
Mereka melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada beberapa pelayan yang sedang menyambut kedatangan mereka. Tak lama, Mama Meldo turun dari tangga dengan anggun sembari menyambut ceria sang anak dan menantunya.
"Hmm.. Ini dia nih, yang nikah gak bilang-bilang." ucap Mama.
"Kan udah Meldo jelasin, Ma.."
"Yaudah iya. Pokoknya harus ada acara resepsi ya? Biar keluarga kita yg lain juga pada tau."
"Iya iya."
"Kalian udah makan? Yuk makan dulu."
"Udah, Ma. Udah kenyang banget. Tadi sebelum kesini kita singga dulu kerumah Ibu nya Tesi."
"Oh gitu? Yaudah deh. Yuk, ngobrol-ngobrol aja."
Mereka berjalan untuk duduk di ruang keluarga. Tesi hanya diam, Dia sangat takut sebenarnya. Takut jika dibenci mertua nya karena status sosial mereka yang berbeda.
"Nak Tesi? Kamu kenapa?." ucap Mama sambil membopong Tesi untuk duduk.
"Gapapa kok Tante." ucap Tesi dengan sopan.
"Loh? Kok Tante sih?."
"Eh? Mama maksud nya. hehe."
"Malam ini kalian nginap disini ya? Besok aja pulang nya." tawar Mama pada Meldo dan Tesi.
Meldo dan Tesi saling menatap. Tesi sudah menduga bahwa Ia pasti akan tidur satu ranjang dengan Meldo jika mereka tidur disini, karena mereka sebenarnya sampai saat ini masih tidur berpisah kamar.
"Iya, Ma. Kita bermalam disini kok." ucap Meldo dengan mengembangkan senyum nya.
Tesi hanya diam dan setuju-setuju saja dengan keputusan Meldo. Toh, jika Ia berbicara pun tidak akan pernah didukung oleh Meldo, selalu saja di sanggah.
Mereka bertiga pun mengobrol banyak sekali topik pembahasan hingga tidak mengenal waktu. Sampai akhirnya Meldo yang menyudahi perbincangan itu.
"Yaudah, Ma. Kalo gitu Meldo dan Tesi naik dulu ya?." pamit Meldo pada Mama nya.
"Mama istirahat ya? Selamat malam, Ma." ucap Tesi ramah.
"Iya sayang, selamat malam juga."
Mereka beranjak menuju kamar masing-masing. Meldo dan Tesi masuk kedalam kamar milik Meldo yang sering Ia tempati sewaktu belum menikah. Mata Tesi tiada henti menatap setiap sudut kamar itu.
"Kamar lu gede juga ya." ucap Tesi tanpa memandang Meldo.
"Ya iyalah, namanya juga kamar orang kaya." ucap Meldo dengan wajah tengil nya.
"Dih, songong banget."
"Gue dulu. Mana handuk nya?."
"Nih." ucap Meldo sambil memberikan handuk pada Tesi.
"Dan ini baju kamu." lanjut Meldo sambil memberikan paper bag yang Ia keluarkan dari dalam lemari.
Tesi mengangguk dan meletakkan nya di meja kecil yang terdapat di dekat jendela kamar itu.
"Yaudah, aku ke dapur dulu mau minum sesuatu sambil nunggu kamu selesai mandi. Jangan lama-lama ya mandi nya."
"Oke. Jangan ngintip lu ya."
Tesi segera masuk menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Meldo pergi ke dapur untuk membuat teh hangat dan meminum nya di meja makan.
Selang beberapa menit, Meldo selesai meminum teh hangatnya dan Tesi selesai dengan mandi nya. Tesi berjalan menuju meja kecil yang terdapat di kamar Meldo, disana ada paper bag yang di berikan Meldo sebelumnya dan berisikan baju ganti untuk Tesi.
Disaat hendak melihat isi paper bag itu, tiba-tiba lilitan handuk Tesi lepas dan merosot kebawah, Tesi pun santai dan tidak menyadari itu. Disaat bersamaan itu pula, Meldo masuk kedalam kamar.
Meldo kaget bukan main saat melihat pemandangan itu. Tesi yang saat ini tidak menggunakan apapun di tubuhnya membuat Meldo mabuk seketika dan merusak pikirannya. Tesi tidak menyadari kedatangan Meldo karena Ia sangat asyik melihat-lihat baju yang ada di paper bag itu.
Pikiran Meldo sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, apalagi dengan senjatanya dibawah sana yang sudah berdiri tegak karena melihat lekukan tubuh Tesi yang indah.
Dengan sigap Meldo menghampiri Tesi dan mencumbui nya tanpa ampun. Tesi kaget dan sempat berteriak namun Meldo langsung mengunci bibir itu dengan bibir nya. Bagian leher, tengkuk, dada, semuanya di jelajahi oleh Meldo. Ia seperti buaya yang sedang kelaparan saat ini. Ia memutar-mutar tubuh Tesi untuk mengabsen setiap inci yang ada di tubuh indah itu.
"Hmmpphhh.. Le..lepasinnn, awhh." ucap Tesi yang sudah tidak sanggup untuk melawan.
Dengan tidak melepas cumbuan panas itu, Meldo mendorong Tesi kearah kasur. Tesi sudah tergeletak dan Meldo semakin ganas mencumbui nya. Kini Ia sedang asyik bermain di gunung kembar milik Tesi. Tesi sudah tidak tahan, Ia pun melepaskan desahan merdu nya yang membuat otak Meldo semakin berkarat dan terperanjat diluar kenormalan berfikir.
"Meldo.. Gue moh..gue mohon lepasin gue." ucap Tesi yang dicampuri dengan desahan yang sangat Ia tahan.
"Apa yang kamu khawatir kan? Kita udah sah jadi pasangan suami istri, sayang." bisik Meldo di telinga Tesi dengan suara yang penuh dengan hawa nafsu.
"Gue mohon jangan lakuin ini sekarang, Do! Kita bahkan belum saling mencintai sepenuhnya." ucap Tesi dengan berusaha sadar yang dibaluri dengan tangisan.
Seketika Meldo membelalakkan matanya yang posisi wajahnya masih berada di telinga Tesi. Dengan sigap, Ia menjauhi dirinya dari tubuh Tesi. Ia berlari menuju kamar mandi dan masuk kedalam nya dengan nafas yang terengah-engah. Ia menatap dirinya di cermin wastafel kamar mandi itu. Dengan nafas yang masih memburu, Ia mencuci muka nya dengan kasar.
"Apa yang udah aku lakuin? Kenapa aku bisa segila itu tadi? Astagaa." ucap Meldo sambil mengusap rambutnya dengan kasar.
Sementara di sisi lain, Tesi dengan cepat memakai pakaiannya. Setelah selesai, Dia langsung meringkuk kedalam selimut. Perasaan nya bercampur aduk. Takut, sedih, khawatir, semua seolah tidak absen menghampiri jiwa nya.
Tak lama Meldo keluar dari kamar mandi. Mendengar pintu kamar mandi terbuka, semakin membuat Tesi takut dan Ia pun semakin menaikkan posisi selimutnya.
"Aku...aku minta maaf! Aku gak bermaksud, Tesi. Aku tidur di kamar lain aja kalo gitu. Kamu istirahat ya? Biar besok kita bisa langsung pulang. Sekali lagi, aku minta maaf." ucap Meldo dengan suara yang memburu. Tanpa menunggu respon dari Tesi, Meldo langsung keluar menuju kamar tamu.
Tesi menarik dalam nafas nya dengan sangat dalam lalu membuang nya perlahan. Ia tak habis pikir dengan kejadian barusan. Sebenarnya, penyebab Dia menjadi seperti ini karena keterkejutannya dengan kedatangan Meldo yang langsung menyerbu tubuh nya. Dengan perlahan, Tesi pun memejam kan matanya untuk tidur dan berusaha menghapus ingatan mengenai kejadian tadi.
Tbc..