
Langit sore tetap menggelap, seiring derasnya hujan yang tak kunjung reda. Bersamaan dengan dengan derasnya air mata Valentine, yang selalu mengalir, hingga membasahi dada Roman.
Sudah dua jam dirinya memeluk tubuh yang lemah tak berdaya itu. Valentine melampiaskan kesedihannya, atas kondisi koma yang dialami sang kekasih, Roman Hillberg.
Rika pun turut meneteskan air matanya, seraya merangkul dan mengelus pundak Valentine, demi meringankan beban kesedihan yang dialami sahabatnya itu.
Sementara diluar ruang perawatan, Valerie tengah berbincang dengan Andrea, perihal penikaman yang dilakukan Joan terhadap Roman. "Brengseeeekk!! Biadab kau Joaaan!! Aku akan melaporkanmu ke polisi!" -ia berdiri dari kursi- "Tidak! Sebelum polisi menemukanmu, aku akan menghabisimu!!" geram Andrea dengan nafas amarah yang menggebu-gebu.
"Tenang Andrea, Tenang! Yang harus kita lakukan adalah pergi ke kantor polisi. Lalu setelah itu, kita pergi ke rumah Roman, untuk menjemput ibunya," saran Valerie yang turut berdiri sambil mengelus-elus punggung Andrea.
Setelah mendengar saran dari Valerie, Andrea kembali menduduki kursinya. Ia lalu menoleh kearah Audrey yang tengah duduk seraya menunduk di seberangnya. "Audrey! Jelaskan padaku! Apa yang terjadi sebenarnya, sampai-sampai si biadab itu menikam Roman?!" tanya Andrea dengan pandangan yang menatap tajam pada Audrey.
Audrey kemudian menatap kewajah Valerie, yang turut menatapnya dengan pandangan serius. Ia lalu mendapati teman kakaknya itu, menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya, seolah meyakinkan dirinya untuk berani mengungkapkan semuanya.
Audrey pun kembali menunduk. "S-semua, gara-gara aku. Pada saat singgah di persimpangan lampu merah, aku mendapati mo—mobil kak Valerie tengah berhenti disamping ku. Dan aku melihat V-Valentine, duduk dibelakang," Audrey semakin menundukkan wajahnya.
"Lalu?!"
"Melihat Valentine duduk disebelah Roman, membuat hatiku kesal. Aku pun sengaja mengacungkan jari tengahku pada Valentine. Tapi," Audrey kembali menghentikan penuturnya, sambil menggenggam erat tangannya sendiri.
"Tapi apa?! Jangan dipotong-potong!" tegur Andrea yang semakin penasaran.
"Tapi Valentine malah membalas mengacungkan jari tengahnya padaku! Aku pun tidak terima dan turun motor untuk menghampirinya! Aku menggedor-gedor pintu mobil tempat Valentine duduk, namun dia malah mendorong pintunya dan membuat aku terpental kebelakang!" ungkap Audrey dengan melampiaskan segela kekesalannya.
Andrea pun naik pitam, setelah mendengar penuturan sang adik. Ia sontak berdiri dari kursinya sambil melayangkan tangannya menuju Audrey.
"Andrea!!" Valerie berusaha menghalangi Andrea dengan memeluknya dari belakang. "Jangan gunakan kekerasan dihadapanku!" tegur Valerie.
Andrea yang hampir melayangkan tangannya pada pipi Audrey pun, menunda niatnya itu dan kembali menduduki kursi sambil menghela nafasnya secara perlahan. "Lanjutkan! Jangan berbelit-belit!" seru Andrea seraya menatap tajam pada wajah sang adik.
Audrey pun sempat menutup matanya, saat sang kakak berniat untuk menamparnya dengan keras. Beruntung Valerie bertindak dengan cepat, guna melindunginya dari kekerasan Andrea.
Tubuhnya bergetar hebat, setelah melihat kegeraman Andrea yang sangat murka terhadapnya. Audrey kemudian kembali melanjutkan penuturannya dengan penuh rasa ketakutan. "J-J-Joan, turun dari motornya saat melihatku terjatuh. Ia l-l-lalu—"
(Brak!)
Audrey terkejut dan menghentikan ucapannya, saat Andrea sontak menggebrak kursi disebelah, dengan tangan kirinya. "Sudah kubilang! Jangan berbelit-belit!" omel Andrea pada sang adik.
"Andreaaa ... tenangkanlah dirimu. Kasian Audrey," tegur Valerie seraya mengelus-elus dada Andrea.
Melihat kakaknya sangat berang terhadapnya, Audrey pun sontak menangis, dan kembali melanjutkan penuturannya. "Valentine keluar dari mobil dan menghinaku! Joan pun tidak terima saat melihat Valentine menghinaku yang tengah shock karena terjatuh! Dia lalu mencekik leher Valentine!"
"Roman pun turun dari mobil dan mendorong Joan kebelakang. Setelah itu ... setelah itu!" -Audrey berdiri dari kursi- "Joan yang tidak terima pun menusuk Roman dari belakang, dan pergi melarikan diri! Meninggalkan aku sendirian disana!" Audrey terlalu menggelora dalam mengungkapkan seluruh pengakuannya.
Andrea kemudian berdiri dari kursinya seraya menghampiri Audrey. Ia lalu menggenggam dagu sang adik yang tengah menunduk, lalu mendongakkannya agar mau melihat wajahnya. "Kenapa kau sangat memusuhi Valentine?! Hah?! Apa yang membuat kalian jadi bermusuhan, sedangkan kakak-kakak kalian berteman dengan sangat baik?!" tanya Andrea seraya menampakkan wajah murkanya.
"Roman," jawab Audrey dengan spontan.
"Roman?!"
"Kami memperebutkan Roman," Audrey pun mengungkapkan sebab permusuhannya dengan Valentine.
Valerie yang menyaksikannnya pun segera memisahkan mereka berdua. "Sudahlah Andrea! Mereka sedang mengalami masa mudanya! Maklumi saja!" tegur Valerie seraya menarik tubuh Andrea untuk kembali ke kursinya.
Andrea pun kembali menduduki kursinya, dengan raut wajah yang sangat heran. "Mereka bermusuhan hanya karena memperebutkan satu lelaki? Apa itu wajar, Valerie?" tanya Andrea sambil menoleh kewajah Valerie.
"Apa kau tidak ingat? Dulu kita juga pernah memperebutkan seorang lelaki?" Valerie pun melemparkan pertanyaanya pada Andrea seraya mengingatkan teman lamanya itu akan kejadian yang pernah mereka alami sebelumnya.
Mendapati Valerie spontan membongkar aib mereka berdua, Andrea pun sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. Dasar Valerie! Masih ingat saja tentang kejadian masa sekolah kita dulu! gumam Andrea dalam hatinya.
Andrea kembali menatap wajah Valerie. "Tapi kan, dulu kita tidak sampai bermusuhan seperti mereka Valerieee! Bahkan persahabatan kita semakin kuat dan bersaing secara sehat. Apakah tidak bodoh?? Memperebutkan seseorang hingga saling bermusuhan satu sama lain?? Belum tentu lelaki itu memilih salah satu diantara kita kan?!" sanggah Andrea.
"Tidak! Ini berbeda dengan kisah kita. Valentine telah memiliki Roman. Dan, Audrey," Valerie pun tak sengaja menyindir Audrey, yang membuat Andrea sontak menoleh ke arah sang adik.
"Audreeeyy! Kemari!" seru Andrea.
Audrey yang tubuhnya tetap bergetar hebat pun menuruti seruan sang kakak, seraya menghampiri dirinya.
(Tuk!)
Andrea pun sontak menyentil kening Audrey. "Dasar! Apa kau tidak tahu malu?! Kakakmu saja tidak pernah merebut kekasih orang lain! Apa kau ingin membuat aku malu, dihadapan Valerie?!" tegur Andrea sambil menurunkan tingkat emosinya terhadap Audrey.
"T-tapi! Roman tampan kak! Siapa yang tidak ingin menjadi pacarnya?!" Audrey semakin menunjukkan kepolosan perasaanya dihadapan Andrea.
Mendengar tingkah laku sang adik yang semakin membuatnya malu dihadapan Valerie, Andrea menggengam erat lengan Audrey. Ia lalu menggiring sang adik menuju lift seraya menolehkan wajahnya ke arah Valerie. "Tunggu sebentar! Aku akan kembali!" ucapnya dari keluar kejauhan.
Mereka kemudian memasuki lift, setelah menakan tombol dengan tanda anak panah yang menghadap ke bawah, dan mendapati pintu lift terbuka.
"Duhh! Sakit kak! Lepaskan!" Audrey pun berhasil melepaskan lengannya dari genggaman sang kakak.
"Dasar kau! Bikin malu saja!" gumam Andrea seraya bersedekap tangan dihadapan Audrey.
"Aku tidak salah kan?! Audrey semakin keras kepala.
"Bodoh! Kalau mau merebut kekasih orang, liat dulu siapa wanitanya! Valentine adalah adik Valerie! Sedangkan Valerie adalah sahabat lama yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri! Apa kau sudah tak punya otak?!" tegur Andrea yang suaranya menggema dalam lift tersebut.
"Kalau begitu, berarti Valentine adalah adik tiriku! Seharusnya dia mengalah padaku, kan?!" Audrey benar-benar keras kepala.
(Tuk! Tuk! Tuk! Tuk!)
"Sakiittt!!!" keluh Audrey, setelah Andrea menyentil keningnya.
Rasa gemas dan geram Andrea terhadap Audrey, membuatnya menyentil kening sang adik berulangkali. "Berarti kalau aku punya kekasih, kau juga tidak segan-segan merebutnya dariku? Hah?! Adikku ini benar-benar sudah dibodohkan oleh cinta!" omel Andrea yang tak dapat menahan rasa kesalnya pada adik kandungnya itu.
Selepas keluar dari pintu lift, Andrea kembali menggenggam erat lengan Audrey dan menggiringnya menuju parkiran motor. "Aku akan mengantarmu pulang. Perbaiki sikapmu selama dirumah! Jangan sampai membuatku merasa malu dihadapan Valerie lagi!" tegur Andrea seraya menaiki moge-nya lalu menyalakan mesinnya.
Setelah mendapati Audrey telah menduduki jok motor dibelakangnya, Andrea pun tancap gas keluar dari parkiran rumah sakit dengan meninggalkan rasa malunya, ditempat tersebut.
~To be continued~