My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 58. Ekskul Teknologi Modern



(Tringgg! Tringgg! Tringgg!)


Bel istirahat akhirnya berbunyi, yang membuat seluruh murid berbondong-bondong keluar dari kelas. Namun, Shawn dan Drake membelokkan langkah kaki mereka menuju ruang UKS, demi menjenguk kondisi Kevin.


Hal aneh terjadi pada Valentine, yang seketika bergegas keluar kelas, tanpa mengucapkan sepatah-katapun pada Roman. "Aku harus cepat-cepat pergi ke ruang ekskul atletik! Semoga pendaftarannya masih buka!" batin Valentine, yang semakin jauh meninggalkan ruang kelas.


Roman yang sedari tadi bersembunyi dibalik bukunya, seketika menoleh ke arah kursi Valentine. "Kemana dia? Biasanya selalu menarik tanganku keluar disaat jam-jam seperti ini," pikir Roman dengan buku pelajaran yang bersandar terbuka diatas kepalanya.


Suasana kelas semakin hening, seiring dengan mendungnya cuaca yang nampak dari luar jendela. Roman menikmati ketenangan itu, sambil menyandarkan punggungnya pada tembok ruangan dekat jendela.


"Kak Valerie tidak akan hadir selama seminggu, begitu juga dengan Audrey. Rumahku bahkan telah rata dengan tanah," batin Roman yang terus menatap ke arah luar jendela diseberangnya.


Ia lalu tak sengaja melihat Priscilla dari arah luar jendela, yang tengah berjalan melewati kelasnya. Roman sontak meluruskan posisi duduknya dan kembali menyembunyikan wajahnya dengan buku pelajaran.


Priscilla sempat menoleh ke arah dalam kelas, melalui jendela. "Aku seperti mengenalnya ... Roman kah?" pikirnya. Demi menghilangkan rasa penasaran, ia berjalan menuju pintu kelas, lalu menolehkan wajahnya untuk mengintip dari balik pintu. "Romaan?!" himbaunya.


Namun, Roman tak menghiraukan himbauan Priscilla. Ia berusaha sebisa mungkin, untuk tidak membuat pergerakan, yang dapat membuat gadis itu semakin penasaran padanya.


"Jika dia Roman, pasti sudah menyahut! Mungkin aku salah orang," batin Priscilla, yang kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang ekskul atletik. Yang sebenarnya ia duga, adalah benar-benar Roman. Namun, anak itu sepertinya sedang tak ingin berinteraksi dengannya.


Setelah memastikan Priscilla telah menjauh dari kelas, Roman seketika beranjak dari kursinya, dan berjalan menuju pintu kelas. "Kalau bisa, aku ingin mengurangi kedekatanku dengan banyak perempuan!" keluh Roman dalam hatinya.


Roman berniat meluangkan waktu istirahatnya, untuk mengunjungi gedung perpustakaan. Bola matanya terus melirik kiri dan kanan, seperti sedang menghindari sesuatu, yang dapat menghalangi perjalanannya.


Setelah berjalan jauh meninggalkan ruang kelas, Roman mendapati pintu akses ke taman sekolah telah berada didepan matanya. Namun, perhatiannya seketika tertuju pada plang tulisan yang tertera diatas pintu ruangan. "Klub Teknologi Modern," ucapnya seraya meniru tulisan tersebut.


Pintu itu seketika terbuka, yang membuat Roman terkejut saat melihat seorang siswa setinggi dirinya, dengan rambut yang bergelombang, serta mengenakan kacamata itu, keluar dari ruangan. "Maaf. Apa ada yang salah?" tanya siswa tersebut, setelah mendapati Roman tercengang melihatnya.


Roman mengerjapkan mata sejenak. "T-Tidak ada! ... apa aku boleh masuk?!" pinta Roman yang semakin penasaran seperti apa isi dalam ruangan klub tersebut.


"Maaf! Ruangan ini sangat terlarang, untuk siswa yang bukan anggota klub," jawab sang siswa, dengan raut wajah curiga.


Mendengar perkataannya, membuat Roman terpaksa menghela nafasnya secara perlahan. "Mungkin mereka belum mengenalku," batin Roman. Ia kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu.


Namun, Edgard yang berada dalam ruangan itu seketika keluar, setelah mendapati temannya berbincang dengan seseorang dari luar pintu. "Eugene, kau berbicara dengan siap— Romaaan!!" sorak Edgard dari balik pintu.


Roman menghentikan langkah kakinya, saat mendapati Edgard menghimbaunya. "Iya?" ucapnya sambil menoleh kebelakang.


"Eugene! Dialah Roman! Dewa kitaaaa!" ucap Edgard sambil menggenggam pundak Eugene, dan menggoyang-goyangkannya, karena merasa heboh dengan kehadiran Roman.


"R-R-Romaan?!!' Eugene pun sontak tercengang, dan mendapati Roman semakin berjalan mendekatinya. "Roman!" -ia menggengam pundak Roman- "Istanamu ada disini! Ayo masuk kedalam!" seru Eugene dengan mata yang berkaca-kaca.


Edgard Brodinsen, adalah putra dari seorang insinyur mesin pesawat, yang kini tengah bekerja diluar negeri. Sedangkan Eugene Osbourne, merupakan putra dari seorang Paleontolog tersohor, yang juga sedang melakukan penelitian diluar negeri.


Mereka sangat kegirangan, setelah melihat kehadiran Roman, didepan ruangan klub teknologi modern. Tanpa basa-basi lagi, Eugene mempersilahkan anggota barunya itu, masuk kedalam ruangan. "Selamat datang, di istana kami, Tuan Roman," sambut Eugene seraya membungkukkan badan, layaknya seorang pelayan istana.


Ruangan itu dipenuhi banyak meja yang berderet disetiap sisi ruangan, dengan beberapa komputer yang terletak diatasnya, serta rancangan-rancangan komponen mesin robotik yang belum sempurna.


"Oliviaa ... Oliviaa!! Oliviaa!!!" sorak Edgard pada seorang gadis yang tengah duduk didepan meja komputer, dengan sebuah headset yang menutupi telinganya.


Eugene segera menghampiri Olivia, dan mencabut jack headsetnya dari lubang socket komputer. "Game dan game! Lihatlah! Siapa yang datang!" tegur Eugene.


Olivia seketika menoleh ke arah wajah Roman. "Siapa dia?! Aku tidak mengenalnya!" ucapnya saat menatap penuh curiga pada wajah anggota baru klub tersebut.


Roman pun berjalan menghampiri Olivia, yang tengah duduk diatas kursi gaming. "Perkenalkan, aku Roman Hillberg," ucap Roman sambil mengulurkan jabatan tangannya pada gadis tersebut.


Namun, Olivia mengacuhkan Roman dan kembali memusatkan perhatiannya pada layar monitor komputer. "Ahhh!!! Sial! Mati lagi!" keluhannya dihadapan monitor.


Gadis yang turut mengenakan kacamata, dengan rambut pendek berwarna pink yang bentuknya mirip dengan rambut Valentine itu, seketika berdiri dari kursinya. "Olivia," ucapnya sambil berjalan melewati Roman, tanpa membalas jabatan tangannya.


Melihat tingkah laku Olivia, Edgard pun berang. "Oliviaaaa!! Jaga sikapmu didepan Roman!" tegur Edgard sambil berkacak pinggang, dan berjalan mendekati Olivia.


Olivia menjadi kesal. Ia lalu menoleh ke arah Roman. "Siapa dia?! Apa kelebihannya?! Kenapa dia bisa masuk keruangan ini!" Tangannya menunjuk pada wajah Roman, dengan wajah yang menatap penuh kesal padanya.


Namun, perhatian Roman seketika tertuju pada sebuah rangkaian komponen robotik, yang masih belum terhubung kabel-kabelnya. Ia lalu berjalan mendekati rangkaian tersebut, dan menatap seluruh komponen-komponennya satu persatu.


"Roman, apa ada yang salah?" tanya Eugene, seraya berjalan mendekati Roman.


"Hmm ... siapa yang merancang ini?" tanya kembali Roman, yang terus memusatkan perhatiannya pada komponen mesin tersebut.


Mereka pun saling menunjuk satu sama lain. Edgard menunjuk pada Olivia, dan Olivia menujuk pada Eugene. "K-k-kami bertiga yang merancangnya," jawab Eugene dengan tangan yang bergetar. Ia juga bermaksud mewakili jawaban anggota klub lainnya.


"Hmm ... meskipun kalian hubungkan seluruh kabelnya, mesin robot ini tetap tidak akan berfungsi dengan benar," ungkap Roman seraya menyentuh beberapa mesin komponen yang menurutnya tidak sesuai. "Eugene! Apa kau bisa membongkar chipsetnya?" seru Roman, sambil mengetuk-ngetukan dagunya dengan jari telunjuk.


Mendengar reaksi, penjelasan, serta pencerahan dari Roman, Eugene pun tak dapat menahan rasa gembiranya. "Y-y-ya!!! Itu sangat mudah dilakukan olehku!" jawab Eugene, dengan kedua tangan yang masih bergetar.


Roman kemudian duduk disebuah kursi meja komputer, sambil menghadap ke arah Eugene yang tengah membongkar rangkaian komponen robotik tersebut, satu persatu.


Ia seketika menoleh ke wajah Olivia, yang diam-diam memperhatikan wajahnya, sambil terduduk disampingnya. "Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Roman.


Olivia pun salah tingkah. "Hmphh!!!" Ia memalingkan wajahnya kearah lain, dengan kedua pipi yang sontak memerah. "Bagaimana kau bisa tahu, kalau rancangan chipsetnya salah?" tanya Olivia, sambil bertopang dagu, dengan sikut yang bersandar pada pegangan kursi gaming.


"Aku? Tahu? Siapapun pasti tahu hanya dengan sekali melihatnya saja. Mendengar pertanyaan darimu, sepertinya kau telah menguji coba mesin tersebut, benarkah?" tanya Roman setelah menjawab pertanyaan yang membuat Olivia merasa heran dengan kemampuan cara berfikir cepatnya.


"Ya! Kami bahkan sempat frustasi, karena selalu merombak dan merombak berulangkali, tetapi tetap saja tidak ada perubahan," jawab Olivia yang terduduk dan membelakangi Roman dengan punggungnya. Kaki kanannya yang terlipat diatas paha, selalu bergoyang-goyang.


"Karena yang salah adalah chipsetnya. Jika otak manusia tidak berfungsi, maka jantung pun takkan berdetak. Sama halnya dengan mesin robotik. Jika rancangan chipsetnya salah atau tidak sesuai, maka komponen-komponen yang lain pun takkan saling bersinergi satu-sama lain," tutur Roman panjang lebar.


Olivia pun sontak menoleh ke wajah Roman dan tercengang. "B-benar juga apa yang dikatakan oleh lelaki playboy yang satu ini! Aku telah salah menduganya! pikir Olivia yang terus menatap kedua bola mata Roman.


"Olivia? ... Oliviaa?!" Roman berusaha menyadarkan gadis yang tengah termenung sambil menatapnya itu.


~To be continued~