
Roman mendapati lehernya terjerat kuat, oleh tangan berotot Herman. Ia pun berusaha mengelak sekuat tenaga, demi menghindari malapetaka yang sedang dialaminya itu.
Namun, Herman tiba-tiba melepaskan cengkeramannya, dan membiarkan Roman membungkuk seraya menghela sesaknya nafas.
Ia lalu mendorong tubuh Roman, dan membuat anak itu sontak terduduk diatas kursi. "Ada yang ingin kutanyakan ... tidak!" -Herman menduduki kursi- "Ada banyak hal yang ingin kupertanyakan padamu," ucapnya seraya duduk menghadap Roman, dengan tatapan yang sangat tajam.
Priscilla pun tetap bergeming, menyaksikan ayahnya yang seolah-olah seperti sedang mengintrogasi Roman. Gadis itu berdiri dibelakang Herman yang tengah duduk menghadap Roman, sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Apa yang akan dilakukan ayah terhadapnya? Dia sepertinya sangat membenci Roman, batinnya dengan wajah curiga.
Setelah mendapati kelegaaan nafas yang berhembus dari hidung Roman, Herman memulai pertanyaan pertamanya. "Apa ayahmu masih hidup?" tanya Herman dengan penuh keseriusan yang terpampang jelas diwajahnya.
Mendengar pertanyaan itu, Roman jadi marah. "Apa gunanya aku mengatakan ayahku masih hidup atau tidak pada orang sepertimu?!!" -ia menitikkan air mata- "Kau bahkan telah mengejek ayahku!!!" bentaknya pada Herman, dengan seluruh emosi yang tak dapat terbendung lagi.
Roman melanjutkan perkataannya walau diiringi air mata. "Kenapa kau sangat membenciku?!! Kenapaaaa?!! Apa salahku padamu?!!" bentak Roman dengan merahnya mata yang melotot, hingga air yang keluar dari mulutnya, menyembur wajah Herman.
Dengan tubuh yang terduduk diatas kursi, Roman sontak menyangga keningnya dengan kedua tangan. Ia tak ingin menunjukkan derasnya air mata, yang jatuh membasahi pipi. Roman sangat tidak bisa terima bila seseorang yang telah menyakitinya, membahas tentang keadaan mendiang ayahnya.
Hati yang bernaung dalam diri Priscilla pun tersentuh. Ia turut meneteskan air mata, saat melihat Roman melampiaskan segala emosinya pada Herman. "Ayaah!! Apa yang telah kau lakukan padanya?!" ucapnya seraya berusaha mendekati Roman.
Namun, Herman menghalanginya dengan merentangkan tangan kanan. "Diam Priscilla! Ini adalah urusan sesama pria," larang Herman dengan sedikit menolehkan wajahnya ke arah Priscilla.
Keheningan pun terjadi. Herman membiarkan Roman menenangkan hatinya, sebelum melanjutkan pertanyaan kedua. Ia ingin memastikan, bila anak itu menjawab pertanyaanya dengan benar. Aku telah memadamkan api semangat, yang berkobar dalam dirinya, batin Herman dengan terus menatap pada Roman.
Roman kemudian menyeka air mata dari kedua matanya. Rasa amarah yang sedikit menggebu-gebu, masih menjalar dalam relung hatinya.
Ia lalu menatap wajah Herman dengan pandangan yang sangat tajam. Bagaikan seekor jaguar yang tengah menyeringai dihadapan mangsanya.
"Apa kau sangat menyayangi ayahmu?" tanya Herman, setelah mendapati ketenangan dalam jiwa dan raga Roman.
Roman kemudian menundukkan wajahnya, setelah mendapatkan pertanyaan itu. Air matanya tetap mengalir membasahi lantai.
"Bahkan, hingga detik ini pun aku masih belum menerima kepergian ayahku ... meskipun ia tersenyum di saat terakhir hidupnya" -Roman menggertakan giginya- "Setelah mengetahui aku mendapatkan beasiswa, di sekolah ini," tutur Roman, seraya mengenang detik-detik terakhir dirinya bersama sang ayah. Perasaan dan kasih sayang Roman amatlah besar terhadap Gerrard Hillberg, mendiang ayahnya.
Herman pun sontak mendekatinya dan memeluknya dengan erat. "Maafkan aku nak!" -ia menitikkan air mata- "Kau benar-benar seorang pria sejati," ungkapnya seraya membasahi punggung Roman, dengan air mata. Penuturan Roman perihal sang ayah, telah berhasil meluluhlantakkan seluruh perasaan dalam hati Herman.
Roman lalu tercengang. Ia tak menyangka bila Herman akan memeluknya. Eratnya pelukan itu, membuat hatinya menjadi bimbang. Setelah memperlakukanku dengan tidak baik, kini dia malah memelukku! Apa maksudnya ini ?! batinnya.
Herman melanjutkan perkataannya seraya menangis tersedu-sedu. "Aku turut merasakan kesedihanmu, nak. Aku benar-benar tidak tahu bila ayahmu telah tiada ... maafkanlah segala perbuatanku, yang telah menyakiti dan menyinggung perasaanmu!" mohon Herman dengan tegas.
Herman menyesali segala perbuatannya terhadap Roman. Anak itu benar-benar telah menderita karena ulahnya. Ia lalu melepaskan pelukannya sambil memegang sebelah tangan Roman. "Pukul aku sekuat tenagamu! Balaslah segala perlakuan buruk ku sesuka hatimu! Jangan kasih aku ampun!" perintah Herman dengan nada keras. Ia kemudian melepaskan tangan Roman.
"Jangaaan ayah! Janga—"
"Diaaaam Priscilla!!! Jangan membuat ayahmu malu dihadapannya!" bentar Herman pada Priscilla, setelah mendapati putrinya itu berniat menghalangi niatnya.
"Roman!!! Demi membalas segala tindakan bodohku, cepat hukum aku!!!" sorak Herman dengan nada lantang.
Roman pun sontak menggerakkan tangannya ke arah samping, dengan membuka telapak tangan yang seolah-olah siap memberikan tamparan. Apakah dengan membalas perbuatannya, semua akan berakhir?! batinnya dengan segala kerisauan yang menerjang hati dan pikirannya.
Herman kemudian menutup matanya, saat melihat Roman bersiap untuk melayangkan tangan menuju pipinya. Priscilla, aku adalah seorang ayah. Aku adalah ayahmu. Aku telah bangga memiliki putri seperti dirimu. Dan, aku pun bangga dengan ayah Roman, yang telah memiliki putra sebaik Roman. Jika Roman menamparku, itu telah menjadi cukup untukku menyesali perbuatanku padanya. Mungkin ini adalah saat terakhirku menginjakkan kaki di sekolah ini. Maafkan ayahmu yang bodoh ini, Priscilla, batin Herman dengan segala penyesalannya.
Dan, Roman akhirnya melayangkan tangannya menuju wajah Herman. Priscilla pun turut menutup matanya yang sembab, karena tak sanggup melihat apa yang akan dilakukan Roman terhadap ayahnya.
Keheningan pun terjadi. Herman sudah tidak sabar menerima tamparan yang sangat amat keras itu. Mungkin tamparan itu adalah tamparan yang terakhir baginya, sebelum angkat kaki dari sekolah menengah Saint Luxury serta melepaskan tanggung jawabnya, sebagai seorang guru.
Namun, telapak tangan yang melayang secara horizontal itu pun, sontak berhenti, tepat tiga sentimeter disamping pipi Herman. "Aku memaafkanmu," ucap Roman.
Herman pun terkejut bukan kepalang, setelah mendengar perkataan Roman. Ia lalu membuka kedua matanya dan menatap ke arah anak itu. "Tidak! Kau harus melakukannya!" tampik Herman yang merasa belum puas dengan sikap Roman.
Priscilla pun sontak menarik Roman menjauh dibelakang punggungnya. "Sudah ayah! Sudah! Roman telah memaafkanmu! Jangan keras kepala!" tegur Priscilla seraya berdiri disamping Herman.
"Priscilla! Apa kau rela membiarkan harga diri ayahmu ini jatuh, bila seluruh sekolah mengetahui segala perbuatan yang telah ku lakukan kepadanya?" sanggah Herman yang belum juga puas dengan sifat pemaaf Roman.
"Aku yang akan memperbaiki harga diri ayah, dengan menyebarkan berita tentang Roman yang telah memaafkanmu! ... Jangan ulangi lagi kesalahanmu!" Priscilla pun berusaha membuang sejauh mungkin sifat keras kepala sang ayah.
Herman terdiam sejenak. Ia kemudian merenung seraya menatap ke arah bawah. "Biarpun Roman telah memaafkanku, aku tetap akan mengundurkan diri, dari sekolah ini," tutur Herman sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Mendengar perkataan sang ayah, Priscilla menjadi berang. "Ayah!! Jangan memutuskan seenaknya!!! Jangan terlalu berlarut dalam penyesalanmu!!!" -ia menatap Roman- "Roman, jawab! Aku kau puas bila ayahku mengundurkan diri?! Apa memang itu mau mu?!" Priscilla benar-benar tidak terima bila ayahnya mengundurkan diri dari sekolah.
Roman yang sempat menutup mata pun kembali membuka kedua matanya. Dengan menatap tajam ke arah sebuah medali yang menggantung di atas dinding, ia berkata: "Tidak! Kau tidak boleh mengundurkan diri sebagai guru olahraga!" -ia melangkahkan kakinya- "Kau harus membinaku di ekskul atletik ini ... sebelum, aku membawa pulang banyak medali, untuk sekolah ini," ucap Roman seraya menghentikan langkah kakinya didepan pintu.
Herman dan Priscilla pun sontak terkejut sambil menatap ke arah punggung Roman, yang telah berdiri didepan pintu. Mereka tercengang dengan ucapan salah satu anggota, dari ekskul atletik tersebut.
"Aku akan membuat sekolah ini terkenal karena prestasi olahraganya. Maka ... jadilah pelatihku, pak Herman." pungkas Roman seraya berlalu meninggalkan ruang ekskul atletik.
Priscilla membelalakan matanya dengan lebar. Mulutnya pun turut menganga dengan lebar. Ia tak menyangka dengan perkataan yang terlontakan dari mulut Roman. Lelaki itu, benar-benar membuatku jatuh cinta, batinnya seraya mengigit bibir bawah.
Ia kemudian menatap pada wajah sang ayah, yang masih memandang ke arah pintu . "Aaayaah?!! Kau dengar itu?!! Jangan membuatnya kecewa dengan sifat pesimismu! Sekolah ini telah mendatangkan seorang calon atlet, yang akan bersinar!!! Kau harus bangga denganya!!!" sorak Priscilla dengan perasaan bahagia dihadapan ayahnya.
Herman pun menangis seraya menampakkan senyuman diwajahnya. "Aku benar-benar telah membangkitkan jiwa tangguh seorang pemuda! -ia memeluk Priscilla- "Priscilla! Mari kita lihat, sejauh mana dia bisa membanggakan sekolah ini!!!" sorak Herman dengan penuh tangisan kebahagiaan, sambil menatap ke arah sebuah medali emas.
Medali emas yang menggantung diatas dinding ruang ekskul atletik itu, adalah satu-satunya medali yang diraih anggota ekskul atletik, sejak sekolahan menengah Saint Luxury di diresmikan.
Dan, seorang siswa berusia lima belas tahun yang bernama lengkap Herman Timothy, telah membawa pulang medali tersebut menuju ruang ekskul atletik, dua puluh tahun yang lalu.
~To be continued~