My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 18. Keteguhan



Rasa dilema semakin menghantui pikirannya. Dalam hatinya, terjadi pro dan kontra akan tindakan apa yang harus dilakukan. Roman ingin sekali membalaskan dendamnya pada orang-orang yang sangat dibencinya itu. Namun, jika hanya Paul yang menjadi sasaran, tak menutup kemungkinan bila kedua gadis itu akan kembali memusuhinya.


Aku tidak akan memihak siapapun! Aku hanya akan berdiri untuk kakiku sendiri, batin Roman. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju kelas. Roman tak pernah melepaskan kepalan tangannnya, saat berhadapan dengan siapapun. Perhatiannya pun tertuju pada Bryan yang telah siap menghadangnya dari kejauhan. "Hei! Apa kau melihat Rika?" tanya Bryan setelah berhasil mencegat Roman.


"Ya! Dia ada atas gedung sekolah," kata Roman seraya berlalu meninggalkan Bryan.


Roman merasa terganggu dengan pertanyaan yang selalu berhubungan dengan ketua OSIS itu. Kenapa tidak minta tolong saja dengan dia? Kenapa harus mengandalkan ku? Dasar ketua OSIS! Gunakanlah jabatanmu itu, bodoh! Kumpulkan massa sebanyak-banyaknya untuk menghabisi Paul! Ah! Sial!! batin Roman.


Kekacauan dalam hatinya, telah membuat Roman menginjakkan kakinya di taman sekolah yang indah. Ia lalu mendapati sebuah bangku taman yang tak bertuan. Pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang ayahnya itu, bergegas menduduki bangku tersebut. Ahhh ... ada gunanya juga aku memilih sekolah ini. Selain memiliki perpustakaan yang besar, tamannya pun indah, batinnya dalam hati.


Roman sempat menutup matanya. Ia berfikir bagaimana cara mengungkap semua kebenaran, perihal kasus yang menimpa Valentine. Mendapatkan bukti yang kuat serta mencari cara yang tepat untuk melawan Paul sendirian, telah menjadi wacana untuk mengusir segala dilema, yang menggerogoti pikirannya.


Sudah tiga hari aku sekolah disini. Bukannya mendapatkan ketenangan untuk belajar, tapi malah selalu mendapatkan kesialan yang tak berarti. Semua memang ada sangkut pautnya dengan diriku. Andai saja tiga orang itu, tidak menghilangkan sepedaku, tentu semua takkan sampai terjadi seperti ini. Aku hanya ingin tenang dalam belajar. Aku ingin membuktikan pada ayah, bila aku bisa meneruskan perjalanannya. Dan aku, ingin membahagiakan Mama serta Natasha! batin Roman dengan segala pikirannya yang kompleks.


(Tringgg ... Tringgg ... Tringgg)


Bel istirahat telah menggelar diseluruh sudut sekolah. Sudah waktunya bagi para murid, untuk mengisi kekosongan perut. Namun, Roman tetap mempertahankan dirinya di taman itu. Ia menunggu waktu istirahat telah berakhir.


"Ehem ... Informasi dari wakil kepala sekolah. Bel ini menandakan kalian boleh pulang. Harap tertib! Jangan berdesak-desakan! Jaga ketentraman sekolah. Buang sampah pada tempatnya! Sekian."


Begitulah informasi yang disuarakan oleh Rika selaku ketua OSIS, melalui speaker pemancar sekolah. Roman yang mendengarnya pun turut bangkit dari duduknya. Aku akan menemuinya lagi! batin Roman. Ia pun sengaja melambatkan kakinya, demi menghindari kerumunan para siswa.


Roman kemudian bergegas melewati lorong sekolah, setelah para murid tersebut berbondong-bondong menuju gerbang sekolah. Tubuhnya sontak berbalik dan bersembunyi di dalam kelas lain. Sial! Itukan guru yang tadi menamparku! batinnya, setelah mendapati kehadiran Herman yang turut bergegas menuju luar sekolah.


Roman pun mencoba mengintip dari balik jendela. Hmm ... Safe!, batin Roman. Ia lalu keluar dari kelas tersebut seraya bergegas menuju ruang guru. Bu Valerie, aku harap dia masih ada di ruang guru, batinnya.


Demi menjaga ketenangan ruang guru, Roman mengintip dari balik luar jendela yang tirainya tersingkap. Ia lalu mendapati Valerie tengah duduk di kursinya, seraya termenung didepan komputer. Setelah melihat tidak ada satupun guru lain kecuali Valerie, Roman pun memberanikan diri untuk memasuki ruang tersebut.


Valerie pun terkejut setelah mendapati kehadiran Roman. "Roman!" katanya yang sontak berdiri dari kursi. Anak itu pun bergegas menuju sang guru seraya mengisi kursi yang berada disamping kursi Valerie.


"Bu Valerie, apa yang sebenarnya terjadi dengan Valentine," tanya Roman dengan pandangan tajamnya.


"Lupakan tentang Valentine. Yang aku pikirkan, tentang dirimu. Tolong jawab dengan sejujur-jujurnya," kata Valerie yang telah duduk sambil menghadap ke Roman. Tangannya terus menerus menghentakkan pulpen yang tertutup ke atas meja.


"B-Baik," Peluh keringat dingin pun seketika membasahi sekujur tubuh Roman. Ia takut bila Valerie mengintrogasinya dengan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


"Apa benar kau yang telah membobol gerbang rumahku?" tanya Valerie.


"Ya!" jawab Roman dengan tegas.


"Apa alasannya? Kenapa tidak menunggu kedatanganku?"


(Brak...)


Roman pun terkejut saat Valerie menggebrak meja komputer.


"Bukan itu yang ingin ku dengar darimu! Kenapa kau tidak sedikit bersabar dan menunggu kedatanganku? Apa kau tidak mengerti adab dalam bertamu dirumah orang?" Valerie terus menekan Roman dengan segala emosinya.


Anak itu hanya bergeming, setelah melihat keseriusan sang guru, dalam memberikan serentetan pertanyaan kepadanya. "Jawab Roman! Apa kau tidak bisa sedikit menghargaiku? Kau anggap aku apa? Teman dekatmu?," ucap Valerie dengan wajah kesalnya


Roman pun sontak berdiri dari kursinya seraya menggeser kursi tersebut ke arah belakang. Ia lalu bersujud dihadapan sang guru. "Bu Valerie! Aku benar-benar minta maaf! Aku mengakui segala kesalahanku! Aku minta maaf karena tak pernah menghargai dirimu! Aku ...." -ia meneteskan air mata- " Aku ... benar-benar sangat berterimakasih atas kebaikan hatimu. Aku ... benar-benar bodoh! Aku ... layak untuk dihukum!" Roman menegaskan permohonan maafnya dalam bersujud seraya menangis dihadapan Valerie.


Valerie pun turut menitikkan air matanya, setelah mendapati keteguhan Roman, yang sangat gigih memohon ampunan kepadanya. Ia membiarkan anak itu terus bersujud selama beberapa saat, demi menyesali segala perbuatannya. "Roman, Bangunlah," seru Valerie setelah merasa yakin bila Roman benar-benar menyesal.


"Aku akan tetap seperti ini, bila Bu Valerie tidak mau memaafkanku," kata Roman yang tetap mempertahankan sifat keras kepalanya.


"Bangunlah, Roman. Jika tidak, aku takkan memaafkanmu," ucap Valerie seraya menyeka air matanya.


"Baiklah!" Roman pun beranjak dari sujudnya.


Kedua guru dan murid itu, saling berpadu dalam tangisan. Roman telah menyesal karena tidak pernah menghargai kebaikan Valerie. Dan Valerie, hatinya tersentuh melihat keteguhan Roman yang benar-benar memohon ampunan kepadanya. "Roman, sekolah ini memang terlalu kejam untukmu. Tapi, kau harus tangguh. Aku akan selalu membantumu sebisaku," tutur Valerie seraya tersenyum.


Roman pun tercengang, melihat senyuman yang terpancar dari wajah Valerie. Senyuman ini, Aku harus menjaganya! batin Roman. Ia lalu menyeka air matanya dengan tergesa-gesa. Roman tak ingin terlalu hanyut dalam kesedihannya. Ia harus segera membalas kebaikan Valerie. "Bu Valerie, apa aku berhak untuk mengetahui, apa yang telah menimpa Valentine?" tanya Roman.


"Kau belum tahu? Adikku itu telah sengsara karena perlakuan Paul. Ia jadi trauma dan sulit untuk mengontrol kesadarannya ... Andai saja ... Valentine tidak menyuruhku pulang duluan, tentu hal itu takkan terjadi," tutur Valerie seraya termenung dan menatap ke arah komputer.


Hatinya bukan lagi tersentuh, melainkan terbakar oleh lautan api emosi. Setelah mendengar tuturan Valerie, Roman mengepalkan kedua tangannya seraya menggertakan gigi berulang kali. Bereengsek kau Pauul!!! batinnya, dengan penuh emosi yang mengguncang-guncang.


"Roman? Ada apa?" tanya Valerie yang keheranan dengan wajah murka Roman.


"Tidak apa-apa, Bu." -Roman menundukkan wajahnya- "Lalu, bagaimana kondisinya?" tanya Roman setelah kembali mendongakkan wajahnya.


"Valentine masih terbaring lemah tak berdaya. Rasa traumanya masih menjangkiti pikiran dan hatinya," kata Valerie seraya merapihkan peralatan mengajarnya.


"Apa aku boleh menjenguk Valentine?" tanya Roman dengan sungguh-sungguh.


"Tentu saja! Jika kau tak keberatan, pergilah bersamaku," seru Valerie, setelah menggantungkan tasnya ke lengan.


"Baiklah," Roman pun beranjak dari kursinya. Ia mengikuti langkah Valerie menuju luar sekolah. Roman mempersiapkan mentalnya untuk bertemu seraya menjenguk keadaan Valentine. Ia mengesampingkan perasaan Valentine, yang diam-diam jatuh cinta padanya. Aku akan memutuskan, apa yang harus kulakukan pada berandalan itu ... Aku ingin mendengarnya langsung darimu, Valentine! batin Roman.


~To be continued~