
Meldo terdiam saat Tesi meninggalkan nya begitu saja di rooftop tersebut. Ia lalu memesan sebotol alkohol dan meneguk nya dalam beberapa tuangan, Ia sungguh merasa frustasi saat ini.
"Do, ayo balik." ajak Ruslan yang juga tampak murung.
"Gak. Diluan aja sana."
Kini dua lelaki tampan itu tampak seperti manusia yang tidak berdaya sama sekali. Sungguh, hidup begitu kejam menerpa mereka. Meldo dan Ruslan memilih untuk tetap tinggal dan menghabiskan malam dengan ber mabuk-mabukan karena merasa sakit hati telah ditinggal oleh wanita yang mereka cintai.
Kini Meldo sudah tergeletak di lantai dengan terkulai lemas karena sudah meneguk berbotol-botol alhokol, begitupun dengan Ruslan yang sudah tidak berdaya sama sekali, Ia menidurkan kepala nya diatas meja.
"Tesiiii. Kamu harus balik sama aku, kamu ingat ituuu." ucap Meldo dengan nada suara yang gontai khas orang mabuk.
Beberapa bodyguard pribadi Meldo melihat Tuan nya sudah mabuk berat, akhirnya pun mereka membawa Meldo dan Ruslan kembali ke apartment yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka selama di Korea.
____
Tesi sudah menidurkan Nathan dengan nyenyak. Ia beralih dan mengambil ponsel nya, Ia mencoba menghubungi Ruslan untuk menanyakan soal anak Meldo dan Caroline. Entah kenapa, Ia sangat penasaran dengan nasib anak itu ketika Ia tau kelakuan Caroline dan Meldo yang sama sekali tidak memperdulikan posisi anak itu.
"Kemana sih ni orang? Di telpon gak diangkat." gumam Tesi dengan kesal saat beberapa kali mencoba menelfon Ruslan, namun tidak ada jawaban.
Dari balik pintu, muncul lah Nita yang masuk ke kamar Tesi. Tesi sedikit terkejut karena Nita belum juga tidur sudah selarut ini.
"Loh, Nit? Kenapa belum tidur?." tanya Tesi sambil membawa Nita untuk duduk di kasur.
"Tesi, yang kita jumpai tadi itu beneran Meldo sama Ruslan ya?."
"Yaiyalah, Nit. Masa arwah nya."
"Selama di restoran tadi aku berusaha untuk tenang dan gak syok, aku beneran gak nyangka bisa ketemu lagi sama mereka setelah sekian tahun, aku pikir yang tadi itu cuma mimpi."
"Dunia emang sempit banget, Nit. Sempit banget."
"Aku jadi ngerasa canggung tadi pas ketemu sama Ruslan. Aku sempat naruh perasaan sama Dia, aku ninggalin Dia tanpa kata-kata, pas ketemu lagi, aku nya malah udah nikah."
"Terus kamu nyesel gitu nikah sama Anton?." kini nada suara Tesi berubah jadi lebih ketus.
"Enggak gitu, Nit. Yaa pokoknya aku gak nyangka aja bisa ketemu lagi sama mereka, padahal kita udah kabur sejauh ini, sampe ke Korea. Terus kamu akhirnya gimana sama Meldo?."
"Dia ngajak balik, aku gak mau. Tapi aku udah memantapkan hati aku untuk berdamai sama Dia, cuma damai doang! Kaga balikan dan semacamnya."
"Terus, Dia sama Caroline nikah gak akhirnya?."
"Gak tau kalo itu. Tapi Caroline dan Meldo, sama-sama gak nganggap keberadaan anak itu. Setan banget sih."
"Udah ah, Tes. Tidur aja lah gak usah pikirin yang macam-macam."
🌞
Keesokan harinya, Tesi dan semuanya melakukan sarapan pagi bersama. Suasana cukup hening sampai mereka menghabiskan sarapan mereka masing-masing.
"Semalam kamu ketemu sama Meldo?." tanya Ibu tiba-tiba pada Tesi.
Tesi terkejut, darimana Ibu nya tau? Apakah Anton yang memberi tau? Tesi, Nita dan Anton saling pandang satu sama lain. Ibu benar-benar membenci Meldo karena lelaki itu telah mengingkari janjinya, Dia telah menyakiti anak nya dan bermain gila dengan perempuan lain, sungguh ini juga menyakiti hati Ibu.
"Cuma ketemu doang, Bu. Enggak ada hal-hal yang lain kok."
"Demi apapun Ibu benci sama Dia! Jangan sampai kamu goyah dan balik lagi sama Dia, Ibu gak sudi. Mending kamu gak usah anggap Ibu sebagai Ibu kamu lagi kalo kamu sampai rujuk lagi sama Dia."
"Tapi, Bu. Tesi sama Meldo belum cerai secara sah." ucap Tesi dengan gugup dan menunduk.
"Ibu bantu urus perceraian kalian, Ibu bakal minta tolong sama Juan juga."
Nita dan Anton saling menatap, mereka hanya bisa diam dan tak berani berbuat apapun. Setelah itu Ibu beranjak dan berangkat menuju toko Kimbab. Kali ini Ibu pergi bersama Nathan karena sekalian mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah.
_____
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Meldo sudah bangun sejak pukul 11 siang tadi, sementara Ruslan masih terlelap akibat mabuk berat yang dialami nya tadi malam. Ponsel Ruslan berdering, Meldo berinisiatif untuk melihatnya dan tertera nomor yang tak dikenal disana.
"Hallo." ucap Meldo yang pada akhir nya mengangkat panggilan itu.
Disana... Tesi membelalakkan matanya saat mendengar suara Meldo dari sambungan telfon itu, Ia pun segera mematikannya dan berdecak dengan kesal.
"Si Ruslan sebenarnya ngasih nomor Dia sendiri atau nomor Meldo sih?." gumam nya sambil melihat layar ponselnya.
Sementara Meldo merasa heran ketika sambungan telfon itu dimatikan secara sepihak, Ia pun tak sengaja melihat riwayat panggilan yang ternyata nomor itu sudah menelfon Ruslan beberapa kali sejak tadi malam.
"Woi, Ruslan. Bangun lu." ucap Meldo sambil menggoncangkan tubuh Ruslan.
Berkali-kali Meldo melakukan itu, Ruslan tidak juga bangun, Ia bahkan marah dan menutupi wajahnya dengan bantal karena merasa kebisingan mendengar suara Meldo.
"Slan, ini ada nomor yang gak dikenal nelfonin lu mulu dari semalem. Coba deh lu telfon balik, siapa tau kabar penting dari Indonesia."
"Palingan klien, yaudah nanti gue urus! Lu mendingan pergi deh gue masih ngantuk."
"Ini udah siang, lu mau latihan meninggal apa gimana? Kerjaan menumpuk, kita kan mau akuisisi salah satu perusahaan biar kita bisa ngembangin bisnis kita di negara ini. Kalo lu masih mau kerja sama gue, lu bangun! Gue itung sampe sepuluh. Satu.. Dua... Tiga.."
Dengan secepat kilat Ruslan bangkit dan langsung berlari menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Didalam kamar mandi, Ruslan dengan tidak semangat melucuti pakaiannya, pikiran nya masih memikirkan sosok Nita yang sudah berdalih menjadi istri orang.
Tbc..