
Ditengah derasnya hujan, Valerie melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Ia lalu menatap pada kaca cermin yang menghadap ke arah kursi belakang mobil. "Rika! Coba rasakan denyut nadinya!" tegas Valerie setelah mendapati Valentine menutup kedua matanya.
"Denyut nadinya melemah! Kita harus cepat kak!" kata Rika selepas menempelkan ibu jarinya pada pergelangan nadi Valentine.
Valerie sontak menghabiskan ruang pada pedal gas guna memaksimalkan kecepatan mobil. Ia menjadi khawatir tak tertolong setelah mendengar perkataan Rika. Tuhan, Berilah pertolonganmu untuk Valentine, batin Valerie.
Rasa cemas dalam hatinya sejenak tertunda saat memasuki gerbang rumah sakit. Valerie kemudian memarkirkan mobilnya di basemen. Ia lalu bergegas keluar dari mobil seraya menaruh perhatian pada sebuah kursi dorong yang tersandar di tembok pintu masuk rumah sakit. "Rika, Tunggu disini. Aku akan kembali," katanya.
Valerie pun mengambil kursi tak bertuan itu dan mendorongnya ke arah mobil. "Rika! Kau bisa mengangkat tubuh Valentine? Letakan tubuhnya di kursi ini. Aku akan menahannya," ucap Valeri setelah mendapati penahan roda kursi tersebut tak berfungsi.
"B-Baik kak!" Rika memeluk Valentine dan menarik tubuhnya dengan perlahan ke arah kursi dorong. Valentine, Bertahanlah! batin Rika. Ia pun berhasil mendudukkan tubuh Valentine pada kursi dorong tersebut. Mereka kemudian bergegas membawa Valentine menuju ruang perawatan. Kedua gadis itu menaruh harapan yang sangat besar pada keselamatan Valentine.
...*** Rumah Keluarga Helsink ***...
Roman semakin terpuruk dalam gempuran air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia pun dirasuki rasa kesal pada pemilik rumah yang tak kunjung datang. Kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan keluar dari rumah itu, batin Roman dengan segala penyesalannya.
Hawa dingin yang menusuk, telah menjadi teman setia Roman dalam penantiannya menunggu kehadiran Valerie. Ia pun tak dapat menahan rasa sabarnya. "Kalau mereka tega membuatku seperti ini, Jangan salahkan aku bila aku bertindak sesuka hati disini, batin Roman.
Sepintas terlintas dalam benaknya untuk kembali memasuki rumah besar dan mewah tersebut. Roman yang telah basah kuyup itu, membulatkan tekadnya untuk bergegas menuju pintu rumah. "Ah! Kenapa aku jadi bodoh seperti ini! Jelas-jelas pintu ini terkunci dari luar" gumam Roman setelah mencoba membuka pintu tersebut.
Ia pun kembali meraih konsentrasinya. Roman lalu berfikir dengan segenap otaknya untuk mencari cara, agar bisa menyusup kedalam rumah tersebut. "Trampolin!" ucap Roman. Ia kemudian bergegas menuju samping rumah keluarga Helsink dan mendapati sebuah trampolin yang telah menyelamatkan hidupnya barusan.
Demi memuluskan aksinya, Roman menyelaraskan letak trampolin tersebut dengan sebuah jendela yang terbuka pada kamar Valerie. "Ini sudah pas!" kata Roman.
"Wahai trampolin! Tunjukanlah kehebatanmu!" Roman dengan rasa percaya dirinya yang tinggi, melompat ke arah trampolin tersebut. "Hop! Hoop! Hooop!" katanya seraya melompat dengan berulang-ulang secara vertikal. Roman kemudian menunggu ketepatan tinggi lompatannya agar dapat memasuki jendela dengan mulus.
"Hoooooopp!" Dengan tubuh yang atletis dan kelincahannya dalam bergerak, Roman mampu mendorong tubuhnya masuk kedalam jendela. Ia pun mendarat dengan sempurna dalam kamar Valerie "I'm the champion!" ucap Roman seraya mengangkat kedua tangannya. Roman gembira bukan main setelah berhasil menyusup kedalam kamar wali kelasnya.
"Hal pertama yang akan ku lakukan adalah mengisi perut. Lalu mengeringkan pakaikanku. Kemudian mandi. Dan ... hmm???" Roman pun sempat berfikir untuk mencari uang yang mungkin tersimpan dalam rumah tersebut. "Tidak, tidak! Bukan jiwaku yang seperti itu!" katanya dengan tegas. Roman menjauhkan sejauh mungkin niatnya untuk mencuri uang di rumah Valerie.
Demi memerdekakan rasa laparnya, Roman bergegas keluar dari kamar Valerie. Ia kemudian melakukan pencarian pertamanya. Kulkas masuk kedalam urutan pertama dalam pencariannya.
"Ah! Itu dia!" kata Roman saat mendapati sebuah kulkas yang berada diruang dapur. "Ada apa kah disini? ... Kue brownies!"-Ia memakan kue itu-"Raswanya enwak swekali," kata Roman yang tidak jelas mengatakan apa.
Setelah melahap habis seloyang kue brownies, ia kemudian mengambil sebotol minuman yang baunya sangat menusuk hidung. "Wine?" ucapnya saat membaca label pada minuman tersebut.
Karena bukan seleranya, Roman pun meletakkan minuman itu ketempat semula. Ia kemudian menaruh perhatiannya pada semangkuk es krim. "Ah! Apakah tidak ada yang hangat-hangat dalam kulkas ini?" gumam Roman.
Ia pun tetap mengeluarkan semangkuk es krim tersebut lalu melahapnya dengan tergesa-gesa. Perhatiannya pun seketika tertuju pada sebuah kertas yang menempel di mangkuk itu. "Ini punya Valentine!!!" begitulah kata Roman seraya meniru isi dari kertas tersebut. "Tapi mulai detik ini, jadi milik Roman!" oceh Roman yang bermaksud menyindir tulisan itu.
"Kenyang ...." katanya. Roman membiarkan kekenyangan menjajah isi perutnya. "Brrrr dingin" Hawa dingin pun seketika menerobos masuk kedalam pori-pori kulitnya. Roman kemudian bergegas menuju kamar mandi. Ia berniat membersihkan diri setelah seharian tidak mandi. "Semoga ada air hangatnya," ucap Roman selepas menanggalkan seluruh pakaiannya.
Tanpa seizin pemilik rumah, Roman pun menikmati waktunya selama membersihkan diri didalam kamar mandi. "Hangatnya ...." ujar Roman setelah mendapati semburan air hangat yang keluar dari shower, membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa menit memanjakan diri, Ia kemudian mengambil sebuah handuk yang jelas-jelas terdapat tulisan 'Valentine' didalamnya. "Aku baru tahu ada handuk merk Valentine?" Roman dengan polosnya mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk milik Valentine.
Selepas membasmi kotoran dan keringat dari tubuhnya, Roman yang hanya berlapiskan handuk itu, menjunjung seluruh pakaiannya menuju mesin cuci. Mama, andai ada benda ini dirumah, kau tak perlu capek-capek mencuci pakaian, batin Roman saat menatap pada sebuah mesin cuci.
"Mama!! Bagaimana cara menggunakan mesin ini!" sorak Roman. Ia pun kebingungan saat mendapati banyaknya tombol yang terdapat di mesin cuci. "Open untuk membuka, Wash untuk mencuci, Dry untuk mengeringkan. Hmm ... baiklah!" Tanpa pikir panjang lagi, Roman pun melakukan kegiatan mencuci dan mengeringkan pakaianya itu.
Ia seketika menaruh perhatiannya pada logo sekolah yang terdapat di jas tersebut. "Baru dua hari sekolah, aku sudah sampai sejauh ini mendapatkan kesialan ... Tapi! Demi kebahagiaan mama, aku akan terus melanjutkan sekolahku!" tutur Roman dengan tegas.
...*** Rumah Sakit ***...
Perhatian Valerie dalam penantiannya, tertuju pada seorang dokter yang telah membuka pintu ruang perawatan. "Dokter! Bagaimana kondisinya?" tanya Valerie dengan raut wajah cemasnya.
"Kami sudah memastikan bila kondisi nona Valentine baik-baik saja. Ia hanya perlu beristirahat sebanyak mungkin." kata Dokter dengan penuh kewibawaan.
"T-tapi, bagaimana pendapat Dokter dengan kondisi mata yang terus membuka walau kesadaran telah hilang?" Valerie kembali bertanya perihal kondisi yang dialami Valentine selepas kejadian yang menimpanya.
"Bila kondisi yang nyonya sebutkan itu terjadi pada nona Valentine, itu menandakan beliau mengalami trauma yang sangat mendalam. Apakah adik Nyonya telah mengalami suatu peristiwa yang tidak mengenakkan seperti, perundungan? Biasanya dalam kondisi seperti yang nyonya sebutkan itu, hanya terjadi pada seorang perempuan yang telah mengalami kekerasan seksual, hingga menyebabkan kehilangan kesadaran. Saraf pada mata nona Valentine telah mengalami implikasi yang berlanjut, sehingga membuat matanya tetap terbuka walau telah kehilangan kesadaran. Hal itu biasanya jarang terjadi." tutur sang Dokter dengan panjang lebar.
"Lalu, apakah ada cara yang tepat dan cepat untuk mengatasi trauma tersebut?" tanya Valerie bak wartawan dunia medis.
"Cukup berikan semangat dan perlindungan pada nona Valentine. Kehadiran seseorang yang beliau sayangi, akan mempercepat proses penyembuhan traumanya," ujar Dokter tersebut.
"B-baiklah, Dok. Saya mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya atas usaha Dokter." kata Valerie seraya membungkukkan badannya.
"Get well soon untuk nona Valentine," ucap sang Dokter seraya berlalu meninggalkan Valerie.
Apakah Valentine benar-benar mengalami pelecehan seksual? Tidak! Adikku itu sangat keras terhadap laki-laki disekitarnya! Aku harus memastikannya pada Rika, batin Valerie. Ia kemudian menghampiri Rika yang tengah duduk seraya terisak dalam tangisnya.
"Rika, tenangkan dirimu. Jelaskan padaku apa yang telah terjadi dengan Valentine?" tanya Valerie yang turut duduk disamping Rika.
"V-Valentine ... menemui Paul diatas gedung sekolah," kata Rika. Ia kemudian menenangkan dirinya untuk bisa menjelaskan semua kejadian yang menimpa Valentine sesuai ingatannya.
"Paul? Kelas berapa dia?"
"Kelas dua. Dia sangat arogan! Paul adalah anak sulung dari salah satu pemilik sekolah. Ayahnya menjabat sebagai ketua komite pemilik sekolah Saint Luxury. Dengan statusnya itu, Paul suka bertindak semena-mena!" ujar Rika dengan terbawa emosi saat menjelaskan asal usul Paul.
Valerie pun terkejut setelah mendengar penjelasan Rika. Bukan tanpa sebab, Kakak Valentine itu, baru saja menjadi guru di sekolah menengah Saint Luxury. Ia hanya sedikit mengetahui tentang seluk beluk pemilik sekolah dan keturunannya.
"Lalu, apa yang telah dilakukan Paul? Apa kau menyaksikan perbuatannya?" tanya Valerie seraya memastikan.
"Tidak ... Aku telat menolong Valentine ...." Rika kembali meneteskan air matanya karena tak sanggup membayangkan apa yang telah menimpa Valentine selepas Paul melarikan diri.
"Baiklah! Aku anggap Paul telah melakukan hal buruk kepada Valentine. Lalu, kenapa Valentine menemui berandalan itu? Apa kau tahu sebabnya?" tanya Valerie setelah menemui titik terang.
"R-Roman ...." kata Rika.
"Roman? Kenapa dengan dia? Apa hubungan Roman dengan Valentine dan Paul?" tanya Valerie dengan penuh keherananan.
"Semua itu gara-gara Roman!!!" Rika pun bersorak seraya mengatakan bahwa semua yang telah menimpa Valentine adalah ulah Roman.
Valerie tertegun mendengar pernyataan tersebut. Seketika terlintas dalam benaknya tentang Roman yang telah ditinggalkannya sendirian dirumah. Demi mendapatkan jawaban langsung dari mulut Roman, Valerie menitipkan Valentine pada Rika dan bergegas menuju Rumahnya.
~To be continued~