
Andrea merasa heran dengan kelakukan Roman, yang telah menghilang tanpa sebab. Ia mau tidak mau harus melayani seluruh pelanggan tersebut, satu persatu. "Kemana kah perginya anak itu. Aku telah susah payah menyediakan seragam yang pas untuknya. Tetapi, dia malah menghilang seenaknya!" gumam Andrea, sambil mengaduk sebuah adonan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" pekik Audrey dari dalam ruangan karyawan.
Mendengar suara itu, Andrea pun terkejut. "Audrey!" katanya. Ia sontak bergegas meninggalkan ruang dapur seraya mematikan oven yang telah memanas.
Jeritan yang sangat keras dan melengking itu, mampu mengagetkan seluruh pengunjung yang berada didalam kafe. "Ada apakah? Siapa yang berteriak? Apa dia dalam bahaya?" tanya salah seorang pengunjung kepada pengunjung lainnya.
"Aku tidak tahu! Suaranya terdengar jelas dari arah sana," ujar salah seorang pengunjung lainnya, seraya mengacungkan tangannya ke arah ruang karyawan.
Mereka pun melihat Andrea berlari dengan tergesa-gesa, menuju ruang tersebut. "Nona! Apa yang telah terjadi?" tanya salah seorang pria dengan wajah cemasnya.
"Tuan, Nyonya! Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya! Saya jamin semua baik-baik saja! Silahkan nikmati kembali pesanan anda!" tutur Andrea seraya membungkuk berulangkali.
Setelah menenangkan para pengunjung, Andrea kembali mempercepat langkah kakinya menuju ruang karyawan. Kecemasannya semakin tak teratur, saat membuka pintu ruangan tersebut. "Audrey! Ada apa?!" tanya Andrea dengan raut wajah cemas.
"Kak! Orang ini berniat mencabuliku!" jawab Audrey seraya menggenggam kerah seragam Roman.
Andrea pun tercengang mendengar pengakuan Audrey. Ia lalu menatap ke arah Roman yang sedikit mendongakkan wajahnya, karena lehernya terkekang oleh genggaman tangan Audrey. "Roman?! Apa benar kau berniat melakukan itu?" tanya Andrea seraya memastikan kebenarannya.
"Tidak! Aku tidak berniat sama sekali untuk itu! Aku bersumpah, kak Andrea!" tutur Roman dengan wajah serius. Ia berusaha membela dirinya dari tuduhan Audrey.
Emosi Audrey pun semakin tak terbendung. Ia lalu melayangkan kepalan tangannya ke wajah Roman.
(Bughh...)
"Audrey!!!" bentak Andrea dengan emosi yang memuncak. Ia menjadi berang dan tak menyangka bila adiknya berani melakukan kekerasan terhadap Roman. "Audrey! Apa yang telah kau lakukan!" kata Andrea seraya melepaskan tangan Audrey, dari kerah seragam Roman.
Seketika lantai ruangan itu, penuh dengan darah yang menetes dari hidung Roman. Ia pun bertekuk lutut seraya menutup wajahnya, karena tak dapat menahan rasa sakit akibat pukulan tersebut.
"Roman??" -Andrea bersimpuh dihadapan Roman- "Audrey!! Cepat ambil tisu!" seru Andrea. Hatinya pun luluh lantak seketika, saat mendapati banyaknya darah yang membasahi telapak tangan Roman. "Roman, kau baik-baik saja kan?" tanya Andrea seraya memastikan.
"A-akuu ...." Roman terdiam sejenak. Pukulan itu telah merobek-robek semangatnya dalam bekerja. Dengan menanggung perih yang luar biasa di wajahnya, Roman pun sontak beranjak dari ruang karyawan.
"Roman!" -Andrea memegang tangan Roman- "Aku yang akan bertanggung jawab atas tindakan Audrey. Jangan pergi! Tetaplah disini, Roman," kata Andrea dengan memohon.
Roman tak menghiraukan perkataan Andrea. Ia tetap membisu, seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman wanita tersebut. Rasa kecewanya yang besar pada Andrea, membuatnya mampu melepaskan tangannya.
Roman pun bergegas menuju pintu kafe. Ia lalu berlari sejauh mungkin, meninggalkan kafe tersebut. Rasa amarah yang tak terbendung, telah membuat sosoknya menghilang secepat mungkin dari pandangan Andrea.
"Romaaaan!!!" sorak Andrea setelah tak mampu menahan keinginan Roman, untuk pergi meninggalkan Kafe. "Audrey! Kemari!" himbaunya pada Audrey yang telah mengambil sekotak tisu dari meja pelanggan.
"Kaakkk ... aku benar-benar tidak sengaja memukulnya ...." ungkap Audrey setelah berdiri dihadapan Andrea. Ia pun mengakui kesalahannya, karena telah bertindak semena-mena terhadap Roman.
"Audrey! Cepat kejar Roman! Bawa dia kembali kesini! Aku mohon!" tutur Andrea seraya menyerahkan kunci motor moge -nya kepada Audrey.
"B-baik kak!" Audrey pun bergegas menuju garasi belakang kafe. Ia lalu membuka pintu garasi dan menaiki motor milik kakaknya tersebut. Dengan penuh rasa bersalah, ia menyalakan kendaraanya seraya tancap gas melewati lorong belakang pusat perbelanjaan.
Duhh ... kenapa jadi begini! Kenapa aku malah memukulnya! batin Audrey sambil melihat-lihat area sekitar jalanan. Ia berharap bisa menemukan Roman dan segera memohon maaf pada korban pemukulannya itu.
...*** Jembatan Highburg ***...
Roman melesat bagaikan seekor jaguar yang mengejar mangsanya. Namun, kali ini dirinya-lah yang telah menjadi mangsa pemukulan, hingga membuatnya berlari sejauh mungkin. Kenapa? Kenapaa? Kenapaa! batinya dalam hati seraya berlari.
Dengan dianugerahi kecepatan yang luar biasa, serta dorongan emosi yang bercampur aduk tak teratur, telah membuat Roman berlari dengan kecepatan maksimal, menuju sebuah jembatan yang besar. Mereka (penduduk) menyebutnya jembatan Highburg.
Jembatan Highburg telah menjadi penghubung antara kota kelahiran Roman, dengan kota kelahiran kedua orangtuanya. Dibawah jembatan tersebut, terdapat sungai yang besar serta jernih airnya. Aliran sungainya pun langsung terhubung dengan lautan yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari jembatan.
Roman yang telah tiba diujung penyangga jembatan pun sontak menghentikan langkah kakinya sejenak. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia menjatuhkan lututnya dan menunduk, seraya memukul trotoar jembatan berulang-kali. "Kenapa? ... Kenapa selalu aku? Kenapaaa!!!" sorak Roman dengan penuh emosi yang melahap jiwanya.
Darah pun tak pernah berhenti mengalir dari hidungnya. Roman membiarkan darah itu terus menetes, hingga membasahi lantai trotoar. Air mata pun turut mewarnai raut wajah yang sedang menampakkan kesedihannya itu.
Seluruh kendaraan yang lalu lalang dijembatan tersebut, tak pernah menaruh perhatian sedikitpun ke arah Roman. Sakit! Sakit! Sakit! Sakiiiit!!! batin Roman sambil menyentuh hidungnya yang terus berdarah. Rasa sakit itu benar-benar membuat pemuda setangguh dirinya, menjadi tak berdaya.
Awan hitam benar-benar tidak mengenal waktu dan tempat. Mereka menurunkan jutaan liter air yang seketika membasahi seluruh tubuh Roman. Hujan lokal pun terjadi disekitar daerah tersebut. Roman sontak bersujud seraya terisak-isak dalam tangisnya. "Kenapa harus aku?!! Kenapaaaaa!!!" soraknya dengan suara yang melengking. Ia pun menangis tersedu-sedu.
"Kenapaa!!! ... Kenapaaa!!! ... Kenapaaaa!!" Roman menghentakkan sebelah tangannya ke trotoar berulangkali. "Kenapa aku terus mengalami penderitaan seperti ini! Kenapa semuanya selalu tak berjalan sesuai rencana!" keluhnya dalam kesedihan yang mendalam.
Rasa keputusasaan pun telah membakar jiwa dan semangat hidup Roman. Ia sontak mendirikan tubuhnya dan berjalan menuju tengah-tengah trotoar jembatan. Mama, apa sebabnya kau melahirkan diriku ... Apa gunanya aku dilahirkan didunia ini, bila harus menerima segala perlakuan, yang selalu membuatku menderita berulangkali, batin Roman seraya berjalan terhuyung-huyung.
...*** Kafe Sweet Memories ***...
Andrea tetap fokus dalam melayani pelanggan, meski hatinya dilanda kecemasan yang luar biasa. "Terima kasih telah mengunjungi Sweet Memories kafe!" ucapnya kepada para pengunjung yang berbondong-bondong menuju pintu keluar.
Setelah mendapati kekosongan pengunjung, Andrea pun sontak menutup kafenya. Ia kemudian mengambil ponsel dari dalam laci kasir dan berencana menghubungi Valerie, untuk melaporkan kejadian yang telah menimpa Roman. "Halo? Valerie, Valerie!" ucapnya dengan tergesa-gesa setelah mendapati Valerie mengangkat panggilannya.
"Ya! Halo. Ada apa Andrea?" tanya Valerie.
"Roman, Romaaan!" jawab Andrea dengan gelisah.
"Ada apa dengan Roman? Apa dia bekerja dengan baik?" Valerie belum menyadari yang sebenarnya.
"Valerie! Kau bisa kemari? Aku mohon!!" Rasa gelisah pun semakin menghantui pikiran Andrea.
"Tenangkan dirimu dulu! Apa yang terjadi dengan Roman?" ucap Valerie dengan penasaran.
"Sudah cepat kemariiii!!! Aku takut bila Roman berbuat nekat!" pungkas Andrea yang semakin terpojok dengan serangan kecemasannya. Ia sontak mematikan panggilan ponselnya dengan Valerie.
...*** Rumah Keluarga Helsink***...
Valerie mulai membuka gerbang kekhawatirannya, setelah mendengar pengakuan Andrea perihal Roman. Roman berbuat nekat? ... Apa yang sebenarnya terjadi?! batin Valerie, seraya termenung.
"Kak Valerie, ada apa?" tanya Valentine yang masih terduduk diatas ranjangnya. Ia mendapati kegelisahan yang terpampang jelas di wajah Valerie.
"Perasaanku sedang tidak enak," tutur Valerie sambil duduk diatas kursi yang menghadap ranjang Valentine.
"Tentang apa kak? Ceritakanlah padaku, apa yang telah membuat kakak kesayanganku ini menjadi gelisah," ucap Valentine seraya memeluk tubuh sang kakak.
"Rika, apa kau tidak pulang? Kenapa Maxwell belum juga menjemputmu?" Valerie mengalihkan topik pembicaraan pada Rika, yang sedari tadi tetap berada disamping Valentine.
"Kak Valerie ini bagaimana sih! Apa kakak sudah lupa? Aku akan menginap disini dan tidur bersama Valentine. Maxwell telah ku hubungi untuk tidak menjemputku," tutur Rika dengan raut wajah sebal.
"Kak Valerie, kegelisahanmu itu tak dapat disembunyikan. Apa yang sedang terjadi? Tentang Roman kah?" kata Valentine. Ia merasa hatinya telah terhubung dengan Roman. Itulah yang menyebabkan Valentine sontak menyebutkan nama Roman dalam ucapannya.
"Hujannya semakin deras! Bagaimana ini!" keluh Valerie saat menatap ke arah luar jendela yang tersingkap tirainya.
Valerie berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia berniat untuk tidak membuat para gadis itu khawatir tentang Roman. Valerie ingin mengelabui mereka, dan bergegas menuju kafe sendirian.
"Iya, betul kak! Apa Roman bisa pulang kalau hujan selebat ini?" sambung Rika yang semakin mengangkat nama Roman dalam topik pembicaraan.
Bagaimana ini! Jika terus berlama-lama, Andrea akan kecewa denganku! Terlebih ia menyebutkan bila Roman dalam bahaya, batin Valerie yang sudah tidak menemukan cara lain lagi, untuk mengelabui para gadis. "Roman dalam bahaya! Aku harus cepat-cepat bergegas!" -Valerie beranjak dari kursinya- "Rika! Tunggu disini dan jaga Valentine baik-baik!" seru Valerie dengan penuh keseriusan diwajahnya.
Valentine pun sontak terkejut setelah mendengar ucapan Valerie tentang kondisi Roman. Ia pun turut beranjak dari ranjangnya seraya memegang tangan sang kakak dengan erat. "Ada apa dengan Roman?! Aku ingin ikut!" kata Valentine, yang turut membuka gerbang kekhawatirannya tentang Roman.
"Tidak! Kau tetap disini Valentine! Jangan memperlambat waktuku," Valerie pun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Valentine.
"Tiiidak maauuu!!" -Valentine menatap wajah Valerie- "Kalau kakak menghalangiku untuk bertemu dengan Roman, maka jangan salahkan aku, jika aku membencimu untuk selamanya!" Dengan tatapan yang sangat tajam, Valentine mengancam Valerie agar tetap membawanya pergi menuju kafe.
"Aku juga ikut! Aku yang akan menjaga Valentine, selagi dirinya bertemu dengan Roman!" tegas Rika yang turut menginginkan Valerie membawanya menuju kafe.
Valerie merasakan bila waktunya telah terbuang semakin banyak. Mau tidak mau, ia harus membawa kedua gadis yang sangat keras kepala itu, menemaninya pergi menuju kafe Andrea. "Baiklah! Kalian dilarang bertindak tanpa seizin dariku, jika seandainya terjadi hal buruk yang tidak diinginkan!" tutur Valerie.
Dengan dilanda rasa khawatir yang amat mendalam, mereka pun bergegas menuju luar rumah. Derasnya hujan yang turun, tak menyurutkan niat mereka untuk pergi dan memastikan kondisi Roman yang sebenarnya.
"Duhh! Kak Valerie lama sekali!" gumam Valentine yang tengah menunggu dibalik gerbang bersama Rika. Dengan bernaung dibawah payung, mereka mulai merasakan hawa dingin yang sangat menyerang tubuh.
Valerie pun akhirnya keluar bersama mobil andalannya. Ia kemudian menghampiri para gadis yang mulai kedinginan karena serangan angin hujan. "Sekali lagi aku ingatkan! Jangan pernah bertindak tanpa seizin dariku!" seru Valerie pada Rika dan Valentine, setelah mereka masuk kedalam mobil.
Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, Valerie menginjak habis-habisan pedal gasnya. Ia kemudian memaksimalkan kecepatan laju mobilnya, demi mempersingkat waktu yang telah banyak terbuang. Perasaanku benar-benar tidak enak! Roman! Semoga kau baik-baik saja! batin Valerie dengan penuh kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran, atau apapun itu yang menyerupainya.
~To be continued~