My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 43. Kesedihan



"Nona, aku datang," sapa Maxwell setelah membuka pintu ruang perawatan, sambil membawa sekantung penuh kue serta cemilan kesukaan Rika.


"Terima kasih Maxwell," ucap Rika seraya mengambil alih kantung bawaan Maxwell.


Maxwell belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia terus menatap pada wajah Roman yang terbaring lemah diatas ranjang. "Nona, ada apa dengannya?" tanya Maxwell.


Rika menoleh ke arah Roman. "Bahunya tertusuk pisau tajam oleh seseorang, yang membuatnya kehilangan banyak darah," ucapnya sambil mengepalkan kedua tangan.


Maxwell kemudian mengeluarkan sebuah kertas selembar dan pulpen yang telah berada dalam genggamannya. "Apa Nona mengingat siapa nama pelakunya?" tanya Maxwell yang siap mendaratkan ujung pulpennya ke kertas tersebut.


"Joan," kata Rika.


"Hmm ... bagaimana dengan ciri-cirinya?" tanya kembali Maxwell, setelah menulis sebuah nama dalam kertasnya.


"Aku tidak tau persis wajahnya. Yang jelas, dia menggunakan motor sport, mengenakan helm teropong, memakai jaket kulit hitam lengkap dengan gambar api dibelakangnya, dan mengenakan celana jeans biru serta sepatu kulit berwarna hitam," ungkap Rika panjang lebar.


"Hmm ... baiklah! Aku akan segera kembali, Nona. Hubungi aku jika ada keadaan darurat." pungkas Maxwell seraya beranjak keluar dari pintu ruangan.


Maxwell lalu bergegas menuju mobilnya, yang tengah terparkir di lantai basemen rumah sakit. Tangannya tak pernah berhenti mengepal dengan kuat, sejak naik dan turun dari lift.


Setelah mendapati kepergian Maxwell, Rika pun sontak merogoh isi dalam kantung makanan, yang telah dibawakan oleh pengawalnya itu. "Waaahh!! Ada kue melon! Ada pudding cake, juga minuman kesukaanku! Maxwell memang perha—"


"Sssstttt!!!" Valentine menegur Rika untuk tidak terlalu heboh dalam ruangan itu.


Rika membungkam mulutnya dengan sebelah tangan. "Valentine, ayo makan!" seru Rika seraya menyodorkan kue strawberry kesukaan Valentine.


Valentine pun sontak memalingkan wajahnya, ke arah wajah Roman. "Tidak! Aku tidak akan makan, sebelum Roman sadar," tampik Valentine sambil menyeka air mata dari pipinya.


"Valentineee! Jika kau sakit, Roman akan tambah bersedih nanti!" tegur Rika sambil menarik ketiak Valentine, agar sahabatnya itu menjauh dari Roman. "Biarkan Roman beristirahat sebentar," ucapnya.


Valentine akhirnya menuruti perintah Rika. Ia lalu membuka bungkus plastik kue strawberry-nya, dan mencomot kue itu dengan penuh kelesuan, yang sangat terpampang jelas diwajahnya.


"Hmmm!! Ini adwalah kue yang pwaaling enak dwi dwuniaa!" Rika berbicara sambil mengunyah kue kesukaanya dengan penuh rasa girang.


Valentine pun sempat tertawa melihat tingkah laku lucu sahabatnya itu. Ia lalu tersenyum, walau air mata masih menetes dan jatuh membasahi pahanya.


...*** Ruang Perawatan Lantai Satu ***...


Valerie tersadar dari pingsannya, dan mendapati dirinya terbaring diatas ranjang pasien. Ia pun turut melihat keberadaan Andrea, yang telah duduk disamping ranjangnya. "Andrea, apa yang telah terjadi?" tanya Valerie sambil mengangkat kakinya turun dari ranjang.


"Kau tanya aku? Aku yang seharusnya bertanya kau kenapa Valerieeee. Kenapa kau bisa pingsan?!" tanya kembali Andrea sambil mengguncang-guncangkan bahu Valerie.


Valerie akhirnya termenung sejenak. Gawaaat! Semoga ini cuma mimpi! batinnya yang masih tetap mempertahankan rasa ketidakpercayaannya, atas apa yang telah ia saksikan sebelumnya.


"Valeriiie? Jangan merenung! Kau sudah tidak apa-apa kan?!" tegur Andrea.


"Maaf! Aku hanya sedikit kelelahan," kata Valerie sambil menyentuh keningnya.


"Baiklah kalau begitu." -Andrea berdiri dari kursi- "Kau beristirahat sajalah disini. Biar aku sendiri yang melaporkan Joan ke polisi," anjur Andrea yang berniat pergi meninggalkan Valerie.


Namun, Valerie sempat menahan tangannya. "Andrea, ada satu hal penting yang ku katakan padamu," ucapnya dengan raut wajah yang sangat serius.


Andrea pun kembali menduduki kursinya, setelah mendengar perkataan Valerie. "Apa itu? Apakah tentang Roman?" tanya Andrea yang mulai penasaran.


"Ya! Ini menyangkut keluarganya. Tapi, berjanjilah padaku, untuk tidak memberitahukan langsung pada Roman, sebelum anak itu benar-benar pulih dari komanya," ujar Valerie yang menatap penuh keseriusan pada wajah Andrea.


"Baik. Aku mengerti,"


"Ibu dan adik Roman ...." belum sempat Valerie menyelesaikan perkataannya, air matanya sontak menetes.


Andrea yang menyaksikannnya pun terkejut, melihat perubahan reaksi wajah Valerie. "Ada apa Valerie?! Kenapa kau menangis?!" tanya Andrea yang mulai semakin penasaran.


Valerie akhirnya tak sanggup meneruskan perkataannya. Ia lalu memeluk Andrea seraya menangis terisak-isak, sambil membayangkan betapa pedihnya hatinya, saat mengingat wajah ibu dan anak itu.


"Tenanglah, tenanglah Valerie. Tenangkan hatimu," Andrea mengelus-elus punggung Valerie. Ia lalu melepaskan pelukannya sahabat lamanya itu. "Tarik nafasmu dalam-dalam, dan keluarkan secara perlahan," kata Andrea sambil menatap wajah Valerie, yang matanya terlalu cepat untuk sembab.


"T-terbakar?! Kau tidak mengada-ada kan, Valerie?!" Darimana kau tahu?!" tanya Andrea yang sudah tidak mampu melepaskan tubuhnya dari pelukan Valerie.


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Andreeaaaa!" Valerie berkata sambil tersedu-sedu dalam tangisnya.


Andrea pun tercengang sejenak. Ia lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan Valerie. "Dimana kau melihatnya? Kalau memang benar, kita yang harus mengurusnya. Kau sudah tahu kan? Kalau Roman hanya tinggal dengan ibu dan adiknya saja?" Andrea mencoba menenangkan Valerie dan meyakinkannya untuk tetap tegar.


"Hmm ... aku sudah tahu itu. Tapi aku bingung, harus bagaimana memberitahukannya pada Roman. Aku takuut! Aku takut jika Roman berbuat nekat lagi!" keluh Valerie sambil menyeka air mata dari kedua matanya.


Andrea pun turut meneteskan air matanya, saat membayangkan nasib yang dialami Roman. Setelah dirinya tertikam pisau, hingga harus mengalami koma, keluarga yang disayanginya pun telah pergi meninggalkannya, dengan cara yang mengenaskan, pikir Andrea yang mulai menampakkan raut wajah sedihnya.


"Andreaaaa!" -Valerie memeluk Andrea- "Kasiian Romaan. Aku benar-benar tidak sanggup lagi membayangkan ... betapa sedihnya Roman, jika tahu ibu dan adiknya telah tiada ...." ucap Valerie dengan bercucuran air mata, yang jatuh membasahi punggung Audrey.


Mereka pun akhirnya tenggelam dalam kesedihan dan rasa empati yang sangat mendalam terhadap Roman. Dua wanita itu benar-benar merasakan, betapa pahitnya penderitaan yang dialami pemuda tersebut.


"Valerie, ayo kita ke tempat dimana keluarga Roman berada," seru Andrea sambil menyeka air mata dari kedua matanya.


"Hmm ...." Valerie pun turut menyeka air matanya seraya beranjak dari ranjang pasien.


Mereka kemudian beranjak keluar dari ruang perawatan, dan bergegas menuju ruang identifikasi korban bencana. Valerie menjadi penuntun Andrea dalam melangkah, sebelum sahabatnya itu, melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Valerie sontak menghentikan langkah kakinya, didepan ruang identifikasi korban. "Andrea, aku benar-benar tidak sanggup lagi. Kau saja yang masuk kedalam. Dan, katakan jika dirimu adalah keluarga dari mereka juga," ucap Valerie sambil berdiri didepan pintu ruangan.


Hatinya berdegup dengan sangat kencang, sebelum membuka pintu tersebut. "Permisi, apa aku boleh masuk?" tanya Andrea seraya menoleh dari balik pintu.


"Ya! Masuklah Nyonya," seru petugas Tim SAR wanita, setelah mendapati Andrea mengintip dari balik pintu ruangan.


Astagaa Yaa Tuhaaan! Kenapa mereka harus mengalami nasib seperti ini, batin Andrea saat menatap tulisan pada sebuah kertas informasi, yang menggantung di setiap bagian belakang masing-masing ranjang mayat.


Andrea lalu masuk dan menutup pintu dengan rapat. Perhatiannya pun seketika tertuju pada dua kantung jasad berwarna oranye, yang tergeletak pada masing-masing ranjang mayat. "Apa aku boleh melihat wajahnya?" tanya Andrea dengan penuh rasa penasaran dalam hatinya.


"Baik!" Sang petugas wanita pun sontak berdiri dari kursinya, lalu membuka resleting salah satu kantung mayat tersebut.


Andrea pun sontak tercengang. Matanya membelalak lebar, mulutnya pun menganga, saat menatap pada wajah jasad Angelina dan Natasha, yang sudah hangus menghitam tak terbentuk lagi.


"Yaa Tuhaaan!!" Andrea menjatuhkan kedua lututnya keatas lantai, sambil nembungkam mulutnya, karena tidak percaya atas apa yang telah dengan mata kepalanya sendiri.


"Nyonya?! Tenanglah, tenang! Apakah Nyonya mengenali mereka?!" tanya sang petugas wanita seraya berusaha membangunkan tubuh Andrea.


Andrea akhirnya mencoba untuk tetap tegar, meski air mata mulai mengalir membasahi pipinya. "Ya. Aku adalah rekan dari salah seorang keluarga mereka yang masih hidup," jawab Andrea, yang tak pernah melepaskan pandangannya pada kedua wajah jasad itu.


"Apa keluarganya yang masih hidup, bisa dihubungi?" tanya kembali sang petugas wanita.


"Tidak. Salah satu keluarga dari mereka adalah anak pertama dari jasad ibu ini. Dan, anak itu tengah mengalami koma dilantai dua," jawab kembali Andrea, dengan penuh ketegaran dalam hatinya.


Sang petugas wanita menepuk keningnya, setelah mendengar jawaban Andrea. "Astagaaa ...." ucapnya. Ia pun turut merasakan empati, atas semua musibah yang telah menimpa keluarga, dari dua jasad tersebut. "Apa ada keluarganya yang lain?" tanya kembali sang wanita petugas Tim SAR.


"Tidak. Setahuku, hanya anak yang tengah koma itu saja, yang menjadi satu-satunya keluarga mereka," jawab Andrea.


"Kalau begitu, yang harus anda lakukan adalah menunggu anak itu tersadar dari komanya. Tapi, saya tegaskan kepada Nyonya, untuk segera memberitahukannya secepat mungkin! Karena ini menyangkut keberadaan jasad keluarganya," anjur sang petugas wanita, sambil menulis pada sebuah lembar kertas, yang terletak diatas meja.


"Baik. Terima kasih atas segala bantuannya," ungkap Andrea seraya menundukkan kepalanya.


"Sama-sama."


Andrea kemudian membuka pintu, dan keluar dari ruangan tersebut. Ia lalu mendapati Valerie tengah bersandar dibalik dinding, seraya termenung. "Valerie ... ayo ke tempat Roman sekarang. Kita harus berdoa dan berharap sebanyak mungkin, agar dirinya cepat tersadar dari koma," saran Andrea sambil menggenggam erat tangan Valerie.


"Hmm ...." ucap Valerie seraya berjalan mengikuti Andrea menuju lift.


Mereka benar-benar merasakan kepedihan, dari segala musibah yang menimpa Roman dan kekuarganya. Kini, anak itu hidup sebatang kara, karena sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, yang mau bertanggungjawab atas dirinya.


~To be continued~