My Obsession Is You

My Obsession Is You
Masa lalu



8 Tahun yang lalu..


California, Amerika Serikat.


//


"Meldo, kamu gak pulang?." tanya Caroline.


"Kamu mau pulang? Aku mau jumpain Dosen aku dulu buat diskusiin ujian praktek susulan."


"Yaudah, aku tungguin kamu aja kalo gitu."


"Kamu yakin? Kayaknya ini bakalan lama deh, soalnya si Mr. Jack lagi melakukan riset buat penelitiannya gitu."


"Iya yakin. Lagian, aku takut di apart sendirian! Apalagi si Johan katanya bakalan pulang malem hari ini."


"Hehe. Yaudah deh, yuk."


Meldo merangkul punggung Caroline dengan bersahabat. Ia sangat menyayangi sepupu nya itu. Ia bahkan berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi Caroline dimana pun dan kapan pun. Kini mereka telah menaiki lift untuk menuju ruangan sang Dosen yang ingin di temui Meldo.


"Kamu udah makan, Lin?." tanya Meldo perhatian.


"Udah! Kamu pasti belum kan? Nanti abis ini makan ya?."


"Okee."


Tak lama, lift itu terbuka dan Meldo pun langsung melangkah kan kaki nya keluar dengan diikuti oleh Caroline di belakangnya. Caroline menyimpulkan senyumnya saat Meldo merangkul pundak nya dengan mesra. Kini mereka telah berdiri di depan ruangan sang Dosen.


"Kamu tunggu sini ya? Aku masuk dulu." ucap Meldo pada Caroline.


Caroline hanya mengangguk sebagai persetujuan. Dia memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan itu. Berapa lama pun Meldo menjalani urusan nya didalam ruangan sana, Ia akan tetap setia menunggu dan menemani Meldo.


2 jam kemudian, Meldo keluar dari ruangan itu dan langsung mendapati Caroline yang sedang tertidur dengan pulas nya di kursi panjang yang terdapat di depan ruangan.



Meldo tersenyum melihat Caroline yang sedang tertidur pulas saat ini. Ia bersyukur memiliki sepupu yang baik seperti Caroline, yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun, yang selalu ada disaat Meldo sedang butuh, dan pastinya selalu setia menemani Meldo kemana pun.


"Lin?." ucap Meldo dengan lembut berusaha membangunkan Caroline.


Perlahan, Caroline mengerjapkan matanya dan tersadar kalau Ia sudah ketiduran di bangku panjang itu. Dengan cepat, Caroline merapikan rambut dan mengucek matanya saat Ia sadar kalau Meldo ternyata sudah ada di hadapannya.


"Kamu udah lama selesai nya? Maaf ya, aku ketiduran." ucap Caroline dan segera berdiri dari duduknya.


"Udah, sekalian konsul ujian akhir tadi makanya lama."


"Bagus deh."


"Yaudah, kita pulang yuk?."


"Yuk."


Meldo dan Caroline berjalan keluar dan memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka. Letak apartemen mereka tidak jauh dari kampus, cukup dengan berjalan kaki saja pun sudah bisa sampai menuju apartemen itu. 6 menit berjalan kaki, kini mereka telah sampai dan Meldo menekan password untuk membuka pintu apartemen mereka.


Caroline dengan sigap langsung menyiapkan makan untuk mereka berdua. Dengan bahan-bahan yang ada di kulkas, Caroline memasak nya dengan besitan ide yang mengalir di otaknya.


"Nanti aja masaknya, Lin." ucap Meldo.


"Kamu belum makan dari tadi pagi, Do."


"Tapi aku gak laper. Cuma lagi rindu aja sama masakan Indonesia."


Seketika Caroline memberhentikan aktivitas nya dan menatap bebas kearah depan. Ia berfikir sejenak, sebentar lagi mereka akan lulus, apakah Meldo kembali ke Indonesia atau akan menetap disini bersamanya.


"Meldo.."


"Hm?."


Meldo tertawa ringan dan bangkit dari duduknya mendekati Caroline, lalu mengusap lembut kepala sepupu yang sangat disayangi nya itu.


"Aku bakalan menetap disini kok temenin kamu." ucap Meldo sambil menunjukkan senyum termanisnya.


Caroline pun membalasnya dengan senyuman yang tidak kalah manis. Ia sangat senang mendengar Meldo akan menemaninya dan menetap disini bersama. Manik mata itu saling menatap, menatap dengan rasa sayang di hati masing-masing.


"Aku pulang!." teriak Johan di ambang pintu.


Mereka menoleh kearah sumber suara. Johan sudah menentang banyak sekali kemasan makanan berupa cemilan. Johan yang pelit, langsung berlari dan membawa cemilan itu ke kamar nya.


"Durhaka ya kamu." teriak Meldo dengan derai tawa.


Berbulan-bulan kemudian..


Kini Meldo dan Caroline tengah sibuk melakukan ujian akhir untuk kelulusan mereka. Meldo sangat senang dengan ini karena Ia sebentar lagi akan lulus dan mulai bekerja untuk menitih karir nya sebagai seorang CEO yang Ia idam-idam kan sejak kecil.


Caroline pun mencari Meldo di jurusan nya, namun tidak ketemu. Ia berinisiatif menunggu Meldo di bangku taman samping. Bangku taman itu memang sudah menjadi tempat perjanjian mereka jika mereka tidak saling bertemu, maka mereka duduk disitu untuk saling menunggu satu sama lain.


Dari kejauhan, Caroline menemui sosok Meldo yang sedang berbincang dengan temannya seorang bule yang juga perantau disini. Diketahui, bule ini berasal dari London, Inggris.


'Meldo selalu berkarisma. Buat aku makin cinta aja sama Dia.' gumam Caroline sambil menyimpulkan senyumnya.


"Hai, Lin? Udah lama nunggu ya?." ucap Meldo.


"Enggak kok! Baru aja, hehe."


"Kita ke supermarket dulu ya? Tapi nunggu Johan bentar, soalnya Dia mau ikut."


"Oke."


Tak lama Johan langsung datang menghampiri mereka dengan senyum sumringahnya. Caroline tidak suka dengan ini, Ia ingin hanya berdua saja bersama Meldo. Namun mau tidak mau Ia juga harus menuruti apa yang Meldo perintahkan.


"Udah selesai?." tanya Meldo pada Johan.


"Udah, Kak. Yuk, langsung aja."


Kini mereka berjalan menyusuri ramainya jalanan perkotaan. Ada banyak sekali yang mereka beli di supermarket, mulai dari cemilan hingga kebutuhan pokok sehari-hari. 1 jam sudah mereka memilih belanjaan yang mereka butuhkan, kini saatnya mereka ke kasir untuk membayar semua belanjaan tersebut.


"Meldo, abis ini ikut aku bentar ya?." ucap Caroline.


"Mau kemana?."


"Udah, ikut aja."


Meldo pun menurut. Setelah selesai melakukan pembayaran, kini mereka berjalan menuju apartemen. Meldo menyuruh Johan untuk membawa semua belanjaan ke dalam apart. Sementara Meldo mengikuti perintah Caroline untuk berjalan menuju rooftop gedung apartemen itu.


"Kita ngapain kesini?." tanya Meldo sambil menikmati angin sejuk yang mengudara.


"Aku mau bicarain sesuatu sama kamu. Sesuatu yang selama ini berkecamuk di hati aku."


"Ha?."


"Meldo, aku jatuh cinta sama kamu."


Seketika Meldo terkejut, Ia reflek menatap wanita itu dengan mulut ternganga tak percaya. Apa yang barusan didengarnya seperti petir yang sudah menyambar telinga nya sampai ke ujung bagian dalam.


"Kamu jangan becanda lah, Lin. Haha." ucap Meldo sambil tertawa.


"Aku serius, Meldo. Aku jatuh cinta sama kamu." ucap Caroline sambil menggenggam tangan Meldo dengan erat.


"Kamu apaan sih? Kita ini saudara kandung, kita sepupu, kamu anak tante aku dan kamu keponakan Mama aku! Jangan ngawur gitu deh, Lin."


Meldo langsung beranjak meninggalkan Caroline di rooftop itu. Ia sangat terkejut dengan apa yang sudah di ungakap kan oleh Caroline barusan. Selama ini, Caroline salah menilai perhatian Meldo. Perhatian Meldo serta kepedulian Meldo terhadapnya, membuat hati itu bergejolak merasakan hal yang lain. Caroline menangis melihat Meldo berlalu meninggalkan nya sendirian di rooftop itu.


Tbc..