My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = END



Seminggu kemudian. Keadaan sudah semakin membaik, perdamaian mulai berpihak. Tesi cukup lega dengan semuanya, walaupun secercah rasa sakit hati itu masih terasa tetapi dia juga merasa lega karena sudah mencoba menerima keadaan sampai kepada perdamaian pun memihak padanya. Tesi sedang menyiapkan bekal untuk Nathan, dan ia pun akan mengantarkan Nathan ke sekolah.


"Ma, Om Juan mana?." tanya Nathan pada Tesi.


"Om Juan lagi sama Papa. Ada urusan katanya."


Ya, Juan dan Meldo jadi begitu akrab semenjak mereka memilih untuk berdamai dan melupakan masa lalu yang kelam itu. Sudah seminggu ini tampak jelas kebersamaan mereka dan bahkan sering menghabiskan waktu untuk begadang sekedar bermain catur dan kadang bermain judi, Ruslan dan Anton pun juga sering ikut bersama mereka berdua. Juan dan Meldo sebenarnya memiliki kebiasaan dan hobi yang sama, hanya saja keadaan yang membuat mereka menjadi susah untuk bercengkrama. Namun kini itu semua sudah berlalu, mereka telah menemukan arti perdamaian yang sesungguhnya.


Perceraian Tesi dengan Meldo sedang dalam proses. Tesi dan Meldo sudah sangat sepakat dengan ini, mereka akan bercerai dengan cara baik-baik, walaupun yang namanya perceraian itu bukan hal yang terlihat baik. Mereka memutuskan untuk berteman dan menghabiskan waktu membesarkan Nathan bersama-sama.


____


Di Indonesia..


Keadaan Caroline sudah cukup membaik dan sedang menjalani masa pemulihan. Ia sudah sadar sejak lama, sekitar beberapa hari yang lalu. Semenjak kesadaran nya, ia langsung mencari sosok Cleo, anaknya. Keterpurukannya kali ini benar-benar membuat dirinya sungguh menyesal. Mama Meldo menyaksikan betapa terharunya Caroline meminta maaf kepada anaknya sendiri pada waktu itu.


Kini Cleo tengah dipangku oleh Caroline. Cleo sedang menggambar dan Caroline dengan sabar membantu anaknya untuk mempercantik gambar nya. Sudah tidak terhitung berapa kali Caroline mencium kepala anaknya.


"Mama kapan keluar dari sini? Mama gak bosen tidur terus?." tanya Cleo pada Caroline.


"Kata Dokter sebentar lagi Mama boleh pulang kok. Nanti kalo Mama udah pulang, kita pergi liburan ya?."


"Jangan langsung liburan dong, istirahat dulu beberapa hari." ucap Mama Meldo yang tiba-tiba datang menghampiri.


"Oma.."


"Tante.."


Cleo langsung memeluk Oma nya dan begitupun dengan Caroline. Mama Meldo tersenyum melihat Cleo sebahagia ini. Dia sudah mendapatkan apa yang Dia mau. Doa - doa nya sudah terkabul dengan indah.


"Tante udah hubungi Meldo bolak balik tapi dia gak ada kabar juga, Line." ucap Mama Meldo pada Caroline.


"Memang nya Meldo kemana, tan?."


"Dia ke Korea. Tesi udah ketemu, ternyata selama ini Tesi menetap di Korea. Tante juga tau nya dari Ruslan."


Caroline terdiam sesaat, ia memikirkan sesuatu di kepalanya.


"Tante, boleh minta nomor Ruslan?."


"Boleh. ini." Mama Meldo menyodorkan handphone nya dan memberikan nomor ponsel Ruslan yang tertera disana.


Caroline segera mengambil ponselnya dan mengetik nomor Ruslan. Caroline menimang-nimang ponselnya dan menarik nafasnya dengan dalam.


"Tante mau beli makanan dulu ya."


"Oma, Cleo ikut."


"Ayo."


"Iya Tante, hati-hati."


Kini hanya tinggal Caroline yang berada di ruang rawat inapnya. Ia pun melakukan sambungan telfon dengan Ruslan.


"Hallo, Ruslan.."


##


5 hari kemudian..


Caroline dan Cleo sudah berada di Bandara, ia di antarkan oleh Johan. Mama Meldo tidak bisa ikut karena ada urusan mendadak, namun sebelum pergi tadi Mama Meldo banyak sekali menitipkan pesan dan perhatian pada keponakannya itu.


"Hati-hati ya, Line. Benerankan sampe disana Ruslan yang jemput?."


"Iya, Jo. Ruslan yang bakalan jemput. Makasih ya udah anterin kita."


"Oke. Semoga rencana lu ini berjalan dengan lancar dan semua bakal baik-baik aja ya, Line."


"Mudah-mudahan gitu, Jo. Yaudah, kita pamit ya kalo gitu?."


"Sip."


"Bye, Om Joo." ucap Cleo dengan riang nya pada Johan.


"Bye juga jagoan. Baik-baik ya kamu."


"Oke Om."


Kini Caroline dan Cleo melakukan pemeriksaan berkas-berkas keberangkatannya oleh petugas Bandara. Cukup lama melakukan proses itu dan membuat Cleo tidak sabaran. Pada akhirnya selesai, mereka pun di perbolehkan masuk ke dalam pesawat.


Tak berapa lama, pesawat itu lepas landas. Selama penerbangan, Caroline selalu bercanda dengan Cleo, bahkan Caroline juga memperkenalkan apa apa saja yang ada didalam pesawat, dan siapa-siapa saja yang bertugas didalam pesawat.


7 jam kemudian, mereka telah sampai di Korea. Disana sudah ada Ruslan yang menunggu dan melambaikan tangannya ketika melihat Caroline. Caroline pun mengajak Cleo untuk menghampiri Ruslan.


"Syukur deh kalian nyampe nya tepat waktu." ucap Ruslan pada Caroline.


"Iya, syukur banget gak ada masalah apapun, gak ada delay juga. Oh ya, dia udah di tempat?."


"Boleh."


"Yuk."


Caroline berjalan dengan Ruslan dan juga Cleo untuk menuju ke parkiran. Sesampainya, mereka masuk kedalam mobil dan bersiap menuju tempat yang akan mereka datangi.


"Pokoknya gue udah atur semuanya sesuai permintaan lu. Nah, nanti lu aja ya yang masuk ke restaurant nya? Dia duduk di meja 23. Biar gue aja yang anter koper-koper lu ke Hotel." ucap Ruslan pada Caroline.


"Makasih banyak ya, Ruslan. Makasih banget."


"Sama-sama."


Setengah jam memakan waktu dalam perjalanan, kini mereka telah sampai di sebuah restaurant yang cukup terlihat megah. Ada seorang wanita dengan anak kecil yang sudah menunggu disana.


"Dia duduk di meja 23 ya, Line."


"Oke. Kalo gitu gue turun ya."


"Semoga niat baik lu ini menghasilkan yang terbaik juga ya?."


"Aamin."


Caroline turun dari mobil, ia ditemani oleh Cleo. Dengan pelan, Caroline melangkahkan kakinya untuk masuk ke area restaurant. Caroline menarik nafasnya dengan dalam, jantungnya bahkan berdegub dengan kencang.


Sampai. Ia telah mendapati meja itu. Disana sudah ada seorang wanita yang sedang menyesap secangkir teh sambil memainkan ponsel nya. Mata Caroline berkaca-kaca melihat wanita itu, ia merasa sangat bersalah. Caroline pun mendekatkan diri ke meja bernomor 23 itu dengan menggandeng tangan anaknya.


"Tesi.." ucap Caroline tercekat.


Tesi yang sedang menikmati teh nya seketika meletakkan cangkirnya kembali lalu berdiri dari duduknya. Tesi sangat terkejut dengan kedatangan Caroline di hadapan nya. Air mata Caroline tidak terbendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya dan langsung memeluk Tesi dengan sesenggukan. Tesi terdiam, ia tidak langsung membalas pelukan Caroline.


"Tesi, maafin aku. Maafin aku, Tes. Aku mohon maafin aku." ucap Caroline dalam tangis nya dan semakin erat memeluk Tesi.


"Tenang dulu, Line. Mari, duduk dulu."


Tesi pun membantu Caroline untuk duduk. Sementara dua anak kecil itu saling berpandang heran melihat Mama mereka yang tiba-tiba berpelukan dengan keadaan menangis.


"Jadi sebenarnya Ruslan mau mempertemukan aku sama kamu ya?." tanya Tesi ramah.


"Iya, Tes. ini rencana aku. Aku bener bener mau minta maaf sama kamu. Aku mohon maafin aku, Tes. Kesalahan aku memang gak bisa di tebus dengan apapun. Kalau pun kamu gak mau maafin aku, gapapa. Aku emang pantes dapatin itu semua."


"Line, nanti aja maaf-maafan nya, mending kita ngobrol-ngobrol santai aja dulu. Oh ya, ini anak kamu?."


"Iya, Tes. Ini anak aku namanya Cleo. Itu anak kamu ya?."


"Iya, ini aku namanya Nathan."


Cleo dan Nathan hanya tersenyum sebagai tanggapan.


"Nathan, ajak Cleo main-main di tempat permainan gih sana." perintah Tesi pada Nathan.


"Kamu mau main? Disini ada tembak-tembakan, kita kesana yuk?." ajak Nathan pada Cleo.


Cleo ragu, ia menatap Mama nya dan Caroline pun menyetujuinya.


"Ayok." ucap Cleo. Mereka kini berjalan dan Nathan merangkul Cleo layak nya seorang sahabat yang sudah kenal sangat lama.


Kini tinggal Caroline dan Tesi yang ada disitu. Caroline kembali menangis dan selalu melontarkan kata maaf kepada Tesi.


"Line, kamu mau pesan apa? Kamu udah makan belum?."


"Tesi, aku mohon maafin aku."


"Aku memang benci banget sama kamu, Line. Benci banget! Kamu udah hancurin semuanya bahkan gak ada yang tersisa sekeping pun. Tapi percuma juga kalo aku benci sama kamu, yang ada dosa aku bertambah dan gak akan kembali seperti semula juga kan? Tapi satu hal... Kalo kamu mau berubah, silahkan. Aku temenin." ucap Tesi dengan tersenyum dan menggenggam lembut tangan Caroline.


Tangis Caroline semakin menjadi, ia benar-benar tak habis pikir ada manusia memiliki hati selembut hati Tesi. Rasa penyesalan nya semakin mendalam, ia pun memeluk Tesi dengan penuh kasih.


"Aku janji, aku akan pergi jauh dari kalian semua. Aku bakal bikin hidup kalian tenang dan tentram. Aku janji." ucap Caroline dengan terisak.


Tesi melepaskan pelukannya dan menatap Caroline dengan sendu.


"Memangnya kamu mau kemana?."


"Aku mau bawa Cleo ke Amerika. Aku bakal menetap disana dan membesarkan Cleo disana. Dan kemungkinan besar, gak akan balik lagi ke Indonesia."


"Selagi itu yang terbaik, ya gapapa. Semoga kamu selalu mendapat kebahagiaan yang berlimpah ya, Line." ucap Tesi dengan penuh perhatian.


'Kesakitan dihati aku gak akan bisa tertebus dengan apapun. Namun Tuhan pasti memberi berkat pada umatNya yang sabar, dan mencoba ikhlas menerima kepahitan itu! Aku bahagia sekarang, bahkan lebih dari apapun'.


END...


___


PENGEN BUAT SEKUEL NYA TAPI MASIH RAGU NIH 😂 SEKUEL TENTANG KEHIDUPAN NATHAN DAN CERITA CINTANYA 😂 GIMANA MENURUT KALIAN? 😂