
(Tringgg!!! Tringgg!!! Tringgg!!!)
Belum sempat Roman membuka pintu gedung perpustakaan, bel pertanda jam belajar pun sontak berbunyi dengan sangat keras. Hal itu semakin menambah kekesalan dalam hatinya, yang kian memuncak.
Roman akhirnya mengurungkan niatnya mengunjungi ruang perpustakaan, dan bergegas melangkahkan kakinya kembali menuju kelas. "Hah! Sepertinya, hari ini memang selalu ingin membuatku kesal dan kesal!" batin Roman, yang sebenarnya masih berkeinginan untuk menenangkan kekacauan dalam benaknya, jika sempat mengunjungi gedung yang penuh dengan ribuan buku-buku tersebut.
Namun, Amanda Shelton, sang guru yang mengajar di bidang pelajaran kimia, telah terlebih dahulu memasuki kelas 1A, dan memulai kegiatan mengajarnya di kelas itu.
Dan Valentine yang tengah terduduk diatas kursinya, semakin terheran-heran dengan sikap Roman, tanpa menyadari bila Amanda tengah sibuk menjelaskan seluruh materinya. "Sebenarnya kemana sih Roman?! Apa dia marah padaku?! Atau, jangan-jangan!" batin Valentine.
"Valentine?! Apa kau mendengarkanku?!" tegur Amanda, setelah mendapati Valentine tak memperhatikannya, dalam menjelaskan materi-materi pelajaran kimia.
"M-Maaf, Bu Amanda! S-s-sepertinya, aku harus pergi ke toilet!" kata Valentine dengan terbata-bata. Ia berusaha mengelabui Amanda, untuk berniat mencari keberadaan Roman.
"Baiklah, silahkan!"
Tanpa pikir panjang, Valentine segera beranjak dari kursinya, dan bergegas menju pintu kelas. "Aku harus menemukannya, dan mendapatkan alasan yang jelas tentang, kenapa dia menghilang sampai sekarang!" pikir Valentine, yang hendak keluar dari kelas.
Roman yang hampir mendekati pintu pun tak sengaja berpapasan dengan Valentine, yang juga turut keluar dari pintu kelas.
"Ro—" Valentine berusaha untuk tetap bungkam, meski telah berhasil menemukan Roman. Ia mendapati sang kekasih berjalan melewatinya tanpa sedikitpun menoleh padanya, yang membuat gadis itu tetap berdiri didepan pintu kelas.
"Roman! Dari mana kau?!" tanya Amanda, saat mendapati Roman tengah berjalan melewati dirinya. Ia menjadi kesal karena merasa tak dihargai, oleh anak yang datang terlambat pada jam pelajarannya itu.
Roman seketika berhenti, lalu membungkuk dihadapan Amanda, meski dirinya belum mengetahui, siapa nama dari guru wanita tersebut. "Maafkan saya Bu." Hanya kata itulah yang terlontakan dari mulut Roman, hingga membuat Amanda menjadi semakin kesal.
"Berdiri disamping kanan mejaku!" perintah Amanda, sambil menunjuk ke arah meja yang dimaksudkan olehnya.
Roman lalu berjalan menuju meja guru, dan berdiri tepat disamping kanan meja guru tersebut. "Roman, kau harus tetap tenang, meskipun begitu banyak cobaan, yang sangat ingin sekali menjatuhkan dirimu," batinnya, pada dirinya sendiri, seraya berdiri dengan tegap, dan menyilangkan kedua tangannya dibelakang punggung.
Amanda menoleh pada Valentine, yang sedari tadi tetap berdiri, dan terus menerus menatap ke arah Roman. "Valentine?! Tidak jadi kah?!" tanya Amanda, dengan raut wajah heran.
"J-j-jadi Bu Amanda!" Valentine pun sontak melangkahkan kakinya, menuju ruang toilet perempuan, dengan tergesa-gesa. "Bagaimana ini?! Kenapa Roman sampai telat masuk ke kelas?! Apa ada sih dengannya?!!" batin Valentine, dengan menyimpan setengah rasa kesal, dan setengah rasa empati, terhadap apa yang telah menimpa sang kekasih.
Valentine kemudian membuka pintu toilet siswi, dan bergegas menghampiri wastafel. "Aaaaa!! Kenapa bisa jadi begini!" gumam Valentine seraya menatap pada sosok dirinya, dalam cermin wastafel toilet.
Ia menekan sensor air wastafel, dan membasuh mukanya dengan tergesa-gesa, lalu kembali menatap pada cermin. "Aku harus, membela Roman didepan Bu Amanda. Jika tidak, Roman akan semakin berpikiran negatif padaku," pikir Valentine, sambil mematikan keran wastafel toilet.
Demi membuat kekasihnya terbebas dari hukuman Amanda, Valentine segera beranjak keluar dari ruang toilet siswi, dan kembali bergegas menuju kelas 1A, yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang toilet.
"Bu Amanda! Ro—"
"Valentineee!" Roman memotong perkataan Valentine, dan tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, hingga membuat gadis itu sempat tercengang.
Amanda yang tengah menulis materi pada papan tulis pun sontak menoleh ke arah Valentine. "Valentine! Ada apa?!"
Valentine seketika menatap ke arah Amanda, lalu beralih menoleh ke arah Roman, yang tetap tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya. Hal itu justru semakin membuatnya merasa kebingungan.
Namun, Valentine tetap bersikeras untuk membebaskan Roman, dan berjalan menghampiri Amanda. "Bu Amanda, tolo—"
"Valentineee!!!" Meski wajahnya tetap tersenyum, Roman sengaja membentak Valentine, agar gadis itu tak ikut campur kedalam masalah yang tengah dialaminya sekarang.
Valentine dan Amanda pun sontak terkejut secara serempak, setelah mendengar bentakkan Roman, yang sangat keras terdengar di telinga mereka.
"Roman! Jaga sikapmu didepan perempuan!" tegur Amanda, yang hampir jantungan dengan perbuatan spontan pemuda tersebut. Ia menjadi murka terhadap Roman, karena telah bertindak kasar secara verbal pada Valentine.
Roman lalu menunduk dengan tangan yang bergetar-getar, nafas emosi yang menggebu-gebu, serta menatap dengan pandangan yang tajam, ke arah lantai kakinya berpijak.
"Valentine, kembali ke tempat dudukmu." Amanda seketika menghampiri Roman. "Dan kau Roman, renungkan perbuatanmu! Jika kau mengulanginya lagi dihadapanku, maka aku takkan segan-segan mengusirmu dari jam pelajaranku!" ancam Amanda, sambil berkacak pinggang dan berdiri disamping Roman.
Valentine mau tidak mau menuruti perintah Amanda, dengan berjalan menuju mejanya, dan kembali menduduki kursinya. "Roman, apa yang sedang terjadi pada dirimu? Aku merasa perbedaan yang aneh, saat melihat senyumanmu itu," batin Valentine, yang terduduk seraya menatap penuh bimbang ke arah Roman.
Amanda kemudian melanjutkan kegiatan belajar mengajarnya, meski masih menyimpan rasa kesal terhadap Roman. Sebagai guru yang sangat menjunjung tinggi ketentraman dalam belajar, Amanda terus menerus memperhatikan gerak-gerik yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut.
30 menit pun telah berlalu, dan Roman masih tetap berdiri sambil menghadap pada barisan-barisan murid, yang duduk sejajar dengan mejanya.
Sementara Amanda, telah selesai dalam menjelaskan berbagai materi-materi pelajaran kimia tingkat menengah. Ia lalu menduduki kursinya, dan berusaha untuk tidak menghiraukan Roman. "Baiklah. Apa kalian sudah mengerti dengan materi yang ibu jelaskan tadii?!" tanya Amanda, sambil melirik satu persatu murid-muridnya.
"Sudah Buuu!!" jawab seluruh murid secara serempak.
"Bagus! Apa masih ada pertanyaaan?!" tanya kembali Amanda, yang seketika bangkit dari kursinya, dan berjalan sedikit maju didepan meja gurunya.
"Tidak Buuu!!" jawab kembali seluruh murid, dengan serempak.
Amanda pun sontak tersenyum seraya bertepuk tangan, demi mengapresiasi rasa antusias para murid yang sudah merasa mengerti, dengan seluruh materi-materi yang telah diterangkan olehnya, yang membuat seluruh murid pun turut bertepuk tangan, karena merasa senang dengan sikap keramahan yang ditunjukkan oleh guru kimia tersebut.
20 menit waktu pun telah dihabiskannya, hanya untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan pada seluruh murid-murid tersebut. Namun, hatinya seketika kesal, saat mendapati tidak ada satupun jawaban yang benar.
Bahkan, ada beberapa murid yang hanya terdiam seraya tersenyum, karena merasa tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Amanda, hingga membuatnya kembali menduduki kurisnya, dengan tergesa-gesa.
"Mana semangat kalian! Mana bukti kalian yang mengaku mengerti dengan seluruh materi-materi yang telah kujelaskan tadi! Haaa?!" omel Amanda sambil melirik satu persatu murid-muridnya, dengan raut wajah kesal. "Siapa ketua kelas disini?!" tanya Amanda, yang terus melirik dan melirik, seluruh murid itu satu persatu.
Kevin seketika berdiri dari kursinya. "Saya Bu!" ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Kau?!! Kalian bahkan telah memilih seseorang, yang bahkan tidak bisa menjawab sama sekali, pertanyaan dariku, untuk menjadi ketua kelas?!" Amanda pun semakin murka, meski paras cantiknya, berusaha untuk menutupi raut wajah berangnya.
Herman yang telah berjalan melewati ruang kelas 1A pun sempat mendengar omelan Amanda. Guru olahraga itu seketika membalikkan badannya, lalu kembali berjalan mendekati pintu kelas tersebut. "Amanda! Apa yang sedang terjadi?!" tanya Herman, dengan penuh rasa penasaran, sambil menoleh dari balik pintu kelas.
"Herman! Aku benar-benar tak menyangka, betapa rendahnya kemampuan belajar generasi siswa kelas satu, tahun ini!" Amanda menunjuk ke arah seorang murid, yang tengah terduduk tepat diseberang mejanya.
Herman berjalan menghampiri Amanda, yang terduduk di kursinya, sambil menyimpan rasa kesal, terhadap kebodohan seluruh murid-murid itu. "Bukan mereka yang ku tanyakan, tapi Roman! Ada apa dengannya?! Kenapa dia berdiri disampingmu?!" tanya kembali Herman, setelah mendapati Roman berdiri, seraya menundukkan wajahnya.
"Roman?!" Amanda sontak menoleh ke arah Roman, dan menyadari bila anak itu telah menghilang dari perhatiannya. "Dia sedang ku hukum, karena telat masuk kelas saat jam pelajaranku," jawab Amanda, yang seketika menaruh rasa iba, terhadap Roman.
"Berapa lama kau membiarkannya terus berdiri?" tanya kembali Herman, sambil berjalan dan berdiri tepat didepan Roman.
"Setengah jam," jawab kembali Amanda, yang semakin dan semakin merasa kasihan, saat mendapati Roman telah berdiri terlalu lama, hingga membuat anak itu luput dari perhatian, serta materi-materi pembelajaran yang telah dijelaskan olehnya.
"Roman, apa kau telah mengakui kesalahanmu?" tanya Herman.
"Ya," jawab Roman dengan singkat.
"Apa kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi?" tanya kembali Herman, demi memastikan kepercayaannya terhadap anak itu.
"Ya! Aku berjanji! Tidak akan mengulanginya lagi!" jawab kembali Roman dengan tegas.
"Push up seratus kali, selama satu menit! Cepat!" perintah Herman.
Mendengar perintah dari guru olahraga tersebut, membuat Roman yang sontak mendaratkan telapak tangannya keatas lantai, dan bertumpu seraya menahan tubuhnya yang terlentang lurus, hingga sejajar dengan kakinya. Ia kemudian melakukan gerakan push, sebanyak seratus kali.
Herman menatap stopwatch pada jam tangannya, yang telah diaktifkannya sebelum Roman memulai gerakan push up pertama.
Berselang tiga sembilan detik waktu berlalu, Roman telah mencapai gerakan ke 90-nya. Ia benar-benar terlalu cepat, dalam melakukan gerakan yang sangat-sangat dicintainya itu . "Sembilan sembilan! Seratus!" Roman pun berhasil menyelesaikan target push up, yang telah ditentukan oleh Herman.
"Luar biasaaa!!! Hanya dalam 45 detik, kau mampu menyelesaikannya?! Aku benar-benar bangga padamu! Hahahaha!" Herman tertawa terbahak-bahak, karena merasa senang dengan kemampuan dan kecepatan fisik Roman. "Kau lihat Amanda?! Anak ini akan membuat sekolah bangga dengan kemampuannya!" ucap Herman pada Amanda, yang tengah tercengang bukan kepalang.
Amanda tak menyangka, bila ada manusia, bahkan seorang pemuda seusia Roman, yang berhasil menyelesaikan seratus gerakan push, hanya dalam waktu 45 detik. "Roman! Sejak kapan kau mempunyai kemampuan seperti itu?!" tanya Amanda, yang tidak pernah berkedip sekalipun, saat melihat Roman melakukan gerakan pushup-nya.
Roman seketika tersenyum dihadapan Amanda, meski nafasnya tersengal-sengal. "Apa aku ... boleh duduk ... Bu Amanda?" tanya Roman, dengan nafas yang selalu keluar masuk secara cepat, dari mulutnya.
"Tunggu dulu, tunggu dulu ...." Herman berusaha menyelang pembicaraan Roman dan Amanda. "Amanda! Apa kau telah memberikan pertanyaan tentang materi pelajaranmu, pada Roman?" tanya Herman.
"Belum," jawab Amanda dengan singkat.
"Berikanlah pertanyaanmu yang paling sulit! Aku akan mentraktirmu makan di restoran nanti, jika Roman berhasil menjawab pertanyaanmu!" seru Herman, dengan penuh kepercayaan diri, dan kepercayaan yang telah diberikannya kepada Roman, atas kemampuan akademiknya.
Amanda sempat teremenung sejenak, seraya menunduk dan berfikir, tentang pertanyaan sulit apa yang akan diberikannya pada Roman. Ia pun sontak menoleh kewajah anak tersebut. "Roman, jawablah pertanyaanku ini, dengan baik dan benar!" seru Amanda, sambil berdiri dan bersedekap tangan, dihadapan Roman yang turut berdiri menghadapnya.
"Baiklah." Roman mempersiapkan dirinya, seraya membuka gerbang kecerdasannya, dan merasa yakin dengan kemampuan berpikirnya yang sangat cepat.
Amanda pun akhirnya memberikan sebuah pertanyaan yang sangat sulit, bahkan pertanyaan itu menjelaskan tentang materi pembelajaran tingkat tinggi, setara universitas. "Apa perbedaan overlapping atau tumpang tindih orbital elektron antara molekul H2 dan molekul F2?" tanya Amanda, yang merasa bila pertanyaanya, adalah pertanyaan yang paling sulit, bahkan mustahil untuk dijawab untuk siswa kelas satu sekolah tingkat menengah, seperti Roman.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Roman menghela nafasnya secara perlahan.
Bahkan, Herman yang turut merasa yakin bisa menjawab pertanyaan itu pun sempat tercengang, saat mendapati sulitnya pertanyaan yang dilontarkan oleh guru kimia tersebut. Namun, ia tetap yakin dengan kemampuan berpikir Roman, yang sangat-sangat cepat. "Roman! Ku beri kau waktu 30 detik untuk menjawab pertanyaan Bu Amanda!" tegas Herman.
Belum sempat Herman membuat aturannya sendiri, Roman telah berfikir dan menemukan jawaban yang tepat, dari berkas-berkas ilmu pengetahuan yang berada dalam perpustakaan otaknya.
"Roman! Ku tanya sekali lagi! Apa perbedaan overlapping atau tumpang tindih orbital elektron antara molekul H2 dan molekul F2?" tanya kembali Amanda, yang merasa ragu bila Roman tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu.
" H2 terdapat tumpang-tindih antara dua orbital S, F2 terdapat tumpang-tindih antara ujung orbital p dan ujung orbital p yang lain," jawab Roman dengan cepat, lugas, dan jelas.
Amanda pun terkejut dan tercengang bukan kepalang, setelah mendengar jawaban Roman, atas pertanyaan sulitnya itu. "Sungguh Hebat! Kau sungguh berba—"
(Tringgg!!! Tringgg!!! Tringgg!!!)
Bahkan, ia sampai merasa jantungan dua kali, saat mendengar suara bel pertanda pulang, berbunyi.
~To be continued~