My Obsession Is You

My Obsession Is You
Jail



Setelah kejadian itu, Tesi dan Nita berbincang sebentar sambil membereskan pakaian laundry. Sedangkan Meldo, Dia duduk di bangku umum yang tidak jauh dari laundry. Setelah itu, Tesi dan Meldo langsung kembali menuju rumah.


Tesi sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan tindakan Meldo yang menolong Nita saat hendak terjatuh tadi. Namun berbeda dengan Meldo, Dia sangat gelisah dan tidak enak hati, seolah-olah Ia sangat tidak ikhlas melakukan itu pada Nita.


"Eumm.. Maaf ya, tadi itu cuma nolongin Nita aja kok." ucap Meldo pada Tesi.


"Gapapa kok. Santai aja kali." ucap Tesi dengan senyum cantik yang melengkung di bibir nya.


Tidak ada tanggapan dari Meldo. Ia benar-benar tidak enak hati pada Tesi. Tesi menyadari ekpsresi Meldo yang tidak bermakna itu. Ia pun berinisistif untuk menjaili Meldo.


"Eh, lu coba nunduk deh, gue mau bisikin sesuatu." ucap Tesi


Meldo pun menurut, Ia menundukkan sedikit kepalanya. Tinggi mereka sangat jauh berbeda, Meldo memiliki tinggi 185 cm, dan Tesi memiliki tinggi 160 cm.



Saat sudah mendapati telinga Meldo, Tesi langsung memulai aksi nya.


"Aaaaaaaaaaaaaaa." Tesi berteriak di telinga Meldo. Sontak Meldo merasa kaget yang luar biasa.


Tanpa ada pertanggung jawaban, Tesi langsung lari meninggalkan Meldo dengan tawa riang nya. Ia merasa senang karena sudah berhasil menjaili Meldo.


Meldo tidak tinggal diam, Ia pun segera berlari mengejar Tesi. Drama lari-larian itu berlangsung cukup lama.


"Huffttt. Capee, stop!." ucap Meldo.


"Haha, cemen lu! Masa ngejar gue aja gak bisa." ucap Tesi yang masih menertawakan Meldo.


"Lari kamu cepat banget sih, Aku sampe susah nafas nih."


"Yaudah yuk, pulang."


Mereka melanjutkan jalan mereka menuju rumah. Matahari sudah mulai menenggelamkan diri. Sebenarnya Tesi sangat ingin menginap dirumah Ibu nya, tapi Ia sudah menduga diluan, mana mungkin Meldo mengizinkan nya.


"Oh ya, kamu gak mampir kerumah Mama kamu?." tanya Tesi basa-basi.


"Iya abis ini mau kesana."


Tesi merasa senang mendengarnya..


"Oh ya?." ucap Tesi dengan senangnya.


"Tapi sama kamu, kamu ikut sama aku kesana." ucap Meldo


Kegirangan Tesi seketika lenyap. Wajah nya berubah menjadi cemberut dan tidak ada semangat dan Meldo menyadari itu.


"Kenapa? Kok tiba-tiba gitu?." tanya Meldo.


"Gue mau nginep disini." rengek Tesi kepada Meldo


"Kita harus temui Mama aku dulu, Tes. Kita harus selesaiin urusan kita ini. Ntar kapan-kapan aja deh ya kita nginep disini? Aku janji kok bakal atur waktu nya."


Tidak ada tanggapan dari Tesi. Mereka pun sampai dirumah Tesi dan mendapati Ibu yang sedang lahap menikmati bolu pisang yang dibawa oleh mereka tadi.


"Belum, masih ada kok yang didapur. Mau Ibu ambil?."


"Lah? Gak usah, Bu. Ini kita mau pamitan juga."


"Kenapa buru-buru?."


"Mau singgah kerumah Mama dulu, Bu."


"Oh begitu, yaudah deh."


Tesi menatap sedih Ibunya. Bagaimana tidak, Ia akan meninggalkan Ibu nya sedirian lagi dirumah. Rasa khawatir nya pun kembali menjulang. Ia berusaha menahan air mata nya yang akan terjatuh.


"Yaudah, ayo Tes." ajak Meldo pada Tesi


"Bu, Tesi pamit dulu ya? Ibu jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa jangan lupa telfon Tesi." ucap Tesi kepada Ibu nya.


"Gimana mau telfon? Hp mu aja gak pernah aktif." ucap Ibu dengan sedikit membentak.


Tesi langsung kaget dan menyadari itu. Ia baru ingat bahwa hp nya disita oleh Meldo selama masa penyekapan nya dirumah rahasia. Sontak Ia menatap tajam kearah Meldo. Meldo menggaruk kecil samping kepalanya yang tidak gatal.


"Eum.. Yaudah Bu, nanti Tesi aktifin hp lagi. hehe."


Setelah ritual pamit-pamitan, mereka beranjak menuju mobil. Selama perjalanan, Tesi terus menagih hp nya yang disita oleh Meldo.


"Hp gue balikin!." ucap Tesi pada Meldo


"Enggak, nanti kamu kabur minta bantuan orang." balas Meldo kepada Tesi.


"Terus gue gimana mau ngabarin Ibu?."


"Itu urusan gampang."


Seketika Tesi memasang wajah yang cemberut. Meldo menyadari itu. Meldo sebenarnya bukan tidak mau mengembalikan handphone Tesi. Sesungguhnya, rasa khawatir nya dengan peristiwa kabur Tesi itu membuat Dia trauma. Ia tidak mau Tesi kabur lagi. Maka dari itu, Ia benar-benar menyekap Tesi dulu untuk beberapa saat sampai Tesi mulai terbiasa dengannya.


Mobil Meldo terpakir dirumah nya. Dengan anggun Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Tesi. Tesi turun dengan wajah yang cemberut.


"Muka nya jangan gitu dong, sayang." ucap Meldo sambil merapikan rambut Tesi yang sedikit berantakan.


"Gak usah lu pegang-pegang gue! Dan satu lagi, buang jauh-jauh sayang lu itu. Gue gak butuh." ucap Tesi dengan ketus.


"Kan aku udah bilang, besok-besok pasti butuh kok."


Tanpa menanggapi, Tesi langsung melangkah menuju pintu masuk. Ia sangat risih dengan para pengawal di beberapa sudut yang ada dirumah Meldo.


"Nggak disana, nggak disini, selalu aja ada orang-orang yang kayak gini." ucap Tesi lumayan kesal.


"Gapapa, kan biar aman." ucap Meldo pada Tesi.


Mereka pun melangkah untuk masuk kerumah.


Tbc..