
Hujan tetap bersikeras meneteskan ribuan titik airnya, hingga pagi menjelang. Valerie seketika menghentikan laju mobilnya, tepat didepan gerbang sekolah. "Valentine, jangan lupa payungnya," kata Valerie seraya menyodorkan sebuah payung kepada Valentine, yang hendak membuka pintu mobil.
"Iya kak." Valentine meraih payung dari tangan Valerie, lalu beranjak keluar dari mobil, sambil membuka payungnya lebar-lebar.
"Kak Valerie, hati-hati," ucap Roman yang turut beranjak keluar dari mobil Valerie, dan bersatu dalam naungan payung Valentine. "Sini, biar aku yang pegang," ucapnya seraya berusaha meraih payung dari genggaman tangan Valentine.
Namun, Valentine menjauhkan payungnya. "Jangan! Biar aku saja yang memegangnya," tolak Valentine, sambil menutup kembali pintu mobil. "Ayo, jalan!" Ia pun melambaikan tangan ke arah mobil Valerie, lalu bergegas menuju pintu utama sekolah, bersama Roman.
Valentine dan Roman seketika dikejutkan dengan kehadiran Priscilla, yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka. "Roman! Ikut aku!" Priscilla pun sontak menarik tangan Roman, dan membawanya pergi menjauh dari Valentine.
Valentine yang telah mengenal Priscilla dan merasa tidak senang dengan perbuatan anggota ekskul atletik itu pun segera mengejarnya. "Kak! Lepaskan Roman!" ucapnya sambil berusaha meraih tangan Roman.
Namun Priscilla sontak berhenti dan berdiri membelakangi Roman. "Jangan halangi kami! Ini urusan diantara anggota-anggota ekskul atletik!" tegas Priscilla sambil berkacak pinggang, dan menatap dengan pandangan yang sangat tajam dihadapan Valentine.
Roman yang merasa bingung pun berusaha meyakinkan Valentine. "Valentine, tenang saja. Jangan khawatirkan aku." Ia merasa Priscilla benar-benar membawanya hanya untuk membahas permasalahan tentang ekskul atletik.
Mendengar ucapan Roman, membuat Valentine mendecih seraya menyeringai. Meski masih tak terima, gadis itu dengan berat hati menyingkir dan berjalan menuju kelas, meninggalkan Roman yang telah berada dalam kuasa Priscilla.
Priscilla pun kembali menggenggam tangan Roman, dan membawanya bergegas menuju ruang ekskul atletik dengan tergesa-gesa. "Ini kesempatanku, untuk mendapatkan kepastian dari Roman, tentang hubungan mereka. Jika memang dirasa harus, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya," batin Priscilla, yang tengah mengenakan pakaian training sekolah, lengkap dengan rok pendek yang menutupi pahanya.
Setelah membuka pintu ruang ekskul atletik, Priscilla masuk kedalam bersama Roman, dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia kemudian berjalan menuju kursi yang terletak dibelakang meja, lalu terduduk sambil membuka sebuah buku absensi dan kegiatan-kegiatan anggota ekskul.
Roman yang masih berdiri pun merasa bingung dengan sikap kakak kelasnya itu. "Kak Priscilla, Ad—"
"Priscilla! Jangan anggap aku seperti kakakmu!" Priscilla sontak memotong perkataan Roman, yang membuat anak itu semakin terheran-heran dengannya.
"Priscilla ... ada urusan apa membawaku kemari?" tanya Roman yang seketika berjalan mendekati Priscilla, dan berdiri tepat disampingnya.
Priscilla pun menghiraukan pertanyaan Roman, dan tetap meneruskan kegiatan menulisnya pada sebuah buka absensi. "Dasar kau tidak peka!" batinnya dalam hati, dengan raut wajah yang sedikit gelisah, sambil menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah. Jika kau tetap diam, aku akan kembali ke kelas." Roman sontak melangkahkan kakinya menuju pintu, karena merasa Priscilla hanya ingin mempermainkannya saja.
Namun, Priscilla beranjak dari kursinya dan bergegas mengejar Roman, yang hampir membuka pintu ruangan. Ia sontak menggenggam dan menarik kedua tangan adik kelasnya itu, lalu mendorongnya hingga membuatnya terhempas menuju dinding ruangan. "Jangan pergi!" ucapnya seraya mencoba menahan Roman.
Priscilla merentangkan kedua tangannya, dan menempelkannya pada tembok dinding tempat bersandarnya Roman, hingga membuat tubuh anak itu berada ditengah-tengah rentangan tangannya. "Ku mohon, jangan pergi!" mohonnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Pandangannya fokus menatap pada kedua bola mata Roman, dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang. "Aku harus menanyakannya segera!" batin Priscilla yang berusaha meyakinkan hatinya, bila Roman benar-benar tak dimiliki oleh siapapun.
Roman pun tercengang saat mendapati tindakan aneh, yang dilakukan oleh kakak kelasnya itu. "Priscilla, apa yang sebenarnya terjadi padamu?!" tanya Roman yang dengan polosnya memegang kedua pundak Priscilla, hingga membuat kedua pipi gadis itu sontak memerah.
Priscilla mencoba untuk tetap tenang dan menghela nafasnya secara perlahan. "Roman ... apa hubungan mu dengan gadis tadi?" tanya Priscilla yang seketika mengalihkan pertanyaan Roman.
Mendengar pertanyaan dan segala tingkah laku Priscilla terhadapnya, membuat Roman menjadi yakin bila gadis itu benar-benar suka padanya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya kembali Roman, dengan pandangan yang menatap tajam ke wajah Priscilla.
"Jangan tanya kenapa! Jawab pertanyaanku tadi!" tegas Priscilla sambil mendekatkan wajahnya, ke wajah Roman. Detak jantungnya semakin berdegup kencang tak menentu.
"Valentine adalah pacarku," jawab Roman dengan spontan, yang membuat Priscilla tercengang bukan kepalang.
Matanya membelalak tajam, mulutnya pun menganga lebar, dengan aroma wangi yang berhembus dari dalam mulut itu. Priscilla tak menyangka, bila Roman benar-benar mengakui Valentine sebagai kekasihnya.
Namun, rasa suka yang bercampur rasa cemburu dalam hatinya, membuat Priscilla memeluk tubuh Roman dari belakang, hingga membuat anak itu sontak menghentikan langkah kakinya sejenak. "Aku menyukaimu!" ucapnya dengan tegas, sambil menutup mata, dan menyandarkan wajahnya pada pundak kiri Roman.
Roman pun terkejut bukan kepalang, setelah mendengar pengakuan Priscilla. Hanya matanya saja yang membelalak dengan lebar ke arah depan, sedangkan mulutnya sedikit membuka, hingga nampak giginya yang saling menempel satu sama lain. "G-g-gawaaat! Bagaimana ini?!" batinnya, dalam keadaan yang terdesak.
"Aku menyukaimu Roman! Aku ... aku mencintaimu!!" Priscilla benar-benar mengungkapkan perasaannya, jauh dari dalam lubuk hatinya. Ia pun meneteskan air mata, karena takut membayangkan, bila Roman akan menolak seluruh perasaanya.
Air mata itu jatuh membasahi pundak kiri Roman, yang semakin membuat rasa bingungnya, bertransformasi menjadi rasa dilema. Roman tak menyangka, bila Priscilla benar-benar menyimpan perasaan terhadapnya. "Ini tidak benar! Aku harus meluruskannya!" pikirnya setelah mendapati Priscilla, semakin mempererat pelukannya.
"Priscilla." Roman memegang kedua tangan gadis itu, lalu melepaskan pelukannya secara perlahan dari tubuhnya. "Maaf. Aku tidak bisa menerima perasaanmu," ucap Roman seraya membalikkan badannya, lalu berdiri tepat dihadapan Priscilla.
Hatinya pun hancur berkeping-keping, setelah mendengar penolakan Roman. Air mata Priscilla yang jatuh itu, menandakan pupusnya harapan serta perasaan yang telah dimilikinya untuk adik kelasnya itu.
"Ada hati yang harus aku jaga." Roman lalu memegang kedua pundak Priscilla. "Aku tidak ingin menyakiti perasaan Valentine," ungkapnya dengan penuh keseriusan yang terpampang jelas diwajahnya.
"Bagaimana jika dirimu menjadi Valentine, dan Valentine menjadi dirimu, apa kau akan rela memberikanku pada Valentine?" tanya Roman seraya memberikan sebuah penjelasan singkat, tentang bagaimana dirinya menjaga perasaan seseorang, yang benar-benar tulus mencintainya itu.
Priscilla pun termenung sejenak. "Jawabannya, benar-benar sangat menghargai perasaan seorang perempuan. Aku dan Valentine pun perempuan, yang sama-sama ingin dijaga perasaanya," batinnya sambil terus menatap kagum, pada kedua bola mata Roman.
Mendengar perkataan Roman, membuat Priscilla menjadi merasa bersalah, karena telah seenaknya mengakui perasaannya, tanpa menyadari siapa yang lebih dulu singgah di hati Roman. Hal itu justru membuatnya sontak tersenyum, meski air matanya masih tetap mengalir membasahi pipi.
Priscilla pun tertawa kecil, dengan raut wajah yang sontak berubah menjadi senang. Ia menepuk-nepuk pundak Roman, semakin pelan dan pelan, hingga akhirnya membuat Roman merasa heran dengan perubahan sikapnya.
"Aduh! ... Priscilla, aku benar-benar minta maaf," ungkap Roman sambil merintih kesakitan, tanpa menyadari bila Priscilla telah memupus perasaanya, dan merelakan Roman dimiliki Valentine seutuhnya.
"Bodoh! Kau kan telah menolakku! Untuk apa minta maaf!" Priscilla semakin mengencangkan pukulannya pada pundak kiri Roman, dengan tatapan yang sedikit kesal.
(Tringgg!!! Tringg!!! Tringgg!!!)
Bel pertanda dimulainya *** pun berbunyi. Seluruh siswa seketika berbondong-bondong memasuki kelasnya masing-masing.
"Aduh! Aduh! Sakit Priscilla!" erang Roman yang sengaja membiarkan pundaknya, menjadi pelampiasan kekesalan Priscilla.
Priscilla pun sontak menghentikan pukulannya, seraya memalingkan wajahnya kearah lain. "Hmphh!!! Pergi sana kekelasmu!" seru Priscilla dengan nada kesal.
"Eh?!? Baiklah." Roman segera berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Roman!" himbau Priscilla sambil berkacak pinggang, yang membuat Roman kembali menghentikan langkah kakinya.
"I-iya??" tanya Roman, sambil menoleh ke arah Priscilla.
"Ingat! Jadwal kegiatan ekskul setiap hari senin, rabu, dan jumat! Mulai minggu besok, di hari-hari yang aku sebutkan tadi, kau tidak boleh pulang! Lansung pergi ke ruangan ini! Kau mengerti?!" tegas Priscilla, yang seketika mengingatkan Roman akan Herman, saat mendengar dan melihat tingkah laku gadis itu.
"Okay!" jawab Roman seraya mengacungkan tangannya dan tersenyum ke arah Priscilla. Ia lalu keluar dan menutup pintu ruangan ekskul atletik.
"Dasar anak Pak Herman! Sifatnya benar-benar mirip kalau lagi marah-marah!" gumam Roman dalam hatinya, sambil mempercepat langkah kakinya menuju kelas 1A.
~To be continued~