ia lalu tancap gas, dan bergegas menuju rumah keluarga Helsink.
...*** Rumah Sakit ***...
Laura mendapatkan informasi bila jasad korban kecelakaan, kebakaran, atau musibah lainnya yang membuat korban sulit diindentifikasi, telah dipindahkan ke ruang identifikasi. Ia dan Tony pun bergegas menuju ruangan tersebut, dengan harapan Jasad Angelina masih berada disana.
"Tony!! Ayo cepat! Aku sudah tidak sabar melihat kondisi putriku!" tegur Laura pada Tony yang hanya berjalan santai.
"Sabarlah, Laura! Jasad Angelina tidak akan kemana-mana. Aku akan segera menyiapkan pemakaman yang layak untuknya," sanggah Tony yang mulai sedikit mempercepat langkah kakinya.
Mereka kemudian tiba didepan ruangan identifikasi. Laura seketika membuka pintu ruangan, dan terkejut saat mendapati hanya seorang petugas saja yang berada dalam ruangan tersebut. "Kemana Angelina! ... Pak! Mana jasad korban kebakaran yang ada disini?!" tanya Laura dengan raut wajah cemas.
Sang petugas berdiri dari kursinya. "Maaf Nyonya, apakah yang anda maksud adalah jasad Angelina Hillberg?" tanya kembali Sang petugas.
"Ya, betul! Jasadnya kalian bawa pergi kemana?" tanya kembali Laura yang melayangkan protes kepada petugas tersebut.
"Tunggu sebentar, Nyonya." Sang petugas mengambil setumpuk berkas-berkas yang tergeletak diatas meja, lalu mengeceknya satu persatu. "Angelina ... Hillberg ... maaf Nyonya! Jasad Angelina Hillberg telah dibawa oleh Nyonya Valerie Helsink, yang mengaku sebagai penanggung jawab mereka," ungkap sang petugas.
Laura pun sontak tercengang. "Helsink?!" -ia menatap Tony- "Tony! Bukankah Helsink adalah nama keluarga dari salah seorang temanmu?!" tanya Laura.
Tony termenung sejenak. "Helsink kah? Berarti ... Albert Helsink! Aku tahu dimana rumahnya!" jawab Tony seraya mengacungkan telunjukknya keatas.
"Kenapa?! Kenapaa orang yang bernama Valerie itu seenaknya saja membawa jasad putri kita?!" protes Laura pada Tony.
"Tenangkan dirimu, Laura! Ayo! Kita kerumah keluarga Helsink sekarang!" pungkas Tony sambil beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Laura pun turut berjalan dibelakang Tony, yang semakin mencangkan kepalan tangannya. Mereka benar-benar tidak menyangka, bila putri sulung Albert Helsink itu, telah mengambil alih jasad Angelina serta Natasha, tanpa seizin dari keluarga besar mereka.
~To be continued~