
Mobil Meldo terparkir rapih di pekarangan rumah Tesi. Sebenernya ini cukup membuat jantung Meldo berdegup kencang. Bagaimana tidak, Ia merasa bersalah karena telah menculik Tesi dan memaksanya menikah. Ia pun berpikir keras untuk mencari alasan pada Ibu Tesi. Meldo melamun sembari menundukkan kepalanya. Betapa yakin nya Ia, kalau Tesi pasti akan memberi tahu semuanya pada Ibu nya.
"Heh, mau sampe kapan lu bengong? Ayo turun." ucap Tesi yang membuyarkan lamunan Meldo.
Tanpa ada tanggapan dari Meldo, mereka turun dari mobil. Tesi dengan semangat mengetuk pintu rumahnya sembari memanggil nama Ibu nya.
"Eh, Tesi? Darimana aja kamu? Udah beberapa hari gak pulang-pulang, Ibu kamu nyariin kamu terus tuh." ucap salah seorang tetangga yang kebetulan lewat.
"Ehehe. i..iya, Bu. Saya ada tugas keluar kota makanya saya gak pulang dulu kerumah." ungkap Tesi dengan bohong.
"Emang kamu kerja apa sih? Kok sampe keluar kota segala? Terus pulang-pulang naik mobil mewah, bawa laki-laki lagi."
Meldo sedikit membuat tatapan tidak suka kepada tetangga Tesi itu. 'Ni mulut ema ema minta di bacok kayaknya!.' gumam Meldo. Setelah itu, Meldo langsung sedikit menjauh dan menelepon seseorang.
"Emm.. Saya..." Tesi sangat gugup menjawab pertanyaan dari tetangga nya itu.
"Kamu bukan pekerja yang aneh-aneh kan, Tes? Kerjaan kamu halal kan?."
Mata Tesi terbelalak saat mendengar ucapan tetangga nya itu.
"Heh, Bu. Dia ini istri saya, jaga mulut anda kalo bicara ya! Gak sopan banget jadi orang." ucap Meldo yang tiba-tiba sudah kembali dan sedikit meninggikan suaranya.
"Hah? Kapan nikah nya? Perasaan Tesi gak pernah berurusan soal pacaran, laki-laki dan sejenisnya deh." ucap sang tetangga yang semakin pedas mulutnya.
"Memangnya kalo mau jadi sepasang kekasih harus pacaran dulu? Langsung nikah kan lebih baik daripada pacar-pacaran! Dan itu yang saya lakukan sama Tesi, saya langsung nikahin Dia. Udah deh, Bu! Mending pikirin gimana caranya bisa masuk surga dengan tenang! Jangan julid mulu kerjaannya!." ucap Meldo dengan kesal nya.
"Mas nya gak hamilin Tesi duluan kan? Baru di nikahin?."
Semakin menjadi-jadi, Tesi langsung membujuk Meldo untuk menyudahi perdebatan ini. Namun, bukan Meldo namanya jika tidak mau melawan.
"Eh, Bu. Mending pergi deh sana, sebelum saya taburin boncabe tu mulut!." ucap Meldo yang seolah menantang sang tetangga.
"Tesii..." teriak Ibu Tesi yang secara tiba-tiba membuka pintu dan keluar.
Perdebatan dengan sang tetangga julid pun selesai, tetangga julid itu telah meninggalkan tempat saat Ibu Tesi keluar dengan teriak menyeringai.
"Bu, Ibu jangan teriak-teriak dong, malu denger tetangga." bisik Tesi pada ibu nya.
'Gak nyadar ni bocah! Padahal Dia juga sering teriak-teriak gak jelas.' batin Meldo.
"Masuk kalian, Ibu mau gelar sidang buat kalian. Masuk!!!." ucap Ibu sedikit membentak.
Meldo dan Tesi yang berdiri bersebelahan langsung saling menatap dan terheran-heran. Rasa ketakutan Meldo semakin menjadi. Selama Dia hidup, baru kali ini Dia takut melihat orang lain marah. Selama Dia hidup juga, hanya Mama nya lah yang Ia takuti. Meldo di kenal pemberani dan tidak takut dengan siapapun. Namun kali ini beda situasinya.
"Kamu masuk diluan ya? Aku mau telpon seseorang dulu." ucap Meldo membisik kepada Tesi.
"Iya, cuma kesamping situ bentar kok. Abis nelpon langsung masuk."
Meldo bergegas menuju samping rumah Tesi untuk menelepon Johan. Ia menyuruh Johan untuk menyiapkan sebuah rumah yang tidak jauh dari posisi kantornya.
"Ha? Buat apaan tu rumah?." ucap Johan di seberang sana.
"Lakuin aja perintah gue! Gak usah banyak tanya."
"Eh tunggu, lu pulang kerumah hari ini kan? Tante nyariin lu dari kemarin. Kelayapan mulu lu ah. Jajan diluar lu ya?."
"Heh, lu kalo bicara hati-hati ya! Sejak kapan gue suka begituan? Gue bejat juga minimal dan maksminal nya cuma minum doang, kaga sampe nyewa cewe buat tidur! Gak pernah gue gitu-gituan." ungkap Meldo dengan tegas dan langsung menutup sambungan telpon itu.
Memang benar, Meldo tidak pernah menyentuh wanita mana pun. Ia selalu menjaga diri nya untuk tidak menyentuh wanita. Seminimal dan maksimalnya, hanya saling berjabat tangan, itupun kebanyakan kepada rekan bisnisnya sebagai tanda penghormatan.
Setelah selesai menelpon, Meldo masuk kerumah Tesi. Disana Ia sudah mendapati sang mertua yang sudah diambang kemarahan, dan Tesi sedang menunduk ketakutan.
Dengan tajam Ibu menatap Meldo. "Masuk kamu!." ucap Ibu sedikit membentak.
Meldo melangkahkan kaki nya dengan sedikit gontai. Ia sangat gugup setengah mati. Pikiran nya melayang kemana-mana. Matanya hanya mampu menatap lantai dan tidak berani melirik kemanapun apalagi ke wajah Ibu mertua nya.
"Jelasin sama Ibu, kenapa kalian ke luar kota dan nikah? Ibu khawatir tau nggak! Ibu langsung balik ke jakarta saat itu juga pas tau Tesi mendadak pergi keluar kota sama kamu untuk berbisnis. Karena masalahnya Tesi gak ada pamit sama Ibu. Dan sekarang, pulang-pulang malah udah nikah." ucap Ibu yang benar-benar khawatir.
Meldo berpikir bahwa Tesi yang sudah menjelaskan diluan kepada Ibu nya saat Ia sedang menelpon tadi. Namun tiba-tiba..
"Mendengar penjelasan Ruslan dan Nita waktu itu, Ibu langsung emosi gak karuan. Bisa-bisa nya kalian nikah tanpa orang tua."
Meldo langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Tesi dan Ibu secara bergantian.
"Kenapa kamu heran begitu?." tanya Ibu kepada Meldo
"Ibu..Tau dari Ruslan dan Nita?." ucap Meldo gugup.
"Ya iyalah! Mereka yang ngasih tau. Ibu marah karena kalian nikahnya gak bilang-bilang. Jadi kapan kalian resepsi?."
Meldo dan Tesi saling menatap bingung. Karena mereka memang tidak ada menyinggung soal resepsi.
"Yaudah, pikir-pikir aja dulu. Ibu mau bikin minum dulu buat kalian." ucap Ibu dan langsung bergegas ke dapur.
Meldo dan Tesi merasa lega karena Ibu nya hanya marah sebatas itu saja. Selama di Jogja, Tesi memang belum cerita apapun soal penculikan dan alasan kenapa mereka pergi ke Jogja waktu itu. Tesi hanya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya.
Tbc..