My Obsession Is You

My Obsession Is You
Akan bertemu Ibu



Meldo membersihkan dirinya didalam kamar mandi. Seraya membasuh tubuhnya dengan air hangat, Ia terbayang oleh tingkah lucu Tesi saat tadi. Ia tak habis pikir jika Ia benar-benar di pasangkan oleh wanita yang galak dan cerewet. 'Ternyata memang benar, jodoh adalah cerminan diri.' pikir nya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya dan memakai pakaian santai, Meldo keluar kamar dan menghampiri Tesi di kamar nya.


Ya, mereka tidak tidur sekamar. Karena itu permintaan Tesi. Tesi sangat tidak suka dengan lelaki ini. Namun bukan Meldo namanya jika Ia tidak mendapatkan apa yang Ia inginkan. Ia tetap terus mengikuti permainan Tesi. Ia menuruti semua kemauan Tesi, tapi di belakang Ia sudah merencanakan sesuatu.


Tok.. Tok.. Tok..


Tesi membuka pintu..


"Kamu udah makan?." ucap Tesi lembut menatap Meldo dengan dengan penuh kasih.


Jelas itu membuat Meldo kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Yang Ia tau, wanita ini sangat galak padanya. Sikap nya acuh tak acuh dan suka teriak - teriak.


'Kenapa Dia? Kayaknya aku gak ada nyuruh orang buat nyantet Dia deh?!' gumam Meldo dalam hati


"Be..belum." ucap Meldo dengan gugup.


"Sini masuk! Kamu makan ya? Biar aku ambilin. Kamu masuk dan tunggu di ranjang."


Tesi segera bergegas ke dapur dan mengambil makanan untuk Meldo. Meldo dengan di ambang kebingungan berpikir kenapa sikap Tesi bergitu berubah 180°.


Seketika otak Meldo langsung berpikir sesuatu.


"Ck, pasti ada mau nya tuh! Sorry Tesi, aku gak akan terpanah dengan bujuk rayu mu lagi. Ini pasti akal-akalan mu untuk kabur dari aku kan? Oke, ku ikuti permainan mu sekarang." gumam Meldo sendiri dengan senyum sinis dan merebahkan tubuhnya di kasur .


Tidak berapa lama, Tesi masuk ke kamar dengan membawa mampan yang berisikan bubur ayam dan teh manis. Dengan lembut Tesi menaruh mampan itu di meja kecil yang ada di samping ranjang.


"Makan dulu. Oh ya, kamu kok pulang cepat? Padahal ini masih jam 10 pagi." ucap Tesi berusaha senyum.


"Gak usah basa-basi! Kamu mau apa?." gertak Meldo dengan mata nya yang terpejam.


"Arrghhh. Lu kenapa bisa ngebaca akting gue sih? Gue mau ketemu Ibu, puas!." bentak Tesi pada Meldo.


Meldo pun tertawa dengan masih memejamkan matanya. Ya, Tesi bersikap seperti itu agar Ia bisa meluluhkan hati Meldo dan mengizinkannya keluar untuk bertemu Ibunya.


"Yaudah, Nanti kita pergi ketemu Ibu ya, sayang? Abis aku makan." ucap Meldo dan membangkitkan dirinya lalu menyantap bubur yang diberikan Tesi.


"Hah? Lu manggil gue apa tadi? Sayang? Cih, buang jauh-jauh tuh sayang lu! Gak butuh gue."


"Di simpen aja buat besok-besok! Ntar juga butuh."


"Dih, narsis banget lu jadi manusia."


"Liat aja nanti. Kamu pasti butuh 'sayang' dari aku."


"Udah cepet selesaiin makan lu! Biar langsung otw ketemu Ibu. Lama banget makan gitu doang."


"Yaelah baru juga 4 suap."


"BURUAAAANNNN."


Dengan sigap Meldo menyelesaikan makan nya karena Ia tidak mau lagi mendengar getaran teriakan dari bibir Tesi yang bikin sakit telinga.


Saat setelah makan, mereka sudah bersiap untuk pergi menemui Ibu. Tesi sangat senang dan sekarang posisi nya sedang berada di depan mobil sambil menunggu Meldo keluar.


Para bodyguard dan supir tentu dibikin kaget dengan teriakan Tesi. Mereka tidak berani menyanggah karena biar bagaimana pun Tesi sudah menjadi Nyonya mereka dirumah ini.


Meldo pun keluar dengan style yang cukup enak di pandang. Ia menggunakan jaket hitam yang membuat nya semakin gagah.


"Bisa gak sih, gak usah teriak-teriak? Untung disini gak ada tetangga." ucap Meldo sedikit kesal.


"Lagian lu lama."


"Yaudah, ayo."


"Btw, gue mau cuma kita berdua aja yang pergi, lu yang nyetir. Buruan."


"I..iya.."


Meldo langsung meminta kunci mobil pada supirnya. Walaupun Tesi meminta hanya berdua, tapi Meldo tidak tinggal diam. Dia langsung memberi pesan singkat pada Roni dan menyuruh orang-orang nya untuk mengikuti mereka dari belakang secara tersembunyi tanpa di ketahui oleh Tesi.


"Eh, kita singgah dulu di toko kue ya?." ucap Tesi.


"Mau ngapain?."


"Ya bawa buah tangan buat Ibu gue lah! Jadi lu mau berkunjung dengan tangan kosong? Udah lu nyulik gue, maksain gue nikah, masa iya lu datengin mertua tanpa bawa apa-apa? Gilee."


"Iya iya. Bawel banget."


"Biarin! Biar lu gak betah sama gue dan gue bisa pergi dari lu."


"Oh tidak bisa! Sampe kapanpun kamu tetap harus sama aku."


Mobil melaju dengan sedang. Dan beberapa jam kemudian, mereka sampai di pusat kota dan berhenti sebentar di toko kue. Meldo sangat memikat perhatian banyak orang. Walaupun menggunakan masker, tentu tidak mengurangi kadar ketampanan nya.



"Orang-orang kok pada liatin lu terus sih? Oo mungkin mereka sadar kali ya kalo lu itu psikopat keliling yang suka cari mangsa buat di culik terus dibunuh, iyakan?." ketus Tesi yang berjalan beriringan dengan Meldo.


"Gila aja! Aku bukan psikopat ya. Bilang aja kamu cemburu karena cewe-cewe itu pada liatin aku, gengsi banget." ledek Meldo sambil dengan membisikkan nya di telingan Tesi.


"Dih, siapa juga yang cemburu? Dia ngambil lu dari gue itu suatu keberuntungan buat gue, ikhlas lahir batin malahan."


Tidak ada tanggapan dari Meldo. Mereka langsung memilih kue untuk diberi pada Ibu. Tesi langsung memilih bolu pisang kesukaan Ibu nya. Dia membeli semua segala macam varian topping yang berbeda pada setiap bolu pisang itu. Setelah memilih, mereka menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


"Semuanya 560 ribu, Mbak." ucap sang kasir sambil memberikan plastik besar kepada Tesi.


"Dia yang bayar, mbak." ucap Tesi dengan wajah tengil nya sambil menunjuk ke arah Meldo.


"Bisa gesek kan?." tanya Meldo pada sang kasir sambil membuka dompetnya.


"Bisa, Pak."


Meldo pun memberikan credit card nya pada sang kasir. Setelah selesai bayar, mereka kembali bergegas menuju rumah Ibu.


Tbc..