
Dengan nafas yang memburu, Meldo memasuki kantor nya. Semua karyawan merasa heran dengan penampilan Meldo yang cukup berantakan bahkan masih memakai pakaian kantor yang semalam.
"Pak, Bapak gapapa?." ucap sang resepsionis.
"Nggak, gapapa." ucap Meldo datar.
Meldo memberhentikan langkah nya dan berteriak memanggil nama sang supir. Dengan sigap, sang supir datang dengan berlari kecil menghampiri Meldo.
"Ya, Tuan?." ucap Januar sang supir.
"Kamu antar istri ku kemana semalam?."
"Ke rumah sakit, Tuan. Karena Nona Tesi bilang, Ibunya sedang di rawat di rumah sakit."
"Oh, yaudah. Kamu boleh kembali."
'Yaampun, bahkan aku lupa kalo Ibu lagi di rawat di rumah sakit. Ya Tuhan, aku udah lakuin kebodohan yang besar. Aku mohon beri petunjukMu agar aku bisa menebus segala dosa ku tanpa harus kehilangan istriku.' gumam Meldo dalam hati sambil berderai air mata dan menyandarkan kepala di dinding.
Para karyawan merasa heran dengan itu. Mereka bahkan panik dengan melihat keadaan Meldo saat ini. Ingin sekali rasanya mereka menghampiri Meldo dan menenangkannya, namun mereka takut Meldo akan semakin emosi.
Ruslan yang baru datang dan memasuki gedung kantor pun langsung memberhentikan langkahnya ketika melihat Meldo yang akan memasuki lift dengan keadaan yang begitu kusut. Dengan langkah yang cepat, Ruslan menyusul Meldo.
"Do.." ucap Ruslan sambil menepuk bahu Meldo.
Ruslan sangat terkejut ketika Meldo menatapnya kearah samping. Rambut yang acak-acakan, mata yang sembab, serta hidung yang merah.
"What? Bro, lu kenapa kayak zombie gini?." ucap Ruslan sambil menatap Meldo dari atas hingga bawah.
Meldo tidak menanggapi sampai akhirnya pintu lift terbuka. Ia dan Ruslan masuk kedalam lift. Selama didalam lift, tidak ada percakapan terjadi. Ruslan tidak berani mengganggu Meldo dengan keadaan yang seperti ini.
_____
Tesi sudah bangun lebih dulu dari Ibu nya. Ia bersiap membersihkan diri karena dari semalam Ia belum membasuh dirinya dengan air. 30 menit kemudian, Tesi telah menyelesaikan mandinya dan Ia keluar dari kamar mandi. Ia sangat senang saat Ibu sudah bangun dan dengan lahap memakan sarapan paginya.
"Ibu.." ucap Tesi dengan sumringah sambil memeluk Ibu nya.
"Tesi, kamu kenapa? Keliatannya seneng banget."
"Tesi punya kabar bahagia buat Ibu. Udah dari semalam Tesi gak sabar mau ngasih tau ke Ibu."
"Oh iya? Kabar apa itu?."
"Eum.. Tesi hamil, Bu."
Seketika Ibu ternganga dan terpaku saat mendengar kabar bahagia dari Tesi. Mata Ibu mulai berkaca-kaca dan tidak tau lagi harus berbicara apa, segumpal rasa bahagia telah memenuhi hati mereka.
"Yaampun, Nak. Ibu bahagia banget dengarnya." ucap Ibu yang langsung memeluk Tesi.
"Iya, Bu. Tesi juga."
"Meldo udah tau belum?."
"Belum, Bu. Dia masih sibuk ngurusin sepupunya yang sakit."
"Yaudah kalo gitu kamu susulin aja Dia ke kantor dan kasih kabar bahagia ini."
"Nanti aja deh, Bu. Lagian, Ibu nanti siapa yang jaga?."
"Disini banyak perawat, Nak. Lagian nanti Juan pasti mampir kesini kok! Dan Ibu juga udah ngerasa enakan dan gak sakit lagi."
"Tapi, Bu..."
"Nak.. Meldo suami mu, Dia berhak tau kabar bahagia ini."
"Yaudah deh, Bu. Tesi pergi ke kantor Meldo kalo gitu."
"Sekalian bawain Dia sarapan ya, Nak? Kamu beli di kantin bawah."
"Iya, Bu."
Tesi pun bangkit dan mempoleskan wajahnya dengan makeup yang natural serta menyisir rambutnya dengan rapih. Setelah di rasa cukup, Tesi kembali berpamitan dengan Ibu nya dan langsung melenggang keluar ruangan. Sesuai dengan pesan sang Ibu, Tesi membeli sesuatu untuk sarapan Meldo.
_____
Kini Meldo sedang berada di kamar istirahat nya yang berada di ruangannya. Ia terduduk di pinggir ranjang sambil menatap nanar kearah jendela yang di hiasi dengan pemandangan Ibu Kota. Ia benar-benar tidak fokus bekerja hari ini, pikirannya selalu di hantui dengan penyesalan yang telah Ia lakukan semalam.
Tak lama, datang seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Pintu nya sengaja dikunci oleh Meldo agar tidak ada orang yang sembarangan masuk kedalam ruangannya. Dengan lemas, Ia berjalan keluar dan membukakan pintu untuk orang yang ingin masuk ke ruangannya.
krekk...
"Lu kenapa?."
"Ngapain lu ke ruangan gue?."
"Orang-orang kantor pada gosipin lu. Kata mereka lu aneh, makanya gue kesini."
Tak lain adalah Johan. Johan sangat risih mendengar percakapan orang-orang kantor mengenai keadaan Meldo hari ini. Dan benar saja, Johan menatap Meldo dari atas hingga bawah.
"Kalo gak ada yang penting, mending lu pergi!." ucap Meldo dengan tegas.
"Lu kenapa sih? Mata lu bengkak, rambut lu acak-acakan, udah gitu ini baju gak ganti lagi dari semalem. Lu abis berantem sama istri lu?."
"Bukan urusan lu!." ucap Meldo penuh penekanan dan langsung menutup pintunya tanpa mempersilahkan Johan untuk masuk.
Bersamaan itu pula, Tesi datang dengan senyum sumringah yang merekah di bibirnya. Ia pun melihat Johan yang sedang berdiri di ambang pintu ruangan Meldo.
"Johan.." panggil Tesi.
"Eh, Tesi?."
"Kenapa kamu gak masuk? Meldo gak ada di ruangannya ya?."
Johan pun menatap heran kearah Tesi 'Kayaknya gak ada tanda-tanda mereka lagi berantem deh. Terus si Meldo kenapa?.' gumam Johan dalam hati.
"Jo?." panggil Tesi yang membuyarkan lamunan Johan.
"Eh, i..iya! Meldo ada didalam kok. Kamu masuk aja. Yaudah, aku tinggal dulu ya? Bye." ucap Johan yang langsung pergi meninggalkan Tesi.
Tesi pun merasa heran dengan sikap Johan. Tidak mau pusing memikirkan hal itu, Tesi segera memutar knop pintu dan langsung membukanya. Saat kedatangan Johan tadi, Meldo tidak mengunci kembali pintunya.
Saat pintu sudah terbuka, Tesi merasa heran melihat Meldo yang menidurkan kepalanya di meja kerjanya.
"Meldo.." ucap Tesi dengan lembut.
Sontak, membuat Meldo kaget setengah mati dan langsung menegakkan kepalanya. Ia menatap nanar wanita yang ada di samping nya itu. Matanya kembali berkaca-kaca. Dengan sigap, Ia berdiri dan langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu kenapa?." ucap Tesi yang merasa heran sekaligus khawatir.
"Maafin aku.." ucap Meldo dengan penuh penyesalan dan tidak bisa menahan tangisnya.
"Kamu nangis? Kenapa? Ada masalah apa, Do?." ucap Tesi yang langsung melepaskan Meldo yang sedang memeluknya dan menatap suaminya dengan perasaan khawatir.
"Aku...udah ngelakuin kesalahan besar."
"Hah? Maksud kamu apa sih?."
"Tesi, kalo aku udah ngelakuin kesalahan besar yang mungkin bisa menyakiti hati kamu, kamu bakal maafin aku atau pergi ninggalin aku?." tanya Meldo dengan mata nya yang sembab sambil menangkup pipi istrinya itu.
"Kamu bicara apa sih? Aku gak ngerti deh. Sekarang, coba kamu ceritain pelan-pelan, apa masalah kamu? Hm?."
Meldo menarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya. Tidak mungkin Ia menceritakannya kepada Tesi, pikirnya.
"Yaudah, kalo kamu gak mau cerita dulu juga gapapa. Tapi, aku punya kabar bahagia buat kita, dan setelah kamu dengar kabar ini, kamu janji harus senyum lagi dan gak boleh terlalu mikirin masalah kamu. Oke?."
"Emangnya ada kabar apa?."
"Aku..."
"Kenapa?."
"Eumm.. Aku..."
"Kenapa? Kamu kenapa?."
"Aku hamil." ucap Tesi dengan bahagia dan langsung memeluk Meldo tanpa aba-aba.
Meldo terkejut dan memandang kosong kearah depannya. Seketika, rasa penyesalan itu semakin mendalam merasuki jiwanya. Ia bahkan sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.
'Kenapa kabar bahagia ini harus bertabrakan sama penyesalan ini? Ya Tuhan, tamparan apa ini?' gumam Meldo dalam hati.
Hatinya terasa sakit dan ngilu. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Ia semakin erat memeluk Tesi dengan menenggelamkan kepalanya di leher Tesi sambil berderai air mata.
"Nah kan, kamu nangis." ucap Tesi dengan sedih.
"Aku nangis karena bahagia, sayang. Makasih ya kamu udah kasih kabar bahagia ini."
Tbc...