My Obsession Is You

My Obsession Is You
Keinginan Caroline



Sementara dirumah sakit, Juan mengobrol asyik dengan Ibu Tesi. Mereka banyak membicarakan banyak hal mengenai masa-masa sekolah nya dulu bersama Tesi. Padahal, dirinya sendiri ialah seorang yang pendiam dan bahkan hampir tidak memiliki teman, tapi entah mengapa Ia begitu semangat menceritakan kepada Ibu Tesi tentang kekagumannya terhadap kecerdasan Tesi semasa SMA.


"Yaudah, Bu. Saya pamit deh kalo gitu." ucap Juan dengan senyum sumringah nya.


"Kok buru-buru, Juan?." tanya Ibu Tesi.


"Bu, Juan abis shift malam, jadi Dia harus pulang." sambung Tesi.


"Oh begitu ya? Maaf, Ibu nggak tau."


"Gapapa kok, Bu. Ibu cepat sembuh ya? Jangan capek-capek dulu kalo bisa."


"Iya, Nak Juan. Terimakasih ya? Kamu hati-hati di jalan."


"Iya, Bu. Yaudah, saya pamit dulu, Bu."


"Bu, Tesi nganter Juan kedepan, ya?." ucap Tesi dengan permohonan.


Juan pun menyalam tangan Ibu Tesi dengan sejuta hormat. Ia dengan senyum meninggalkan Ibu Tesi dan berjalan menuju keluar dengan diikuti oleh Tesi dibelakangnya.


"Kamu nggak perlu anterin aku, Tes. Kasian Ibu sendirian."


"Gapapa kok, Ju. Lagian kan cuma sebentar."


"Oh iya, Tes. Bagi nomor hp kamu dong?."


Seketika Tesi terdiam, Ia ingat bahwa Meldo sampai saat ini belum memberikan handphone kepadanya. Tesi menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan Ia bingung harus menjawab apa.


"Lain kali aja ya aku ngasih nomor nya? Soalnya hp aku rusak gitu."


"Rusak? Apanya yang rusak? Kenapa gak beli baru aja? Kan suami kamu pengusaha." goda Juan dengan senyum ledekannya.


"Hahaha, rencana nanti mau beli."


"Wih, beneran di beli dong. Hahaha. Yaudah deh, aku pamit ya?."


"Iya, hati-hati ya?."


"Oke."


Juan melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Tesi. Tesi pun kembali menuju ruang rawat inap Ibu nya. Pelan Tesi membuka pintu, Ibu sudah tersenyum sumringah melihat kedatangan Tesi.


"Ibu kenapa?." tanya Tesi heran.


"Juan itu dulunya siapa kamu, Tes?." goda Ibu yang membuatnya malu.


"Cuma temen kok, Bu."


"Temen apa demen?."


"Temen, Bu. Dulu pun Tesi gak terlalu akrab sama Dia. Dia itu pendiem banget anaknya, Bu. Hampir gak punya teman malahan."


"Oh ya? Tapi kok kayaknya kalian akrab gitu ya?."


"Gak tau, Bu. Mungkin Dia berusaha ramah aja kali, dan merubah sikap dinginnya itu."


Ibu hanya tersenyum mendengar respon Tesi. Tak lama, seorang perawat datang untuk memeriksa infus yang menempel ditangan Ibu.


----------


Seperti biasa, Meldo sangat sibuk dengan pekerjaan. Banyak sekali yang harus Ia selesaikan sehingga Ia tidak ingat lagi melakukan aktivitas lain, seperti makan. Saat sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba pintu ruangan Meldo terbuka begitu saja dan ada seseorang yang masuk tanpa permisi.


Meldo sangat kesal dengan ini, Ia tidak suka ada orang yang sembarangan masuk ke ruangannya selain Ruslan. Saat Meldo menoleh untuk melihat siapa yang masuk, kekesalannya pun semakin tak terbendung lagi.


"Kasar banget sih? Sepupu sendiri di bentak."


Kedatangan Caroline benar-benar membuat Meldo menarik nafas nya dalam dan segudang kekesalan sudah menumpuk di jiwa raga nya. Caroline dengan anggun duduk di sofa kecil yang ada di ruangan Meldo sambil membuka rantangan yang Ia bawa.


"Caroline, kalo kamu gak bisa dibilangin pake bahasa manusia, aku bakal panggil bodyguard dan bakal bawa kamu dengan paksa keluar dari sini." bentak Meldo.


"Sini, kita makan dulu."


"Caroline.."


"Meldo, aku cuma bawain makanan buat kamu. Emang salah ya bawa makanan buat sepupu sendiri?."


Meldo mengalah, Ia pun menurut dan duduk di berhadapan dengan Caroline. Tanpa menatap Caroline, Meldo mengambil nasi dan lauk pauk untuk dimakan. Setelah selesai, Ia memberikan nya kepada Caroline.


"Nih! Inikan yang kamu mau? Silahkan makan dengan cepat dan buruan pergi dari sini!."


"Waw, serius nih buat aku? Tesi gak cemburu kan?." ucap Caroline dengan senyuman sinis nya.


"Jangan pernah macam-macam ya kamu!."


"Negatif thinking mulu sih sama aku?."


"Buruan makan!." ucap Meldo dengan bentakan dan Ia pun keluar dari ruangannya.


Meldo melewati beberapa karyawannya dengan wajah yang murung dan kesal. Ruslan menyadari itu dan tidak mau mengganggu Meldo dengan mood nya yang tidak baik. Ruslan pun memutuskan mengantarkan dokumen yang sudah Ia print ke ruangan Meldo dan akan meletakkan nya saja di meja.


Saat Ruslan masuk, Ia sangat terkejut dengan adanya seorang wanita cantik yang sedang makan. Ruslan merasa heran, kenapa bisa ada seorang wanita lain yang masuk keruangan ini selain Tesi, pikirnya.


"Permisi, saya izin mau meletakkan berkas ini ke meja Pak Meldo." ucap Ruslan pada Caroline.


"Iya, taro aja disitu."


Ruslan pun meletakkan berkas itu tepat di sebelah laptop milik Meldo.


"Kalau gitu, saya permisi."


"Eh, tunggu.."


"Ya? Kenapa, Mba?."


"Kamu sebagai apa di kantor ini?."


"Sekretaris pribadi nya Meldo, Mba."


"Berarti sering dong kemana-mana bareng sama Meldo?."


"Ya begitulah, Mba."


"Saya punya tawaran kerja yang lebih bagus buat kamu. Kamu mau?."


Seketika Ruslan merasa kaget mendengar tawaran dari Caroline. Ia bahkan tidak tau siapa Caroline sebenarnya.


"Maaf, Mba. Terimakasih untuk tawarannya. Tapi saya sudah lama bekerja di perusahaan ini, dan ini pun saya rasa sudah lebih dari cukup. Kalau begitu, saya permisi."


"Saya mau gantiin posisi kamu di perusahaan ini. Saya mau kerja disini tapi sebagai sekretaris Meldo."


Ruslan tersentak, Ia langsung berpikir yang tidak-tidak.


'Siapa sih ni cewek? Roman-roman nya kayak pelakor deh.' gumam Ruslan dalam hati.


Tbc..