My Obsession Is You

My Obsession Is You
Rumah untuk Ibu



Ibu kembali ke ruang tamu dengan membawa mampan berisikan jus timun yang manis. Tidak ada perbincangan yang terjadi diantara mereka. Apalagi Meldo, ini pertama kali nya Ia merasa gugup setengah mati.


"Nih, minum dulu." ucap Ibu sembari memindahkan gelas berisikan jus timun itu ke atas meja.


"Makasih, Bu." ucap Meldo ramah.


"Jadi bagaimana? Kapan kalian resepsi?." tanya Ibu kepada Meldo dan Tesi.


"Bu, nanti aja ya dibicarain? Soalnya Meldo lagi sibuk sama kerjaannya, begitu juga dengan Tesi." ucap Tesi kepada ibunya sembari mengusap bahu sang Ibu.


"Yaudah kalau itu mau kalian. Semoga kalian bahagia terus ya."


Tesi dan Meldo saling menatap ragu. Meldo sangat bersalah karena terlalu memaksakan kehendaknya menyuruh Tesi menikah dengannya.


"Bu, apa Ibu betah tinggal disini dengan dibaluti julid an para tetangga?." tanya Meldo tiba-tiba


"Ehehe. Ibu sih udah biasa, Nak. Ibu biarin aja lah, anggap aja angin ribut."


"Ibu mau gak kalo pindah rumah? Saya udah nyiapin rumah untuk Ibu." tanya Meldo dengan lembut.


Mata Tesi terbelalak dan langsung menatap Meldo terheran-heran. Begitu juga dengan Ibu yang merasa heran dengan tawaran Meldo.


"Aduh, Nak Meldo. Rumah ini aja udah cukup kok, Ibu udah sangat nyaman disini. Lagian banyak kenangan dirumah ini dan Ibu sangat berat jika meninggalkannya, Nak."


"Yaudah kalau Ibu mau nya git, saya juga gak bisa maksa! Tapi saya mohon, terima lah rumah pemberian dari saya ya, Bu? Itu sebagai tanda terimakasih saya karena Ibu sudah memberikan restu pada saya dan Tesi."


"Nak Meldo? Gak usah gitu, Nak. Ibu cuma mau kamu bahagiain Tesi dengan setulus hatimu dan tidak menyakiti Dia, itu saja sudah cukup kok."


"Bu? Saya mohon, saya memberi rumah ini tulus dari hati saya. Besok anak buah saya akan mengantarkan kunci rumah serta surat kepemilikan rumah kepada Ibu ya?."


"Sebelum nya makasih banyak, Meldo. Tapi..." ucap Tesi yang langsung di potong oleh Meldo.


"Yaudah, sekarang Ibu makan bolu pisang ini ya? Ini enak loh, Bu. Oh iya, pisau nya dimana?." ucap Meldo sambil melirik Tesi penuh kemenangan.


Tesi sangat kesal dengan Meldo yang memotong pembicaraannya. Dia tau, ini adalah akal-akalan Meldo untuk meluluhkan hati Ibu nya agar rencana penculikan nya bisa berjalan dengan panjang.


Tesi pun berdiri dan menuju pintu luar.


"Eh, mau kemana?." tanya Meldo pada Tesi.


"Cari angin!." balas Tesi dengan ketus.


"Ikut." ucap Meldo sembari bangkit dari duduknya.


"Bu, saya ikut Tesi dulu ya? Jangan lupa di makan ya Bu bolpis nya. Hehe." ucap Meldo sembari bergegas mengejar Tesi yang sudah keluar.


Tesi berjalan cepat menuju laundry untuk menemui teman-temannya disana. Demi apapun Dia sangat rindu dengan suasana di laundry. Dia sedikit menyesal telah melamar pekerjaan di Christopelago Group yang akhirnya membuatnya jatuh kedalam genggaman Meldo seperti saat ini.


"Tungguin dong, Tes." teriak Meldo.


"Aku kan mau kenalan sama lingkungan toxic kamu ini haha."


"Toxac toxic toxac toxic. Gue mau ke laundry! Jangan buat ulah ya lo disana, awas aja!."


"Oke siap." ucap Meldo dengan senyum sumringah nya.


Mereka pun berjalan menuju laundry. Meldo memandangi sekitar lingkungan dengan memutar bola matanya kesana kemari. Saat sedang berjalan, mereka tidak sengaja menjumpai anak-anak yang sedang bermain comberan. Dengan kaget Meldo menelan ludahnya dan Ia sangat merasa jijik.


"Om, mau main bareng? Sini gabung sama kita." ucap salah satu anak kecil kepada Meldo dengan cengir kuda nya.


"Dih, Males. Jorok banget sih kalian? Pulang sana!." ucap Meldo kepada anak-anak itu.


Tesi hanya bisa tertawa dengan tingkah Meldo dan anak kecil itu. Maklum, rumah Tesi masuk kedalam wilayah gang yang banyak pemukiman warga dan dipinggiran gang terdapat parit-parit besar yang di sambungkan langsung kearah sawah.


Tidak sampai 5 menit, mereka pun sampai di laundry. Disana terdapat Nita yang sedang menyusun beberapa pakaian yang sudah rapih di cuci dan di setrika, tinggal menunggu diambil oleh pemiliknya saja.


"Nitaaaaa." teriak Tesi dengan semangat.


Nita sontak kaget melihat kedatangan Meldo dan Tesi. Nita langsung fokus kepada Meldo yang sedikit menatap nya dengan tajam.


"Nga..ngapain kalian kesini?." ucap Nita dengan nada pelan.


"Lah? Apaan sih lu? Kan gue kangen, kenapa? Lu takut sama si Meldo? Gapapa, Dia gak makan orang kok." ucap Tesi kepada Nita.


"Santai aja kali. Gak usah gitu juga ekspresinya." ucap Meldo sambil menyandarkan dirinya di pintu laundry dan mengerayapkan matanya memandangi setiap sudut yang terdapat di laundry itu.


"Kalian mau minum apa?." tawar Nita.


"Minum? Jadi ini sebenarnya laundy apa cafe? Haha." ucap Meldo dengan tawa kecil nya.


Seketika Nita melihat Meldo tanpa henti. Ia seakan tertarik dengan pemandangan yang didapati nya sekarang. 'Yaampun ternyata Dia ganteng juga kalo ketawa gitu.' gumam Nita dalam hati.


"Gak usah lah, Nit. Udah lanjut aja kerjaan lu. Sini gue bantuin sekalian." ajak Tesi dan menarik tangan Nita.


Saat sedang melangkah, tiba-tiba kaki Nita terpleset plastik putih yang guna nya untuk membungkus pakaian yang sudah rapih. Nita terjungkal hebat dan akan jatuh.


Namun tiba-tiba ada yang menangkapnya dan memeluk tubuhnya dengan erat agar Dia tidak terjatuh, dan Nita pun dengan reflek merangkul tangannya di leher pria itu. Ya, itu Meldo, Meldo yang dengan sigap menolong Nita. Kini mereka saling menatap satu sama lain, terdiam dalam tatapan yang tidak bisa di tebak apa maknanya.


Beberapa saat, Meldo dengan cepat melepas Nita dari pelukannya. Dengan perasaan yang tidak bisa terbilang, Ia segera pergi keluar dari laundry itu.


"Nit? Lu gapapa kan?." tanya Tesi dengan khawatir.


"Hah? Eh, iya..aku..aku..gapapa kok." ucap Nita dengan kegugupan yang luar biasa.


Sementara diluar Meldo menenangkan dirinya dari kejadian itu. Dia sangat tidak enak hati menolong wanita lain di hadapan istrinya. Dia takut istri nya akan berpikir yang tidak-tidak.


Tbc..