
Sang supir sampai di pekarangan rumah Tesi. Ia pun mengetuk pintu sekaligus merasa heran karena rumah itu cukup gelap tidak ada lampu yang menyala. Sang supir pun berinisiatif menelpon Meldo.
Tut...tut...tut...
"Hallo." ucap Meldo di seberang sana.
"Maaf, Tuan. Rumah yang Tuan maksud untuk mengembalikan handphone ini, sepertinya tidak orang didalam! Karena rumahnya gelap dan tidak ada lampu yang menyala." ucap sang supir.
"Oh begitu? Baiklah. Mungkin mereka sedang pergi kerumah tetangga atau sedang ada urusan lain. Yasudah, kamu balik saja kerumah." ucap Meldo meyakinkan.
"Baik, Tuan."
🌞🌞
Keesokan harinya di adakan rapat sekaligus memeriksa laporan yang diberikan para karyawan kepada Meldo. Melihat Meldo kesal dan marah, sudah seperti makanan sehari-hari bagi para karyawan. Para karyawan pun sudah sangat kebal jika mendengar omelan seorang Meldo.
"Apaan ini? Masa nyusun skema gini aja gak bisa? Ubah ini!!!." ucap Meldo sembari membanting map kecil itu kearah depannya.
Lalu Meldo berganti memeriksa laporan yang lain.
"Ini lagi, apaan ini? Saya kan udah kasih kamu waktu berminggu-minggu untuk buat laporan ini, masa hasil nya cuma gini doang? Anak SD juga bisa kalo cuma kayak gini!." ucap Meldo dengan bentakan sambil melempar laporan itu.
"Bubar sana! Dan revisi laporan kalian itu. Saya tunggu hasilnya 2 hari lagi." ucap Meldo dengan kesal sambil memijit jidatnya.
Para karyawan pun meninggalkan ruang rapat sembari berbisik-bisik saat sedang berjalan keluar. Mereka sebenarnya kesal dengan sikap Meldo yang tidak pernah menghargai usaha mereka.
"Do, seengganya lu bisa liat dulu lah laporan mereka dengan tela'ah. Jangan maen buang kayak tadi gitu. Kasian mereka." ucap Ruslan dengan rasa iba nya.
"Gak usah sok jago belain orang! Lu tau kan akibatnya apa kalo gue lagi emosi terus ada ngoceh?." ucap Meldo kesal.
"Oke oke. Ge pamit kalo gitu."
"Kerjain apa yang di perlu dikerjain. Siapin mana yang mau di tanda tanganin. Gua pergi bentar. Nanti balik lagi." ucap Meldo berlangsung pergi dari ruang rapat itu.
Meldo memutuskan untuk menjumpai Tesi dirumahnya. Ia tau, hanya Tesi yang mampu mengalihkan amarahnya. Dengan melihat wajah nya saja, sudah membuat Meldo merasa tenang dan damai.
Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan memangkas seluruh kemacetan yang ada di ibu kota. Sesampainya dirumah Tesi, Ia mengetuk pintu itu berkali-kali namun tidak ada respon. Meldo pun bingung.
Namun tiba-tiba..
"Nyari siapa, Mas? Kok kayak bingung gitu?." ucap seorang tetangga yang melihat Meldo mondar mandir kebingungan.
"Eh, kebetulan. Emm.. Tesi dan Ibunya, kemana ya, Bu?." tanya Meldo.
"Oh, Tesi dan Ibunya pergi semalem, Mas. Bawa tas gede-gede. Saya kebetulan semalem liat pas lagi bakar sampah. Saya gak tau sih kemana, tapi kayaknya bakalan nginep gitu ke suatu tempat." imbuh sang tetangga tersebut.
Seketika rasa kesal langsung menghujani dirinya. Dia pun menarik nafasnya dengan kasar.
"Yaudah, Bu. Makasih." ucap Meldo yang nada suaranya berubah menjadi dingin.
Dengan sigap Meldo menelpon Johan di seberang sana..
Tut...tut...tut...
"Hallo." jawab Johan
"Lu tau Tesi dimana?." ucap Meldo dengan suara yang sudah diambang keemosian.
"Ck, ngapain lu nanya gue? Dia kan calon istri lu." tegas Johan
"Dimana lu pertama kali kenal Tesi? Jawab!." bentak Meldo
"Lu kenapa sih? Tiba-tiba gini."
"Jawab, Jo."
"Dimana laundy nya?."
"Dari rumahnya, lu tinggal jalan lurus aja kedepan. Terus jumpa persimpangan, lu belok kiri." ucap Johan.
"Oke." Meldo langsung mematikan telfonnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Meldo menemukan laundry itu. Dia pun dengan perasaan bercampur aduk mendatangi laundry itu.
"Permisi!." ucap nya dengan sedikit hentakan yang mengagetkan.
"Ya? Ada yg bisa saya bantu, Mas?." ucap Nita dengan ramah.
"Kamu pasti teman dekat Tesi kan?." tanya Meldo dengan spontanitas.
"I..iya. Memangnya Kenapa ya, Mas?."
"Dimana Dia sekarang?."
Seketika Nita terdiam karena mengingat perkataan Tesi yang membilangkan bahwa jangan diberi tau siapapun tentang kepergiannya.
"JAWAB!!!." ucap Meldo dengan membentak Nita.
Nita pun tertunduk seketika dan merasa takut yang luar biasa.
"Kalau kamu gak mau jawab, saya pastikan kamu tidak akan bisa bekerja lagi." ucap Meldo dengan nada suara yang pelan namun mematikan.
Mata Nita langsung terbelalak dan kaget mendengar pernyataan Meldo.
"Di..Dia pergi ke Jogja tempat neneknya." ucap Nita dengan terbata dan takut.
"Apa tujuannya kesana?."
"Gak tau, tapi mereka keliatannya buru-buru."
Meldo pun langsung beranjak dari tempat itu. Spontan Nita merasa lega dengan kepergian Meldo.
"Yaampun, ada masalah apa sih Tesi sama laki-laki gila itu?." gumam Nita dengan panik.
--------
Sesampainya di kantor, Meldo langsung berteriak memanggil Ruslan yang tak jauh darinya.
"Ruslan! Ke ruangan gue, sekarang." ucap Meldo tanpa memberhentikan langkahnya.
Tiba diruangan Meldo..
"Ada apa?." ucap Ruslan sambil duduk dibangku depan Meldo.
"Kerah kan orang-orang kita yang ada di jogja untuk mencari Tesi." ucap Meldo sambil mengotak-atik handphone nya dengan buru-buru.
"Hah? Kenapa emang sama Tesi?."
"Gue sama Dia rencana mau nikah. Dan kayaknya Dia ragu sama gue makanya Dia kabur ke jogja sama Ibu nya. Lu gak usah banyak tanya dulu! Lakuin aja apa yang gue perintahkan! Secepatnya kasih gue kabar! Gue juga lagi berusaha nyuruh orang buat nyari tau keberadaan Tesi disana."
Ruslan terdiam dan menatap Meldo dengan ambang kebingungan..
"Lu emang suka banget buat surprise, bro! Tiba-tiba nikah? Gila sih ini! Oke, gue laksanain sekarang yg lu suruh."
Meldo terus menelpon dan menyuruh banyak orang dengan segala macam perintah. Ia merasa frustasi karena kehilangan Tesi lagi. Entalah! Tesi seperti magnet untuk dirinya, tidak boleh sejengkal pun Tesi jauh darinya. Apalagi, Dia sudah mencari sosok itu selama berpuluh-puluh tahun.
'Kenapa kamu kabur dari ku? Apa yang kamu ragukan? Aku sungguh mencintaimu!.' gumam Meldo dengan menyandarkan bahu nya di kursi.
Tbc..