My Obsession Is You

My Obsession Is You
Munculnya jiwa ingin melindungi



Tesi melaju pulang dengan wajah yang sumringah. Dia sangat bahagia karena diterima di perusahaan itu. Apalagi dengan gaji nya yang cukup menggiur, membuat Tesi ssmakin bersemangat untuk memulai kerja. Tiba-tiba kancah khayalan itu buyar ketika Dia mengingat kata-kata sang CEO.


'Menjadi Personal Assistant CEO itu tidak mudah. Tanggung jawab nya banyak. Emang kamu sanggup? Jangan main-main ya!.'


Tesi pun menyemangati dirinya sendiri dan meyakinkan bahwa semua nya akan baik-baik saja, kerjaan yang Dia lakukan kelak, pasti akan membuat Bos nya merasa bangga melihat hasil karya nya. Tak lama Tesi sampai dirumah.


"Bu.. Ibu.." ucap Tesi dengan semangat memanggil Ibu nya.


"Iya, Nak. Ada apa?."


"Bu, Tesi diterima kerja, Bu.." ucap Tesi sambil menunjukkan senyum lebar nya.


"Serius? Yaampun, Ibu ikut senang! Selamat ya, Nak. Ibu bangga sama kamu."


Mereka pun berpelukan. Sang Ibu langsung mengajak Tesi untuk merasakan masakan buatan Ibu nya.


🌞🌞


Keesokan harinya, Tesi dengan wajah sumringah nya berangkat menuju perusahaan yang sekarang menjadi bagian dalam hari-hari nya. Dengan memakai pakaian rapih, Tesi sedang membenahi sepatu yang akan Dia pakai untuk ke kantor.



Setelah selesai merapikan diri dan sarapan, Tesi segera berangkat menuju kantor dengan bersemangat. Saat sampai dikantor, Dia merasa heran dengan suasana kantor yang masih cukup sepi. Dia merasa baru hanya dirinya yang datang.


Karena merasa masih cukup sepi, Ia pun berkeliling sekitaran kantor dan menuju halaman samping kantor yang seperti taman. Saat menancapkan tatapan pada setiap sudut pemandangan, tiba-tiba Dia melihat seorang lelaki sedang berdiri disana. Ia pun tanda dengan gestur pria itu dan Dia menghampirinya.


"Hei.." sapa Tesi sambil menepuk bahu Pria tersebut. Dan pria itu menoleh kebelakang.



"Eh? Mbak Tesi. Pagi banget datengnya?." sapa Johan dengan ramah.


"Eumm.. Gak usah panggil 'mbak' lagi, Pak Jo. Saya gak enak." ucap Tesi sedikit gugup.


"What? Apaan sih manggil aku Pak? Emang aku se-tua itu apa?."


"Kan kamu bawahannya Pak Meldo, jadinya aku manggil kamu Bapak, biar keliatan lebih sopan aja.


"Gak usah segitunya kali. Panggil nama aja. Gue gak gila hormat kok."


"Tapi kan kita harus profesional."


"Ya deh, terserah kamu."


Dari kejauhan sana, terlihat seseorang sedang memandangi keseruan Johan dan Tesi yang saling melempar tawa.



Dengan wajah yang sedikit masam, Dia memandangi dua insan yang saling melempar tawa tersebut. Sadar atau tidak, dirinya dibakar api kecemburuan yang buta. Dia merasa aneh pada dirinya sendiri. Entah kenapa setiap melihat Tesi, Dia merasa ingin terus memandang sosok itu dan bahkan muncul jiwa ingin melindungi Tesi didalam dirinya.


Meldo berdiri dari tempat duduknya dan sedikit mendekat kepada Johan dan Tesi.


"Jam kerja udah mulai! Mau sampai kapan kalian cekikikan kayak orang gila gitu?." ucap Meldo dengan ketus yang tiba-tiba membuyarkan suasana.


Tesi langsung menunduk dan berusaha menghormati sang CEO.


"Apaan sih lu? Kita juga tau lah! Gak usah sampe segitunya." ucap Johan gak kalah ketus.


"Yaudah, ayo kita masuk dan mulai kerja." ucap Tesi yang mencoba mencairkan suasana.


Dengan wajah yang sulit ditebak, ketiganya masuk menyusuri gedung elite itu. Saat mereka berjalan, Meldo menyuruh Johan masuk ke ruangan nya, karena ada hal yang penting yang akan dia bahas.


Di ruangan Meldo..


"Lu gue pindah tugaskan!." ucap Meldo yang sembari menyalakan ipad miliknya.


"Hah? Ke..kemana?." ucap Johan dengan ternganga.


"Di perusahaan cabang! Lu yang bakal mengolah perusahaan itu. Gue percayain perusahaan itu sepenuhnya sama lu. Dan jabatan lj ini, bakal gue alihkan ke cewe yang bernama Tesi Tesi itu." ucap Meldo dengan jelas.


"Lu apa-apaan sih? Lu gak bisa suka-suka gini dong, Kak?." ucap Johan yang berdiri dari duduk nya dan menatap tajam sang CEO.


Meldo pun ikut berdiri dengan santai dan melewati Johan menuju jendela besar yang ada diruangannya sembari memandang indah nya Ibu Kota.


"Ada masalah yang mau gue pecahin. Dan ini berhubungan sama cewe itu. Lo nurut aja kenapa sih?."


Meldo pun menceritakan semua yang terjadi pada nya saat setiap kali melihat Tesi. Dengan segala bujuk rayu, dengan berat hati akhirnya Johan mau di pindah tugas kan. Namun Dia tetap tidak akan melepaskan kendali terhadap kakak nya, biar bagaimanapun Dia sudah sangat tertarik dengan Tesi.


---------


Pukul 11.30 wib..


Tok...tok...tok


"Masuk." jawab dingin sang CEO


"Maaf, apa Bapak manggil saya?." ucap Tesi dengan sopan.


"Ya, Ada beberapa proyek baru yang akan kita kembangkan! Kita meeting diluar beberapa menit lagi. Suruh supir siapkan mobil." ucap Meldo tanpa menatap sosok wanita cantik itu.


"Baik, Pak. Permisi."


Tesi pun keluar ruangan dan mencari sang supir untuk menyiapkan mobil sesuai dengan perintah Bos nya. Ia mengelilingi setiap sudut parkiran untuk mencari sosok sang supir. Tak lama, Ia menemukan sang supir sedang berada di pos satpam sambil menyesapkan secangkir kopi.


"Permisi, Pak." ucap Tesi ramah.


"Ya, Bu! Ada apa?." ucap sang supir.


"Pak Meldo menyuruh Bapak untuk menyiapkan mobil, Pak."


"Oh iya baik, Bu. Akan saya siapkan segera."


Setelah mobil sudah di siapkan, Meldo pun dengan berkharisma berjalan menuju parkiran. Mata Tesi terkagum-kagum melihat sosok itu.


"Saya nyetir sendiri. Saya akan pergi rapat sama Dia. Sini kunci mobilnya." ucap Meldo dengan gaya keangkuhan nya terhadap sang Supir.


"Oh begitu, baik Pak! Ini kunci nya. Hati-hati dijalan ya, Pak, Bu." ucap sang supir dengan ramah namun tidak di gubris oleh Meldo yang langsung masuk ke dalam mobil nya.


"Iya, Pak. Bapak silahkan istirahat dan jangan lupa makan siang, ya? Kami permisi dulu." ucap Tesi dengan ramah kepada sang supir.


Tesi pun masuk kedalam mobil dan mereka melaju menuju cafe yang akan mereka tuju.


Tbc..