
"Bagaimana? Kamu mau gak?." tanya Caroline pada Ruslan yang sedang bingung.
Ruslan pun tersentak dari lamunannya. Ia kembali menatap heran Caroline. Banyak pertanyaan yang merenggut di pikirannya.
"Maaf, Mba. Saya tidak bisa. Permisi." ucap Ruslan dan langsung berlalu.
Caroline kecewa dan kesal dengan penolakan Ruslan. Ia menarik nafasnya dalam dan harus memutar otak bagaimana caranya agar Ia bisa bekerja di kantor Meldo dan bertemu Meldo setiap saat.
Sementara di sisi lain, Ruslan duduk di meja nya dengan perasaan terheran serta menerka-nerka siapa Caroline sebenarnya. Tepat, saat itu juga Meldo sedang berjalan menuju ruangannya, Ruslan pun menghampirinya.
"Do.." panggil Ruslan dan berlari kecil menghampiri Meldo.
"Apa?."
"Gue mau ngomong."
Meldo memandang Ruslan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia merasa ada yang berbeda dari Ruslan, yaitu keseriusan. Ya, Ruslan yang sering bercanda, membuat Meldo heran dengan ekspresi serius Ruslan.
"Apaan sih lu?." ucap Ruslan.
"Lu kenapa? Tumben mau ngomong serius."
"Itu cewe yang ada di ruangan lu, siapa?."
"Oh itu.."
"Selingkuhan lu?."
"Heh, omongan lu dijaga! Itu sepupu gue dari Amerika."
Ruslan menatap curiga kearah Meldo. Tatapan nya seolah tidak percaya dengan ucapan yang didengar nya dari Meldo.
"Sepupu?."
"Yaiyalah sepupu."
"Kalo sepupu, kenapa Dia pengen jadi sekretaris disini? Pake nawarin gue kerjaan segala lagi."
Meldo terkejut dan membelalakkan matanya. Ia mengerutkan kening nya merasa heran dengan Ruslan. Ia pun langsung menarik Ruslan ke lobby untuk meminta penjelasan lebih dari Ruslan.
"Ngapain kesini?." tanya Ruslan heran.
"Jelasin sama gue maksud lu tadi."
"Yaa Dia nawarin kerjaan bagus sama gue, rada maksa gitu sih. Dia mau gantiin posisi gue katanya, tapi gue tolak mentah-mentah."
"Bagus! Jangan sampe lu kemakan sama omongan Dia."
"Emang kenapa? Dia siapa sih sebenarnya?."
"Udah gue bilang, Dia sepupu gue dari Amerika. Dan dia..."
"Kenapa? Dia kenapa?."
"Dia... jatuh cinta sama gue."
Mata Ruslan terbelalak menatap Meldo tak percaya. Kini Ia sudah paham mengapa sejak tadi Caroline memaksanya untuk menggantikan posisi nya dengan Caroline.
"Buset! Skandal macam apa ini?." ucap Ruslan dengan nada suara yang tinggi.
"Suara lu pelanin!." ucap Meldo sambil memukul dada bidang Ruslan.
"Lu tenang aja, Bro. Gue gak akan terkecoh sama Dia."
"Lu kan gak pinter, takutnya lu gampang kemakan sama rayuan Dia."
"Tenang, kali ini gue bakal lebih hati-hati lagi. Memang sih sepupu lu itu cantik, tapi gak berakhlak. Gak srek lah gue."
______
Tesi turun dari mobil dan memasuki kantor Meldo dengan senyum sumringahnya. Ia menentang rantang berisi lauk pauk serta nasi untuk makan siang Meldo.
"Mba, Meldo nya ada kan?." tanya Tesi pada resepsionis yang bertugas.
"Ada, Bu. Mau saya antar?."
"Gak usah, Mba. Makasih kalo gitu. Permisi."
Dengan senyum yang belum memudar, Tesi lanjut berjalan menuju ruangan Meldo. Dia bahkan tak henti memandang rantang yang Ia bawa dan berharap Meldo suka dengan hidangan yang Ia buat untuk makan siang Meldo.
Sesampainya di ruangan Meldo, Tesi membuka pintu dan terkejut melihat keberadaan Caroline yang sedang duduk sambil bermain handphone di sofa kecil yang ada di ruangan Meldo.
"Meldo ada dimana ya, Lin?." tanya Tesi dengan perasaan kesal nya karena melihat wanita ini.
"Iya. Meldo nya mana?."
"Nggak tau deh, soalnya tadi Dia keluar. Duduk aja dulu."
Tesi menurut, dengan pelan Ia duduk berhadapan dengan Caroline. Saat matanya beralih menatap meja, Ia melihat ada rantangan yang berisikan lauk pauk serta nasi yang sudah habis termakan.
"Ini punya kamu, Lin?." tanya Tesi.
"Oh iya, itu tadi aku makan bareng sama Meldo."
Tesi terkejut dan menarik nafasnya dalam. Ia mengalihkan pandangan nya kearah lain. Sementara Caroline, Ia menatap Tesi dengan senyuman sinis. Padahal yang terjadi sebenarnya Meldo tidak makan bersama nya. Ini hanyalah akal-akalan nya agar Tesi cemburu.
Tak lama, datang Meldo yang masuk kedalam ruangannya. Ia kaget melihat Tesi yang duduk berhadapan dengan Caroline. Meldo pun langsung mendekat dan menghampiri Tesi.
"Sayang.." ucap Meldo sambil mencium kening Tesi.
Caroline yang melihatnya merasa jijik dan memasang mimik wajah yang tidak suka.
"Yaudah, aku pulang dulu deh kalo gitu. Besok kita makan siang bareng lagi ya, Do? Aku seneng banget tadi kamu ambilin lauk dan nasi buat aku." ucap Caroline dengan sengaja.
"Pergi kamu sekarang!." ucap Meldo dengan nada pelan namun mematikan.
Dengan langkah yang gemulai, Caroline pergi meninggalkan ruangan itu. Tesi merasa sangat kesal dengan ucapan Caroline barusan.
"Sayang, kamu kenapa kesini?." tanya Meldo sambil mendudukkan dirinya di samping Tesi.
"Ini.. Aku bawain kamu makan siang, tapi kayaknya kamu udah makan deh. Yaudah, aku pulang aja kalo gitu." ucap Tesi yang sudah berdiri.
"Eh, mau kemana?."
"Pulang!."
"Kamu kenapa? Marah?."
Tesi hanya diam dan menunduk.
"Jangan percaya sama omongan Caroline. Aku gak ada makan siang bareng Dia. Aku tadi memang ambilin Dia lauk, tapi itu tujuannya biar Dia cepat pergi dari sini."
"Beneran?."
"Iya, beneran! Tanya aja Ruslan."
"Terus kamu udah makan?."
"Eum.. Belum."
"Yaudah, kita makan yuk? Aku buatin kamu capcai sama ayam goreng."
"Wih, jadi ngiler. Yaudah, yuk makan."
Meldo dan Tesi kembali duduk. Tesi dengan lihai menyiapkan nasi dan lauk untuk Meldo. Mereka makan dengan saling menyuapi satu sama lain. Tak lupa, saat menyuapi Tesi, Meldo berkesempatan mencium pipi Tesi berkali-kali.
"Apaan sih kamu? Makan dulu." ucap Tesi dengan malu-malu.
"Oh, berarti kalo abis makan, boleh ya?."
"Terserah."
"Yeay.. Berarti kalo ke kamar boleh dong?."
Mata Tesi terbelalak dan mencubit perut Meldo.
"Ini jam kerja dan ini di kantor. Mana mungkin bisa begituan." ucap Tesi.
"Kalo bisa gimana? Kamu lupa, kalo dibalik rak buku itu ada kamar yang fasilitasnya kayak hotel?." ucap Meldo sambil menunjuk kearah rak buku yang ada di ruangannya.
"Dih, nggak mau!."
"Harus mau! Yuk cepat abisin makannya biar aku bisa cepat-cepat makan makanan penutup aku."
"Otak kamu mesum banget sih."
"Mesum sama istri sendiri, gak masalah lah."
Meldo dengan cepat menghabiskan makannya dan meneguk minuman nya sambil menekan remot untuk membuka rak buku yang di baliknya terdapat kamar itu. Dengan segera Ia menggendong Tesi menuju kamar.
"Meldoooo. Mau ngapain kamu?." ucap Tesi dengan teriakan.
Tanpa di gubris oleh Meldo, Meldo langsung menurunkan istrinya di ranjang, dan terjadilah yang di pikirkan oleh para readers.
Tbc...