My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = Bertemu kembali



Kini Meldo sudah berada di Korea, setelah seminggu mereka melakukan diskusi bisnis di Indonesia. Meldo memilih tinggal di Apartment yang tak jauh lokasinya dari tempat tinggal Tesi. Anton yang merekomendasikan apartment itu.


Meldo menatap luar dari jendela kamarnya, matanya berkaca-kaca sambil tersenyum mengingat Ia akan bertemu istrinya beberapa saat lagi. Anton sedang merencanakan sesuatu untuk pertemuan mereka. Anton akan membujuk Tesi untuk mau ikut dengannya agar Ia bisa mempertemukan Tesi dengan Meldo.


"Do, gak makan dulu?." ucap Ruslan yang baru saja kembali.


"Enggak dulu deh."


"Kenapa?."


"Udah kenyang karena bahagia."


"Jiahh.. Gaya lu."


Kemudian Ruslan masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Meldo memang sengaja membawa Ruslan, karena biar bagaimana pun, Ruslan lah yang menjadi tangan kanan nya untuk menyelesaikan masalahnya.


____


Dirumah, Anton mondar-mandir karena takut untuk menghampiri Tesi yang sedang duduk di ruang tamu bersama Nathan dan Juan. Dengan menarik nafasnya dalam, Ia pun ikut bergabung duduk di ruang tamu.


"Ju, jam berapa lu berangkat?." tanya Anton basa-basi. Karena Juan akan kembali ke Indonesia hari ini juga.


"Setengah jam lagi taxi gue dateng."


"Oh, oke."


Anton kembali bingung, dilihatnya Nathan dan Tesi sangat serius memperhatikan buku yang sedang dibaca oleh Nathan.


"Nanti malem, kita jalan-jalan yuk? Udah lama loh kita gak jalan-jalan." ajak Anton.


"Jalan-jalan kemana?." tanya Tesi penasaran.


"Yaaa kemana aja. Yang penting masih di sekitaran Seoul."


"Oke, Uncle. Nathan mau." ucap Nathan dengan riang nya.


"Sip. Lu ikut juga ya, Tes?."


"Oke."


Anton bergembira dalam hatinya, tinggal satu langkah lagi untuk memberhasilkan rencananya.


Waktu demi waktu terlewati, kini jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Anton, Tesi, Nathan dan Nita sudah bersiap-siap akan pergi malam ini. Anton mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sementara disana, Meldo sudah menunggu di sebuah rooftop restaurant dengan jantung nya yang begitu membuatnya berdebar tidak karuan. Meldo ditemani oleh Ruslan. Ruslan sudah menceritakan semua kegelisahan nya selama ini kepada Meldo. Ruslan jelas patah hati saat mengetahui Nita sudah menikah dengan pria lain. Sementara Meldo, sungguh tidak percaya atas permainan takdir ini.


Tak lama, sampai lah Anton dengan yang lainnya di rooftop tersebut, jelas ini membuat Tesi bingung dengan apa dilihatnya.


"Ngapain kita kesini?." tanya Tesi sambil memandangi sekelilingnya.


"Iya, Mas. Kita ngapain kesini?." sambung Nita.


"Ikut aja." ucap Anton sambil berjalan dan diikuti oleh Nita, Tesi dan Nathan.


Saat hampir sampai ditempat dimana Meldo mendiamkan diri, Anton memerintahkan Tesi dan yang lainnya untuk berhenti sejenak dan jangan mengikutinya karena Anton ingin memberi tahu sesuatu pada Meldo. Disana, Anton melihat Meldo dan Ruslan sedang berbincang sambil menatap indahnya pusat kota di Korea Selatan itu.


"Meldo.. Dia udah dateng." ucap Anton sambil menepuk bahu Meldo.


"Di--dimana Dia?." tanya Meldo dengan jantung nya yang berdebar.


"Tapi gue mohon jangan terlalu bersikap agresif ya? Gue tau ini gak mudah buat lu, tapi seengganya lu harus buat Tesi nyaman dengan pertemuan kalian ini."


"Iya, iya. Gue ngerti. Dimana Dia sekarang?."


Anton menarik nafasnya dan menatap Meldo sangat lekat sambil memegang kedua bahu Meldo dengan bersahabat.


"Jika ini adalah jalan kesempatan kedua buat lu, gue mohon jangan di sia-sia kan dan jangan mengulangi kesalahan bodoh yang pernah lu perbuat saat dulu. Dan kalau ini bukan kesempatan kedua buat lu, lu harus bisa terima, biar bagaimana pun Tesi punya hak buat memilih dan takdir juga punya hak lebih untuk menempah kalian berdua menuju kearah yang lebih baik. Lu tunggu sini, gue panggilin istri sama anak lu." ucap Anton bersahabat.


Anton berjalan kembali untuk memanggil Tesi dan yang lainnya. Sungguh, Anton sendiri merasakan debaran yang luar biasa saat ini.


"Tesi, Nathan, Nita, ayo masuk." ajak Anton.


Kini mereka berjalan dengan mengikuti Anton dari belakang. Disana, Meldo sedang memposisikan dirinya, menenangkan jantungnya yang berdebar. Ia tidak tahu kalau Anton sudah membawa mereka di belakangnya.


"Ehem." Anton berdehem pada Meldo.


Meldo membalikkan badannya, mata Meldo dan mata Tesi bertemu, hanya saja ekspresi wajah mereka yang membedakan. Waktu terasa berhenti saat Ia melihat wanita yang sudah di rindukannya selama bertahun-tahun ini, jantungnya berdetak dengan kencang, nafasnya memburu, matanya berkaca-kaca, tidak bisa di uraikan dengan kata-kata apapun saat ini, Ia sungguh rindu pada wanita yang sedang berada di hadapannya sekarang.


"Apa-apaan ini?." ucap Tesi yang terkejut luar biasa melihat sosok Pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Tesi, semua bisa di bicarain baik-baik, keputusan ada ditangan lu, apapun itu pasti yang terbaik buat lu, kita tinggalin lu berdua dulu disini, gue izin bawa Nathan juga." ucap Anton dan memberi kode pada Ruslan untuk ikut juga dengannya.


Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di rooftop itu, Tesi sama sekali tidak bisa membendung air matanya. Jujur, Ia juga merasakan rindu yang mendalam pada Meldo, namun mengingat semua kesalahan yang dilakukan Meldo, membuatnya harus membaluri rasa rindu itu dengan rasa benci.


"Tesi.. Aku gak akan maksa kamu dalam hal apapun, tapi jangan biarkan aku berhenti berjuang. Aku minta maaf atas kesalahan yang pernah aku buat! Aku tau minta maaf aja gak cukup buat nebus kesalahan aku, tapi seengganya kamu udah dengar permintaan maaf ku yang tulus dari hati aku yang paling dalam. Aku gak bisa jadi yang terbaik buat kamu, aku sadar itu. Aku udah hancurin kepercayaan kamu juga, aku minta maaf untuk itu semua." ucap Meldo dengan berlinang air matanya dan menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf. Sebenarnya Ia sangat ingin memeluk Tesi dan mencium nya, namun benar kata Anton, Ia harus membuat Tesi nyaman dan jangan sampai membuat Tesi semakin benci dirinya.


Tesi menangis sesenggukan mendengar perkataan Meldo sekaligus melihat Meldo yang menundukkan kepalanya dengan sopan dihadapannya saat ini. Sungguh, mereka menjadi sangat jauh.


"Udah 8 tahun, Do. Tapi seketika liat kamu ada didepan mata aku, aku ngerasa kejadian itu baru terjadi kemarin. Aku gak bisa definisikan segimana bencinya aku sama kamu! Bahkan Ibu pun sama, Ibu udah kelewat benci sama kamu. Kamu artikan sendiri aja lah, kita sampe kabur ke Korea supaya gak ketemu lagi sama kamu." ucap Tesi dengan nangis sesenggukan.


"Gapapa. Aku emang pantas dapatin itu semua. Aku bakal berjuang lagi, dan kali ini perjuangan aku gak kayak dulu, perjuangan kali ini aku bakal buat kamu lebih nyaman dan semoga hasilnya baik. Tesi, sekali lagi aku minta maaf." ucap Meldo yang berusaha menahan air matanya dan mengulurkan tangannya.


Tesi menatap uluran tangan Meldo dengan nanar, Ia bahkan tidak sanggup melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. Pelan, Ia mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan itu.


"Seengganya kamu udah mengakui kesalahan kamu. Kedepannya, hidup lah untuk lebih baik, Meldo."


Meldo mengangguk tersenyum sebagai tanggapan, Tesi langsung melepas genggaman tangan itu. Tesi mengambil ponsel nya dan menelepon Anton untuk menyutuh Nathan datang menghampiri mereka.


Tidak butuh waktu yang lama, Nathan dengan berlari kecil menghampiri mereka.


"Mama.." ucapnya sambil memeluk pinggang Tesi dan Tesi pun tersenyum.


"Meldo, ini Nathan, anak kita. Biar gimana pun aku bukan Ibu yang kejam yang ngelarang anak aku untuk ketemu sama Ayahnya. Aku gak mau jadi manusia berdosa hanya karena hal itu. Tapi, bukan berarti aku mau rujuk atau memaafkan kamu dengan tulus. Ingat kata-kata aku di awal, aku cuman gak mau jadi seorang Ibu yang kejam."


Meldo menarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya sejenak. Ia kembali menatap jagoan kecil yang berada di samping Tesi. Ia tersenyum namun juga menangis, Ia sama sekali tidak menyangka atas semua ini.


"Ini kan Om baik temennya Uncle Anton. Kenapa nangis?." tanya Nathan dengan polosnya.


Dengan tidak melepaskan pandangannya terhadap Nathan, Meldo berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Nathan.


"Hai... Anak Papa." ucap Meldo dengan tertawa sambil menangis. Tesi pun menangis hingga membelakangi mereka karena Ia tidak mau Nathan sampai melihatnya menangis.


Tbc...