
Hari ke hari terlewati seperti biasa, tidak ada perkembangan antara hubungan Meldo dengan Tesi. Sudah seminggu Meldo dan Ruslan menetap di Korea. Segala cara dilakukan Meldo untuk bisa mendapatkan kembali hati Tesi, namun semuanya tetap gagal. Kini Meldo menghabiskan waktunya dengan hanya bekerja dan bekerja sembari menunggu waktu yang tepat untuk memperbaiki semuanya dengan Tesi.
"Meldo."
Meldo tersentak saat ada seorang wanita yang memanggil namanya. Ia pun menoleh kearah pintu ruang kerja nya dan mendapati Tesi yang sedang berdiri disana. Ia sungguh membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Tesi? Kenapa kamu kesini? Kamu tau darimana kalo aku tinggal disini?." tanya Meldo tak percaya dan mendekati Tesi.
"Nathan mau ketemu kamu, Dia merengek terus tiap saat minta ketemu sama kamu. Aku tau apart kamu dari Ruslan."
"Oh ya? Mana Dia sekarang?."
Tesi berjalan keluar dan memanggil Nathan yang sedari tadi bermain mobil-mobilan nya.
"Nathan? Sini, Nak."
Dengan sigap Nathan berlari dan menjumpai nya dan memeluk pinggang Tesi dengan tawa riang nya. Nathan langsung menanyai keberadaan Meldo dan Tesi langsung menggendong nya dengan perhatian.
"Papa.." teriak Nathan yang suara nya menggema ke seluruh ruangan.
"Hai anak Papa." ucap Meldo dan Tesi langsung segera memindahkan Nathan kepada Meldo.
Meldo langsung membawa Nathan menuju sofa yang ada di ruangannya. Meldo sudah membelikan banyak mainan untuk Nathan dari jauh-jauh hari. Mereka berdua saling bertukar kata dalam penuh canda, dan Tesi sangat bahagia melihat itu.
"Papa gak boleh pergi-pergi lagi, oke?." ucap Nathan dengan melotot pada Meldo.
"Hahaha. Papa gak akan pergi kok sayang."
"Nathan pengen deh punya adek."
Sontak, ucapan Nathan membuat Tesi dan Meldo terpelongo. Tesi menjadi canggung, ia bingung harus berbuat apa, pun sama dengan Meldo.
"Em.. sayang, Mama sering ngomel gak sama kamu?." tanya Meldo mengalihkan suasana.
"Kadang-kadang, Pa. Kalau Nathan nakal, Nathan di omelin."
"Kalau Papa sering di omelin sama Mama. Padahal Papa gak nakal, tapi selalu aja kena omel."
"Ma.. Gak boleh gitu dong sama Papa." ucap Nathan memperingati Tesi.
"Jangan percaya sama Papa kamu yang tukang tipu ini." ucap ketus dan menatap tajam Meldo. Meldo hanya tertawa mendengar ocehan dari Tesi.
Tak lama, ponsel Tesi berdering dan tertera nama Juan disana. Tesi pun buru-buru pamit pada mereka untuk mengangkat telepon itu terlebih dahulu. Tesi menarik dalam nafasnya lalu menekan tombol hijau itu pada ponsel nya.
"Hallo.."
"Tesi, aku udah ada dirumah kamu nih. Kalian kemana semua? Kok cuma ada Nita doang sih yang dirumah? Aku sampe mampir ke cafe karena segan kalo cuma aku berdua sama Nita yang dirumah."
"Lah? Sejak kapan kamu sampe?."
"Baru aja. Koper aku juga masih aku bawa-bawa ini."
"Oke."
Dengan buru-buru Tesi masuk kembali kedalam ruang kerja Meldo dan mengajak Nathan untuk pulang.
"Nathan? Kita pulang, yuk? Om Juan baru nyampe di Korea, Dia mau kerumah tapi gak ada orang."
Meldo tersentak, Juan adalah rival nya. Amarah pun kembali naik saat tau Juan ingin mampir ke rumah mereka, namun ia berusaha menyembunyikannya.
"Mama aja deh. Nathan masih mau sama Papa."
"Tapi Papa mau kerja, sayang."
"Gapapa kok, Tes. Kamu pergi aja, nanti agak sorean Nathan aku anter pulang ke kamu." ucap Meldo berusaha menengahi.
"Gak usah, aku aja yang kesini jemput Nathan. Kalo kamu yang kerumah, ntar orang rumah geger sama kedatangan kamu."
"Yaudah, kamu hati-hati kalo gitu."
"Nathan, kamu jangan nakal ya?."
"Oke, Mama."
Tesi berpamitan dan melangkah keluar apartment nya Meldo. Sesampainya diluar, ia memesan taxi untuk menuju rumah. Juan sebenarnya tidak di cafe, melainkan dirumah sedang menyiapkan kejutan untuk Tesi bersama yang lainnya. Mereka sangat antusias menunggu kedatangan Tesi.
30 menit kemudian, Tesi telah sampai dirumah dan langsung mengirim pesan singkat pada Juan kalau ia sudah bisa datang kerumah. Namun, setelah ia memutar knop dan membuka nya, tiba-tiba..
DOR!!!!
DOR!!!
DOR!!!
"Supriseeee!!." ucap semua nya dengan kompak, kecuali Anton karena Dia memang sedang tidak berada dirumah, melainkan sedang bekerja.
Tanpa berpikir, Juan langsung maju dengan menyodorkan kotak cincin di hadapan Tesi. Senyum nya merekah saat melihat wajah bingung Tesi. Tesi pun membeku dan tidak bisa berkata-kata.
"Tesi, aku bukan tipikal laki-laki yang bisa ngungkapin perasaan dengan kata-kata indah, aku bahkan gak tau cara ngelakuinnya gimana. Tapi inilah ketulusan yang mau aku kasih ke kamu, aku udah mendam perasaan ini setara dengan umur Nathan, bahkan lebih! Aku benar-benar cinta sama kamu, Tes. Aku janji bakalan jadi lelaki yang baik buat kamu dan sumpah mati aku bakal bikin kamu jadi wanita paling bahagia didunia..... Tesi, will you marry me?." ucap Juan dengan rapi dan tentunya dengan jantung yang berdegup dengan kencang.
Tesi terpaku, terdiam, ia bahkan hanya mampu menatap kotak cincin yang terbuka yang di pegang oleh Juan. Dengan pelan, Tesi menatap mata dan wajah Juan yang sudah pasti di penuhi dengan kebahagiaan. Namun, wajah itu kembali suram saat Tesi mengatakan yang seharusnya tidak ingin ia dengar.
"Maaf, Juan. Aku gak bisa terima ini." ucap Tesi dengan hati-hati.
Sontak semuanya kaget mendengar penolakan dari Tesi. Juan pun bagai di sambar petir di siang bolong, matanya mulai berkaca-kaca, tidak menyangka Tesi menolak lamarannya.
"Kamu kan udah tau, Ju. Aku gak mau nikah lagi sama siapapun! Walaupun kejadian itu udah berlalu selama bertahun-tahun, tapi luka itu belum juga hilang. Aku benar-benar trauma dengan kejadian masa lalu aku yang kelam itu. Sekali lagi, aku minta maaf." ucap Tesi dan langsung melenggang masuk ke kamarnya lalu mengunci pintunya.
Tbc...