
2 Bulan kemudian..
Setelah melakukan banyak usaha untuk mendapatkan Tesi kembali, akhirnya Meldo berhasil menemukan alamat rumah sang Nenek yang menjadi tempat persembunyian Tesi. Diketahui, Tesi pun bekerja di salah satu cafe populer yang ada di daerah Sleman.
Siang ini, ada seseorang yang datang ke cafe tempat Tesi bekerja. Orang ini hanya mau dilayani oleh Tesi saja. Tesi pun menuruti dan mengantarkan semua pesanan yang di pesan oleh orang itu.
"Maaf, Mbak. Boleh bicara sebentar?." ucap seorang itu.
"Ya? Kenapa, Mas?." ucap Tesi.
"Duduk aja, Mbak. Tidak usah sungkan."
"Begini, Mbak.. Saya punya tawaran fantastis buat Mbak."
"Ha? Ta..tawaran apa ya?." ucap Tesi sedikit gugup.
"Ikut saya ya, Mbak? Di mobil saya ada produk yang mau saya tunjukkan."
Tesi pun mengikuti langkah orang itu. Ia sebenarnya sedikit canggung dan memiliki perasaan yang tidak enak. Seseorang itu menyuruh nya masuk kedalam mobil.
Saat sudah masuk kedalam mobil, tiba-tiba..
Tlakk....
"Eh? Kok pintu mobilnya dikunci segala?." timpal Tesi dengan panik nya.
"Mbak? Mohon kerja sama nya. Ikut kami ya? Kami gak akan nyakitin Mbak." ucap seorang itu.
"Woi, lepasin gue. Tolooooonggggggg." teriak Tesi.
Namun ada seseorang lagi yang duduk dibelakang langsung menyuntik lengan Tesi hingga Ia pingsan. Suntik itu berisikan Bius hebat yang mampu membuat seseorang tak sadarkan diri seketika.
"Hallo, Bos? Mbak Tesi sudah berada di tangan kami. Bagaimana selanjutnya?." ucap seorang itu sembari menelpon Bos nya.
"Bawa Dia kerumah rahasia. Saya sudah booking pesawat di bandara XXX. Kalian langsung kesana dan langsung lepas landas menuju Ibu Kota dan rumah rahasia. Mengerti?."
"Baik, Bos."
Ya, semua ini rencana Meldo. Obsesi gila nya terhadap wanita itu sudah tidak bisa di bendung lagi. Ia sangat ingin berperan sebagai lelaki yang selalu setia menemani di sepanjang hidup wanita itu.
Setelah melewati berjam-jam perjalanan, akhirnya Tesi berhasil dibawa kerumah rahasia. Dia masih dalam keadaan pingsan. Meldo pun segera melaju menuju rumah rahasia untuk bertemu dengan wanita nya.
Sesampainya, Ia langsung berlari bak menerima hadiah mobil sport. Dengan nafas yang memburu, Ia langsung menuju kamar Tesi yang ditempati sewaktu itu.
Ia menatap lekat wajah cantik itu. Wajah yang dirindukannya selama ini. Wajah yang mampu mengalihkan seluruh amarahnya.
"Kenapa harus kabur-kaburan gini sih? Gak percayaan banget sama aku." ucap Meldo sambil menatap dan membelai lembut wajah cantik itu.
"Tolong siapkan makanan! Saya mau mandi." ucap nya pada seorang pelayan dan Ia pun segera beranjak dari kamar Tesi.
Dengan sigap Meldo menjalani ritual mandi nya karena Ia sudah tidak sabar mau menyambut Tesi atas kesadarannya. Ia ingin yang pertama dilihat Tesi adalah dirinya ketika Tesi sadar nanti.
Sementara di kamar Tesi..
"Hoeeekkkk... Bau minyak apaan nih?."
"Eh? Ini kamar bukan nya....."
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!."
Tesi sadar dan berdecak kaget, begitu banyak pertanyaan yang keluar dari bibirnya yang di akhiri dengan jeritan menggelegar. Beberapa pelayan yang menemani Tesi pun menutup telingan rapat-rapat karena mendengar suara lengking teriakan Tesi.
Meldo yang menyadari hal itu langsung dengan ligat menyisir rambutnya. Setelah selesai, Ia pun datang ke kamar nya Tesi.
"Udah sadar sayang?." ucap Meldo yang membuat Tesi kaget setengah mati.
"Meldo?." ucap Tesi sambil membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Lu ngapain sih nyulik gue? Lu ada masalah apa sama gue? Lepasin gue sekarang!." lanjut Tesi dengan kesalnya.
"Santai dong?! Ngegas amat."
"Tuan? Apakah Anda butuh sesuatu?." tanya seorang pelayan.
"Tidak ada. Kunci saja pintu nya dari luar. Saya mau mesra-mesraan dulu sama calon istri saya." ucap Meldo sambil menatap Tesi dengan senyum yang licik.
"Baik, Tuan." ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan kamar.
Tesi merasa takut karena saat ini hanya tinggal mereka berdua yang ada di kamar itu. Dia pun langsung melemparkan bantal kearah Meldo. Dengan sigap Meldo pun menangkapnya.
"Mau lu apa sih? Hah?." ucap Tesi dengan bentakan lalu Ia terkujur lemas di lantai sambil nangis sesegukan.
Meldo langsung iba dan tidak tega melihat wanita nya menangis. Dengan segera Ia memeluk wanita nya kedalam dekapannya. Ada pemberontakkan dari Tesi, Ia memukuli dada Meldo sejadi-jadi nya.
"Lu kenapa jahat banget sih orang? Hah?!." ucap Tesi yang masih dalam tangisannya.
"Aku gak jahat. Kamu nya aja yang gak percayaan sama aku makanya aku ambil tindakan kayak gini." ucap Meldo sambil membelai lembut kepala wanita yang ada didalam dekapannya saat ini.
Setelah melewati drama newek-newekan, akhirnya Meldo berhasil membujuk Tesi dan membawa nya menuju ruang tengah untuk makan. Di meja makan tersebut sudah tersedia aneka menu makanan kesukaan Tesi.
"Nih ada makanan kesukaan kamu. Kamu makan ya?." ucap Meldo lembut sambil membopong Tesi untuk duduk.
"Tau dari mana lu makanan kesukaan gue?." tanya Tesi ketus dan menatap tajam Meldo dengan mata nya yang bengkak karena nangis.
"Kan aku calon suami yang baik. Makanya aku tau."
"Dihh, NAJIS."
Para pelayan pun bergegas dan menyiapkan nasi di piring Tesi.
"Gue bisa sendiri, minggir lu semua!." ucap Tesi yang menghempaskan tangan pelayan itu.
"Soal Ibu dan nenek kamu, tidak perlu khawatir. Aku udah menghandle nya. Dan 2 hari lagi Ibu kamu akan balik ke jakarta." ucap Meldo di sela-sela makannya.
Tesi tidak memakan makanan nya. Ia hanya melamun dan memutar-mutar sendok nya. Memikirkan sang Ibu dan Nenek yang sangat khawatir dengan keadaannya.
"Dan.. Besok kita nikah! Jangan protes." ucap Meldo yang membuyarkan lamunan Tesi.
Tesi tidak bisa berkata-kata, tenaga nya seolah-olah habis untuk melawan dan berteriak. Yang bisa Ia lakukan hanya menangis dan menangis.
Tbc..