My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 6. Empati



"Terima kasih pak!" kata Roman seraya menutup pintu mobil milik polisi.


Pukul enam pagi hari. Burung-burung masih beradu dalam kicauan. Bahkan matahari pun belum menunjukkan sinarnya. Di dalam keheningan sekolah, Roman melangkahkan kakinya menuju gerbang.


Mulai hari ini, aku harus waspada dengan mereka, batin Roman.


Meski rasa nyeri masih bertamu pada tulang punggungnya, Roman tetap berjalan dengan penuh ketenangan. Ia seperti telah terbiasa melawan rasa sakitnya itu.


Roman pun menginginkan kedamaian di hari ini. Pemuda yang tampan, tinggi semampai serta rambut hitam pendek dengan poni yang membelah keningnya itu, mengharapkan tak ada lagi gangguan dalam hidupnya.


Tempat yang paling damai dan tenang adalah perpustakaan, batin Roman.


Ia menoleh kanan-kiri guna mencari letak keberadaan perpustakaan. Roman lalu mengambil jalan kanan, menuju lorong diantara ruang-ruang kelas lain. Keindahan taman sekolah selepas keluar dari lorong itu pun membuatnya terpesona.


Indahnya... Jika belajar disini, mungkin kepintaran akan meningkat seratus kali dibandingkan belajar di kelas, batin Roman seraya memuji taman sekolah.


Roman melewati jalan setapak yang membelah taman tersebut. Perhatiannya pun tertuju pada sebuah gedung yang terletak di ujung taman. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju gedung tersebut. Dan, Perpustakaan yang sangat-sangat diidamkannya, telah berada dihadapannya


Wahhh!!! Besar sekali! Luasnya bahkan melebihi rumahku, Roman membatin dalam dirinya.


Begitulah reaksi Roman, saat memasuki perpustakaan sekolah. Ia tertegun takjub tak tertahankan lagi setelah melihat deretan rak-rak buku yang berbaris rapih. Tempat itu adalah surga bagi seorang murid ber-IQ tinggi seperti dirinya.


"Selamat pagi dan, sepertinya kau murid baru," sapa salah seorang siswa yang duduk di meja resepsionis setelah melihat kedatangan Roman.


"Ya! Kau benar. Aku ingin melahap semua buku yang ada disini," kata Roman seraya menatap tajam pada siswa tersebut.


"P-p-perkenalkan!"-Siswa itu berdiri- "T-tidak! apa aku tidak salah melihat? Atau, lensaku yang sudah buram kah?" Ia lalu menyeka lensa kacamatanya. "K-k-kau Roman Hillberg bukan?" Siswa culun dengan setelan rambut Bob serta mengenakan kacamata yang lebar itu, menjadi gelagapan setelah memperhatikan wajah Roman dengan seksama.


"Benar! Aku Roman Hillberg. Apa ada yang aneh?" tanya Roman seraya menatap heran pada siswa tersebut.


"T-t-tidak! Huuuft...." siswa itu menghela nafasnya dengan perlahan. Roman cukup kebingungan dengan sikap siswa tersebut. Ia merasa seperti ada yang aneh terhadap dirinya setelah melihat reaksi dari pemuda itu. Tanpa ingin membuang waktu, Roman mengacuhkannya dan bergegas mencari buku favoritnya. "T-tunggu!!!" Siswa itu berusaha menghalangi kegiatan Roman.


"Ada apa lagi?" tanya Roman dengan wajah kesal.


"Perkenalkan! Aku adalah Edgard Brodinsen," kata Edgard sambil memperkenalkan dirinya.


"Ya! Salam kenal kak Edgard! Semoga kita dapat berteman dengan baik." pungkas Roman seraya meraih sebuah buku pada rak yang tinggi. Roman pun berlalu meninggalkan Edgard yang tercengang dengan sendirinya. Ia lalu menduduki sebuah kursi, sambil membuka dengan perlahan lembar halaman dari buku yang dipilihnya. Dan dengan tingkat konsentrasi yang tinggi, Roman melahap seluruh kata-kata dalam buku tersebut.


Sementara, Edgard pun turut duduk disebelah Roman. Ia berpura-pura menggeser halaman buku alih-alih menunggu Roman selesai membaca. Kesabaran dalam hatinya pun telah terkikis. Edgard lalu berupaya memulai komunikasi dengannya. "Roman, Aku telah melih—"


"Ehem" Roman memotong ucapan Edgard karena merasa terganggu olehnya.


Edgard pun mematung. Ia mencoba meraih kembali rasa sabarnya setelah mendapat teguran dari Roman. Rasa senang telah merasukinya, saat bertemu dengan adik kelas yang sangat didambakannnya itu.


Hanya dalam hitungan menit, Roman pun tiba pada halaman terakhir. Ia kemudian menyudahi kegiatan membacanya seraya bergegas mengembalikan buku tersebut. Kapasitas dalam otaknya seketika terisi dengan ilmu-ilmu yang telah diingatnya.


Ini belum seberapa! Saat istirahat nanti, aku harus melahap tiga buku lagi!" batin Roman.


Perhatiannya pun tertuju pada Edgard yang sedang tertidur. Karena merasa bersalah, Roman membangunkan Edgard dan tercengang setelah mendapati air liur yang menetes dari bibirnya. Roman yang merasa jijik dengan hal itu pun kemudian pergi meninggalkan Edgard tanpa berkata apapun.


Roman kemudian bergegas menuju ruang kelasnya. Ia lalu mendapati Valerie, sedang membawa tumpukan buku dari kejauhan. Valerie yang sempat melihat Roman pun berusaha menghimbaunya. "Roman!!!" sorak Valerie dengan nada keras.


Ah... Sial! Aku harus cepat! batin Roman.


Roman mengencangkan langkah kakinya setelah mendengar suara teriakan Valerie. Ia tak ingin berurusan lagi dengan seorang guru yang memiliki adik seperti iblis itu. Dengan tergesa-gesa, Roman membuka pintu kelas lalu kemudian menutupnya kembali.


"Hei, kau! Cepat duduk! Jangan menghalangi pintu!" tegur salah seorang teman sekelas Roman.


"Benar! Dia sudah tidak malu karena datang terlambat!" singgung salah seorang siswi kepada Roman.


"Apa sebaiknya kita beri hukuman saja?"


"Hahahah!!!" Seluruh murid menertawai Roman dengan serempak.


Hatinya pun tersinggung karena telah menjadi bahan tertawaan. Roman tak dapat menahan kestabilan emosinya dan berniat melawan balik perlakuan mereka. Namun, Valentine yang menyaksikan perundungan itu, dengan segera menghentikan tertawaan mereka. "Diiiaaam!!!" sorak Valentine dengan nada kesal. Seketika, suasana di kelas pun menjadi hening. Seluruh murid pun terdiam setelah mendapat sorakan dari Valentine yang terganggu dengan ulah mereka. "Jangan ganggu Roman!" bentak Valentine.


Valentine membiarkan darah naik menuju otaknya. Ia terlanjur emosi dengan sikap mereka yang telah meremehkan Roman. Ia yang kemarin sangat membenci Roman, kini sangat peduli dengan anak laki-laki tersebut.


Valentine sontak beranjak dari kursinya. Ia pun bergegas menuju Roman yang tertunduk kesal.


Apa yang akan dilakukan Valentine?! Memarahiku kah? batin Roman


Dengan penuh rasa prihatin, Valentine menggenggam erat tangan Roman lalu membawanya menuju kursi tempat mereka duduk. Roman pun tercengang dengan sikap Valentine yang berubah 180 derajat itu.


Perubahan sikapnya telah mengaduk-adukan perasaan Roman. Karena hal itulah, Roman membiarkan tangannya tergenggam oleh Valentine. Ia lalu mengikuti Valentine seraya duduk pada kursinya, dengan wajah yang tertunduk malu. "Jangan pedulikan omongan mereka," kata Valentine sambil duduk disebelah Roman.


Seluruh murid yang memperhatikan Valentine pun saling berbisik, seolah tak percaya dengan tindakannya. Mereka memulai perbincangan yang tidak-tidak tentang Roman dan Valentine.


"Kenapa Valentine sangat peduli dengan dia?"


"Ada hubungan apa diantara mereka?


"Ini bakal jadi gosip yang menarik, nih!"


Seperti itulah perbincangan yang terjadi diantara para murid, yang saling melampiaskan rasa tidak percaya mereka. Dan, telah lahir sebuah isu yang akan segera beredar perihal kedekatan Valentine yang secara mendadak mendekati Roman.


"Selamat pagi, semuanya!!" sapa Valerie setelah memasuki ruangan kelas. Valerie menduduki kursinya seraya meletakkan tumpukan buku diatas meja. Ia kemudian memperhatikan seluruh murid, menatap tajam kearah Valentine dan Roman. Merasa terganggu dengan hal itu, Valerie segera mengalihkan perhatian mereka.


"Baiklah! Ibu akan membagikan formulir pendaftaran dari beberapa ekskul yang ada disekolah ini! Kalian semua tolong perhatikan!" tegur Valerie dengan nada keras, kepada semua muridnya. Mereka kemudian membalikkan pandangannya menuju Valerie yang sudah terlanjur geram. Merasa ada yang kurang, seluruh murid pun sontak berdiri dari kursinya seraya membungkukkan badan. Mereka hampir lupa memberikan penghormatan kepada Valerie.


"Baiklah! Silahkan duduk!" kata Valerie sambil menyusun tumpukan lembaran kertas formulir. Valerie membagikan kertas formulir tersebut satu persatu. Ia kemudian berhenti sejenak pada tempat duduk Valentine dan Roman. Valerie merasakan ada yang janggal dengan mereka berdua.


Apa yang telah terjadi pada mereka? batin Valerie.


Valeri pun kembali menuju kursinya. Ia menjelaskan berbagai macam ekskul yang ada di sekolah Menengah Saint Luxury itu. Para murid pun sangat antusias mendengar perkataan Valerie. Mereka seperti sudah tidak sabar ingin mendaftarkan diri ke ekskul idaman masing-masing.


~To be continued~