My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = Perasaan yang tak biasa



Setelah melihat foto yang ada didalam dompet Anton, Ruslan terdiam sejenak dengan membelalakkan matanya. Dia tau pasti bahwa foto wanita itu adalah Nita, wanita yang Ia cari selama bertahun-tahun, wanita yang Ia rindukan selama bertahun-tahun juga.


"Maaf, Pak Ruslan? Dompet saya." ucap Anton dan membuyarkan lamunan Ruslan.


"Oh, ini Pak. Maaf kalau saya lancang."


"Tidak masalah. Justru saya yang tidak enak karena Bapak harus repot mengambilkan dompet saya yang jatuh."


"Baiklah, Pak. Selamat beristirahat kalau begitu."


"Terimakasih."


"Sebentar lagi saya akan mengirim jadwal pertemuan ke e-mail Bapak."


"Iya, Pak."


Ruslan pun berlalu meninggalkan Hotel dan langsung menemui Meldo di kantor. Dengan tergesa-gesa Ia masuk ke ruangan Meldo dan itu tentu mengagetkan Meldo yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Kenapa sih lu?." tanya Meldo dengan sedikit jutek.


Ruslan terdiam sejenak, Ia banyak berfikir, jantung nya berdegup dengan kencang. Ia tidak menyangka apa yang Ia dapatkan di dompet Anton saat tadi.


"Enggak, gapapa." ucap Ruslan dan Ia berusaha menenangkan dirinya.


"Oh iya, gimana?."


"Gimana apanya?."


"Ya gimana sama pihak mereka? Udah nyampe? Berapa orang yang dateng? Udah dibawa ke Hotel?."


"Oh, udah kok udah. Yang dateng cuma asisten pribadi nya aja."


"Oke, gak masalah. Besok suruh sarapan bareng kita di Hotel."


"Oke."


Ruslan pun beranjak pergi meninggalkan Meldo. Meldo merasa heran dengan sikap Ruslan hari ini, Dia bahkan sangat berbeda dari biasa nya.


🌞


Keesokan harinya, Anton tengah bersiap untuk mengadakan sarapan pagi bersama. Karena ini sekedar sarapan, Ia pun berniat mengajak Nathan sebentar, Nathan tentu sangat senang dengan ajakan itu. Tadi malam Ia sudah berbincang dengan Meldo melalui telfon dan Meldo pun mengundang Anton untuk sarapan bersama pagi ini.


Sementara di sebuah meja makan bundaran sudah ada Meldo yang menunggu sambil memainkan i-pad nya bersama Ruslan. Tak lama, muncul lah Anton dengan menggendong Nathan.


"Selamat pagi, Pak Meldo. Maaf sudah menunggu lama." ucap Anton dengan sopan.


Meldo menoleh ke sumber suara dan pandangan pertama nya langsung tertuju pada Nathan, Ia menatap Nathan begitu dalam dengan perasaan yang tak biasa, perasaan yang membuat jiwanya menjadi teduh sekaligus sedih. Meldo tidak mengerti ini perasaan apa, semua yang bahagia telah merasuki jiwanya saat Dia menatap sosok anak kecil itu. Mata Meldo menjadi berkaca-kaca, Ia bingung kenapa Ia begitu terharu sekaligus bahagia melihat anak kecil yang tidak Ia kenal ini.


"Pak?." ucap Anton dan membuyarkan Meldo.


"Oh, iya Pak Anton." balas Meldo sambil menjabat tangan dengan Anton.


"Silahkan duduk." sambung Meldo.


"Hai, Om." ucap Nathan pada Meldo sambil menunjukkan barisan giginya.


"Nathan, Uncle kan sudah bilang, jangan nakal." bisik Anton pada Nathan.


"Ha--hai." balas Meldo dengan gugup.


"Maaf, Pak. Ini keponakan saya, kalau begitu saya izin sebentar mengantarkan nya ke kamar terlebih dahulu."


"Tidak usah, Pak. Dia sarapan sama kita aja disini, gapapa kok."


"Baiklah, Pak."


Tak lama, pelayan pun datang dengan membawa beberapa menu sarapan pagi ini. Nathan kembali heboh ketika melihat susunan sarapan yang begitu mewah.


"Wah, bagus banget. Dirumah Nathan gak disusun kayak gini makanannya." ucap Nathan dengan polosnya.


"Nathan.." bisik Anton pada Nathan.


"Oh iya? Jadi gimana dong?." tanya Meldo dengan senyum merekahnya.


"Mama yang suapin, Om."


"Wah, Mama kamu berarti perhatian sama kamu."


"Iya, Om. Mama aku baik! Sayang banget Mama aku gak mau ikut kesini."


"Kapan-kapan main kesini lagi, ya? Ajak Papa sama Mama nya sekalian."


"Nathan gak punya Papa, Om."


Sontak, membuat Meldo terpaku, pun dengan Anton dan Ruslan yang membelalakkan mata mereka. Mereka semua saling menatap satu sama lain.


"Iya, Pak. Keponakan saya ini lahir tanpa di dampingi seorang Ayah, tapi untungnya Dia tumbuh sehat dan juga cerdas." ucap Anton.


"Kalau boleh tau, kemana Ayahnya?."


"Saya juga tidak tahu pasti, Pak. Tapi yang jelas, mereka bercerai dan cerita selanjutnya saya tidak tau bagaimana. Ibu nya sangat terpukul jika mengingat masalalu itu, sampai sekarang saja saya tidak tau siapa nama Ayah nya, serta ciri-ciri fisik Ayah nya pun tidak tau, itu karena Ibu nya gak mau memberi tau karena Ibu nya gak mau mengungkit masalalu menyakitkan itu lagi."


"Oh gitu. Kamu tetap semangat ya, Nathan. Walaupun Papa kamu gak ada, kamu masih punya Mama yang hebat kok, yang sayang sama kamu, yang selalu menemani kamu kemanapun." ucap Meldo penuh perhatian.


"Iya, Om."


Ruslan yang mendengarkan cerita Anton dengan seksama pun langsung ingat dengan kisah Meldo dan Tesi, Ia berkeringat dingin saat ini dan memandangi Nathan secara seksama.


'Sekilas ni anak mirip Meldo. Apa jangan-jangan...' gumam Ruslan dalam hati.


Ruslan tengah bergoncang dalam kebingungan, keringat dinginnya semakin mengucur dan jantungnya berdegup dengan kencang.


'Apa ini sebuah titik terang**?.' guman Ruslan dalam hati.


Tbc...