
Valerie memutuskan untuk menyerahkan Roman pada Rika dan Valentine, setelah berhasil menenangkan jiwa anak tersebut. Mereka kemudian membawa Roman kembali ke ruang perawatan.
"Andrea, aku telah memutuskan untuk bertanggungjawab atas jasad Nyonya Angelina serta jasad anaknya, dan memakamkan mereka di pemakaman keluargaku," ucap Valerie pada Andrea, yang masih berdiri didepan pintu ruang identifikasi.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo masuk kedalam," seru Andrea sambil membuka pintu ruangan.
"Loh, kalian yang tadi bukan?" tanya petugas Tim SAR wanita, setelah Andrea dan Valerie memasuki ruangan.
"Eeee ...." Andrea sempat kebingungan.
"Maura, panggil aku Maura,"
"Nyonya Maura, temanku ini akan bertanggungjawab, dan memutuskan untuk memakamkan mereka dipemakaman keluarganya," tutur Andrea.
"Sudah mendapat izin dari keluarganya?" tanya Maura, petugas yang setia menemani jasad Angelina dan Natasha.
"Ya! Anak laki-laki yang menangis tadi adalah keluarga mereka. Aku pun sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Maka keputusanku, adalah keputusannya juga," sambung Valerie dengan penuh percaya diri.
"Hmm ... baiklah," Maura kemudian mengambil selembar kertas pernyataan diatas meja kerjanya, lalu menyerahkannya pada Valerie. "Silahkan isi data-data anda disini, lalu tandatangani dibawah," ucapnya.
"Baik!" Valerie meraih kertas itu seraya mengeluarkan sebuah pulpen dari dalam tasnya. Ia lalu mengisi seluruh data yang dibutuhkan, untuk mengambil alih kedua jasad tersebut.
...*** Lantai Dua Ruang Perawatan ***...
Setelah keluar dari lift, Valentine dan Rika saling memapah tubuh Roman menuju ruang perawatannya. Keheningan pun terjadi diantara mereka.
Ketiga wajah itu saling mengadu kondisi mata yang sembab. Wajah Roman-lah yang paling sembab serta pucat, karena tubuhnya mengalami shock serta detak jantung yang sempat berguncang tak karuan.
Rika lalu membuka pintu ruang perawatan nomor 37. "Pelan pelaaan ... ayo Roman, kau pasti bisa, sedikiitt lagi," ucap Rika yang berusaha menenangkan suasana hati Roman.
Roman kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang, dengan wajah yang memandang kearah langit-langit atap. Tatapan matanya sangat sayu, melebihi tatapan Rika saat pertama kali bertemu dengannya.
"Sayang, jangan terlalu banyak bergerak. Kau harus banyak istirahat," kata Valentine sambil mencium telapak tangan Roman yang terasa dingin dan lemah.
"Permisi!" Seorang perawat membuka pintu lebar-lebar dan memasuki ruangan, dengan membawa banyak makanan yang terletak diatas troli. Ia lalu meletakkan makanan-makanan itu keatas meja yang terletak disebelah ranjang Roman. "Apa ada keluhan? atau masukan?" tanya sang perawat, kepada Valentine dan Rika.
"Bu perawat, kapan Roman bisa pulih dan segera pulang?" tanya Valentine sambil duduk diseberang sang perawat, dengan ranjang Roman yang menjadi pemisahnya.
"Besok pagi kami pastikan, dik Roman akan segera pulih total, dan diperbolehkan untuk pulang," jawab sang perawat. "Ada lagi?" tanya kembali sang perawat, sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Tidak ada." -Valentine berdiri dari kursinya- "Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, atas segala pertolongan ibu perawat," ungkap Valentine sambil membungkukkan badannya, dengan Rika yang turut mengikutinya.
"Sama-sama!" pungkas sang perawat sambil berlalu meninggal mereka, lalu keluar dari ruangan tersebut.
Valentine kemudian berdiri dari kursinya dan mengambil nampan yang berisikan makanan, lalu kembali ke kursinya. " Roman, ayo makan," seru Valentine seraya bersiap-siap untuk menyuapi Roman.
Roman seketika menegakkan tubuhnya hingga terduduk diatas ranjang. Tatapannya menjadi kosong, dengan kedua mata yang semakin sayu.
"Aaaaaaa ...." Valentine menyodorkan sesendok makanan, menuju mulut Roman. Ia lalu mendapati kekasihnya itu membuka mulutnya secara perlahan, yang membuat hatinya menjadi bimbang.
Roman mendadak jadi penurut. Seperti ada yang aneh dari dirinya, pikir Valentine seraya menatap wajah Roman yang tengah mengunyah makanan. Ia mencoba untuk tetap tenang, selagi sang kekasih tidak berontak dan berniat untuk bertindak nekat.
Rika menaruh perhatiannya pada sebuah apel yang terletak di atas nampan besi makanan milik Roman. "Haaaa ... apel itu! Maxwell tidak membawaku buah apel! Kini, apel yang ada disana itu, sudah mengejekku! Aaaaahh!!" Rika bertingkah konyol dihadapan Roman dan Valentine.
Melihat keinginan Rika terhadap apel tersebut, Roman sontak meraihnya dan memberikannya pada Rika, tanpa sedikitpun menatap padanya.
"Hah?! Untukku?!" tanya Rika dengan mata yang berbinar-binar.
Roman pun mengangguk, seraya mengunyah makanan yang entah kapan ditelannya. Gerak mulutnya sangatlah lambat, bagai seekor unta yang tengah mengunyah dedaunan.
Beruntung rasa sabar Valentine, setingkat dengan rasa sayangnya. Ia tetap setiap menanti Roman menghabiskan makanan dalam mulutnya, sebelum gadis itu menyuapinya untuk yang kedua kali.
"Hahaha! Akhirnya, kau berada dalam kuasaku!" kata Rika sambil menatap tajam sebuah apel yang berada dalam genggaman tangannya.
Saat ingin mengunyah apel tersebut, Rika dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering dari dalam saku seragamnya, yang membuatnya sontak melempar apel tersebut. "Aaarrggghh!! Ini pasti Maxwell!" keluhnya sambil membuka ponsel dan mengangkat panggilan Maxwell.
"Non—"
"Nona! Apa yang telah terjadi?! Apa kau dalam keadaan darurat?!" tanya Maxwell.
"Bukan aku yang dalam keadaan darurat! Tapi apelku!" keluh Rika seraya mengerenyotkan bibirnya, dengan sebelah alisnya yang sedikit meninggi.
"Nona! Tahanlah emosimu dulu," tegur Maxwell setelah menyadari Rika kesal terhadap dirinya.
"Aaargghh! Baiklah! Ada apa Maxwell?" tanya Rika.
"Nona, dengarkan aku. Orang yang bernama Joan, telah bersamaku," ungkap Maxwell.
"Bagus! ... Haaahh?! M-m-maksudmu apa?!" tanya Rika dengan raut wajah heran.
"Aku sekarang berada dibasemen parkiran rumah sakit, bersama orang yang bernama Joan. Tolong jawab Videocall -nya, nona!" seru Maxwell.
Rika kemudian mendapati Maxwell mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video. Ia lalu menerima panggilan video tersebut, seraya terkejut. "Haaaaaaa?!! M-M-Maxwel! Darimana kau menemukannya?!" tanya Rika setelah Maxwell mengarahkan kameranya ke arah wajah Joan.
"Aku tidak sengaja menemukannya dipinggir kota. Apakah ciri-cirinya sudah sesuai, Nona?" tanya Maxwell seraya merentangkan sebelah tangannya, dan mengarahkannya pada Joan, yang duduk disebelahnya dengan tangan terikat, dan mulut tersumpal selotip.
Rika pun sontak mengarahkan ponselnya pada Valentine. "Valentine Valentine! Lihat!" seru Rika.
"Brengsek! Bagus Maxwell, kerjamu sangat bagus! Gajimu akan dinaikkan tiga kali lipat oleh Rika. Aku yang menjamin!" kata Valentine setelah melihat wajah Joan, dari layar ponsel Rika.
"Hahaha!!! Anda sangat baik Nona Valentine. Tapi aku tetap bersyukur dengan gajiku yang sekarang. Menangkap tikus ini, bukanlah hal yang sulit bagiku," ucap Maxwell, setelah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Valentine.
Rika seketika menjauhkan Ponselnya dari Valentine, dan Valentine, melanjutkan perhatian kasih sayangnya terhadap Roman dengan terus menyuapinya.
"Nona, apa yang harus ku lakukan selanjutnya?" tanya Maxwell.
"Tunggulah disana! Jangan kemana-mana! Aku akan memberitahukannya dulu pada kak Valerie," jawab Valentine.
"Baik, Nona." pungkas Maxwell sambil memutuskan panggilan videonya dengan Rika.
Rika lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. "Valentine! Bagaimana ini! Maxwell ada-ada saja kerjaannya! Bisa-bisanya dia menangkap Joan secepat itu!" keluh Rika atas tindakan yang telah dilakukan oleh pengawalnya itu.
"Bukankah bagus bila Maxwell bertindak seperti itu? Barangkali kali dia menyesal setelah dulu menabrak Roman, dan sekarang ingin meminta maaf dengan cara menangkap Joan?!" sanggah Valentine, sambil terus menunggu Roman yang sangat lama dalam mengunyah makanan.
"Bukan itu maksudkuuuu! Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?!" tanya Rika.
"Kau kan ingin melaporkannya pada kak Valerie, hubungi saja dia," saran Valentine, yang tetap menunggu Roman dalam mengunyah makanannya.
Valerie dan Andrea pun sontak membuka pintu ruangan, yang membuat Rika terkejut.
"Roman? Kau baik-baik saja kan?" tanya Valerie dengan raut wajah cemasnya, seraya berjalan menuju sisi kanan ranjang Roman.
"Astagaaa! Kak Valerie! Kau mengagetkan ku saja!" tegur Rika dengan raut wajah sebal.
"Kau kenapa Rika?!" tanya Valerie yang heran dengan sikap Rika.
Rika kemudian berdiri dari kursinya. "Kak Valerie! Maxwell telah menangkap Joan!" kata Rika dengan tegas.
"Haaaaa?!" Valerie dan Andrea pun terkejut secara bersamaan.
"Apa maksudmu Rika?! Maxwell telah menangkap Joan? Siapa Maxwell??" tanya Andrea dengan raut wajah herannya.
"Maxwell adalah pengawal Rika, juga supir pribadinya," sambung Valerie.
"Hmm! Betul! Dan sekarang, Maxwell bersama Joan diruang basemen parkiran mobil!" ungkap Rika seraya bersedekap tangan.
"Brengsek! Valerie! Jika memang benar apa yang dikatakan Rika, aku akan pergi basemen parkiran mobil! Biar aku sendiri yang menghajar si bajingan itu!" seru Andrea yang berjalan menuju pintu, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Andrea! Tunggu! Aku ikut!" Valerie pun turut berjalan keluar dari ruangan, dan mengikuti pergerakan langkah kaki Andrea.
Maxwell menunjukkan kemampuannya dalam mencari dan menangkap Joan. Semua itu didasarkan atas niatnya sendiri, setelah mengetahui bila Roman adalah anak dari Gerrard Hillberg, sahabat lamanya semasa remaja.
~To be continued~