My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 33. Diantara Mereka



Para anggota OSIS dan dua siswa non-OSIS, tengah bersiap untuk memberikan kejutan pada Bryan Wanderer. Setelah sang target membuka pintu, mereka pun bersorak penuh kegirangan.


"Happy Birthday! Bryan!" ucap semua siswa secara serempak, kecuali Roman.


"Bry ... Bryan ...." Roman menyusul memberikan ucapan walau telah tertinggal dari yang lain.


Bryan pun terkejut. "Wahh! Aku tidak menyangka akan dirayakan seperti ini!" ucapnya. Bryan kemudian berjalan menghampiri kue ulangtahun miliknya yang berada di atas meja. "Terima kasih untuk kalian semua. Aku sungguh terharu," ungkap Bryan dengan raut wajah bahagia.


"Bryan! Make a wish before!" seru Rika seraya bersedekap dihadapan Brian.


"Okay!" Bryan menutup kedua matanya dengan saling menempelkan kedua telapak tangan didepan dada. "Done!" kata Brian setelah memanjatkan doa dihari ulang tahunnya.


Mereka pun sontak bernyanyi seraya bertepuk tangan berulang-ulang.


Happy birthday to youu...


Happy birthday to youu...


Happy biiirthday!


Happy biiiirthdaaay...


Happy biiirthday, Bryyyaaaan!


"Whoooo!!!"


"Yeaayy!!!"


"Happy birthday wakil ketos kita!" ungkap April dengan raut wajah gembira.


Rika kemudian memotong kue ulangtahun dengan seksama. "Istirahat kali ini kita akan makan kue ulangtahunnya Bryan!" kelakar Rika dengan senyum terkekeh-kekeh.


Namun, Valentine yang tangan kanannya menggandeng tangan kiri Roman pun, merasakan ada hal yang aneh dengan kekasihnya itu. Kudapati Roman tidak bertepuk tangan. Apa ada yang sa— Haaaah?!! pikir Valentine seraya terkejut saat menoleh ke arah tangan kanan Roman.


Audrey ternyata turut menggandeng tangan kanan Roman. Valentine pun merasa berang dan sontak menarik tangan kiri Audrey. "Jauhkan tanganmu dari Roman!" tegurnya dengan nada tinggi.


Roman pun turut terkejut setelah menyadari tangan kanannya digandeng Audrey sejak sebelum Bryan memasuki ruang OSIS. Apa-apaan dia ini! Kau belum tau kalau Valentine marahnya seperti apa! gumamnya dalam hati.


Valentine akhirnya kembali masuk dalam suasana kegembiraan demi menjaga kenyamanan yang lain. Aku harus waspada dengan dia! batin Valentine sambil menggigit bibir bawah.


Audrey menundukkan wajahnya sejenak, setelah usahanya kepergok Valentine. Apa-apaan gadis itu! Seenaknya saja menarik tanganku dengan kasar! batin Audrey.


Audrey kembali membangun rasa sukanya terhadap Roman dengan perlahan. Ia kemudian melirik wajah kekasih Valentine itu secara terus menerus. Aku yakin Roman sudah tidak marah lagi, ini saatnya bagiku untuk berjuang merebutnya dari gadis itu, pikir Audrey sambil menggigit bibir bawah.


Setelah memotong kue ulangtahun menjadi tujuh bagian dan membagi-bagikan kue tersebut kedalam tujung piring kecil secara perlahan, Rika mengambil sepiring kue milik Bryan lalu memotongnya menjadi bagian kecil. "Bryan, aaaaaaa," ucapnya sambil menyodorkan sendok berisi potongan kecil kue kemulut Bryan.


Bray pun membuka mulutnya dengan perlahan dan menerima sodoran potongan kecil kuenya masuk kedalam mulut. Ia lalu mengunyah kue tersebut dengan penuh antusias.


Melihat aksi romantis yang dilakukan Rika, Valentine pun tak ingin kalah. "Romaan, aaaaaaaa." Ia turut menyodorkan sendok berisi potongan kecil kue miliknya ke mulut Roman.


Setelah menerima sodoran Valentine, Roman dengan sigap mengunyah kue tersebut. Valentine lalu tersenyum saat kekasihnya itu melahap potongan kecil kue miliknya dengan penuh antusias. Andai kue ini buatanku, batinnya.


Namun, Audrey pun jadi panas saat melihat Valentine menyuapi Roman. "Roman, aaaaaaa." Hatinya sangat berharap bila Roman mau menerima perlakuan kasih sayang darinya.


(Pring!!!)


Valentine sontak mendorong tangan Audrey dan membuat sendok beserta piring milik Audrey terhempas ke lantai. Piring tersebut pecah menjadi beberapa bagian bersamaan dengan potongan kue yang tercerai-berai.


Audrey masih tercengang alih-alih tak percaya dengan apa yang telah dilakukan Valentine terhadapnya. Ia lalu sontak menatap tajam ke arah Valentine. "Kau sudah gila yah?!" sindir Audrey dengan wajah kesal.


Mendapati sindiran Audrey, darah di otak Valentine pun mendidih. "Kau yang sudah gila!" Bersikap seenaknya pada Roman!! Apa kau tidak punya urat malu?!!" Valentine balik membentak Audrey dengan sindiran pedas seraya bersedekap dihadapan saingannya itu.


Tak terima dibentak dengan kasar, Audrey naik pitam. Ia sontak menjambak sisi kanan rambut Valentine dan menariknya dengan keras.


Valentine pun tak ingin kalah, ia balik menjambak sisi kiri rambut Audrey seraya menariknya dengan sangat kuat. Kedua gadis itu lalu bergelut saling tarik-menarik rambut dengan penuh rasa amarah yang membara.


Roman berada ditengah-tengah mereka pun ketar-ketir. Ia tak berbuat apa-apa setelah melihat perseteruan dua gadis yang memperebutkan dirinya itu. K-k-kenapa jadi begini!!! pikirnya dengan wajah ketakutan.


"Valentine!" Rika sontak menarik tangan Valentine dan menjauhkannya dari Audrey.


"Audreeeyy!!!" April kemudian memeluk tubuh Audrey dan mendorongnya sampai ke tembok.


Melihat mereka terpisah, Roman pun segera menjauhkan dirinya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. T-tidak mungkin! Tidak mungkin bila Audrey juga menyukaiku. Kenapa mereka yang telah menyakiti, tiba-tiba menjadi suka padaku?! Bagaimana ini!!! pikirnya seraya mempercepat langkah kakinya menuju perpustakaan.


Setelah melewati jalan setapak yang membelah taman sekolah, Roman berjalan tergesa-gesa menuju pintu perpustakaan. Aku harus mencari. ketenangan! Bagaimanapun caranya, aku akan meyakinkan mereka berdua bila diriku tidak ada niat untuk menjalin hubungan apapun disekolah, batin Roman.


Setelah membuka pintu perpustakaan, hawa sejuk yang berhembus dari AC pun seketika meneduhkan wajahnya. Roman kemudian bergegas mencari sebuah buku lalu membacanya seraya menduduki sebuah kursi yang tidak bertuan.


"Romaann?!!" sapa Edgard sambil terkejut saat melihat Roman tiba-tiba mencari buku dan berjalan menuju kursi dengan tergesa-gesa.


"Ssssttt!!!" Roman menutupi mulut dengan telunjuk seolah memberi isyarat pada Edgard untuk terdiam sejenak.


Edgard yang duduknya jauh dari Roman pun sontak berpindah pada kursi lain, agar tidak membuatnya kecolongan untuk yang kesekian kalinya. Kali ini Roman tidak boleh lolos! Aku harus mengajaknya masuk ke ekskul teknologi modern! pikir Edgard dengan tubuh yang bergetar seraya menatap pada sebuah buku yang digenggamnya.


(Tringgg ... Tringgg ... Tringgg)


Bel pertanda berakhirnya jam istirahat telah berbunyi. Roman yang telah habis membaca dua buku selama dua puluh menit pun sontak bangkit dari kursinya, lalu bergegas menuju pintu depan perpustakaan.


"Roman!!!" Edgard yang telah memantaunya dari dekat pun turut beranjak dari kursinya dan sontak menggenggam tangan kiri Roman.


"Ada apa?" tanya Roman dengan wajah heran.


"Roman! Aku fans beratmu!" ungkap Edgard seraya membungkukkan badannya dihadapan Roman.


Roman pun terkejut. "Hahh???!" Ia semakin terheran-heran dengan sikap Edgard.


"Roman! Aku telah menjadi saksi atas kemenanganmu menjuarai olimpiade teknologi modern dua tahun yang lalu!" ungkap Edgard dengan nada yang berapi-api.


"Lalu?" tanya Roman


"Aku ingin kau ikut mendaftar ke ekskul teknologi modern di sekolah ini!" tegas Edgard yang penuh menaruh harapan pada adik kelasnya itu.


Roman kemudian melepaskan genggamannya pada gagang pintu perpustakaan. Ia lalu menghadap tubuhnya ke arah Edgard. "Tegakan tubuhmu. Mana kertas pendaftarannya? Apa kau membawanya?" tanya Roman.


Edgard pun sontak beranjak menuju tasnya yang tergeletak di atas meja membaca. "Sebentar Roman, sebentar!" ucapnya seraya merogoh tas dan mengeluarkan selembar kertas formulir pendaftaran klub ekskul teknologi modern.


Setelah mendapati kertas tersebut dalam genggamannya, Edgard lalu terburu-buru menghampiri Roman yang menanti sambil berdiri didepan meja resepsionis perpustakaan. "Roman! Ini! Silahkan tandatangani!" seru Edgard sambil mengeluarkan sebuah pulpen dari saku jasnya lalu memberikan pulpen tersebut kepada Roman.


"Hmm ... baiklah! Selesai!" -ia mengembalikan pulpen Edgard- "Aku pamit dulu karena sedang terburu-buru!" kata Roman seraya membuka pintu perpustakaan dan keluar dari gedung yang sangat besar tersebut.


"Horaaaayyyy!!! I've got my fighter!!!" sorak Edgard dengan berjingkrak-jingkrak kegirangan, setelah mendapati Roman menyetujui permintannya. "Roman is the best!!! Whooo!" Siswa dengan perawakan yang culun itu benar-benar merasa senang dengan terdaftarnya Roman sebagai anggota klub ekskul teknologi modern.


~To be continued~