My Obsession Is You

My Obsession Is You
Mencekam (3)



Meldo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia bahkan ingin membunuh semua yang ada di hadapan nya saat ini. Ia benar-benar frustasi dan tidak menyangka jika Nita mengetahui hal itu. Dari mana wanita itu bisa mengetahui nya, sementara interaksi mereka pun tidak terbilang akrab. Meldo benar-benar ingin mati saat ini juga.


Tujuan Meldo ialah Rumah Sakit Medika tempat mertua nya dirawat. Saat sampai, dengan langkah gontai Meldo berjalan menuju ruang rawat Mertua nya. Ia terkejut saat melihat ruangan itu sudah kosong dan beberapa perawat sedang merapikan ruang rawat itu.


"Kemana mertua saya yang dirawat disini?." tanya Meldo.


"Sudah pulang, Pak. Sekitar 1 jam yang lalu." jawab sang perawat dengan ramah.


Meldo terheran sejenak, Ia terdiam beberapa saat dan langsung beranjak pergi dari ambang pintu ruang rawat itu. Meldo sudah menebak, pasti Ibu pulang ke rumah nya. Dengan kecepatan tinggi Ia mengendarai mobil nya menuju rumah Ibu.


Dikarenakan posisi rumah Ibu tidak jauh dari rumah sakit, Meldo telah sampai hanya dalam beberapa menit. Ia terheran dengan adanya mobil asing yang terparkir di pekarangan rumah Ibu.


"Mobil siapa?." gumam nya.


Meldo melenggang masuk ke dalam dan mengucapkan salam kepada sang pemilik rumah. Meldo kesal setengah mati dengan apa yang Dia lihat, Dia melihat sosok Juan yang sedang duduk dan bercengkrama dengan riang nya kepada istri dan mertua nya. Setelah menatap tajam Juan, Meldo mengalihkan tatapan kepada istri nya.


"Kenapa kamu gak ngabarin aku kalau Ibu udah pulang?." tanya Meldo dengan nada datar.


"Rencana nya aku mau nelfon kamu malam ini. Aku pikir karena kamu sibuk, makanya aku gak ngabarin dulu."


"Dan membiarkan Dia nganterin Ibu dan kamu pulang, gitu? Emang kita udah gak punya supir lagi ya? Perasaan supir kita banyak."


"Maaf, Nak Meldo. Juan memang berinisiatif mau mengantarkan Ibu pulang, Ibu tidak enak menolak nya karena Juan yang memang memaksa ingin mengantarkan, Nak." ucap Ibu Tesi yang berusaha menghentikan perdebatan.


"Yaudah, Bu. Sekarang, gimana keadaan Ibu?."


"Sudah cukup baik, Nak. Kamu sudah makan? Kok kayak nya kamu kecapean ya? Kamu banyak kerjaan?."


"Iya, Bu. Maaf ya, Bu. Gak bisa jengukin untuk beberapa hari ini."


"Gapapa kok. Kamu mau makan atau minum? Biar Ibu buatin."


"Gak usah, Bu. Biar saya aja yang buat sendiri. Permisi."


Meldo beranjak pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Ia menarik nafas nya dalam untuk kepenatan hati nya serta pikirannya. Sejenak Ia menunduk dan menatap nanar kearah lantai.


"Saya cuma nganterin Ibu dan Tesi aja, gak ada maksud lain. Dan anda, gak usah terlalu berlebihan dan berpikir terlalu jauh."


Meldo terkejut dan langsung membalikkan badan nya kearah sumber suara. Ternyata, sumber suara itu berasal dari Juan yang memang sengaja ingin bercengkrama dengan Meldo untuk sekedar meng-akrab kan diri.


"Ch, anda pikir saya bodoh? Saya juga pria sama seperti anda. Segala macam pendekatan untuk menaklukkan hati wanita, saya tau. Mungkin mulut anda bisa berbicara seperti itu, tapi hati anda? Siapa yang tau?."


"Anda terlalu cemburu. Saya sama Tesi cuma sebatas teman SMA."


"Mau teman SMA, atau apapun, cinta gak memandang bulu untuk menaklukkan hati seseorang. Bahkan, sama saudara sendiri aja, bisa jatuh cinta."


"Siapa yang jatuh cinta sama saudara nya sendiri?."


DEGG.. Apakah Meldo sedang menyinggung sk*ndal nya sendiri? Entah lah.


"Em.. Gak ada."


Dengan segera Meldo meneguk teh hangat nya dan kembali menuju ruang tamu. Saat mata nya mengalihkan padangan kepada Ibu dan Tesi, betapa terkejutnya Meldo yang tiba-tiba sudah ada Nita yang duduk di sebelah Tesi.


Mata nya tajam menatap Nita, tidak bisa di artikan tatapan yang seperti apa itu. Juan sudah ada di belakang Meldo, menghalangi langkah nya yang ingin duduk bergabung bersama Tesi.


"Ehem.. Permisi." ucap Juan yang mengangetkan Meldo.


"Juan, ini Nita. Akhirnya kesampean juga mempertemukan kalian, hahaha." ucap Tesi.


"Hai, Nit. Banyak berubah nih kamunya." ucap Juan pada Nita sembari mendudukkan dirinya.


"I--iya, Juan."


Juan terheran, mengapa Nita tampak begitu gugup saat ini, apakah penampilan sekaligus wajahnya masih menyeramkan? Apakah sikap dingin nya masih mendominasi? Juan pun menjadi merasa serba salah dan tidak tau harus memulai pembicaraan yang seperti apa.


"Tesi..." ucap Nita terpotong


"Meldo, kamu kenapa masih diem aja sih disitu? Sini gabung." ucap Tesi dan menarik tangan suami nya untuk berjalan dan duduk bersama.


"Kenapa, Nit? Kamu manggil aku kan tadi?."


"Itu, Tes. Cuma...cuma mau minta maaf soal kemarin yang aku langsung ninggalin kamu di warung nasi goreng itu."


"Oh itu, yaudah gapapa kok, Nit."


Tak lain dengan Tesi, Tesi pun merasa suasana saat ini cukup mencekam dan banyak sekali kecanggungan yang terjadi. Mereka kini makan cemilan sambil menonton film di TV. Pembicaraan hanya terjadi jika ada hal-hal yang kebetulan penting saja.


"Ibu ke kamar, ya?." ucap Ibu sambil berdiri.


"Tesi antar, Bu."


"Nak, Ibu gapapa. Udah, kamu lanjut aja nontonnya. Ibu udah sehat kok."


Tesi pun menurut, dan Ibu langsung bergegas menuju kamar.


"Aku-- aku pulang diluan ya, Tes." ucap Nita.


"Loh? Kenapa buru-buru, Nit."


"Gapapa, udah malam soalnya."


"Aku juga deh. Yuk Nit, aku antar." ucap Juan secara tiba-tiba.


"Gak usah, Ju. Aku dekat kok."


"Yaudah deh kalo memang gitu. Kalian hati-hati ya?." ucap Tesi dengan nada sedikit kecewa.


Setelah itu mereka beranjak dari rumah Tesi dan kembali pulang. Tesi kembali menatap Meldo yang sepertinya sangat gusar hari ini.


"Kamu gapapa?." tanya Tesi.


"Gapapa. Yuk, kita tidur."


"Masih jam segini."


"Sayang, kamu lagi hamil, harus istirahat tepat waktu."


"Hm, yaudah deh."


Tbc...