My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 28. Cinta Pertama



Angelina tidak habis pikir dengan segala tindakan konyol Roman, yang telah melukai dirinya sendiri. "Duh duh duh, sakit maaa!" keluh Roman yang telah mengenakan seragam sekolahnya, seraya duduk disamping Angelina.


"Kau benar-benar sudah kelewatan Roman! ... Diam dulu! Jangan banyak bergerak!" tegur Angelina sambil memutar sehelai kain perban, yang membaluti tangan kanan Roman.


Natasha pun turut berang pada Roman, setelah melihat tangan sang kakak bengkak dan memar. "Romaaan!" -ia memukul punggung Roman- "Kau nakal! Roman nakal!" berang Natasha yang tengah berdiri dibelakang Roman.


"Baik baik ... Roman nakal. Maafkanlah kakakmu ini, Nata— ... aww!" Roman mengerang kesakitan saat Angelina mengencangkan balutan perbannya.


Setelah selesai mengurus Roman, Angelina mendengar suara klakson mobil yang terdengar dari luar rumah. "Sebentaaar! Roman, gurumu telah tiba. Ayo bergegas keluar!" seru Angelina.


Roman kemudian bangkit dari kursi meja makan. Ia lalu mengambil tasnya dan beranjak menuju teras rumah, bersama Angelina dan Natasha yang turut mengikuti dari belakang.


"Selamat pagi, Nyonya Angelina," sapa Valerie dari dalam setir kemudi.


"Selamat pagi, Nona Valerie ... Terima kasih sudah repot-repot datang kemari, hanya untuk menjemput anakku ... Aku pun jadi segan denganmu," ungkap Angelina sambil menggendong Natasha.


Rika tercengang bukan kepalang, saat perhatiannya tertuju pada wajah Natasha. "Valentine, Valentine! Siapa makhluk lucu itu? Darimana datangnya?" tanya Rika dengan wajah gemasnya, sambil mengintip dari balik kaca mobil.


Valentine kemudian ikut mengintip. "Aaaaa!! Aku sudah tidak tahan lagi!" Ia pun sontak keluar dari mobil seraya menghampiri Angelina yang tengah berdiri disamping Roman.


"Bunda, siapakah nama putri kecil cantik dan lucu ini?" tanya Valentine yang turut menampakkan wajah gemasnya terhadap Natasha. Ia kemudian menggenggam tangan mungil nan halus tersebut.


"Natasha Hillberg. Dia adalah adik kebanggaanku," sambung Roman yang merasa risih dengan tindakan aneh Valentine.


Rika pun turut bergegas keluar dari mobil seraya menghampiri Valentine, yang telah terpana olah wajah imut Natasha. "Bunda bunda, bolehkah aku meminjam makhluk lucu ini selama seminggu? Aku sungguh-sungguh gemas terhadapnya," ungkap Rika dengan mata yang berkaca-kaca. Ia kemudian mengelus-elus pipi Natasha yang lembut itu.


Natasha sontak merengek. "Mamaaaa ...." Ia pun menangis sambil memalingkan wajahnya dan berlindung dibalik leher sang bunda. Kehadiran dua gadis tersebut, telah menggangu kenyamanan Natasha.


"Nataaa ... jangan begituu ... Kakak-kakak ini adalah orang baik. Berbuat baiklah pada mereka," tegur Angelina seraya mengelus-elus punggung Natasha.


Mendengar teguran sang Bunda, Natasha kemudian berbalik wajah. "Kakak bukan orang jahat? Kakak orang baik kah?" tanya gadis mungil tersebut, dengan penuh kepolosan.


"Hmm! Tentu saja! Maukah Nata berteman dengan kami?" bujuk Valentine sambil tersenyum. Rasa gemas dihatinya semakin menggebu-gebu setelah melihat keimutan dan kepolosan yang terlukis indah di wajah Natasha.


Natasha sontak merentangkan kedua tangannya pada Valentine. Ia memberikan isyarat pada gadis tersebut agar mau menggendongnya dan membuktikan bila dirinya tidaklah berniat jahat.


Valentine akhirnya tak dapat menahan rasa gemasnya. Ia pun menggendong tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang. Aaaaaaa ... lembut sekali ... Roman! Kau sangat beruntung! batin Valentine.


Setelah berada dalam pelukan Valentine, Natasha benar-benar menjadi nyaman. Ia kemudian menatap penuh kagum wajah gadis, yang sangat mencintai kakaknya itu. "Roman! Menikahlah dengan kakak ini!" seru Natasha dengan spontan, sambil menunjuk pada Roman.


Semua orang pun terkejut bukan kepalang, saat mendengar seruan yang keluar dari mulut Natasha. "M-m-m menikah?!!!" kata Valentine.


Pipinya sontak memerah. Mulutnya pun menganga lebar. Valentine menjadi tercengang dan malu dihadapan Roman yang turut tercengang, setelah melihat tindakan spontan sang adik.


"Nataaa?! Apa yang telah kau ucapkan?" tanya Roman dengan penuh ketidakpercayaannya terhadap kepolosan Natasha.


"Nataaa ... jangan mengganggu kak Valentine," tegur Angelina yang sempat terkejut dengan perkataan spontan Natasha. Ia kemudian meraih tubuh Natasha dan kembali menggendongnnya.


"M-m-menikaaahhhh? ... Valentine!" -Rika menggenggam pundak Valentine- "Aku belum siap menjadi seorang bibi!" kelakar Rika yang turut terkejut, saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Natasha.


Kedua gadis itu menuruti perintah Valerie. Mereka kemudian kembali beranjak masuk kedalam mobil. "Roman! Jangan berdiam diri saja! Cepat masuk!" Valerie benar-benar tersinggung mendengar kata 'menikah' yang terngiang-ngiang di telinganya.


Roman kemudian turut beranjak menuju mobil Valerie. Ia lalu membuka pintu bagian belakang dan mendapati Valentine telah duduk disebelah pojok. Sial! Kenapa aku harus duduk dibelakang, gumamnya dalam hati.


"Nyonya Angelina, kami pergi dulu," tutur Valerie sambil menoleh ke arah Angelina yang telah berdiri disamping mobil.


"Baiklah. Hati-hati dijalan," balas Angelina seraya melambaikan tangan.


"Roman! Kakak! Dadaaah!" Natasha turut melambaikan tangan sambil menampakkan wajah girangnya.


Rika, Roman dan Valentine pun membalas lambaian tangan si gadis kecil nan mungil tersebut. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumah keluarga Hillberg dan bergegas menuju sekolah menengah Saint Luxury.


...*** Beberapa Menit Kemudian ***...


Selama dalam perjalanan menuju sekolah, Roman menjadi canggung dengan Valentine. Ia benar-benar tak menyangka, bila dirinya akan membalas perasaan Valentine dibawah derasnya hujan semalam. Bagaimana ini kedepannya?! Apa yang harus ku lakukan padanya?! batin Roman dengan perasaan cemas.


Valentine pun sontak mendekatkan dirinya hingga pundaknya menempel dengan pundak Roman. Aku telah menyiapkan berbagai macam kegiatan, untuk menghabiskan waktuku dengannya sepulang sekolah. Kali ini, aku harus benar-benar memperjelas perasaanku, batinnya sambil tetap menoleh ke arah depan.


Roman pun semakin tenggelam dengan perasaan canggungnya. Ia merasa bila Valentine, benar-benar tak bisa menjauh darinya. Ahh!! Bagaimana ini?! Apa aku harus merangkulnya? Atau mengelus-elus kepalanya?! Dewi cinta, berikan petunjukmu! batinnya.


Valentine kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Roman. Ia benar-benar merasa nyaman, bila berada disamping lelaki pujaan hatinya tersebut. Aaaaaaa!! Meniikah dengan Roman?! Andai saja aku seumuran kak Valerie, tentu aku akan mengiyakannya, batin Valentine dengan mata tertutup, seraya mengelus-elus pundak roman dengan kepalanya.


Valerie sontak menatap pada cermin yang menghadap ke arah mereka. Ia merasa bila Valentine sedang berusaha menyinggung perasaanya. Meniikaaah?!! Tapi dengan siapaaa?!! batinnya sambil menggigit bibir bawah.


Rika berusaha untuk tetap tenang, sambil menyusun tumpukan berkas-berkas agenda rapat OSIS diatas pahanya. Menurutnya, kebahagiaan Valentine adalah kebahagiaannya juga. Menikah menikah menikah menikaaahh!!! Apakah sudah saatnya aku akan menjadi seorang bibi?! Aaaaaaaa!! ... Jangan Valentine! Jangan menikah sekarang! Aku belum siaaaap!! batinnya yang turut menggigit bibir bawah.


Semua orang dalam mobil tersebut, pada akhirnya merasakan kecanggungan yang luar biasa. Tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk memulai sebuah percakapan, hingga Valerie memperlambat lajunya mobilnya, setelah merasa hampir dekat dengan gedung sekolah.


Valerie pun sontak membelokkan setirnya memasuki gerbang sekolah. Ia kemudian memasuki basemen gedung sekolah seraya mencari ruang kosong, untuk memarkirkan mobilnya dengan rapih. "Valentine, Roman, duluanlah ke kelas kalian. Aku akan menyusul," seru Valerie setelah mematikan mesin mobil. Ia kemudian bergegas menuju ruang guru.


Roman kemudian beranjak dari mobil Valerie, dengan diikuti oleh Valentine yang turut keluar dari pintu mobil.


"Valentine, aku duluan ke kelasku yah! Bye!" ucap Rika selepas menutup pintu mobil. Ia lalu bergegas memasuki tangga penghubung lantai satu, sambil melambaikan tangan ke arah Valentine.


"Bye Rika!" Valentine pun turut melambaikan tangan ke arah Rika.


Dan, hanya tersisa mereka berdua yang masih berdiri didepan mobil Valerie. Sunyinya ruang basemen, semakin menambah kecanggungan Roman terhadap Valentine. Ia seperti ingin cepat-cepat bergegas menuju ruang kelas. Namun, hal itu sulit dilakukannya, bila tidak seiring dengan sang gadis.


Valentine kemudian menatap ke arah wajah Roman. Ia lalu terdiam sejenak sambil menghadap ke arah laki-laki tersebut. "Roman." -Valentine memeluk Roman- "Tetaplah bersikap seperti kekasihku, walau berada di lingkungan sekolah," ucapnya.


Roman pun terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka, menduga, dan mengira, bila Valentine menginginkan hal yang benar-benar bisa membuat mereka, jadi bahan perbincangan seluruh kelas. Valentine, kau benar-benar gila, batinnya dalam kepasrahan.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Ia telah membayar lunas perasaan Valentine. Mau tidak mau, Roman harus mengiyakan dan menuruti segala permintaan cinta pertama, dalam hidupnya tersebut.


~To be continued~