
Disana, ada Anton, Nita dan Ruslan yang sedang menikmati hidangan di meja yang berbeda. Mereka sengaja membiarkan Tesi dan Meldo duduk berdua untuk menyelesaikan masalah yang terjerat selama bertahun-tahun. Ruslan dan Nita tentu saling pandang dengan diam, Nita jadi merasa canggung dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Pak Ruslan, apa kabar?." tanya Nita dengan ramah.
"Baik kok, Nit. Kamu sendiri apa kabar?."
"Baik juga, Pak."
"Usia kehamilan kamu udah berapa bulan?."
"Mau masuk delapan bulan, Pak."
"Oh gitu. Aku gak nyangka loh kamu nikah sama Pak Anton. Dunia memang sempit banget, ya?."
"Ya begitulah, Pak."
Mereka saling diam lagi, hanya ada alunan musik yang menyita keadaan suasana saat ini. Ruslan sungguh patah hati yang tak terkatakan. Ia sebenarnya sudah lama tertarik dengan Nita, hanya saja Ia ingin mengenal Nita lebih dalam lagi melalui pemantauannya sendiri. Namun apa daya, takdir benar-benar membalikkan semuanya dan apa yang diharapkan pun tidak menjadi kenyataan. Ruslan membuka hati untuk mengikhlaskan Nita bersama Anton.
____
Meldo duduk bahagia dengan memangku Nathan di pahanya. Ia bahkan tak henti-henti nya mencium Putra nya itu dengan membabi buta. Tesi terharu atas apa yang dilihatnya saat ini.
"Papa, Mama.. Nathan mau sama Uncle dulu minta mainan balon, tadi Nathan nitipin nya sama Uncle." ucap Nathan sambil berlari meninggalkan Meldo dan Tesi.
Kini mereka hanya berdua, rasa canggung pun menerpa, namun Meldo terus menatap Tesi yang ada di depannya, sementara Tesi menatap pemandangan yang ada di sampingnya.
" Tesi, kalau kita balik lagi, bagaimana?." tanya Meldo to the point
Tesi terkejut dan tersenyum getir mendengarnya. Perlahan Ia membawa pandangannya pada Meldo dan menatapnya dengan nanar. Sisa-sisa air mata masih tertinggal di pelupuk nya.
"Aku gak mau."
"Kenapa? Tesi, aku mohon maafin aku, maafin kesalahan aku. Aku mohon."
"Meldo, seperti ini aja rasaku udah cukup. Masih baik mau mempertemukan kamu sama Nathan. Rasa sakit hati aku gak akan bisa terganti dengan apapun! Aku bahkan gak mau nikah dengan siapapun lagi, aku trauma karena ulah kamu. Tolong jangan buat aku jadi semakin benci sama kamu! Aku gak akan menghindar lagi kalo kamu mau berkomunikasi sama aku. Tapi kalau untuk balik, aku gak mau! Dan tolong, jangan bahas mengenai hal itu lagi."
"Gimana kabar Caroline dan anak kalian?." tanya Tesi dengan datar. Dia sebenarnya benci menanyakan hal ini, tetapi tidak ada topik lain lagi yang ingin dibahas.
"Caroline lagi masuk rumah sakit sekarang, Dia keracunan alkohol. Semenjak Dia punya anak, Dia gak pernah menampilkan jiwa keibuannya. Anaknya dibiarkan terbengkalai dan gak pernah sekalipun Dia ngasih rasa sayang nya itu. Satu hal yang harus kamu tau, anak itu bukan anak aku! Aku yakin itu anak Caroline dari laki-laki lain."
"Dan kamu pun gak pernah ngasih rasa sayang kamu ke anak itu? Terlepas Dia dari anak kamu atau bukan, dimana rasa iba kamu, Do? Dan satu hal, kamu harus bisa terima kenyataan, kamu bakal jadi manusia paling berdosa jika kamu gak nganggap anak kamu sendiri." ucap Tesi dengan nada geram.
"Anak aku cuma Nathan, Tes."
"Kamu dan Caroline sama aja, tau gak! Cuma mau enak nya doang, anak nya gak mau! Dimana letak otak kalian? Amit-amit." ucap Tesi dengan nada meninggi dan meninggalkan Meldo sendirian disana.
Tesi berjalan menghampiri meja Anton dan yang lainnya dengan ekspresi kesalnya. Anton dan yang lainnya tentu merasa heran dengan ekspresi itu.
"Ruslan, minta nomor hp kamu, ada yang mau aku tanyain sama kamu nanti." ucap Tesi dengan datar.
"Oh ini, Tes." ucap Ruslan sambil menunjukkan layar ponsel untuk Tesi mencatat nomor ponsel nya.
"Ayo kita pulang!." ajak Tesi dan langsung berjalan sambil menggendong Nathan.
"Ma, Papa mana?." tanya Nathan bingung.
"Dia mau ada urusan."
Anton dan Nita pun ikut berjalan untuk menyusul Tesi. Ruslan menatap Nita yang di gandeng mesra oleh Anton.
"Nita.." panggil Ruslan, Anton dan Nita pun menoleh.
"Hati-hati, Nit." ucapnya sambil melempar senyum hanya pada Nita saja.
Anton jelas melihat nya merasa kesal dengan Ruslan. Kenapa Dia bersikap seperti itu pada Nita, pikirnya. Tanpa menggubris, Anton langsung menarik Nita pergi dari situ.
Tbc...