
Didalam penantiannya, ia termenung. Audrey kemudian mendapati seorang perawat kembali membuka pintu ruangan.
"Kau sendirian?" tanya sang perawat sambil menoleh dari balik pintu.
Audrey sontak berdiri dari kursinya. "I-iya," ucapnya dengan menunduk seraya melirik pada wajah sang perawat.
"Ingin masuk dan menunggu didalam?" tawar sang perawat yang mengenakan seragam putih lengkap dengan topi khas perawat rumah sakit.
Audrey pun tercengang seketika. Itu adalah kesempatan baginya, untuk lebih dekat dengan Roman. "B-b-bolehkah?" tanya Audrey dengan terbata-bata dan sedikit meninggikan alisnya.
"Tentu saja! Jangan lupa tutup kembali pintunya," seru sang perawat sambil berlalu meninggalkan ruang perawatan.
"Baik!" Audrey pun segera memasuki ruang perawatan seraya menutup kembali pintu ruangan.
Hawa dingin dalam ruangan itu, seketika menyejukkan ribuan lubang pori-pori kulitnya. Audrey pun sontak menggigit bibir bawahnya, karena rasa cemas dalam hatinya, semakin menghantui pikiran.
Hatinya berdegup sangat kencang saat akan membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Roman yang tengah terbaring lemah tak berdaya, dibalik selembar kain tirai yang menggantung dan menutupi ranjangnya.
Audrey melangkahkan kakinya secara perlahan, menuju ranjang Roman. Ia lalu mencoba menggenggam kainnya, namun hatinya seolah tak sanggup untuk menyingkap kain tirai tersebut. Roman ... sudikah kau memaafkan diriku, yang bodoh ini? batinnya sambil meneteskan air mata.
Bayangan wajah Roman yang terasa kental dalam benak Audrey, membuatnya memberanikan diri untuk menyingkap kain tirai penutup.
Audrey sontak terkejut sambil membungkam mulutnya, dengan sebelah telapak tangan. "Ro—Roomaaan!" Hatinya luluh lantak saat menatap wajah Roman yang semakin pucat, dan mendapati mulutnya tertutupi masker karet, dengan selang yang terhubung ke mesin ventilator.
"Roman! Romaaan! Romaaaaaannn!!!" Audrey menjerit dalam tangisnya, karena tak menyangka bila Roman akan mengalami hal seperti itu.
Ia pun sontak menduduki kursi, sambil menggenggam erat tangan Roman, yang telah memucat dan terasa sangat dingin ditangannya. "Rooomaan! Aku minta maaaf! Bangunlaaah! Jangan membuatku takuuutt!" mohon Audrey sambil meratapi penderitaan, yang tengah dialami pemuda tersebut.
Audrey terus menangis dan menangis seolah pemuda yang ditangisinya itu adalah kekasihnya. Belum pudar rasa bersalahnya atas pukulan yang pernah diberikan pada Roman, rasa bersalah yang lain pun kembali bertamu dalam hatinya, dan semakin membuat dirinya terisak dalam tangisan.
...*** Lantai satu rumah sakit ***...
Valerie mengunjungi ruang perawatan Valentine dan mendapati sang adik terbaring sambil menutup kedua mata. "Valentine, bangunlah," serunya sambil menggenggam erat tangan Valentine.
Valentine pun sontak membuka kedua matanya. Ia kemudian membangunkan tubuhnya dan terduduk diatas ranjang. "Roman! Dimana Roman?!" tanya Valentine dengan raut wajah cemas.
"Aku pastikan Roman baik-baik saja. Yang terpenting adalah kondisimu. Apa kau sudah membaik?" tanya Valerie seraya meyakinkan Valentine untuk tidak terlalu mencemaskan Roman.
"Ya! Aku baik-baik saja kak!" -ia menurunkan kakinya- "Ayo kak! Bawa aku ke ruangan Roman sekarang!" Valentine semakin terhanyut dalam rasa cemasnya tentang kondisi sang kekasih.
Valerie pun tak bisa berbuat apa-apa, saat Valentine beranjak dari ranjang dan berdiri dihadapannya. "Roman, ia tengah kritis," ungkap Valerie seraya menundukkan wajahnya.
Valentine tercengang bukan kepalang, setelah mendengar pengakuan Valerie. "Kau tidak bergurau kan kak?" -Valentine menggenggam lengan Valerie- "Kau sedang tidak berbohong kan?!!" ucapnya sambil mengguncang-guncang lengan sang kakak.
"Ia kehilangan banyak darah. Yang bisa kita lakukan hanyalah berharap, semoga dirinya segera sadar," Valerie pun sontak meneteskan air matanya, saat mengungkap kebenaran tentang kondisi Roman yang sebenarnya.
Rika yang tengah berada dibelakang Valentine pun turut tercengang. "Roman, k-k-komaa?!" ucap Rika seraya membelakakkan mata ke arah Valerie.
Valentine sontak menarik tangan Valerie dan membawanya keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. "Cepat tunjukkan padaku dimana ruangan roman berada!!" ucap Valentine, sambil mempercepat langkah kakinya.
Valerie kemudian menyusul langkah Valentine dan membawanya menuju lift. Mereka lalu menaiki lift dan segera beranjak ke lantai dua.
Setelah keluar dari pintu lift, Valerie, Valentine, dan Rika pun bergegas melewati koridor ruangan menuju ruang perawatan Roman. Semoga Valentine dapat mengontrol emosinya, setelah melihat kondisi Roman yang sebenarnya, pikir Valerie dengan penuh rasa cemas.
Valerie pun berpapasan dengan seorang perawat yang bertugas menangani Roman. Ia lalu berhenti seraya memanggil perawat tersebut. "Nona perawat!" himbaunya.
Sang perawat seketika menghentikan langkah kakinya sambil menoleh ke arah belakang, dan mendapati Valerie tengah berjalan menuju dirinya dengan tergesa-gesa. "Iya Nyonya? Ada yang bisa saya bantu? Bagaimana dengan urusan biaya administrasinya? Apakah sudah sudah selesai?" tanya sang perawat.
"Baiklah. Kalau begitu, Nyonya diperbolehkan menjenguk murid nyonya," kata sang perawat seraya menjulurkan tangannya ke arah ruangan dimana Roman berada.
"T-terima kasih!" Valerie pun membungkuk, lalu bergegas menuju ruang perawatan, dan diikuti oleh Valentine dan Rika yang berjalan dibelakangnya dengan tergesa-gesa.
Valentine belum mengetahui, bila Audrey telah lebih dulu masuk kedalam ruangan Roman. Rasa cemasnya akan Roman, semakin membabi-buta dan menggelora dalam hatinya.
Valerie seketika berhenti tepat didepan pintu ruang perawatan. Ia seketika teringat akan Audrey. Kemana dia? Atau, jangan-jangan Audrey telah masuk kedalam ruangan! Ini gawat! Aku harus memastikannya dulu! pikir Valerie sambil menoleh ke arah kursi koridor ruangan.
"Valentine, Rika! Kalian tunggu dulu disini! Aku akan masuk terlebih dahulu!" seru Valerie dengan wajah yang sangat serius.
Namun, Valentine tak mengindahkan seruan Valerie. Ia mencoba membuka pintu.
"Valentine!!" sorak Rika sambil menahan lengan Valentine lalu sontak menariknya keluar dari pintu.
Rika telah mengetahui apa maksud dari seruan Valerie. Sudah pasti Audrey didalam! Kalau Valentine sampai melihatnya, mereka pasti akan membuat kekacauan lagi! batinnya.
Rika memaksa Valentine untuk duduk disebelahnya, yang turut menduduki kursi didepan ruangan. "Valentine! Tolong dengarkan sedikit seruan kakakmu. Ia hanya ingin memastikan saja," tegur Rika pada Valentine yang sedikit merasa kesal dengannya, sambil menggigit bibir bawah.
Setelah mendapati Rika dan Valentine menunggu didepan ruangan, Valerie pun segera membuka pintu ruangan dan memasukinya. Ia lalu menutup pintu rapat-rapat. "Audrey," ucapnya saat mendapati Audrey tertidur sambil terduduk disamping ranjang Roman.
Audrey pun sontak terbangun. Ia beranjak dari kursinya seraya berdiri dihadapan Valerie. "Iyaa kak. Apa sudah selesai mengurusnya?" tanya Audrey.
Belum sempat Valerie menjawab, dirinya dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering dalam tasnya.
Valerie lalu meraih ponsel tersebut dan mendapati Andrea-lah yang telah menghubunginya.
📞 "Haloo, Valerie! Aku sudah sampai di lantai satu rumah sakit!" ucap Andrea setelah Valerie menjawab panggilan ponselnya.
📞 "Bagus! Naiklah ke lantai dua, dan cari kamar nomor 37!" seru Valerie.
📞 "Baiklah! Aku akan segera kesana!"
Setelah Andrea memutuskan panggilan, Valerie kemudian menatap pada Audrey, sambil masih menggenggam ponselnya. "Audrey, dengarkan aku. Jika kakakmu mengajakmu pulang, maka turutilah. Namun, jika ia ingin tetap berada disini, kau harus menjaga sikapmu didepan Valentine," perintah Valerie dengan pandangan wajah yang sangat serius.
Audrey pun mengangguk. "Hmm. Aku mengerti, kak," ucapnya.
Valerie kemudian menggengam erat tangan Audrey, dan membawanya keluar dari pintu ruangan. "Valentine. Jaga sikapmu didepan Audrey. Jangan membuat sampai kalian membuat kekacauan disini!" perintah Valerie dihadapan Valentine.
Valentine pun sontak berdiri seraya menatap tajam pada Audrey, yang tengah berdiri dibelakang Valerie. Brengsek! Sekarang malah perhatian kak Valerie yang kau rebut dariku! batin Valentine dengan mulut yang menyeringai.
Demi menghormati sang kakak, Valentine mengacuhkan kehadiran Audrey yang terus menunduk. Ia lalu beranjak menuju pintu ruangan dan membuka pintu tersebut, dengan Rika yang turut mengikutinya dari belakang.
Suasana hatinya yang sempat memanas, seketika berubah. Valentine pun sontak tercengang bukan kepalang, saat mendapati kekasihnya terbaring lemah tak berdaya diatas sebuah ranjang. "Romaaan!!" soraknya sambil berjalan mendekati ranjang milik Roman.
Rika pun tak kalah terkejutnya, saat menatap pada tubuh adik kelasnya itu. "Astaga ...." ucapnya dengan mata yang membelalak lebar, sambil membungkam mulut dengan sebelah telapak tangan.
Valentine akhirnya meneteskan seluruh air matanya secara perlahan. Ia sontak mencodongkan tubuhnya dan memeluk sang kekasih, seraya menyandarkan sebelah pipinya diatas dada lelaki yang sangat dicintainya itu. "Romaaaannnn ...." Valentine semakin terisak-isak dalam tangisnya.
Roman Hillberg. Pemuda yang tengah terbaring lemah, dalam kondisi koma. Seragamnya telah dilepas oleh para perawat, lalu diganti dengan pakaian khusus pasien.
Wajahnya, tangannya, serta kakinya nampak pucat dan terasa dingin bila disentuh. Roman pun harus merelakan raganya, terbaring lemah diatas ranjang pasien. Sedangkan jiwanya, melayang jauh entah kemana.
~To be continued~