My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 12. Bintang Yang Paling Terang



Roman telah menyelesaikan segala misinya saat menyusup kedalam rumah keluarga Helsink. Selepas redanya hujan, Ia pun bergegas menuju gerbang lalu menatap kearah sebuah kotak yang menempel pada tembok gerbang tersebut. "Aku tahu gerbang ini punya sistem elektrik didalamnya," kata Roman.


Ia pun mencari cara agar dapat membuka kotak tersebut. Seraya meraba-raba permukaanya, Roman pun mendapati sebuah celah yang sedikit terbuka. "Ku coba congkel saja dengan penggaris besi" Roman kemudian merogoh saku tasnya dan mendapati sebuah penggaris besi.


Dengan penuh ketelitian dan rasa ingin kabur dari rumah tersebut, Roman pun berusaha mencongkel celah kotak itu. "Ayolah!" katanya. Congkel dan congkel, ia tak pernah lelah dalam melakukan hal yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya itu.


Roman pun seketika berhenti mencongkel. Ia lalu mengintup dari balik celah kotak itu. "Hmm ... sepertinya ada pengait didalamnya," ucapnya.


Ia pun mengalihkan congkelannya pada pengait tersebut. "Aaargghhh!!! Ayolah!!!" Roman menekan penggarisnya ke arah atas dengan sekuat tenaga, agar pengaitnya dapat terbuka. "Aaaargghhh!!!" Ia mengerahkan seluruh tenaga pada otot lengannya untuk menekan pengait tersebut.


(Cletuk...)


"Akhirnya ...." kata Roman seraya mengeluarkan penggarisnya dari dalam kotak. Ia pun berhasil mendorong pengaitnya ke arah atas, hingga kotak tersebut dapat leluasa terbuka.


Roman kemudian mendapati banyak kabel yang berbeda-beda warna. "Jika pintu ini menggunakan remot, maka aku harus mencabut kabel sirkuitnya." -Ia mencabut kabel berwarna merah- "Setelah itu ... mungkin ...." Roman menunjukan kepiawaian otaknya, dalam mengurai beberapa masalah yang dihadapi. Ia bahkan merakit ulang seluruh kabel dalam kotak tersebut dan menutupnya kembali.


"Ayah, jika bukan karena ajaranmu, mungkin aku akan terjebak disini selamanya," kata Roman setelah menutup kembali kotak tersebut. Dengan penuh percaya diri, ia pun berusaha menggeser pintu gerbang tersebut, agar dapat memberikan celah keluar untuknya.


Roman mengeluarkan seluruh tenaga dalam otot bahunya untuk membuka gerbang yang sangat tinggi tersebut. "Aaarrgghh!!!" sorak Roman. Ribuan peluh keringat yang keluar dari tubuhnya, menandakan gigihnya perjuangan anak itu.


"Ayolaaaah!!!" Roman pun mendapati pintu itu sedikit tergeser, hingga menghasilkan celah untuknya keluar dari gerbang. Dengan kerampingan tubuhnya, Roman menyelip celah gerbang tersebut. "Yes! Yes! Yesss!" katanya dengan penuh kegirangan setelah berhasil keluar.


Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, Roman membungkukkan badannya seraya meniru sikap start jongkok atlit pelari cepat. "Mama, Natasha, aku rindu kalian." Ia pun berlari sekencang macan yang sedang mengejar mangsanya.


Kecepatannya dalam berlari bukanlah tanpa sebab. Pada masa SMP-nya, Roman selalu berlatih berlari di lapangan dekat rumah, sebelum melakukan pertandingan kejuaraan lari cepat antar sekolah. Berbagai medali pun telah diraihnya, karena terus menjuarai lomba tersebut.


Roman turut meraih medali dari berbagai kejuaraan atletik lain. Atas bakatnya itulah, ia sering disebut sebagai 'si kutubuku atletis' oleh teman-teman semasa SMP-nya.


...*** Rumah Sakit ***...


Rika semakin terbelenggu oleh kesedihannya. Ia terus menerus meneteskan air mata saat mendapati teman sejolinya itu, tetap terbaring dalam ruang perawatan. Valentine .... Bangunlah, batin Rika dengan terisak-isak. Rasa bencinya pun semakin mendalam pada berandalan yang telah melukai Valentine.


Ia seketika teringat akan Paul yang telah melarikan diri, selepas melakukan pelecehan seksual terhadap Valentine. Rika kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mencoba menghubungi Bryan, guna memastikan dimana keberadaan Paul.


"Halo? Bryan!" sapa Rika setelah menempelkan ponselnya ke telinga.


"Halo, Rika. Aku kehilangan jejak Paul," kata Bryan.


"Brengsek!" gumam Rika dengan nada kesal.


"Rika, akan ku pastikan berandalan itu, menyesali perbuatannya. Kau jangan khawatir. Bila perlu, aku akan menghajarnya besok!" ujar Bryan


"Tidak perlu! Biar aku sendiri yang akan memberikan pelajaran kepadanya. Jangan mentang-mentang anak pemilik sekolah, ia berbuat seenaknya!" kata Rika dengan emosi yang menggebu-gebu.


"B-Baiklah! Lalu, bagaimana keadaan Valentine?" tanya Bryan.


"Ia ... belum juga sadar"-Rika menatap wajah Valentine-"Aku dengar Dokter mengatakan bila Valentine baik-baik saja," tutur Rika yang perlahan menurunkan tingkat emosinya.


"Baiklah, see you." Rika pun mengakhiri percakapannya dengan Bryan. Ia menjadi tidak sabaran untuk segera memberikan pelajaran kepada Paul. Dengan penuh perhatian, Rika menggenggam erat sebelah telapak tangan Valentine yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Valentine, jangan khawatir dan jangan takut lagi. Aku akan menghajar orang itu! batin Rika.


...*** Rumah Keluarga Helsink ***...


Valerie meyakinkan hatinya untuk tetap tenang, dalam menanggapi kejadian yang telah menimpa Valentine. Ia pun turut menjaga konsentrasinya dalam mengendarai mobil, seraya bergegas menuju rumah. Apa anak itu baik-baik saja? batinnya.


Setelah tiba didepan gerbang, Valerie menekan sebuah tombol pada remot gerbang. "Kenapa tidak mau terbuka?" katanya seraya memencet berulang kali tombol tersebut. Perhatiannya pun tertuju pada celah yang membuka gerbang rumahnya. "Ada pencuri kah?" ucap Valerie dengan penuh curiga.


Demi memastikan keamanan rumahnya, Valerie telah mencoba menghubungi polisi. Ia berharap seisi rumahnya baik-baik saja setelah menduga ada seseorang yang berusaha menyusup kedalam rumah. Jika ada pencuri, lalu bagaimana dengan keadaan Roman didalam! Polisi lambat sekali! batin Valerie.


Valerie harus berjuang melawan rasa cemasnya dibalik setir kemudi, seraya menunggu kedatangan polisi. "Lama sekali!!"-Ia menatap sirine mobil- "Ah itu mereka!" Valerie pun mendapati sebuah mobil polisi yang bergegas menuju dirinya. Ia kemudian beranjak dari mobil sambil menanti petugas polisi keluar dari mobil dinasnya.


"Selamat malam, Nyona," sapa salah seorang petugas polisi.


"Selamat malam. Pak, tolong selidiki, apakah ada penyusupan dirumahku? Sebab, aku mendapati gerbang elektrikku terbuka dengan sendirinya," seru Valerie dengan wajah cemas kepada petugas polisi.


"Baik! Apa ada orang lain didalamnya?"


"Ya! Ada adik laki-lakiku yang sedang tertidur didalam," jawab Valerie seraya berpura-pura mengaku sebagai kakak Roman.


"Baiklah! Demi keamanan nyonya, silahkan tunggu didalam mobil. Beberapa petugas kami akan berjaga-jaga diluar. Aku dan beberapa petugas lainnya akan melakukan penyelidikan ke dalam rumah," seru Polisi tersebut seraya mengeluarkan sebuah pistol dari saku pistolnya.


"B-baiklah!" Valerie pun kembali memasuki mobilnya. Ia lalu mendapati para petugas polis tersebut, memasuki rumahnya dengan penuh kewaspadaan. Valeria juga turut menaruh perhatian pada beberapa petugas yang berjaga-jaga disekitar mobilnya.


...*** Rumah keluarga Hillberg ***...


Roman telah tiba didepan rumahnya, setelah berlari ngos-ngosan sejauh lima kilometer dari rumah Valerie. Ia kemudian membuka pintu rumah dan mendapati Angelina serta Natasha, tengah duduk seraya menanti kedatangannya. "Mama! Maaf aku baru pulang," kata Roman sambil melepaskan sepatu dan meletakkannya ke dalam rak sepatu.


"Roman? apa yang membuatmu pulang larut malam begini?" tanya Angelina seraya menghampiri putranya itu.


"P-panjang kalau dijelaskan Ma." Roman kemudian menanggalkan seluruh pakaian sekolahnya, hingga hanya menyisakan celana boxer dan kaos hitam yang melekat pada tubuhnya. Seluruh pakaian itu ia serahkan pada Angelina.


"Lalu, bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Angeline seraya mengambil pakaian milik Roman dan meletakkannya kedalam bak pakaian kotor.


"Itu juga sangat panjang kalau dijelaskan Ma. Yang lebih penting, semua lancar-lancar saja," kata Roman sambil membuka pintu kulkas. Ia kemudian meneguk sebotol minuman demi menghilangkan rasa letih yang melanda tubuhnya.


Roman lalu menghampiri Natasha yang tengah menatapnya dengan wajah polos. "Hei, Tuan putri! Apa kabarmu?" kata Roman seraya menggendong tubuh Natasha.


Seluruh penat yang dirasakannya pun menghilang dalam sekejap, setelah melihat senyuman yang terpancar lebar dari wajah Natasha. "Ingat Natasha, jika sudah besar nanti, jadilah bintang yang paling terang, untuk keluarga kita," ucap Roman sambil mengangkat tubuh Natasha tinggi-tinggi.


Gadis itu hanya tersenyum kegirangan. Hatinya menjadi senang setelah mendapati kehadiran Roman yang sangat dinantinya itu. Natasha yang baru berumur lima tahun, akan segera memasuki taman kanak-kanak tahun depan. Wajahnya sangat meniru wajah Roman, yang juga turut meniru wajah mendiang ayah mereka.


~To be continued~