My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 16. Ekskul Atletik



Didalam kelas yang sunyi dan sepi itu, Roman duduk termenung, seraya menatap ke arah jendela. Masih membekas dalam ingatannya tentang kejadian semalam. Aku harus pasang badan. Bu Valerie pasti marah, kalau tahu aku yang telah mengacak-acak rumahnya, batin Roman dengan rasa cemas.


Hawa sejuk disekitar sekolah, memicu rasa kantuk. Roman pun berusaha menjaga kedua matanya, agar tetap terbuka. Meski hati sudah tak sabar, melahap segala ilmu yang disampaikan oleh gurunya. Jiwa Roman pun memutuskan, untuk mengistirahatkan raganya sejenak alias tertidur.


"Roman ... Roman! Romaaannn!!" Dalam ruang mimpinya, Roman seperti merasakan ada yang memanggil. Ia mencoba untuk membuka mata dan terkejut. Valerie dengan wajah geramnya itu telah berdiri dihadapan Roman, seraya memberikan tatapan yang tajam kepadanya.


"Jika kedatanganmu ke sekolah ini, hanya untuk numpang tidur, silahkan keluar!" tegur Valerie setelah mendapati sikap muridnya itu.


Roman akhirnya mendapatkan apresiasi yang sangat tidak mengenakkan hati. Seluruh teman sekelas menertawainya, setelah melihat reaksi wajah ngantuknya itu.


Rasa kecewa dihatinya pun meledak, karena tidak ada murid yang berusaha membangunkannya. Roman lalu menoleh ke arah kursi disebelahnya. Valentine? Kok tidak ada? Kemana dia? Apa sedang sakit? batinnya dengan penuh keheranan.


"Kau mencari Valentine? Dia sedang tidak enak badan hari ini," kata Valerie.


"K-Kenap—" (Brak!). Perkataannya pun terpotong oleh hentakkan tangan Valerie yang menggebrak mejanya.


"Roman! Kemarin kau tidak menemuiku sepulang sekolah! Dan sekarang, kau malah tertidur dihadapanku! Kalau kali ini kau tidak menemuiku juga sepulang sekolah, maka jangan salahkan aku bila nilaimu turun!" Valerie tak dapat mengontrolnya emosinya. Ia semakin kesal, saat menatap raut wajah Roman, yang tidak sama sekali menunjukkan rasa bersalah.


Ocehan Valerie pun turut membuat seisi kelas menjadi gempar. Seluruh murid saling berbisik, seraya menaruh empati terhadap Valerie. Mereka tidak percaya dengan tindakan Roman, yang tak menuruti perintah Valerie untuk menemuinya sepulang sekolah kemarin.


"Apa dia sudah tidak punya urat malu?" kata salah seorang murid kepada murid disebelahnya


"Aku tidak peduli dengannya. Kenapa dia masih berani datang ke sekolah ini!" ucap salah seorang murid lainnya.


"Memangnya dia siapa! Berani-beraninya membuat wali kelas kita marah!" sorak salah seorang murid yang memancing emosi seluruh murid lainnya.


"Tenang semuanya! Jangan membuat kegaduhan dikelas!" tegur Valerie. Ia lalu mendapati Roman mengepalkan kedua tangannya seraya menutup mata. "Kenapa Roman? Kau tidak terima?" tanggap Valerie.


Roman seketika teringat dengan sosok Angelina dan Natasha yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia pun melunturkan segala amarah yang menodai hatinya dan berusaha untuk tetap tenang. "Baiklah, aku minta maaf. Aku berjanji akan menemui Bu Valerie sepulang sekolah," kata Roman yang berdiri seraya membungkukkan badannya.


Valerie hanya bergeming setelah mendengar pernyataan maaf Roman. Ia terus menatap tubuh yang sedang membungkuk itu. Itulah yang ku harapkan darimu, batinnya. Keheningan kelas pun mengiringi langkah kaki Valerie, saat bergegas menuju kursi pengajar.


"Baiklah semuanya! Hari ini kita akan mengadakan festival ekskul ke 121! Kalian diperbolehkan untuk mengunjungi setiap ruangan ekskul yang diinginkan. Jangan ragu dan jangan sungkan-sungkan untuk mendaftarkan diri kalian, ke seluruh ekskul yang ada sekolah ini! Kembangkan bakat kalian!" seru Valerie dengan panjang lebar. Ia pun beranjak dari kursinya seraya bergegas keluar dari kelas.


Seluruh murid pun turut keluar dari kelas. Mereka merayakan festival tersebut dengan penuh antusias. Nampak para murid kelas satu yang memenuhi lorong sekolah, seraya berbondong-bondong memasuki setiap ruangan ekskul, yang mereka inginkan.


Kecuali, Roman. Ia malah berputar ke arah lain sambil melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, menuju ruang guru. Lebih baik ku temui sekarang! batinnya. Anak itu kemudian sempat melihat Valerie yang baru saja melewati pintu ruang guru.


Roman meneguhkan keberaniannya untuk menemui Valerie. Ia merasa berdosa besar karena telah mengecewakan wali kelasnya itu. Setelah melewati pintu ruang guru, ia mendapati Valerie tengah duduk, seraya menatap pada sebuah komputer. "Bu Valerie!" sapa Roman.


Valerie pun terkejut melihat kehadiran Roman. Ia tak menyangka anak itu malah menemuinya, disaat murid lain sedang merayakan festival Ekskul. "Roman??? Ada apa kemari?" tanya Valerie.


"A-aku." -Roman membungkukkan badannya- "Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, atas kebodohanku ini," kata Roman. Ia pun tak dapat menahan tetesan air mata, saat berhadapan dengan wali kelasnya itu.


"Romaann, aku kan sudah menyuruhmu untuk menemuiku sepulang sekolah nantiii ... kenapa harus sekarang?" tanya Valerie dengan suara lembutnya.


Roman pun jadi perhatian para guru yang menghadiri ruang itu. Mereka merasa terganggu dengan kehadiran murid tersebut. "Hei, kau! Apa kau tidak bisa baca suasana? Pergilah sana ke ruangan ekskul!" bentak salah seorang guru kepada Roman yang terus membungkukkan badannya, dihadapan Valerie.


"Aku sudah menegurmu sekali!!! Jika sampai dua kali, kau harus ku hukum!!" kata guru arogan tersebut.


"Pak Herman! J-Jangan!" Valerie berusaha menghalau tindakan Herman, untuk tidak menindak Roman dengan semena-mena. Namun usahanya gagal, setelah guru arogan itu terlanjur membawa Roman jauh dari ruang guru.


Roman sempat mengelak seraya melepaskan lehernya dari genggaman Herman. Nafasnya menjadi sesak karena perlakuan guru pria berbadan kekar tersebut.


(Prak!)


"Berani sekali kau menghindar dariku! Hah!!!" Herman melampiaskan emosinya setelah menampar Roman. "Aku akan mengingat wajahmu! Jangan harap dipelajaran ku nanti, kau akan mendapatkan nilai bagus!" katanya, seraya bergegas meninggalkan Roman.


Tamparan itu, benar-benar menyakiti hati Roman. Wajahnya yang telah dihiasi air mata, turut becampur dengan tetesan darah yang mengalir dari mulutnya. Rasa sakit dari tamparan itu, benar-benar membekas di hati Roman.


"Romaaan!!!" sorak Valerie dari kejauhan. Ia sempat menyaksikan Herman menampar anak itu. Valerie kemudian menghampiri Roman dengan tergesa-gesa.


Namun, Roman pun turut bergegas menjauhinya. Ia berjalan secepat mungkin dan berusaha menghindar dari kejaran Valerie. Ini sakit sekali! Sepertinya aku memang tidak harus berurusan lagi dengan wanita itu! batin Roman.


Setelah berhasil menjauh dari Valerie, langkahnya pun terhenti oleh hadangan seorang siswi kelas dua. "Heii!! Kenapa tergesa-gesa? Astaga!" -Ia mendongakkan wajah Roman- "Apa yang sudah terjadi? Siapa yang telah menamparmu?" tanya gadis itu kepada Roman yang tengah memegang pipinya.


Roman tak mampu menjelaskan apa yang telah menimpanya barusan. Ia pun berniat untuk meneruskan pelariannya seraya menghindari gadis tersebut.


"Hei!! Tunggu!!" Gadis itu malah menarik kerah belakang seragam Roman.


"Apa lagi sih! Apaaa!!" Roman semakin gusar saat menerima perlakuan yang berulang-ulang. Ia lalu membalikkan badannya ke arah gadis tersebut. "Apa kau belum puas melihatku seperti ini? Hah!! Ini kan yang kau mau dari orang miskin sepertiku?!!" kata Roman seraya melampiaskan kekesalannya.


Melihat kekesalan Roman, gadis itu sontak menarik tangannya dan membawanya masuk kedalam ruang ekskul atletik. Ia merasa harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara Roman dengannya.


Selepas menutup pintu ruang ekskul, Siswi cantik berbadan tinggi dan tegap tersebut, menyandarkan tubuh Roman ke dinding. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Roman. "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Dan aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau kau orang miskin. Aku hanya ingin mengajakmu ikut ke ekskul ini. Kau mengerti?" katanya seraya memberikan tatapan tajam.


Roman hanya bergeming. Ia turut memberikan tatapan tajam ke gadis tersebut. Namun, seketika perhatiannya tertuju pada sebuah medali, yang menggantung di sudut atas ruangan. "Apa di ekskul ini, ada cabang lomba lari?" tanya Roman dengan penasaran.


Gadis itu terkejut setelah mendengar pertanyaan Roman. "Lari? Apa kau pandai berlari? Semua ada disini! Ayo! Daftarlah!" katanya, seraya menjauhkan diri dari Roman. Ia lalu mengambil sebuah kertas dari dalam lemari, dan menyerahkannya pada Roman. "Luangkan waktumu untuk mengisi lembar ini. Sesudah itu, kau boleh pergi," ucap gadis tersebut seraya duduk sambil menyilangkan kakinya.


Roman pun membangkitkan semangatnya, untuk segera berpartisipasi dalam lomba lari. Ia kemudian mengisi lembar formulir pendaftaran ekskul tersebut, dengan penuh antusias. "Apa sekolah ini tidak pernah menjuarai lomba lari?" tanya Roman.


"Hmm ... menurutmu bagaimana? Sekolah ini hanya menghasilkan satu medali saja. Itu pun dari cabang lari marathon. Dan, yang lebih parahnya lagi, ekskul ini akan dibubarkan jika tak mendapatkan tiga anggota lagi," tutur gadis tersebut seraya menatap pada medali, yang menggantung di atas dinding.


Hatinya pun tersentuh setelah mendengar perkataan gadis tersebut. Jiwa atletik Roman merasa terpanggil saat mendapati minimnya medali yang diraih sekolahnya. "Baiklah! Aku yang akan meraih semua medali emas itu!" ucap Roman dengan penuh percaya diri.


Setelah mengisi formulir tersebut, Roman kemudian melangkahkan kakinya menuju luar ruangan. "Roman!" kata gadis itu. Ia pun menghampiri Roman yang telah berdiri di luar pintu. "Aku sampai lupa." -Ia menyeka mulut Roman- "Jangan tunjukan lukamu, pada orang-orang yang telah menganggapmu musuh," ucapnya seraya memotivasi Roman.


"Ya!" kata Roman. Ia kemudian berlalu, meninggalkan sang gadis yang masih menatapnya dari kejauhan. Roman seketika merasakan ada hal yang mengganjal di hatinya. Namanya! Aku lupa menanyakan namanya! Ah! Besok sajalah! batin Roman seraya melangkahkan kakinya menuju kelas.


~To be continued~