
Audrey tak pernah melepaskan tatapan kebenciannya pada Valentine. Begitu juga dengan Valentine, ia menyeringai penuh dendam seraya menahan rasa murkanya, saat menatap wajah Audrey.
Kedua gadis yang saling menatap satu sama lain itu pun seketika terkejut, saat mendapati Roman sontak menjatuhkan tubuhnya kedepan.
Valentine dengan sigap menangkap tubuhnya dan kembali menyandarkannya. "Romaaan?!!" Ia lalu menyadari bila sang kekasih telah kehilangan kesadarannya. "Kak Valeriee!!! Cepatlah sedikit!!!" -ia menggoyang-goyangkan tubuh Roman- "Romaaan! bertahanlah sayang ... aku mohooon!!" ucapnya sambil memeluk tubuh yang sudah lemah dan tak berdaya itu.
Audrey yang turut mendapati Roman pingsan pun, tak sanggup lagi menatap wajah pucat yang telah memejamkan kedua matanya tersebut. Ia lalu menunduk seraya menggengam dan menarik kedua sisi rambutnya dengan kuat.
Air matanya deras menetes dengan mata merah yang membelalak lebar ke arah bawah, tempat kakinya berpijak. Joan!!! Aku tidak akan ... tidak akan pernah memaafkanmu!!! batin Audrey dengan penuh rasa benci yang amat mendalam.
Valerie pun menginjak habis pedal gasnya setelah melirik pada cermin, dan mendapati Roman sudah tak tertolong lagi. "Cepat! Cepat! Cepat! Cepaaaatt!!!" soraknya dengan kecepatan mobil yang hampir menembus batas maksimum.
"Kak Valerie! Jangan terlalu kencang! Aku takut! Aaaaaa!"
(Ngiiiiikk)
Rika sontak menjerit saat mendapati Valerie hampir menabrak mobil yang menyebrang dari arah simpang kanan. Beruntung Valerie dapat menyalipnya dengan cekatan, sehingga bisa menghindari gesekan antara kedua mobil.
Valerie kemudian menghela nafasnya dengan perlahan, dan kembali memfokuskan pandangannya kedepan, tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan laju mobilnya. Brengsek! Hampir saja aku membunuh diriku dan empat orang dalam mobil ini! pikirnya sambil menggigit bibir bawah.
Rika menjadi shock dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia tak menyangka dengan kemampuan menyetir Valerie yang bahkan lebih gila dari Maxwell, pengawal pribadinya. M-M-Maxweeeeel!! Kau jangan sampai ikutan gila seperti orang ini! pikirnya dengan mata yang terus menatap was-was kearah depan.
Valentine semakin terpuruk dalam kesedihannya, seraya memeluk erat tubuh samping Roman dan menempelkan keningnya pada sisi kening kekasihnya itu. Kenapa semua jadi seperti ini!! Kenapa Romanku yang selalu merasakan penderitaan!!! batinnya dengan menutup kedua mata, sambil menangis terisak-isak.
Ia lalu menoleh pada Audrey yang tengah duduk membungkuk, dan segera memanfaatkan kelengahan gadis itu untuk memberinya pelajaran, dengan melayangkan kepalan tangan ke arah punggungnya.
(Bugh! Bugh! Bugh!)
"Brengsek! Semua ini gara-gara ulahmu!" murka Valentine seraya melampiaskan kekesalannya pada Audrey.
Audrey tak sempat membalas. Ia hanya bisa terdiam karena menahan rasa sakit yang luar biasa dipunggung, akibat hentakan keras kepalan tangan kanan Valentine. Saaakiiiittt!! batinnya seraya meringkuk kesakitan.
Audrey kemudian tak terima dan kembali membangkitkan rasa dendamnya pada Valentine. Ia pun turut melayangkan kepalan tangannya pada wajah gadis rivalnya itu.
(Bugh! Bugh! Bugh!)
"Kau yang brengsek!!!" bentak Audrey setelah berhasil membalaskan perlakuan kasar Valentine padanya.
Audrey pun seketika menghentikan perbuatannya dan mendapati wajah Valentine telah memar memerah dengan darah yang sontak mengucur dari hidungnya.
Rasa dendam yang meledak-ledak dalam hati Audrey, membuatnya memutuskan untuk memuaskan rasa bencinya dan kembali melayangkan kepalan tangannya ke wajah Valentine.
Namun, Valentine berusaha menghindar seraya menunduk sambil menutupi wajah Roman dengan lengan kanannya, dan membiarkan kepalanya menjadi sasaran empuk pukulan Audrey.
(Bugh! Bugh! Bugh!)
"Kau bahkan layak untuk mati daripada Roman!!!" Audrey benar-benar sudah kalap.
(Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!)
Rika pun sontak menoleh kearah belakang dan terkejut saat mendapati Audrey memukul-mukul kepala Valentine dengan membabi-buta. "Hentikaaaann!!! Audreeeey!!!" bentaknya dengan suara yang sangat keras, mata yang melotot tajam, dan nafas yang menggebu-gebu. "Kalian berdua benar-benar sudah gila!!!" caci Rika yang sudah tak dapat menahan rasa sabarnya.
Demi melindungi Valentine dari amukan Audrey, Valerie pun sontak menghentikan laju mobilnya. "Rika! Kau duduk dibelakang!" serunya sambil berusaha menahan rasa emosi yang hampir membuatnya kehilangan akal sehat.
Dalam hitungan sekejap, Rika beranjak turun dari mobil dan membuka pintu sebelah kiri lalu menarik kuat tangan Audrey. "Pindah kedepaaaan!!!" bentak Rika yang semakin terhanyut dalam rasa ketidakpercayaannya terhadap Audrey.
Audrey kemudian memasuki pintu depan mobil dan menutupnya kembali. Ia tak sedikitpun berani menoleh ke arah Valerie yang tengah meliriknya dengan pandangan tajam
Setelah mendapati adik temannya itu berpindah posisi duduk, Valerie sontak menginjak habis-habisan pedal gas mobilnya dan segera bergegas menuju rumah sakit yang berada tak jauh dari pandangan matanya.
Valerie pun sontak membanting setirnya kearah kanan memasuki gerbang rumah sakit dan bergegas turun kebawah menuju ruang basemen parkiran. Ia mencari-cari tempat yang kosong untuk memarkirkan kendaraan roda empatnya dengan segera.
Rasa cemasnya semakin tak tertahankan lagi. "Aaaaaahh!!! Sial! Kenapa harus penuh!" keluhnya setelah mendapati kepadatan mobil yang terparkir di basemen tersebut.
Valerie akhirnya berhasil menemukan ruang untuk memarkirkan mobilnya dengan tepat. Ia lalu mematikan mesin mobil. "Audrey! Cepat cari kursi roda! Dan Rika! Bawa masuk Valentine dan obati dia terlebih dahulu!" seru Valerie seraya membuka pintu mobilnya.
Rika beranjak turun dari mobil Valerie dan bergegas menuju pintu mobil sebelah kanan, lalu membukanya. "Valentine, ayo! Aku bantu kau kedalam!" seru Rika sambil menyentuh bahu kanan Valentine.
Valentine yang sudah lemah tak berdaya itu pun segera menuruti seruan Rika dan beranjak turun dari mobil. Rika kemudian memapahnya dan membawanya masuk kedalam lift, menuju lantai satu rumah sakit.
Audrey pun kembali bergegas ke mobil Valerie setelah mendapatkan sebuah kursi pasien yang tak bertuan. Ia lalu mendorong kursi itu menuju pintu kanan mobil.
Valerie kemudian mencondongkan tubuhnya masuk kedalam mobil dan mencoba menggenggam ketiak Roman lalu menarik tubuhnya keluar dari mobil secara perlahan.
Ia pun sedikit mengangkat tubuh Roman yang sangat berat itu sekuat tenaganya, agar bisa mendudukan bokongnya diatas kursi dorong yang telah disediakan Audrey. "Audrey! Kau ikut aku! Urusanmu sangat panjang denganku!" ucap Valerie seraya mengambil alih kursi roda dari tangan Audrey lalu mendorongnya menuju lift.
Hatinya seketika merasakan ketakutan yang luar biasa setelah mendengar ucapan Valerie. Dengan penuh rasa penyesalan yang amat mendalam, Audrey mempercepat langkah kakinya untuk segera mengikuti Valerie dan masuk kedalam lift.
Berbeda dengan Rika dan Valentine, Valerie menekan tombol dua untuk naik ke lantai dua setelah mendapati tulisan 'UGD' dibawah tulisan angka dua tersebut. Rasa cemas semakin membabi-buta dalam hatinya sambil menanti ruang lift beranjak keatas.
"Nona perawat! Tolong berikan penangan secepatnya pada muridku ini!" seru Valerie setelah keluar dari lift dan mendapati beberapa orang perawat tengah terduduk dibalik meja resepsionis.
Dua orang perawat pun segera mengambil alih kursi roda milik Roman dan membawanya masuk kedalam ruang perawatan untuk mendapatkan penanganan secepatnya. "Nyonya, apa yang telah terjadi?!" tanya salah seorang perawat kepada Valerie yang turut menemani mereka menuju ruang perawatan.
"Dia kehabisan darah setelah tertikam pisau oleh seorang berandalan!" ungkap Valerie dengan raut wajah cemas dihatinya.
Sang perawat hanya terdiam seolah telah mengerti apa yang harus dilakukan kedepannya. Mereka kemudian tiba pada salah satu ruangan dengan sebuah papan kecil yang menempel diatas bingkai pintu yang bertuliskan angka '37'.
"Baiklah! Nyonya silahkan tunggu disini. Serahkan semuanya pada kami," seru sang perawat dari balik pintu, saat salah seorang rekannya telah membawa Roman memasuki ruang perawatan.
"Aku sangat berharap pada kalian!" mohon Valerie sambil terduduk diatas kursi yang berada tepat didepan ruang perawatan.
Valerie pun menanti harap-harap cemas sambil menundukkan wajahnya dan menyangga keningnya dengan kedua tangan. Ya Tuhan! Cobaan apalagi yang Kau berikan ini ... tolong selamatkan Roman, tolong selamatkan Roman! batin Valerie seraya memanjatkan doa dengan penuh rasa khawatir yang kian menggunung dalam hatinya.
Audrey lalu menduduki kursi diseberang Valerie. Ia sempat memalingkan wajahnya karena takut bertatapan dengan wajah Valerie yang seperti menyimpan amarah terhadap dirinya.
Gadis saingan Valentine itu kemudian menundukkan wajahnya dan turut mengikuti pose duduk Valerie, sambil meneteskan air mata penyesalan yang sangat-sangat mendalam, untuk Roman.
~To be continued~