
Valentine telah kembali ke kamarnya, bersama dengan Rika. Sedangkan Valerie, turut mengikuti Roman menuju kamar barunya.
"Roman, besok kau harus sekolah. Tidurlah yang nyenyak," ucap Valerie dari balik pintu kamar. Ia lalu menutup pintu kamar Roman.
"Kak Valerie!" himbau Roman.
Himbauan itu, membuat Valerie kembali membuka pintu dan terkejut saat mendapati Roman, sontak membungkukkan badan dihadapannya.
"Terima kasih!" -ia menitikkan air mata- "Terima kasih karena sudah peduli padaku sejauh ini! Aku berjanji, akan membalas segala kebaikanmu, suatu saat nanti," ungkap Roman, jauh dari dalam lubuk hatinya.
Valerie turut meneteskan air matanya, setelah mendengar ungkapan terima kasih Roman. Ia lalu berjalan menghampiri anak itu, menegakkan pundaknya, dan memeluknya dengan erat. "Jangan pikirkan hal itu. Aku tulus membantumu dalam hal apapun. Cukup anggap aku, seperti kakakmu sendiri," ucap Valerie seraya mengelus-elus punggung Roman, dan berusaha meredakan tangisan anak tersebut.
Valerie kemudian melepaskan pelukannya, dan menuntun Roman menuju ranjang. Ia lalu mematikan lampu, setelah mendapati anak itu telah terbaring diatas ranjangnya. Hidupku lebih bermakna, setelah kau hadir, Roman, batinnya seraya menutup pintu kamar.
Anak itu telah membuat Valerie menjadi teringat, akan kehidupannya semasa SMA. Kelihangan seorang ibu yang sangat dicintainya dulu, menjadi penyebab timbulnya rasa simpati Valerie terhadap Roman, yang baru saja ditinggal mati oleh ibu dan adik kecilnya.
Valerie membuka pintu kamar, dan menutupnya kembali. Baju tidur yang dikenakannya cukup longgar, dengan bagian dada yang sedikit tersingkap.
Paras wajahnya yang cantik natural, dengan hidung mancung, pupil mata birunya yang indah, tinggi badan 165 sentimeter, bentuk tubuh body goal, serta ukuran dada yang tidak sebesar Rika, juga tidak sekecil Valentine. Valerie tetap menjaga berat badan idealnya, dan selalu melatih kebugaran tubuhnya setiap hari.
Kisah asmara Valerie, tak seindah kisah asmara sang adik yang baru saja terkena panah cinta dewi asmara, untuk menghubungkan perasaanya dengan Roman. Tak ada pria yang sedikit berkesan dihatinya, ataupun yang bisa membuat seorang gadis seperti Valerie, merasa jatuh cinta.
Valerie sempat bersaing dengan Andrea, untuk memperebutkan seorang siswa laki-laki, semasa SMA. Namun, ia merasa harus menyerah karena tak tega merusak persahabatannya dengan Andrea, yang turut menyerah demi persahabatan mereka.
Rasa kagum Valerie pada siswa laki-laki itu, dipendamnya sedalam mungkin sampai sekarang. Hingga rasa itu kini telah menghilang, setelah dirinya sempat mendengar kabar bahwa sang lelaki pujaannya, telah menikah dengan orang lain.
Kesetiaan Valerie dalam menjaga perasaan untuk satu orang, sangat berbeda jauh dengan Andrea. Selepas berbaikan dengan Valerie semasa SMA, Andrea selalu berganti-ganti pacar, yang membuat Valerie merasa kesal dengan sifat sahabatnya itu.
Andrea kini tengah menjalin hubungan dengan seorang anak teman ayahnya, dan telah membuat rencana untuk menikah tahun depan. Namun, Valerie belum sama sekali mendengar kabar itu darinya.
Ayah belum sama sekali menyinggung tentang jodohku. Apa dia ingin aku perawan selamanya? pikir Valerie yang tidur setengah tengkurap diatas ranjangnya, sambil memeluk boneka beruang putih, yang telah menjadi teman tidurnya sehari-hari.
Matanya perlahan menutup dan membuka berulangkali. Valerie seperti menolak rasa kantuk yang telah menyerangnya. Andrea sedang apakah? ... aku hubungi sajalah, batin Valerie seraya meraih ponsel yang terletak diatas meja, yang tak jauh dari ranjangnya.
Namun, baru saja dia menekan ikon telepon pada kontak Andrea, rasa kantuk itu semakin menguasai matanya, dan membuatnya tertidur.
(Tuuutttt ... tuuttt...)
📞 "Halo? Valerie? ... Halo?! ... Valeriee?!"
...*** Rumah keluarga Alexandra ***...
Waktu menunjukan pukul sebelas malam hari. Andrea tengah terbaring diatas ranjang milik Audrey, yang telah tidur mendahuluinya. Roman sudah pasti tidak akan bekerja lagi denganku. Tapi, tidak apalah. Audrey masih bisa membantuku selama seminggu kedepan, batin Andrea, seraya mengelus-elus wajah tidur sang adik.
Kafe Sweet Memories telah berdiri sejak Andrea masih kecil, atau sewaktu Audrey belum lahir kedunia. Usaha keluarganya itu sangat ditekuni oleh sang ayah, yang kini tengah terbaring lemah didalam kamarnya.
Selepas lulus dari sekolah menengah Saint Luxury, Andrea memupuskan harapannya untuk kuliah, setelah mendengar kabar sang ayah yang menderita penyakit stroke, dan memaksanya untuk segera terbiasa mengelola usaha kafe milik ayahnya.
Andrea sebenarnya berniat mengikuti jejak Valerie, untuk kuliah disalah satu universitas yang sama dengan sahabatnya itu. Namun, predikat anak pertama dan penerus keluarga, telah memaksanya mengundurkan diri dari niatnya itu.
Setahun lagi, aku akan menikah. Apakah Valerie akan terkejut, setelah mendapatkan undangan dariku? Tidak! Dia seharusnya ikut mengejar jejakku! Kalau memang Valerie kesulitan dalam mencari jodoh, maka aku sendiri yang akan mencari seorang pria yang tepat untuknya, batin Andrea, setelah mematikan lampu kamar Audrey. Ia lalu menutup pintu kamar, dan bergegas menuju kamarnya.
Andrea sangat-sangat peduli terhadap sahabatnya itu. Siapapun yang dekat dengan Valerie, juga akan dianggap dekat olehnya.
Begitu juga dengan Miranda, orang ketiga yang masuk kedalam lingkaran persahabatan mereka. Miranda yang kini telah bertugas menjadi seorang polisi dengan pangkat corporal, sangat berhubungan baik dengan Valerie sampai sekarang.
Namun, Andrea belum sempat bertemu kembali dengan Miranda, dan sama sekali belum tahu, bila teman semasa sekolahnya yang sangat feminim itu, telah menjadi seorang polisi.
...*** Rumah keluarga Howard ***...
Tony masih terduduk diatas ranjang, seraya menghirup sebatang cerutu, yang belum sempat dihabiskannya. Roman Hillberg kah? Aku terakhir kali melihatnya sejak sepuluh tahun yang lalu. Bagaimanakah perubahannya sekarang? Dimanakah dia sekolah? Dan, apa saja prestasinya? batin Tony.
Laura terlebih dahulu tidur meninggalkan Tony, yang sama sekali belum menerima rasa kantuknya. Kakek berambut putih pekat itu, selalu membayangkan tentang seluk-beluk Roman, setiap saat.
"Tony, sudahilah menghisap cerutumu itu. Aku lama-lama sesak karenanya!" keluh Laura yang sontam terbangun dari tidurnya, karena terganggu dengan asap cerutu sang suami.
"Laura! Besok kita harus kepengadilan, untuk mengurus hak asuh anak Angelina!" kata Tony yang duduk membelakangi sang istri.
"Haa?! Apa yang salah denganmu Tony?! Kenapa kau sangat tergila-gila dengan anak itu?!" tegur Laura, sambil mendudukan tubuhnya diatas ranjang.
"Laura, anak itu suatu saat akan menjadi boomerang untuk kita. Jika terbukti dirinya memberikan keuntungan untuk keluarga Helsink, maka keluarga inilah yang akan mendapatkan banyak kerugian,"
Setelah mendengar perkataan Tony, Laura menjadi kesal. Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi sang suami. "Bertindaklah sesuka hatimu! Yang ada dalam pikiran ku, hanyalah putriku seorang," ucapnya sebelum mengerjapkan mata.
Belum sempat sebatang cerutu itu dihabiskannya, Tony malah mengeluarkan sebatang cerutu yang baru, dari dalam kotak cerutunya. Albert Helsink. Kau telah memantik api permusuhan denganku. Aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan Roman! pikirnya seraya menyalakan pemantik api, dan membakar sebatang cerutu baru yang telah berada dalam genggaman mulutnya.
Tony Howard, lebih memilih untuk berpihak pada Roman, dan sangat berambisi untuk merebut hak asuh cucunya, yang telah tinggal dirumah keluarga Helsink tersebut. Kakek Roman itu sangat percaya, bila Roman bisa memberikan manfaat yang luar biasa, bagi keluarga besar Howard.
~To be continued~