
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu Korea. Tesi sedang mengajari Nathan belajar sambil mengerjakan PR nya, ada Nita dan Ibu juga yang menemani Nathan belajar di ruang keluarga.
"Tesi, Ibu bangga loh sama kamu." ucap Ibu tersenyum.
"Apa sih, Bu? Kenapa Ibu tiba-tiba bicara kayak gitu?." balas Tesi dengan malu-malu.
"Walaupun udah lama kita tinggal di Korea, kamu tetap ngajarin Nathan untuk berbahasa Indonesia, dan Nathan jadinya jago dua bahasa di umur nya yang masih belia, jago bahasa Indonesia dan jago bahasa Korea juga tentunya. Cucu Nenek keren."
"Tesi memang selalu membiasakan Nathan untuk bicara bahasa Indonesia kalo sama keluarga, Bu. Karena biar bagaimana pun kan kita asli orang Indonesia. Kalo bahasa Korea nya, itu karena pengaruh lingkungan aja, Bu. Dan kebetulan memang Nathan lahirnya disini juga kan."
"Nathan belajar yang rajin ya, Nak?."
"Oke, Nenek." ucap Nathan sambil mengacungkan jempolnya.
"Semoga anak aku nanti pintar nya kayak Nathan ya, Tes." sambung Nita.
"Aamin.."
Tok...tok...tok...
"Uncle Anton pulang." ucap Nathan dengan antusias saat mendengar suara ketukan pintu dan Ia pun berlari menuju pintu.
Benar saja, Anton pulang dengan membawa banyak tentengan berupa paper bag dan bungkusan plastik lainnya. Melihat Nathan yang menyambutnya, Anton langsung berjongkok serta merenggangkan tangannya lalu memeluk Nathan dengan erat.
"Uncle, ini apa?." tanya Nathan.
"Ini makanan dan ada mainan juga untuk Nathan."
"Wah, makasih Uncle."
"Yaudah, yuk kita masuk."
Didalam, Nita menyambut Anton dengan penuh kasih, mencium tangan Anton dan Anton membalasnya dengan mencium kening Nita. Tesi sangat bahagia sekaligus sedih setiap kali melihat momen indah yang dibuat oleh Anton dan Nita.
"Kalian pasti belum makan kan? Nih, aku bawain makanan. Ibu makan yang banyak ya? Tesi juga, karena pura-pura bahagia itu butuh tenaga. Nita istri ku juga, karena kalo sama aku kamu harus ekstra kuat. Nathan juga, harus makan yang banyak biar jadi jagoan." ucap Anton dengan gelak tawa.
"Pura-pura bahagia apaan? Gue emang udah bahagia lahir batin kali." ucap Tesi dengan sedikit jutek.
"Nathan, liat deh Mama kamu kalo ngambek mirip banteng." ledek Anton tak mau kalah.
"Udah dong, Mas. Nanti kalo Tesi ngamuk bisa kena rudal semuanya, hahaha." sindir Nita dan di sambut dengan penuh gelak tawa.
Setelah selesai bergurau penuh canda dan tawa, kini mereka tengah menikmati hidangan makan malam bersama dengan penuh hikmat.
______
Meldo sedang memainkan piano nya yang terletak di ruang tengah dan tak jauh dari pintu utama. Sudah setengah jam Meldo duduk disitu. Cleo, Johan, Mama sudah tidur, dan Caroline belum juga pulang kerumah. Tak lama, Meldo mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya berkali-kali dan Meldo pun membukanya. Dilihatnya ada seorang supir taxi tengah membopong Caroline yang sedang mabuk berat.
"Pak, apakah benar ini keluarga Bapak? Tadi Mba nya bilang, mau di anterin kesini." ucap sang supir.
"Ya, bawa masuk aja dan lemparin aja Dia ke sofa yang itu." ucap Meldo dengan nada yang dingin.
"Manusia gak berguna." ucap Meldo dengan membentak Caroline.
"Hahaha, aku? Aku gak berguna? Hahaha."
"Kalo bukan karena Mama yang selalu halangin aku, mungkin dari dulu kamu udah mati, Caroline."
Huekk..huekk..
Caroline memuntahkan semua yang ada di perutnya dan terbatuk-batuk setengah mati. Meldo semakin geram melihatnya, Ia sangat ingin menghabisi wanita itu saat ini juga. Meldo pun memanggil pembantu nya untuk membereskan Caroline dan Ia kembali ke kamarnya.
Dikamar, Meldo tak sengaja melihat foto pernikahannya dengan Tesi yang dilakukan secara paksa beberapa tahun lalu. Terlihat jelas wajah Tesi yang begitu murung saat sedang melakukan upacara pernikahan secara Agama. Meldo tersenyum namun air matanya mengalir.
"Jelek banget muka kamu kalo lagi murung kayak gini." gumam Meldo dengan sendirinya sambil tertawa namun menangis dan memandang foto pernikahan itu dengan nanar.
Meldo tidak henti-hentinya merindukan Tesi serta anaknya. Ia bahkan belum pernah melihat perut buncit Tesi lalu mencium nya dengan penuh kasih. Belum genap sebulan kandungan itu tumbuh di perut Tesi, bersamaan itu juga masalah besar sudah melanda rumah tangga mereka dan harus terpisahkan dan mungkin untuk selamanya. Hati Meldo di penuhi dengan rasa bersalah serta kesakitan yang mendalam jika mengingat semua yang telah terjadi. Beberapa menit kemudian, Meldo pun tertidur sambil memeluk foto pernikahan nya dengan Tesi.
🌞
Matahari sudah menunjukkan sinarnya dan hari ini adalah hari minggu. Meldo terbangun dan langsung membersihkan dirinya dengan air hangat. Setelah selesai, Ia pun berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarganya.
"Papa.." ucap Cleo dengan antusias saat melihat kedatangan Meldo.
Meldo tidak menanggapi, Ia bahkan terlihat cuek dan langsung duduk dengan posisi ternyamannya. Cleo langsung menunduk sedih dan menatap lantai dengan tatapan nanar.
"Cleo? Mau makan nasi, roti atau bubur?." tanya Johan yang berusaha mencairkan suasana.
"Bubur, Om."
Johan pun mengambilkan bubur untuk Cleo dengan penuh perhatian. Dirumah ini, yang menyayangi Cleo hanyalah Johan dan Mama Meldo. Sementara Caroline, Ia selalu sibuk dengan urusannya sendiri, berbagai alasan selalu di lontarkannya sehingga Ia tidak sempat atau bahkan tidak pernah menghabiskan waktu bersama dengan Putra nya itu. Pun sama dengan Meldo, Ia bahkan tidak pernah mau melirik anak itu, Ia menganggap bahwa Cleo lah sumber masalah dari runtuhnya rumah tangga yang Ia bangun bersama Tesi.
"Nanti kita jalan-jalan, yuk? Cleo mau kemana?." tanya Johan pada Cleo.
"Gak usah berlebihan sama anak orang! Dia punya Mama yang bisa ngerawat Dia dan ngajakin Dia pergi sana-sini. Apalagi ini hari libur, biarin aja Dia sama Mama nya." ucap Meldo tiba-tiba.
Caroline menatap Meldo dengan tajam karena Ia merasa disindir oleh Meldo. Johan menatap Cleo dengan perasaan sedih yang menjulang. 'Gak ada orang yang minta di lahirin dengan keadaan keluarga yang kayak gini. Cleo, Om janji bakal buat kamu bahagia dan merasa layak ada didunia ini.' gumam Johan dalam hati.
"Kamu semalem abis darimana? Jam berapa kamu pulang, Caroline?." tanya Mama dengan nada yang dingin terhadap Caroline.
"Biasa, Ma. Ke Diskotik dan jual diri." sambung Meldo.
Caroline membanting sendok ke piring nya dengan kesal lalu bangkit dan berjalan menuju pintu beranjak pergi entah kemana.
"Tante? Kak Meldo? Bisa gak sih gak usah bawa-bawa masalah dulu kalo lagi suasana kayak gini? Apalagi sampe ribut didepan Cleo, Dia ini masih kecil, jangan sampe karena keributan ini jadi memunculkan rasa trauma di dalam diri Cleo." ucap Johan penuh dengan permohonan.
Kini mereka pun menyantap sarapan penuh dengan keheningan.
Tbc...