
Edgard merelakan kacamatanya dipinjam Roman. Matanya menyipit dengan pandangan yang buram, seperti tidak jelas melihat apa yang sedang dilakukan oleh anggota baru ekskul teknologi modern tersebut. "R-Roman? Apa sudah selesai?" tanya Edgard yang sedari tadi tersenyum terkekeh-kekeh.
"Belum. Sebentar lagi," Bila sudah mengenakan kacamata, Otaknya pun menjadi loncer. Roman sangat teliti dalam menyambung setiap partikel-partikel listrik dengan solder yang telah berada dalam genggamannya.
"Hmm ... pantas saja tidak berfungsi. Ini jalurnya sudah semrawut," pikir Roman yang sejenak berhenti dan berfikir, lalu kembali memanaskan gulungan timah, yang membuat timah itu jatuh menjadi setitik cairan panas, dan menimpa titik jalur yang berada pada chipset tersebut.
Olivia dan Eugene pun turut memicingkan matanya dan berdiri diseberang Roman, yang terdapat meja penelitian ditengah-tengah mereka.
"Roman, apa yang kau lakukan?" tanya Olivia yang sedikit mencondongkan tubuhnya kearah meja, sambil memusatkan perhatian pada papan chipset yang tengah di bedah Roman.
"Kalian membuat jalur A, lalu membuat jalur A2,A3,A4 dan menyambungkannya satu sama lain. Begitu juga dengan Jalur B, B2,B3,B4, kalian buat dan disambungkan satu sama lain. Tapi jalur C yang kalian buat, diabaikan," tutur Roman dengan alis yang mengkerut, karena sebagian otaknya bekerja.
"Jalur C itu pengecualian," sambung Eugene, yang turut mencondongkan tubuhnya ke arah meja penelitian, dan mempertahankan secara serius papan sirkuit chipset yang tengah dirancang ulang oleh Roman.
"Biarpun pengecualian, tetap harus saling terhubung dengan yang lain. Mekanismenya tidak akan bekerja, jika salah satu dari partikel komponen ini tidak terhubung," jelas Roman dengan penuh percaya diri.
"Whoaaaa ...." Edgard yang menggerak-gerakkan bola matanya kekiri dan kekanan, menjadi terkesima setelah mendengar penjelasan Roman.
"Hmm ... ada benarnya juga!" sambung Eugene seraya membetulkan posisi kacamatanya, yang hampir bersandar pada punuk hidungnya.
Olivia seketika menegakkan tubuhnya dan sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. "Hmphh! Bukan berarti kami sepenuhnya salah!" tampiknya sambil bersedekap tangan.
Roman meneruskan aksinya dalam merakit ulang papan chipset tersebut. Keningnya akan semakin mengkerut, jika mendapati ada salah satu komponen yang tidak sesuai dengan prinsip rancangannya.
Pandangannya tak pernah lepas, selalu menatap dengan detail dan seksama pada chipset yang telah dirancang oleh Eugene dan kawan-kawannya itu. "Hmm ... ini hanya akan bekerja sementara, tidak dalam waktu yang lama. Bagaimana bisa orang-orang ini merakit mesin robotik tanpa mempelajari pedomannya terlebih dahulu?! pikir Roman, yang semakin mempercepat tempo gerakan tangannya, guna mengejar waktu yang semakin terbuang.
Lima belas menit pun berlalu. Edgard sampai tertidur diatas kursi, karena semakin tak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Sementara Olivia dan Eugene, tengah sibuk membuka browser, pada masing-masing komputer yang mereka kuasai.
"Sudah," ucap Roman sambil melepaskan kacamata Edgard, dari kedua matanya.
Eugene sontak berdiri dan menghampiri Roman. "Bagaimana Roman?! Apa sudah bisa di uji coba?!" tanya Eugene dengan penuh rasa penasaran.
Olivia pun turut beranjak dari kursinya, seraya memegang segelas jus dalam genggamannya. Ia lalu meraih sedotan dan meneteskan air jus dalam sedotan tersebut, kewajah Edgard, yang membuat anak culun bertubuh gempal itu sontak terbangun dari tidurnya.
"Hujan! Hujaaan!!" sorak Edgard dengan spontan. Ia pun kebingungan sambil menoleh kearah kiri dan kanan.
"Apanya yang hujan! Air liurmu itu yang menetes bagikan hujan!" tegur Olivia yang kemudian berjalan menghampiri meja penelitian.
"Eugene, coba nyalakan mesin robotiknya," seru Roman seraya melempar kacamata ke arah Edgard, yang membuat Edgard dengan sigap menangkap kacamatanya dan segera mengenakannya, lalu berjalan menghampiri Eugene.
"Whoaaa!" Alisnya terangkat dengan mulut yang menganga lebar, saat menatap pada papan chipset yang telah sesuai di rancang ulang oleh Roman. Edgard benar-benar tidak salah merekrut seseorang, kedalam ekskul yang dipimpinnya itu.
"Tunda dulu kehebohanmu itu, Edgard. Belum tentu mesin robotik bekerja," tegur Olivia dengan wajah sinisnya. Ia belum merasa percaya dengan keahlian merakit mesin, yang telah dikuasai Roman.
Eugene lalu menekan tombol power, yang terletak dibagian belakang mesin robotik tersebut. Lampu-lampu komponen dalam mesin itu seketika menyala, menandakan bahwa mesinnya bekerja. "Whoaaa!! Roman! Kau sungguh hebat! Aku bahkan tidak terpikirkan sampai situ!" puji Eugene yang terkesima saat menatap pada mesin robotik.
Mesin yang menyerupai bentuk laba-laba itu, tiba-tiba bergerak dengan sendirinya, yang membuat Eugene, Edgard, dan Olivia, sontak tercengang. Mereka menatap penuh takjub pada mesin robotik tersebut.
"Bagaimana? Apa aku sudah layak menjadi anggota ekskul ini?" tanya Roman yang berjalan menuju kursi, dan terduduk membelakangi komputer milik Olivia, seraya menyibak poni rambutnya.
Edgard lalu berjalan menghampiri Roman. "Roman, ambil ini dan sangkutkan di samping bahu seragammu," ucapnya sambil menyodorkan sebuah pin berbentuk roket, dengan tulisan 'Modern Technologi Club' yang tertera didalam pinnya.
Roman meraih pin tersebut dan segera mengenakannya. "Apa artinya ini?" tanya Roman sambil terus menatap pada pin yang menempel dibahu seragamnya, dengan raut wajah kebingungan.
"Itu adalah tanda kehormatan klub ini!" ujar Edgard, seraya menggenggam kedua telapak tangannya didepan dada. Ia merasa bersyukur karena telah merekrut Roman kedalam ekskulnya.
"Ya! Kami pun mengenakannya!" sambung Oliva sambil menunjukkan pin roket yang menempel dibahu kiri seragamnya, dan diikuti oleh Eugene yang turut menunjukkan pin roket miliknya.
Mereka menampakkan wajah senyum ceria dihadapan Roman, seperti telah merestui anak itu untuk bergabung, dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ekskul teknologi modern berikutnya.
Olivia seketika menoleh ke arah jam tangannya. "Gawat! Sebentar lagi jam istirahat akan selesai! Aku pergi dulu!" pamit Olivia seraya melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu bergegas menuju kelas 2C, yang terletak dilantai dua.
(Tringgg! Tringgg! Tringgg!")
Bel berbunyi menandakan jam istirahat sudah selesai. Roman kemudian berdiri dihadapan Edgard dan Eugene, yang masih menampakkan raut wajah gembira mereka. "Aku pergi dulu. Senang bekerjasama dengan kalian," Ia berjalan melewati Edgard dan Eugene, sambil menyentuh masing-masing pundak mereka, dan bergegas keluar dari pintu ruangan, menuju kelasnya.
Setelah mendapati Roman keluar dari ruangan, Edgard dan Eugene pun sontak saling bertepuk tangan, karena merasa senang dengan kehadiran adik kelasnya itu. Mereka pun turut beranjak keluar meninggalkan ruang ekskul klub, dan bergegas menuju kelas 2F.
...*** Ruang Kelas 2C ***...
Priscilla telah kembali kekelasnya, sepulang dari ruang ekskul atletik. "Valentine kah? Sayang sekali, pendaftaran ekskul atletik telah ditutup," batinnya dalam hati, lalu menatap ke arah Olivia yang tengah berjalan tergesa-gesa memasuki kelas 2C.
Ia lalu menoleh kearah Olivia, yang telah menduduki kursi disebelahnya. "Oliiiv! Kau tidak lupa kan dengan janjimu sepulang sekolah?" tanya Priscilla, seraya menopang dagunya, dengan siku tangan yang bertumpu pada permukaan meja.
"Hmm! Tenang saja! Aku tidak akan lupa, meski pikiranku hari ini selalu dibayangi oleh wajah seorang lelaki, dari kelas satu," jawab Olivia, sambil mencondongkan tubuhnya ke arah belakang, hingga punggungnya bersandar pada bagian atas kepala kursi, lalu menatap kearah langit-langit.
Mendengar curhatan Olivia, Priscilla pun sontak berdiri dari kursinya, lalu menghampiri gadis itu. "Siapa?! Siapa namanya?! Aku baru kali melihat kau jatuh cinta dengan seseorang, sampai-sampai mengakui orang itu selalu terbayang-bayang olehmu!" ucap Priscilla dengan penuh rasa penasaran, sambil mengguncang-guncangkan pundak Olivia.
"Aaaaa!! Jangan ganggu aku, Cila!!" keluh Oliva yang merasa terganggu dengan sikap Priscilla.
"Siaaaapaa naamaanyaaa!" Priscilla benar-benar semakin penasaran, dengan sosok seseorang yang tak sengaja ungkapkan oleh Olivia.
"Roman!" jawab Olivia dengan spontan, demi terbebas dari gangguan teman jahil-nya itu.
(Brak!)
"Aduuuuhhh!!!" erang Olivia, setelah kursi yang menjadi sandaran punggungnya mendarat keras ke atas lantai.
Priscilla pun sontak terkejut dan sengaja melepaskan kursi yang menahan tubuh Olivia, yang membuat gadis itu terjungkal kebelakang, hingga masuk kedalam kolong meja murid dibelakangnya.
"R-R-Roomaann?!!" Anak Herman itu benar-benar terkejut setelah mendengar pengakuan Olivia, tentang siapa yang selalu terbayang-bayang dalam otaknya.
"Aaaaaaa ... Cillaaaa!!!" Olivia pun kesal.
~To be continued~