My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 73. Keinginan



Menjelang siang, hujan tak kunjung pulang. Langit tetap menggelap dengan serangkaian gemuruh petir, yang sangat menggetarkan jiwa. Hujan pun enggan untuk mereda, yang membuat Roman terpaksa melatih tubuhnya diruang fitnes milik keluarga Helsink.


Ruang fitnes terletak di seberang ruang aula. Dua ruangan yang sangat luas itu, berada di lantai tiga, dengan lantai empat yang masih banyak terdapat beberapa ruangan lainnya. Rumah Keluarga Helsink memiliki lima lantai, dan puncak lantainya digunakan untuk kegiatan-kegiatan besar.


Roman tengah antusias melatih kekuatan otot kakinya, mulai dari pangkal paha hingga belakang tumit, dengan berlari diatas sebuah treadmill. "Beruntung kak Valerie mengizinkanku, untuk menggunakan ruangan ini," batinnya seraya menambah kecepatan larinya.


Valerie sebelumnya menyarankan anak itu untuk berlatih diruang fitnes, yang terletak dilantai tiga. Ia sangat memahami seperti apa kegiatan Roman, dalam mengisi waktu senggangnya.


Sementara Valentine, tengah terduduk diatas sofanya, seraya menunggu kedatangan Rika, yang telah berjanji untuk mengunjunginya. "Rika lama sekali!" gumamnya dalam hati, sambil menggenggam erat ponselnya.


(Jedder!!!)


"Aaaaaaa!!!!" Valentine sontak terkejut, saat mendengar suara petir yang menyambar, disekitar area yang tak jauh dari rumah. "Romaaaaann!" teriaknya dengan penuh rasa ketakutan.


"Roman tidak ada! Sedang sibuk!" sambung Valerie, yang turut terduduk diatas sofa, dan berseberangan dengan sang adik. Ia tengah sibuk membaca sebuah majalah, seraya terduduk santai, dengan sebelah kaki yang melipat diatas paha.


Menyadari kehadiran sang kakak, Valentine pun sontak menghampirinya dan duduk disebelahnya. "Kaaakk!! T-t-taakuuut!" lirih Valentine menyelipkan kepalanya dan bersembunyi dari balik punggung Valerie.


"Aaaaa!" Valentine kembali terkejut, saat mendengar suara bel rumah berbunyi. Jantungnya selalu berdegup kencang tak karuan, karena menerima serangkaian bunyi, yang sangat mengagetkannya.


"Kau mengundang Rika?" tanya Valerie dengan wajah heran, sambil menolehkan wajahnya ke arah Valentine, yang tengah bersembunyi dari balik punggungnya.


"Iya—"


(Jedder!!!)


"Aaaaaaaa!!" Valentine terkejut dan berteriak untuk kesekian kalinya, hingga membuat Valerie merasa terganggu. Kakak Valentine itu sontak berdiri menuju meja televisi, yang terletak ditengah sudut sofa-sofa ruang tamu.


Valerie meraih remot gerbang yang terletak diatas meja TV. Ia lalu menekan sebuah tombol, yang membuat pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, agar Maxwell dan Rika dapat segera memasuki halaman rumah.


"Duhhh! Hujannya benar-benar sangat menyebalkan!" gumam Rika, yang tengah bersiap untuk turun dari mobil, dan keluar menuju teras rumah keluarga Helsink.


Maxwell menginjak pedal gas mobilnya, dan membawa Rika masuk kedalam garasi, yang terletak disamping rumah. "Nona, bolehkah aku berbicara dengan Roman?" pinta Maxwell.


"Boleh saja! Tapi ingat, jangan bersikap kasar dihadapannya!" tegas Rika, yang kemudian membuka pintu mobil, setelah Maxwell memasukkan dan merapatkan mobilnya disebelah mobil Valerie, yang terparkir lurus di pojok garasi.


"Baik nona." Maxwell pun turut beranjak keluar dari mobil.


Garasi rumah keluarga Helsink memiliki beberapa pintu akses, yang dapat membawa penghuninya masuk menuju beberapa ruangan yang terhubung dengan pintu tersebut.


Rika seketika membuka pintu akses, yang terhubung dengan ruang tamu, dengan tembok ruang makan sebagai pemisahnya. "Valentineeeee!!" sorak Rika dari sudut pojok ruang tamu yang sangat luas, dan mendapati Valentine tengah gelisah, seraya terduduk diatas sofa.


"Rikaaa! Kemarilah sayaaang!" seru Valentine sambil merentangkan kedua tangannya, ke arah Rika.


Rika lalu berjalan menghampiri Valentine, dan menyambut pelukannya secara hangat. "Valentinee, kau kenapa?!" tanya Rika dengan raut wajah heran, saat menatap wajah bestie-nya itu.


"Aku ta—"


(Jedder!!!)


"Aaaaaaa!!!" teriak Valentine, yang membuat Rika terkejut, dan turut bersorak bersamanya. Mereka saling memeluk tubuh satu sama lain, dengan raut wajah gelisah.


"Valentine! Berisik!" tegur Valerie, seraya menutup sebelah telinganya dengan sebelah tangan, dan sebelahnya telinganya yang lain, tersumpal oleh majalah yang berada dalam genggamannya.


Demi mencari ketenangan, Valerie segera menjauh dari kedua gadis itu. Ia lalu berjalan menghampiri tangga, dan bergegas menuju kamarnya. "Jika sudah dengan Rika, anak itu pasti heboh! Aku pun takkan bisa membaca dengan santai karenanya!" gumam Valerie, yang telah membuka pintu kamarnya, lalu masuk kedalam kamar tersebut, dan kembali menutup pintunya rapat-rapat.


Sementara di lantai tiga, di dalam ruangan yang penuh dengan berbagai macam alat-alat fitness, Roman telah mengganti metode pelatihannya.


Setelah berlari sejauh sepuluh kilometer, yang dimana angka kecepatan itu masih tertera dalam layar monitor treadmill, Roman kini sibuk melatih kekuatan otot-otot tangannya, dengan memukul-mukul samsak tinju yang menggantung di sudut pojok ruangan.


"Aku rasa, kekuatan pukulanku masih terasa sangat lemah," pikirnya, sambil memusatkan perhatiannya pada samsak tinju tersebut.


Maxwell yang telah mengetahui keberadaan Roman dari Valentine pun segera beranjak menuju lantai tiga. Ia sangat penasaran, seperti apa latihan yang tengah dilakukan, oleh anak teman seperjuangan itu.


Setelah berdiri tepat didepan pintu ruang fitnes, Maxwell segera membuka pintunya dengan penuh ketenangan. "Roman!" himbaunya dari balik pintu.


Roman seketika menghentikan gerakan tinjunya, lalu menatap ke arah Maxwell yang tengah berjalan menuju dirinya. "Orang itu?!" batinnya, seraya memandang dengan tatapan yang sangat tajam.


Demi membalaskan dendamnya pada pengawal Rika tersebut, Roman melangkahkan kakinya dan turut berjalan menghampiri Maxwell, dengan posisi kedua tangan yang mengepal erat didepan wajahnya.


Maxwell pun sempat tercengang, saat mendapati Roman membentuk posisi bertarung, layaknya seorang petinju profesional. "Hahaha ... pukul aku sepuasmu," seru Maxwell, yang turut membentuk posisi bertarungnya.


Mendengar perkataan Maxwell, membuat Roman menggertakan gigi berulang-ulang. Dengan raut wajah yang menyeringai tajam, ia lansung melepaskan pukulannya, ke arah wajah Maxwell.


(Wush)


Namun, Maxwell dapat menghindar tepat satu detik, sebelum kepalan tangan anak temannya itu, mendarat keras diwajahnya. "Masih kurang cepat! Ulangi lagi!" seru Maxwell, yang sepertinya sangat tertarik dengan usaha-usaha Roman, dalam memberikan sebuah serangan kepadanya.


(Wushh)


Suara angin pun terdengar selepas Roman melesatkan pukulannya, karena tak mampu mengenai wajah Maxwell, yang dengan lincah menghindari serangannya.


"Masih kurang cepat! Bahkan kecepatannya berkurang dari yang sebelumnya!" tegas Maxwell. Ia berusaha untuk memanasi Roman, agar anak itu semakin serius melawannya. "Ayolah nak! Tunjukan kekuatan dan kecepatanmu!" seru Maxwell, yang turut tersenyum menyeringai dihadapan Roman.


Mendengar perkataan Maxwell, membuat Roman menjadi kesal, karena merasa diremehkan olehnya. Ia kemudian melesatkan pukulannya berulang-ulang dengan sangat cepat, dan berharap dapat mengenai wajah Maxwell.


(Wushh Wushh Wushh Wushh Wushh Wushh ....)


Namun, tak satupun dari pukulan-pukulan keras dan cepatnya itu, mampu mengenai wajah pria teman mendiang ayahnya tersebut. Roman seketika membungkukkan badannya, dan bertumpu pada kedua lutut, seraya terus menatap tajam ke arah wajah Maxwell.


"Kau masih lemah, untuk bisa melawanku." Maxwell berbalik badan, dan berjalan menuju pintu ruangan. Ia berniat meninggalkan anak yang tengah kelelahan, dan nafas yang menggebu-gebu dalam dadanya itu. "Lanjutkan latihanmu," ucap Maxwell, yang membuat Roman semakin kesal, dan menyeringai tajam kearah punggung pria paruh baya tersebut.


Merasa tak terima karena telah diremehkan, Roman pun sontak berlari, dan bersiap melayangkan pukulannya pada kepala Maxwell, yang hampir berjalan mendekati pintu ruang fitnes.


"Aaaaaaaa!!" soraknya dengan raut wajah yang penuh dengan kebencian.


Maxwell telah menyadari apa yang akan dilakukan anak itu. Ia dengan sigap membalikkan badannya, dan menghindar secepat mungkin, lalu mengarahkan pukulannya ke arah wajah Roman.


(Wuuushh)


Beruntung pukulan itu berhenti tepat didepan wajahnya, yang membuat Roman sontak tercengang bukan kepalang, saat mendapati kepalan tangan Maxwell, telah berada sejarak dua sentimeter dari pandangan matanya.


(Tuk!)


Maxwell seketika menyentil kening Roman. "Nak, jangan pernah menyerang seseorang dari belakang. Dan jangan pernah bertarung, sambil menyimpan dendam terhadap seseorang. Kekuatan itu keluar bukan karena amarah, tapi saat kau tenang dalam melindungi dirimu, dan orang-orang disekitarmu," ucap Maxwell dengan penuh ketenangan.


Maxwell menurunkan kepalan tangannya, dari wajah Roman, dan kembali berbalik seraya berjalan menuju pintu ruangan. "Itulah yang telah diajarkan oleh ayahmu," ucap Maxwell sekali lagi, yang membuat Roman sontak teringat akan mendiang sang ayah.


"Tunggu dulu!" sorak Roman. Ia lalu berjalan menghampiri Maxwell, yang telah berhenti setelah mendengar sorakannya.


Maxwell pun kembali membalikkan badannya dan terkejut, saat mendapati Roman duduk bersimpuh setengah bersujud dihadapannya.


"Kau sepertinya sangat mengenal baik tentang ayahku, dan berteman dengan baik dengan beliau," ucap Roman dengan nafas letih yang menggebu-gebu dalam dadanya. "Tolong ajari aku seluruh ilmu bertarungmu! Aku mohoon!!!" Perkataan itu, benar-benar keluar dari dalam lubuk hatinya.


Mendengar perkataan dan keinginan, serta ambisi Roman dalam dunia seni bela diri, membuat Maxwell sontak tersenyum dihadapannya. "Berdirilah," seru Maxwell.


Roman lalu bangkit dan sigap berdiri dengan tegap, dihadapan Maxwell. Keringat yang mengucur deras dari ujung kepala hingga ujung kakinya itu, menjadi saksi atas keinginan terdalamnya, yang menginginkan Maxwell melatihnya ilmu seni beladiri.


Setelah mendapati Roman berdiri dihadapannya, Maxwell lalu memegang erat kedua pundak anak itu. "Baiklah. Tapi ingat, aku bukan mengajarimu untuk bertarung, melainkan ... mengajarimu ilmu seni bela diri," ucap Maxwell, yang merasa senang saat mendapati Roman sangat berkeinginan tinggi, untuk memperoleh ilmu-ilmu bela diri darinya.


~To be continued~