My Obsession Is You

My Obsession Is You
Meldo menyekap Tesi



Di sisi lain, Meldo termenung dengan keemosian yang masih merenggut di jiwa nya. Dia sangat kesal hari ini. Terlebih lagi saat Tesi mengucapkan kata-kata yang tidak mengenakkan tentang dirinya tadi. 'sungguhkah Dia berkata begitu padaku?' batin nya tak percaya.



Tiba-tiba lamunannya buyar saat handphone nya berdering.


"Hallo, Bos? Kami sudah melakukan sesuai dengan perintah Anda. Dirumah itu sudah ada beberapa bodyguard dan pelayan untuk membantu melengkapi kebutuhan Anda nantinya." ucap seseorang di seberang sana.


"Bagus! Jangan sampai ada yang tau mengenai hal ini. Nanti saya kabari lagi apa kerjaan mu selanjutnya."


"Baik, Bos."


Meldo menutup telponnya. Tiba-tiba..


"Permisi! Maaf kalau saya lancang masuk ke ruangan anda tanpa izin! Tapi ada hal yang harus saya sampaikan kepada anda, Pak." ucap Tesi yang berusaha menahan gugup nya.


"Dasar manusia lancang! Mau ngapain kamu kesini?." ucap Meldo menatap Tesi dengan tatapan membunuh.


Tanpa berpikir, Meldo pun langsung menggengam kuat tangan Tesi dan menyeret nya jalan keluar.


"Lepasin!!! Sakittttt." teriak Tesi yang membuat semua penjuru kantor heboh.


Meldo menyeret Tesi menuju parkiran mobil. Lalu Meldo memaksa Tesi untuk masuk ke mobil.


"Masuk!." ucap Meldo dengan ketus.


"Nggak!." ucap Tesi yang melepas paksa tangannya dan berusaha lari dari Meldo.


Belum sempat Ia berlari, tapi Meldo sudah lebih dulu menangkapnya dan mengangkatnya dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.


Tidak peduli dengan berontakan Tesi, Meldo langsung menjalani mobil nya.


"Kita mau kemana sih? Jangan macam-macam ya Anda! Kalau mau pecat saya, pecat aja! Gak usah dikasih pesangon pun juga gapapa. Yang penting jangan ngelakuin hal-hal yang aneh! Dasar psikopat!." teriak Tesi kepada Meldo.


Meldo tidak menanggapi. Dia fokus menatap lurus kedepan dengan tatapan membunuh. Ia menaikkan kecepatan mobilnya karena berusaha menahan amarahnya.


Tesi pun berinisiatif mengambil handphone nya yang berada di kantong blazzer nya dengan tujuan untuk menelpon seseorang dan meminta bantuan. Karena Tesi merasa sangat takut dengan lelaki yang ada di sebelahnya itu.


Dengan hentakan yang cukup kuat, Meldo menepikan mobil nya dan merampas hp milik Tesi. "Kesinikan hp mu!." dengan sekali tangkap, Meldo berhasil mengambil hp Tesi.


"Mau lu apa sih? Lu punya penyakit? Lu gila? Hah? Apa yang mau lu lakuin sama gue? Lu mau bawa gue kemana?." ucap Tesi berapi api dan meneteskan air matanya.


Meldo menatap lekat wanita yang ada disampingnya itu. Dia menggenggam keras setir nya karena berusaha menahan amarahnya. Dia menguatkan rahangnya dan semakin memperkuat pegangan setir nya. Dan tiba-tiba...


Meldo mencium bibir Tesi dengan buas nya sampai tidak memberikan kesempatan pada Tesi untuk bertahan.


Tesi berusaha sekuat tenaga memukul Meldo. Apapun dilakukannya agar Meldo jera. Sampai akhirnya, Dia memukul tengkuk Meldo dengan sekuat tenaga sehingga membuat Meldo melepas ciuman buas itu dan memegang tengkuk nya yang sakit.


Dengan tangis yang menjulang, Tesi berusaha membuka pintu mobil, namun sungguh disayangkan pintu mobil itu terkunci dan hanya Meldo yang memegang kendali penguncian mobil itu.


"Buka pintunya, br3ngs3k!." bentak Tesi dengan sekuat mungkin.


Meldo menatap tajam Tesi dan mengalihkan pandangannya kedepan lalu melanjutkan perjalanan. Kali ini Meldo benar-benar gila membawa kendali mobil nya. Tesi terus saja berteriak bahkan menganggu Meldo yang sedang menyetir. Namun Meldo tidak menggubris! Dia tetap menyetir dengan keadaan gila nya.


Sesampainya dirumah yang sudah disiapkan oleh orang suruhannya, Meldo memaksa Tesi untuk turun. Saat turun, Tesi berusaha lari namun dengan cepat Meldo menangkapnya.


"Ikuti perintahku dan gak usah ngebantah!." ucap Meldo yang membentak Tesi.


Para pelayan dan bodyguard berbaris rapi menyambut Tuan mereka yang sedang berjalan menuju kamar.



Sesekali Tesi melihat keliling rumah ini. Rumah yang berada cukup jauh dari perkotaan. Rasa ketakutan nya pun semakin menggebu. 'apa sebenarnya yang diinginkan si gila ini?' Batin Tesi.


Meldo membuka salah satu kamar dan menarik Tesi masuk kedalam. Dengan segera Meldo mengunci kamar itu.


"Saya mohon jangan seperti ini. Anda pecat saja saya dan tidak usah kasih saya uang sepeser pun! Saya janji gak akan menceritakan ini pada siapapun dan saya akan berusaha pergi dari hadapan Anda. Tapi mohon, lepaskan saya dari sini." ucap Tesi dengan menangis sejadi-jadinya sambil menyimpuh kaki Meldo.


"Bangkit! Aku gak suka kamu kayak gitu." ucap Meldo yang berusaha untuk bersikap lembut karena Dia tidak mau melihat Tesi menangis ketakutan.


Tesi pun bangkit dengan gemetar dan menundukkan kepala nya. Meldo menatap Tesi dengan nanar dan tak habis pikir denga apa yang telah Dia lakukan.


'aku menyuruh orang-orang ku menyiapkan rumah ini untuk istirahat ku. Karena aku mau menenangkan diri. Tapi kenapa aku malah bawa Dia kesini? Dan.... Apa yang sudah kulakukan tadi? Kenapa aku bisa segila itu tadi?. " batin Meldo tak percaya.


"Istirahat lah. Urusan kita akan kita selesaikan nanti." ucap Meldo datar dan langsung beranjak dari kamar itu.


"Dia kenapa sih? Aneh banget jadi orang?! Terus ini dimana lagi? Aaaarrrggghhhh." Tesi frustasi dengan apa yang Dia alami hari ini.


Tak lama Tesi pun tertidur pulas dan sudah berada di alam bawah sadar nya.


Sementara di berbeda ruang, Meldo sedang meminum alkohol tanpa hentinya. Dia terus menyesapkan alkohol itu dan sangat menikmatinya.


"Oke, aku akan menyekap mu disini." gumam Meldo dengan sendirinya dan terus menuang alkohol kedalam gelas nya.


Tbc..