My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 21. Kesialan



Menjelang gelapnya malam, Valerie telah beranjak ke dalam mobil untuk kembali menuju rumah. "Andrea, aku titip Roman. Tolong bimbing dia," katanya dari dalam ruang setir kemudi.


"Tenang saja! Serahkan padaku!" ucap Andrea. Ia pun melambaikan tangan seraya menampakkan senyuman lebar pada Valerie.


"See you," kata Valerie sambil membalas senyuman Andrea dengan senyumannya. Ia pun tancap gas dan bergegas menuju rumah keluarganya.


Aku jadi tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersamanya lagi, batin Andrea. Pertemuan itu benar-benar diluar dugaanya. Ia pun kembali memasuki kafe dan mendapati Roman yang tengah tertidur pulas. Hari pertama bekerja malah tidur. Dasar murid Valerie, batinnya.


Andrea berjalan menuju Roman yang sedang menelungkupkan wajahnya diatas meja bartender seraya tertidur. Ia pun meletakkan tangannya pada pundak Roman. "Roman, bangun." -ia mengguncang-guncangkan pundak Roman- "Rooomaannn!" katanya.


Roman pun sontak berdiri. "Siap! Roman Hillberg! Siap bekerja sepenuh hati!" sorak Roman layaknya prajurit.


"Dasar! Bikin kaget saja!" gumam Andrea yang terkaget karena tindakan spontan Roman. Ia pun beranjak membelakangi meja bartender.


Perhatiannya seketika tertuju pada tempat pecahnya gelas yang dijatuhkannya tanpa sengaja. "Roman, bukankah banyak pecahan gelas disini?" tanya Andrea.


Roman yang masih berdiri pun menjawab: " Aku telah membersihkannya, selagi kak Andrea berbincang dengan Kak Valerie," ucapnya dengan sedikit senyuman. Jangan remehkan kepedulianku terhadap lingkungan yah! batin Roman yang hampir saja menyeringai.


"Good job!" Andrea mengacungkan jempolnya pada Roman. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang rehat karyawan. Semoga masih ada seragam yang pas untuk seukuran tubuh Roman, batin Andrea seraya berjalan menuju lemari penyimpanan aset karyawan.


Beberapa saat kemudian, Roman yang tengah menunggu didepan meja bartender pun dikejutkan dengan suara pintu kafe. Ia lalu menoleh ke arah pintu tersebut. Gawat! Ada pelanggan. Aku harus ... Haaahh?!! batin Roman seraya tercengang sejenak. Ia mendapati kehadiran seorang siswi yang turut mengenakan seragam sekolah menengah Saint Luxury.


D-d-dia? Satu sekolah denganku! Siaal! ... kenapa harus kesini?! batinnya. Roman pun ketar-ketir dengan kehadiran siswi tersebut. Ketakutan Roman semakin tak terbendung, saat gadis yang tengah sibuk memperhatikan ponselnya itu, berjalan menuju dirinya.


Ini gawat! Aku harus menghilangkan keberadaanku, mumpung dia sedang lengah! pikir Roman. Ia pun sontak berlari menuju meja bartender, dan menungging dibawah ruang kaki meja yang mampu menutupi seluruh tubuhnya, demi menghindari perhatian siswi tersebut.


Sementara, Andrea telah keluar dari pintu karyawan sambil menggenggam sebuah seragam yang terlipat rapih. Ia lalu menaruh perhatiannya pada seorang gadis yang tengah duduk di pojok ruang sebelah kiri, yang bersebelahan tak jauh dari meja bartender. Itukan ... Audrey! ... Tumben sekali dia berkunjung kemari, batin Andrea seraya menutup pintu ruang karyawan.


Sosok gadis yang dilihatnya dari kejauhan itu, ternyata Audrey Alexandra, adik kandungnya. Andrea pun sontak memanggilnya dari kejauhan. "Audrey! Auudreey!! ... Audreeeey!! ... dasar!" himbau Andrea dengan bersorak dari depan ruang karyawan. Namun, yang didapatinya hanyalah keheningan.


Merasa kesal karena dicuekin, Andrea bergegas menghampiri Audrey yang tengah duduk seraya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata tertutup. Ia lalu mendapati sebuah benda yang menutupi sepasang lubang telinga gadis tersebut. Pantas saja aku dicuekin! Headset Ini penyebabnya! batin Andrea. Ia sontak mencabut headset tersebut dari ponsel Audrey dan merebutnya dengan paksa.


Audrey pun terkejut. "Aduh, sakit!!!" -ia menatap tangan Andrea- "Aaaaahh! Jangan kak!" -Audrey meraih tangan Andrea- "Kaaaak, kembalikaan! Aku dapat headset itu dari giveaway penyanyi kesukaanku!" ucap Audrey dengan merengek, seraya berusaha merebut headsetnya kembali dari tangan Andrea.


"Pantas saja nilaimu turun! Tidak disekolah, tidak dirumah, benda ini tak pernah lepas dari kupingmu!" berang Andrea pada adiknya tersebut. Ia pun menggenggam erat headset itu, lalu menyembunyikannya dibalik punggungnya, demi menghindari usaha Audrey.


Kak Andrea? Audrey? Dirumah? Hmm ... Jangan-jangan mereka kakak beradik lagi! Sial sial sial! Kenapa harus kakak beradik yang selalu membuatku seperti ini! batin Roman. Ia masih tetap menungging dibawah meja sambil menguping pembicaraan dua kakak beradik itu. Kalau terus begini, aku pasti ketahuan! batinnya.


Dengan penuh kewaspadaan, Roman merangkak secara perlahan menuju ruangan tersebut. Jangan ketahuaaan ... Pleaseee!! ... Ayoo! Sedikit lagi sampai! batin Roman. Ia lalu membuka pintu ruangan dengan ekstra hati-hati dan merangkak layaknya bayi, menuju ke dalam ruangan.


Pelan-pelan. Here we go! ... Yes! batin Roman setelah menutup pintu rapat-rapat. Ia pun berhasil memasuki ruang karyawan dengan aman, tanpa memancing perhatian dari kedua kakak beradik yang sedang bergelut tersebut, hanya karena sebuah headset.


"Kaaakk!! Tolong kembalikaaan ... headset itu penyemangat hidupku," ungkap Audrey seraya duduk bersimpuh sambil memeluk paha Andrea yang tengah berdiri dihadapannya. Audrey pun mendongakkan wajah merengeknya itu pada sang kakak, demi mengharapkan kebaikannya.


Andrea akhirnya tak dapat menahan rasa ibanya, setelah melihat wajah imut yang memohon kepadanya itu. "Dasar!" -Andrea mengembalikan headset Audrey- "Lihat-lihat disekitar, sebelum menggunakan headset!" kata Andrea dengan raut wajah gemasnya.


"Iyaa kak iyaaa! Aku minta maaf, oke!" Audrey pun mengacungkan ibu jarinya ke wajah sang kakak, sambil menutup sebelah matanya. Keimutan wajahnya Audrey dengan rambut hitam serta ponytail yang berada di kedua sisi kepalanya, telah menjadi senjata yang ampuh untuk melawan kemarahan Andrea.


Andrea kemudian mendirikan tubuh Audrey yang sedari tadi duduk bersimpuh. "Tunggu aku diruang karyawan. Jangan mengganggu kakakmu yang sedang bekerja ini!" seru Andrea seraya mengelus kepala Audrey dengan penuh kasih sayang.


"Baik kak!" Audrey lalu mengiyakan seruan Andrea. Namun, ia tetap bergeming sambil sibuk memainkan ponselnya.


"Permisi!" kata salah seorang karyawan kantor dengan beberapa rombongan karyawan kantor lainnya. Mereka kemudian memasuki kafe seraya mengisi kursinya masing-masing.


Andrea pun terkejut kegirangan dengan kehadiran beberapa rombongan karyawan kantor, yang berbondong-bondong memasuki kafenya. "Selamat datang!" sambut Andrea. Ia pun sontak mendesak punggung Audrey agar segera menuju ruang karyawan. "Cepaaat sanaaaa! ... Buruaan!" katanya.


"Iya kak iyaaa!" -Audrey melangkahkan kakinya- "Dasar, tidak sabaran!!!" gumam Audrey setelah mendapati perlakuan Andrea. Ia pun beranjak menuju ruang karyawan, dengan pandangan yang tak pernah lepas dari ponselnya. Audrey tak menyadari bila Roman telah bersembunyi didalam ruangan tersebut.


"Huufftt ... beginilah nasib punya kakak diktator! Setiap hari selalu diatur ini-itu," gumam Audrey pada dirinya sendiri setelah memasuki ruang karyawan.


Audrey kemudian menduduki bangku karyawan yang membelakangi lemari penyimpanan. Ia terus menerus memelototi ponselnya tanpa rasa lelah sedikitpun. "Duhh ... ruangan ini sangat gerah!" kata Audrey. Hawa pengap diruangan itu, telah menembus ribuan lubang pori-pori dikulitnya.


"Huuuftt ... apakah tidak ada AC?" keluh Audrey seraya menatap setiap sudut langit-langit ruangan. Ia terus menerus mengibaskan telapak tangannya ke wajah. Kalau aku keluar, nenek-nenek itu pasti memarahiku lagi! batinnya.


Audrey pun sontak melepaskan kancing seragamnya satu persatu, hingga hanya menyisakan sehelai korset yang menutupi seluruh dadanya. "Pasti ada kipas dalam lemari!" -ia beranjak dari kursi- "Ya! Aku pernah melihat kak Andrea mengeluarkan kipas dari dalam lemari ini!" ucap Audrey seraya berdiri menghadap lemari penyimpanan.


Bagaikan seekor tikus yang bersembunyi dari kejaran kucing, Roman ternyata terlalu berlebihan dalam menjalankan aksi persembunyiannya. Ia pun telah mendengar segala keluh kesah Audrey tentang ruangan tersebut. Aaaahhh!! Kenapa aku malah bersembunyi disini?!! batin Roman dengan penuh penyesalan yang selalu datang di akhir.


Ia meringkuk seraya bersembunyi diruang sempit bagian bawah, dalam lemari penyimpanan tersebut. Kesialan pun seolah-olah menertawakan Roman, saat mendapati Audrey berencana membuka pintu lemari. Siaaaaal!!! Bagaimana ini??!! Jangan dibuka! Please!! Jangan dibuka!! batin Roman seraya ketar-ketir.


Hatinya pun berdegup sangat kencang melebihi guncangan bom Hiroshima, seandainya, pikir Author. Roman, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, sepertinya tak pernah lepas dari kesialan yang telah dituliskan oleh Author, kedalam lembaran takdirnya (skenarionya).


~To be continued~